(Anomali dalam diri sendiri)
Wahai guru…
Siapakah lawan sejatinya seorang guru? Apakah siswa? Orang tua? Rekan sejawat? Kepala Sekolah? Ataukah sistem pendidikan?
Ketahuilah, Musuh yang paling sulit dikalahkan adalah diri sendiri.
Musuh itu tidak tampak oleh mata. Juga tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam diri sendiri. Ia ikut bangun ketika kita membuka mata di pagi hari, menemani sepanjang aktivitas, bahkan sering kali ikut tidur bersama kita tanpa pernah kita sadari.
Seperti sebuah peribahasa yang sering terdengar. “Kuman di seberang lautan dapat terlihat, tapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat”. Pepatah ini bukan sekadar sindiran, tetapi sebagai cermin bagi siapa saja, termasuk guru. Sebab tidak sedikit guru yang begitu mudah menilai cara mengajar orang lain, mengomentari perilaku rekan kerja, bahkan mengkritik kebijakan sekolah, tetapi lupa bertanya kepada dirinya sendiri,
“Apakah aku sudah menjadi seorang guru benar dan baik?”
Jawablah pertanyaan itu dengan kejernihan hati dan kejernihan pikiran!
Ada pula nasehat dari orang bijak yang mengatakan, “Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri”. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang sangat dalam. Seorang guru mungkin mampu mendidik ratusan siswa, tetapi belum tentu mampu mendidik dirinya sendiri. Guru mungkin pandai menasehati siswa tentang kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran, tetapi belum tentu mampu menerapkan semuanya dalam kehidupan pribadinya.
Camkan ini !
Pendidikan yang paling sulit bukanlah mendidik orang lain, melainkan mendidik diri sendiri.
Ini merupakan sebuah peringatan bagi diri kita untuk selalu intropeksi diri. Bukan hanya sekali atau dua kali, ketika melakukan kesalahan, melainkan setiap hari. Terlebih lagi saat malam mulai sunyi dan semua aktivitas selesai, cobalah bertanya kepada diri sendiri,
“Apakah hari ini aku telah membuat kesalahan?”
“Apakah hari ini aku telah menyadari kesalahanku?”
“Apakah hari ini aku telah memperbaiki kesalahan itu?”
Dari berbagai petuah di atas, semuanya bermuara pada satu hal, yaitu kesadaran diri seorang guru. Di dalam diri setiap guru terdapat sesuatu yang harus senantiasa dikendalikan. Jika dibiarkan tumbuh tanpa kendali, hal itu akan menguasai dirinya, mempengaruhi cara berpikir, sikap, dan setiap tindakannya. Pada akhirnya, yang lahir bukan lagi kebijaksanaan, melainkan berbagai perilaku yang membawa dampak negatif, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya.
Sampai disini apakah engkau paham, bagian apa dari dirimu yang menjadi lawanmu?
Sejak lahir, manusia membawa dua anugerah sekaligus ujian dalam dirinya, akal dan nafsu. Keduanya tidak tampak secara kasat mata sehingga tidak dapat dilawan dengan kekuatan fisik. Meski tak terlihat, pengaruhnya sangat nyata. Keduanya tidak menampakkan wujudnya, tetapi pengaruhnya terlihat jelas melalui cara seseorang berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak.
Akal mengajak manusia berpikir jernih, mempertimbangkan kebenaran, dan memilih jalan yang baik. Sedangkan nafsu selalu menginginkan kepuasan. Nafsu tidak selalu buruk, tetapi ketika tidak dikendalikan, ia akan melahirkan sifat-sifat yang merusak, seperti ego, kesombongan, iri hati, dengki, dan ambisi yang berlebihan.
Musuh itu tidak berteriak. Ia hanya berbisik di dalam hati dan pikiran. Namun sedikit demi sedikit menguasai dirimu. Lama-kelamaan, engkau tidak lagi merasa dirimu salah. Semua yang dilakukan dianggap benar. Semua kritik dianggap serangan. Semua nasehat dianggap penghinaan.
Di sinilah anomali itu bermula. Seorang guru yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada siswa justru gagal mengendalikan dirinya sendiri.
Guru yang Egois
Ego adalah bagian dari diri setiap manusia. Tanpa ego, seseorang mungkin kehilangan kepercayaan diri. Namun ketika ego tumbuh tanpa kendali, ia berubah menjadi penguasa dalam kehidupan seseorang.
Guru yang dikuasai ego selalu merasa dirinya paling benar. Pendapatnya harus diterima. Sarannya harus diikuti. Keputusannya tidak boleh dibantah. Kadang ia berlindung di balik usia yang lebih tua, masa kerja yang lebih lama, jabatan yang lebih tinggi, atau pengalaman yang lebih banyak. Semua itu dijadikan alasan untuk membenarkan dirinya.
