
Tidak semua pelajaran di kelas diakhiri dengan suara bel. Seperti hari ini, ia datang lebih pelan, bahkan nyaris tanpa tanda. Hanya derit kursi yang digeser atau kertas jurnal yang dibuka setengah malas. Sementara wajah-wajah siswa yang duduk rapi seolah tidak ingin menunggu apapun yang perlu dibicarakan. Namun, dari sunyi seperti inilah aku kadang mulai curiga.
Aku kadang mengira diam adalah bentuk kepatuhan. Sampai suatu hari aku bertemu anak-anak yang diam bukan karena taat, melainkan karena sudah terlalu lama belajar menahan diri. Di kelas ini, mereka hadir sepenuhnya secara fisik, tetapi meninggalkan sebagian dirinya di tempat lain. Entah di rumah, entah di ingatan yang tak pernah mereka ceritakan. Dan di kelas ini, kecurigaanku seolah menemukan bentuknya.
Di bangku baris ketiga persis sebelah jendela sejajar pintu kelas, anak itu duduk dengan punggung tegak dan tangan terlipat di atas meja. Tidak menoleh, tidak pula berusaha menghindar. Sejak kejadian itu, sikapnya justru semakin tenang. Namun itu justru yang membuatku tak nyaman. Sejenis ketenangan yang terlalu cepat dipelajari oleh anak seusianya.
Hari ini, ketika kelas ramai oleh satu kejadian yang melibatkan Rendy dan kawan-kawannya, Rizal, anak yang diam itu tetap duduk di tempatnya. Ia memilih menunduk, menulis sesuatu yang tak pernah ia serahkan. Padahal aku tahu ia sempat ikut bersama mereka hari itu. Dan entah mengapa, di situlah aku merasa persoalan anak ini tidak berhenti di pagar sekolah.
“Kemarin kamu sempat ikut keluar sama mereka?” tanyaku, menahan suara agar tetap pelan. Kelas sudah sepi. Hanya kami berdua duduk berhadapan diselingi riuh dari koridor yang masuk samar-samar.
Ia mengangkat kepala pelan. Gerakannya rapi, nyaris terlalu terkontrol untuk anak seusianya. Tidak ada ekspresi kaget, tidak juga keberatan. Hanya sepasang mata yang siap memperhatikan, bukan berbicara.
“Kemarin.., kamu ada di sana, kan?”
Rizal mengangguk, tidak ada usaha untuk menyangkal. Lalu menunduk lagi, sementara tangannya bergerak pelan di atas kertas, mencoret sesuatu entah apa. Seolah coretan itu hanya lewat seperti angin yang tidak perlu ditangkap.
“Kamu tahu yang dilakukan Rendy dan yang lain itu salah?”
Kali ini ia terdiam lebih lama. Jemarinya saling mengait di atas meja. “Saya cuma lihat, Pak.”
“Tidak mencoba menghentikan?”
Ia menggeleng pelan.
“Tidak juga pergi?”
Rizal masih dengan gerakan yang sama menjawabku, menggeleng. Aku berdiri, menarik kursi dari belakang meja guru dan memindahkannya ke depannya. Sehingga kami hanya dipisahkan oleh sebuah meja siswa. “Kenapa?” tanyaku seraya duduk.
Siswa kelas 9 itu akhirnya mengangkat wajahnya, tapi hanya sebentar. Matanya tidak benar-benar menatap, lebih seperti melewati.
“Kalau saya pergi..,” ia berhenti sejenak, ada keraguan di sana. “Ya, nggak enak aja, Pak.”
“Tidak enak bagaimana?”
“Kita kan lagi bareng, masa saya tinggal.”
“Jadi, kamu merasa harus tetap di situ?”
Ia menggeleng pelan. “Bukan harus, Pak.” Rizal menarik napas pendek. “Di situ, saya merasa nyaman aja.”
Aku tidak langsung menanggapi, menunggu kelanjutan kalimatnya.
“Mereka nggak terlalu lihat saya harus jadi apa, atau pernah salah apa,” katanya pelan. “Ya.., saya aja, Pak.”
