Dunia Eva rasanya kayak runtuh pas tahu kalau Priyan, cinta monyet sekaligus cinta pertamanya, ternyata main belakang. Sakitnya tuh bukan main, guys. Bayangin aja, janji mau bareng-bareng terus, eh malah kandas gara-gara pengkhianatan yang nggak banget. Tapi, Eva bukan tipe cewek yang bakal berlarut-larut dalam kegalauan unfaedah. Setelah sempat mengurung diri dan menghabiskan stok tisu […]
Dunia SMA itu ibarat panggung sandiwara yang naskahnya ditulis sama takdir yang lagi moody. Di SMA Pelita Bangsa, semua orang tahu siapa Priyan—si cowok tenang dengan sorot mata yang sulit dibaca—dan semua orang tahu siapa Lily, si ketua geng “The Roses” yang punya pengaruh sekuat magnet. Tapi, ada satu bab rahasia yang terkunci rapat dari […]
Dua tahun itu ternyata bukan waktu yang sebentar, tapi kalau urusan perasaan, waktu kadang suka main kucing-kucingan. Sekarang, Eva bukan lagi bocah SMP yang hobi kuncir dua asal-asalan. Dia sudah jadi siswi SMA. Gadis remaja yang cantik alami walaupun tidak memakai skincare seperti teman-teman lainnya. Waktunya begitu padat digunakan untuk belajar dan sibuk dengan urusan […]
Udara siang itu terasa gerah, menempel di kulit sejak bel istirahat berdentang. Matahari mulai tegak di atas atap seng, membuat napas terasa lebih berat dari biasanya. Riuh suara siswa pecah di mana-mana. Beberapa berlari menuju kantin, sebagian duduk bergerombol di depan kelas. Hanya segelintir yang memilih bertahan di lapangan, tempat sepatu-sepatu beradu dengan lantai semen […]
Chapter 10: Ruang yang Tak Pernah Netral “Selamat ya, Pak Fik!” ucap Pak Irfan sambil menepuk bahuku ringan. “Wah, kelasnya rame, euy.” “Terima kasih, Pak.” aku tersenyum. Namun entah mengapa, dadaku terasa mengempis. Keputusan yang diumumkan menjelang penutupan rapat kerja tadi memang tidak disertai tepuk tangan, tidak pula disambut gumam ramai. Nama-nama itu dibacakan satu […]
Chapter 9: Gelombang di Balik Layar Sekolah terasa aneh pada pekan-pekan terakhir libur panjang. Setiap hari baru yang datang, tanpa riuh langkah siswa atau suara bel yang memantul di koridor. Udara pun lebih tenang, seolah memberi ruang untuk berjalan lebih pelan, menata ulang banyak hal yang selama ini tertutup oleh rutinitas dan kebisingan. Namun, bangunan […]
Summary: Wajah anak itu berpendar, garis biru yang menandakan dia berdarah penyihir, darah pemberontak. Darah yang harus diburu dan dibantai. Keturunan yang tidak diperbolehkan ada pada kerajaan saat itu. Moira. Seorang gadis yang memiliki mata biru Zircon, memiliki guratan biru pada pipinya seperti cakar naga, tanda bahwa dia berasal dari kaum penyihir. Rambutnya hitam legam, […]
Chapter 8: Yang Tak Tercatat di Rapor Sisa-sisa keramaian pembagian rapor masih mengiang meski matahari telah tergelincir dari puncaknya sejam yang lalu. Usai makan siang beberapa guru berbincang santai di ruang kantor. Bersama mereka hadir pula Pak Ali mendengarkan cerita keseruan para wali kelas yang memadukan lega, lelah, dan rasa puas usai menghadapi para […]
Chapter 7: Pintu Kecil Menuju Ruang Besar Satu hingga dua pekan menjelang asesmen akhir tahun, suasana belajar terasa melambat. Hampir semua materi sudah disampaikan para guru, yang tersisa hanya hari-hari pengulangan. Di beberapa kelas, waktu diisi dengan bimbingan tambahan bagi mereka yang masih tersandung pada pelajaran, sementara di sudut lain anak-anak sibuk mengerjakan latihan […]