Dalam setiap rapat, ia ingin menjadi pusat perhatian. Dalam setiap diskusi, ia ingin menjadi penentu keputusan. Jika idenya diterima, ia merasa bangga. Jika ditolak, ia merasa diremehkan. Ketika tim berhasil, ia menganggap dirinya tokoh utama. Namun ketika tim gagal, ia mencari kambing hitam agar dirinya tetap terlihat benar.
Ironisnya, orang yang dikuasai ego hampir tidak pernah menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai ego. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan dirinya. Semakin sering dipuji, semakin sulit menerima kritik. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin besar pula dirinya untuk merasa paling penting.
Ego adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari diri seorang manusia. Ia akan berubah menjadi lawan, ketika kita biarkan ia berkembang sendiri tanpa dikendalikan. Ego harus tunduk dengan akal yang jernih dan hati yang suci. Jernih dari segala pikiran negatif, dan suci dari semua sifat yang tidak baik. Maka egopun dapat dikendalikan.
Seorang guru yang hebat bukanlah guru yang selalu ingin didengar. Guru yang hebat justru mampu mendengar. Bukan guru yang selalu ingin dihormati, melainkan guru yang terlebih dahulu menghormati orang lain.
Guru yang berhasil mengendalikan egonya tidak sibuk mempertontonkan kelebihannya. Ia cenderung untuk menutupi segala kelebihan yang dimilikinya. Ia tidak merasa perlu menceritakan prestasi yang pernah diraih, relasi yang dimiliki, ataupun pengalaman yang telah dilalui.
Ia membiarkan karya yang berbicara.
Ia lebih banyak bekerja daripada berbicara.
Ia lebih banyak memberi daripada meminta penghargaan.
Guru seperti inilah yang kehadirannya selalu dirindukan. Rekan kerja merasa nyaman berdiskusi dengannya. Siswa merasa dihargai. Orang tua merasa dihormati. Ia tidak meninggikan dirinya, tetapi justru ditinggikan oleh akhlaknya.
Guru yang ambisius
Selain ego, musuh lain yang sering menyelinap ke dalam diri guru adalah ambisi. Ambisi pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Keinginan menjadi guru berprestasi, meningkatkan kompetensi, melanjutkan pendidikan, atau menghasilkan karya terbaik adalah bentuk ambisi yang positif.
Namun saat ambisi menguasai diri, maka ia berubah menjadi racun.
Ketika demi meraih tujuan dengan menghalalkan segala cara.
Ketika jabatan menjadi obsesi.
Ketika penghargaan menjadi tujuan utama.
Ketika pengaruh dan kekuasaan lebih penting daripada pengabdian.
Di saat itulah seorang guru mulai kehilangan arah. Ia tidak lagi bekerja karena panggilan hati, tetapi demi kepentingan pribadi.
Jika engkau telaah, apakah ambisi dari seorang guru?
Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa jabatan dalam sebuah intansi sering menjadi sesuatu yang diperebutkan. Semua orang berhak mencita-citakannya. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Namun yang menjadi persoalan adalah cara mencapainya.
Ketika seseorang mulai mengandalkan kedekatan, menjilat atasan, menjatuhkan rekan, memanipulasi penilaian, bahkan menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan nilai moral, sesungguhnya ia sedang menggadaikan kehormatan dirinya sendiri.
Jabatan yang diperoleh dengan cara yang tidak baik akan sulit melahirkan kepemimpinan yang baik. Karena apa yang diperoleh secara keliru sering kali harus dipertahankan dengan cara yang keliru pula.
Padahal jabatan hanyalah amanah. Ia bukan ukuran kemuliaan seseorang. Banyak guru biasa yang pengaruhnya jauh lebih besar daripada pejabat pendidikan. Banyak guru yang tidak memiliki jabatan apa pun, tetapi dirinya selalu diharapakan untuk kehadirannya. Itulah kemuliaan yang sesungguhnya.
Sekarang engkau renungkan kata-kata ini !
Pertempuran terbesar bukanlah menghadapi siswa yang sulit diatur. Bukan pula menghadapi orang tua yang sering menyalahkan sekolah. Bukan juga menghadapi rekan kerja yang berbeda pendapat.
Pertempuran terbesar adalah ketika kita berusaha menaklukkan kesombongan dalam hati, mengendalikan ego dalam pikiran, serta menahan ambisi agar tetap berada di jalan yang benar.
Karena orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri, ia akan lebih mudah menghadapi siapa pun.
Guru yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih sabar menghadapi anak didiknya. Lebih bijaksana menghadapi kritik. Lebih lapang menerima perbedaan. Lebih rendah hati menerima keberhasilan. Dan lebih ikhlas saat menerima kegagalan.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar seorang guru bukanlah ketika berhasil mendidik ribuan siswa menjadi orang hebat. Melainkan ketika ia berhasil mendidik dirinya sendiri menjadi pribadi yang semakin baik.
Sebab guru yang terus memperbaiki dirinya akan selalu memiliki cahaya untuk menerangi orang lain. Cahaya itu tidak pernah lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kerendahan hati untuk terus belajar dan terus memperbaiki diri.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru VS Dirinya sendiri
Sorry, comment are closed for this post.