Aku menatapnya lebih lama, membiarkan jeda itu tinggal di antara kami. Mencoba membaca sesuatu yang tidak ia ucapkan, dari cara ia menahan kata, dari cara matanya tidak benar-benar tinggal di satu tempat. Hingga perlahan, dugaanku semua itu mengarah ke satu tempat yang sama. “Dan itu tidak kamu dapatkan di rumah?” tanyaku berhai-hati.
Rizal tersenyum tipis. Aku bahkan merasa siswa yang selalu lima besar di kelas itu lebih tepatnya mendengus. Seperti membuang sesuatu yang selama ini ia kerap menahannya, “Di rumah..” ia menghela napas kecil, “Kalau saya benar, ya gitu aja, Pak. Tapi kalau salah aja sedikit..,” ia mengangkat bahu, “Langsung jadi masalah.”
Aku menatapnya beberapa saat. Wajahnya kembali tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia juga menatapku sedikit lebih lama. Memang tidak lekat, tapi cukup untuk membuatku yakin, ada sesuatu yang ia simpan. Dan mungkin, belum pernah benar-benar ia keluarkan.
…
Lampu-lampu taman di gerbang perumahan itu menyala hangat, memantulkan cahaya kekuningan pada jalan aspal yang mulai lengang. Pilar-pilar kokoh di kiri-kanan pintu masuk berdiri rapi, sementara papan nama perumahan yang terawat menegaskan identitas kawasan yang tertib dan berkelas. Di antara dua lajur jalan, pos satpam tampak terang meski hanya sesekali terlihat bayangan bergerak di balik kaca. Sekuriti yang bertugas tampaknya lebih banyak diam mengamati kendaraan yang melintas di jam itu.
Aku menghentikan kendaraanku, lalu memarkirkan sepeda motor buatan Italia berwarna marun itu tidak jauh dari sebuah taman. Deretan tanaman hias yang tertata presisi di sepanjang sisi jalan, menambah kesan tenang sekaligus eksklusif kompleks ini.
“Selamat malam, Pak! Ada yang bisa kami bantu?” sapa sekuriti dengan ramah. Kehadiranku di bawah suasana yang tertib dan nyaris hening itu membuatnya keluar dari pos.
“Ya Pak, mohon maaf mengganggu,” jawabku sopan, namun tatapanku ke dalam kompleks membuat perasaan tak sepenuhnya ringan. “Saya Fikrul Fitri. Mau berkunjung ke rumah Pak Reza Aditya. Saya gurunya Rizal, putra beliau.”
“Jam segini biasanya Pak Reza baru pulang. Bapak sudah punya janji dengan beliau?” sahut Pak Sekuriti tanpa bermaksud memproteksi tuan rumah.
“Sudah Pak, tadi siang kami sudah sempat ngobrol lewat telepon.”
“Kalo gitu langsung aja, Pak. Silakan!” Pak Sekuriti membuka portal yang berada di pintu masuk kompleks.
Aku mengangguk seraya berlalu. “Motor saya parkir di sini saja, Pak. Saya jalan.”
Pintu portal tertutup kembali di belakangku setelah aku melangkah masuk. Suara langkahku terdengar lebih jelas di jalan yang lengang. Udara malam terasa tenang, hampir terlalu rapi untuk sekadar dilewati tergesa. Rumah yang kutuju sebenarnya tidak jauh, hanya beberapa puluh meter dari pos keamanan. Namun entah mengapa, berjalan kaki terasa lebih tepat.
…
Ruang tamu rumah itu tertata rapi. Sofa berwarna netral, meja kaca tanpa banyak benda di atasnya, dan dinding yang dihiasi beberapa foto keluarga dengan komposisi yang teratur. Tidak ada yang berantakan, setiap benda seperti sudah tahu sudut tempatnya masing-masing.
Aku membaca kembali catatan yang kusiapkan untuk momen home visit ini ketika sebuah suara langkah mendekat. Seorang laki-laki muncul, kemeja kerjanya masih rapi meski sedikit kusut di bagian lengan. Ia berhenti sejenak, memastikan siapa yang hadir di hadapannya, sebelum akhirnya menjabat tanganku dengan mantap.
“Maaf Pak Fikrul, saya baru sampai, jadi belum sempat berganti pakaian” katanya sambil duduk.
“Tidak apa-apa, Pak. Maaf saya merepotkan.”
