Beberapa waktu lalu, kisah Papa dan binatang peliharaan beliau ini, baru kuceritakan ulang lagi pada si nomor enam dan bungsuku, abang Alif dan Adik Dijah. Maklum, mereka belum pernah mendengar saat kisah ini kuceritakan pada kelima kakak mereka. Maka, dengan senang hati seperti waktu-waktu yang lalu, aku mengulang kembali kisah ini. Kisah tentang Papa dan Si Pussi, kucing kampung kesayangan keluarga yang mulai kami pelihara sekitar tahun 1982.
“Oh ya, Opa juga punya kucing kesayangan yang lucu dan aneh lho. Pussi namanya. Seekor kucing kampung cowok. Bulunya banyak warna putihnya, putih bersih dengan motif hitam bulat di beberapa bagian tubuhnya. Ekornya panjang berwarna belang-belang hitam dan putih,” jelasku pada mereka untuk menggambarkan fisik Si Pussi.
Biasanya aku bercerita sebagai pengantar anak-anak pergi ke negeri mimpi. Semula, mereka yang sudah mulai masuk ke gelombang Theta jadi balik ke gelombang Alfa. Seperti siswa dalam kelas, yang siap belajar menerima materi dari ibu gurunya. Abang Alif dan adek Dijah pun jadi duduk bersila dan bersemangat menanti kelanjutan ceritaku ini.
Sungguh kisahmu bersama Pussi ini yang paling menunjukkan ikatan indah antara kalian berdua. Lucu dan menggelikan, namun juga mengharukan. Betapa tidak, Pussi lah yang menemani hingga akhir hayat Papa. Betapa ia yang juga merasa kehilangan Papa selain kami berdua dan keluarga besar. Betapa malam itu, saat tiga peti jenazah Papa, Mama, dan Dik Erry disemayamkan di ruang tamu rumah kami, Pussi langsung berputar-putar dalam ruang tamu lalu ia pun mulai mencium-cium ujung kain panjang yang menutupi peti jenazah Papa. Pussi tampak sedih dan kehilangan. Cukup lama ia mengeong sebelum akhirnya terduduk di samping peti jenazah Papa, menemani hingga pagi menjelang. Aku merasa bersalah karena keesokan harinya, aku sudah tidak sempat memperhatikan Pussi lagi karena sudah banyak keluarga dan tamu yang berdatangan melayat ke rumah.
Beberapa hari, Pussi sempat berada dalam rumah sebelum akhirnya ia pergi menghilang dari kehidupan kami. Mungkin, dengan tidak melihat Papa berada di rumah seperti hari-hari biasanya, membuatnya merasa hampa tiada berkawan dan akhirnya memilih untuk pergi. Sedih rasanya.
Aku jadi mengingat kembali masa-masa kebersamaan Papa dan Pussi. Betapa Pussi selalu standby di setiap pagi saat Papa sudah bersiap akan berangkat mengajar. Ia akan duduk manis di jok sepeda motor Suzuki merah Papa itu. Lalu, ia akan berlari mengikuti Papa yang sudah mulai melaju menjauhi rumah hingga di ujung jalan. Memandang terus sampai sosok Papa sudah tidak terlihat lagi. Saat suara deru motormu sudah tidak terdengar lagi, barulah ia berlari pulang dan menghabiskan waktu dengan tidur dan bermain denganku, mas Eko, dan adek Erry di rumah.
Abang Alif dan Adik Dijah tidak mau jika cerita tentang Papa dan Pussi ini aku buat berseri.
“Ayo Mik, dilanjutkan lagi ceritanya tentang Opa sama Pussi ini!” ucap mereka.
Rasanya rindu pada Papa selalu terobati jika aku bisa bercerita tentang beliau pada anak-anak. Maka kulakukan itu dengan senang hati. Dengan begitu, aku seperti melewati lorong waktu dan ‘menemui’ Papa, kembali ke masa-masa saat kami masih bersama dulu. Maka kulanjutkan ceritaku.
“Malamnya, Pussi tidak ada di rumah. Pussi sudah standby lagi tapi di ujung jalan, di tempat ia melepas Opa kalian saat pagi hari. Begitu terdengar suara motor Opamu dari kejauhan, maka Pussi pun sudah bersiap menyambut kedatangan Opa. Akhirnya, Opa dan motornya masuk ke dalam garasi rumah diikuti Pussi yang berlari kegirangan. Malam itu, ia akan makan dulu, nasi putih dan ikan tongkol goreng yang diracikkan Opa. Tak lama kemudian, ia sudah tampak bergelung nyaman di samping Opa yang sudah membaringkan tubuhnya yang lelah. Opa usap-usap beberapa kali kepala Pussi sebelum akhirnya keduanya tertidur pulas,” ceritaku panjang lebar.
Setelah cerita tentang Papa dan Pussi ini selesai kuceritakan, anak-anak akan memulai tidur malamnya dengan senyum tetap tersungging di bibir mereka. Tampak mereka puas dan senang dengan ceritaku tentang Papa ini. Kadang mereka sempetin ngobrolin sebentar tentang Papa lagi dengan Si Busu, Moppi, dan Pussi.
Terima kasihku pada Papa atas 14,5 tahun yang indah bersama Papa, Mama, dan Adik Erry. Semua masih terekam manis di ruang hati dan ingatanku sampai kapan pun. Masih banyak cerita lain tentang Papa yang akan kuceritakan lagi pada abang Alif dan adek Dijah. Yang jalan-jalan ke Bonbin, ke Balai Kota, ke Madiun, ke Bojonegoro, ke Batu Malang, dll. Juga tentang berlatih naik sepeda sampai saat engkau dan mama membelikan kami sepeda mini baru berwarna merah. Juga tentang perhatianmu atas hobi merajut dan menyulamku.
Ku akhiri dulu ceritaku ini. Semoga rahmat Allah selalu tercurah pada Papa, Mama, dan adek Erry. Selalu terkirim Fatihah dan doa untuk Papa, Mama, dan adek Erry. Ku sambungkan pula silaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan sahabat Papa dan Mama semampuku. Bersyukur selalu atas karunia ini, Abdullah Payapo bin Abubakar Payapo yang menjadi Papaku.
Kreator : Maryam Damayanti Payapo
Comment Closed: 12. Papa dan Si Pussi
Sorry, comment are closed for this post.