Beberapa detik kemudian, Rizal keluar dari arah dalam rumah diikuti Bu Maya. Langkahnya pelan. Bahunya sedikit menunduk. Ia berdiri di dekat pintu, seolah memastikan jaraknya tetap aman dari pusat percakapan.
“Rizal, duduk di situ dekat ayah!” perintah Bu Maya dengan suara yang tidak tinggi, namun cukup tegas.
Rizal mendekat, lalu duduk di ujung sofa. Tidak benar-benar bergabung, tapi juga tidak menjauh. Sementara aku melemparkan senyum pada remaja itu, sedikit memiringkan tubuh dan menggeser posisi duduk agar tidak tepat berhadapan dengannya.
“Terima kasih sebelumnya, Pak, Bu, sudah meluangkan waktu.” Aku memulai pembicaraan dengan hati-hati. “Saya datang, ingin berbagi sedikit tentang Rizal di sekolah, sekaligus mendengar dari Bapak dan Ibu.”
Pak Reza mengangguk. “Silakan, Pak.”
“Beberapa hari lalu, ada kejadian di sekolah. Rizal memang tidak terlibat langsung dalam pelanggaran utama, tapi dia ikut bersama teman-temannya keluar area sekolah. Dari situ kami mencoba melihat lebih jauh, bagaimana sebenarnya posisi Rizal di lingkungan pergaulannya.”
“Iya, kami juga sudah dengar,” Bu Maya menimpali lebih cepat dari yang kuduga. “Terus terang, kami agak kaget. Selama ini anaknya kan lebih banyak diam.”
“Diam itu yang kadang membuat kami perlu melihat lebih dalam, Bu,” jawabku pelan.
Bu Maya menyandarkan punggungnya sedikit. “Justru itu, Pak. Kami juga sering bingung. Di rumah, dia tidak pernah macam-macam. Bahkan cenderung terlalu pasif juga. Kadang kami merasa dia seperti tidak punya inisiatif.”
Pak Reza menggeser posisi tangannya, jemarinya saling bertaut di atas lutut. Ia mengangguk pelan, lalu menoleh sekilas ke arah Rizal sebelum kembali menatapku, seolah menguatkan apa yang baru saja disampaikan istrinya. Sementara Rizal tetap menunduk, tangannya saling menggenggam di pangkuan.
“Kalau di sekolah,” lanjutku, “Rizal sebenarnya termasuk anak yang tidak bermasalah. Dia cenderung berhati-hati. Hanya saja, mungkin karena itu, dia jadi mudah ikut arus ketika berada di lingkungan tertentu.”
“Berarti dia kurang tegas, ya, Pak?” tanya Bu Maya.
“Bisa jadi,” aku tidak langsung menanggapi, mencoba mencari kalimat yang tepat. “Atau, mungkin dia sedang mencari tempat yang membuatnya merasa lebih diterima.”
Pak Reza mengangguk pelan, tapi ekspresinya tidak banyak berubah. “Kami sebenarnya punya harapan sederhana saja, Pak. Rizal ini kan yang paling besar. Kami ingin dia bisa jadi contoh untuk adik-adiknya.”
Bu Maya menambahkan, “Iya, Pak. Kami tidak menuntut macam-macam. Minimal, dia bisa menunjukkan sikap yang baik. Lebih aktif, lebih… terlihat.”
Kata ‘terlihat’ itu mengendap di kepalaku. “Selama ini, apakah Rizal sering diajak bicara tentang hal-hal seperti itu di rumah, Pak, Bu?” tanyaku.
Bu Maya tersenyum tipis. “Kami sering mengingatkan, Pak. Tapi ya itu, jawabannya selalu ‘iya’, ‘baik’. Tidak pernah berkembang.”
Pak Reza melirik sekilas ke arah Rizal. “Makanya kami sempat berpikir, apa mungkin perlu bantuan profesional. Psikolog, misalnya. Seperti yang pernah diusulkan guru BK-nya.”
Aku mengangguk. “Oh, jadi pernah ada pembicaraan seperti itu sebelumnya?”
“Iya,” jawab Bu Maya. “Dulu sekolah sempat menyarankan. Tapi menurut kami, kalau memang dibawa ke psikolog, ya sekalian saja diarahkan. Supaya dia bisa lebih terbuka, lebih percaya diri, dan ya.., sesuai dengan yang diharapkan.”
Aku menarik napas pelan, menimbang kata-kata yang hendak kusampaikan. Kalimat terakhir itu diucapkan dengan sangat halus, tapi maknanya jelas. Aku sempat melirik ke arah Rizal, lalu kembali pada Pak Reza dan Bu Maya.
“Tapi.., dari diskusi kami dengan BK,” kataku hati-hati, sedikit merendahkan suara, “Salah satu yang perlu coba didorong justru bukan langsung mengubah Rizal.” Aku berhenti sejenak, mencari kata yang tepat sebelum melanjutkan. “Mungkin.., kita bisa mulai dengan memberi ruang untuk proses kecilnya. Misalnya, mengapresiasi hal-hal sederhana yang dia lakukan.”
Bu Maya mengangguk, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya sependapat. “Iya, kami mengerti, Pak. Tapi kalau terlalu pelan, kami khawatir dia jadi terbiasa begitu saja.”
“Begitu saja?” tanyaku.
Bu Maya menarik napas tipis, “Ya karena kami khawatir justru dia tidak berkembang. Merasa semuanya sudah cukup.” Ia menoleh sekilas ke arah Rizal lalu ke suaminya. “Padahal kami ingin dia bisa lebih. Lebih aktif, lebih percaya diri. Ya.., minimal terlihat berusaha. Kami berharap dia bisa jadi contoh yang baik untuk adik-adiknya.”
Aku sempat membuka mulut, tapi mengurungkan niat, membiarkan jeda menggantung beberapa detik lebih lama dari biasanya. Pandanganku beralih ke arah Rizal. Ia masih menunduk. Sejak tadi, tidak ada satu pun kalimat yang keluar darinya.
“Rizal,” panggilku pelan, seolah hanya menyelipkan pertanyaan di sela percakapan yang sudah berjalan, “Kalau di rumah, biasanya kamu lebih banyak ngapain?”
Rizal tidak langsung menjawab. Jarinya bergerak pelan, saling menggesek di atas pangkuan. “Di kamar, Pak,” jawabnya singkat.
“Ngapain?” tanyaku ringan, nyaris seperti obrolan biasa.
“Ya.., biasa. Main HP, atau tidur.”
Bu Maya menarik napas kecil. “Itu dia, Pak. Kebanyakan di kamar. Jarang bergabung kalau kami lagi kumpul di luar.”
Aku mengangguk, menahan diri untuk tidak langsung menanggapi.
“Kadang.., lebih enak sendiri sih,” jawab Rizal lirih, nyaris tak terdengar.
Bu Maya mengerjapkan mata sejenak, lalu merapikan lipatan jilbabnya tanpa tergesa. “Nah, itu dia, Pak,” ujarnya pelan, menoleh ke arahku. “Dia memang begitu. Lebih nyaman sendiri. Makanya kami khawatir, kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan,” lanjutnya dengan senyum tipis, menjaga suasana daripada menanggapi isi kalimat Rizal. Sementara Pak Reza mengangguk kecil, seolah kalimat itu sudah cukup mewakili semuanya.
Rizal kembali menunduk. Kali ini lebih dalam. Aku merasa ada sesuatu yang terasa terlewat, bukan karena tidak diucapkan, tapi karena tidak benar-benar didengar. Di ruang yang tertata rapi itu, setiap kalimat seperti punya tempatnya masing-masing, kecuali yang datang dari Rizal. Ia sempat muncul, sebentar saja, lalu kembali menghilang di antara harapan-harapan yang sudah lebih dulu disusun.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, lebih sebagai penutup percakapan daripada tanda sepakat. Di saat itu, aku mulai memahami, bukan karena Rizal tidak memiliki sesuatu untuk ditunjukkan, tetapi karena apa yang ia miliki belum pernah benar-benar dianggap cukup. Di mata orang tuanya, ia masih harus menjadi sesuatu yang lain. Lebih terlihat, lebih mendekati gambaran yang sudah lama mereka simpan. Sementara yang sudah ada dalam dirinya, perlahan tertinggal, tanpa pernah benar-benar diberi nama.
Kreator : Khairul Ismi (Roelis Ril)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Ketika Guru Bersabar Chapter 12
Sorry, comment are closed for this post.