KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Guru VS Dirinya sendiri

    Guru VS Dirinya sendiri

    BY 25 Jul 2026 Dilihat: 5 kali
    Syarat menjadi guru di Indonesia_alineaku

    (Anomali dalam diri sendiri)

     

    Wahai guru…

    Siapakah lawan sejatinya seorang guru? Apakah siswa? Orang tua? Rekan sejawat? Kepala Sekolah? Ataukah sistem pendidikan?

     

    Ketahuilah, Musuh yang paling sulit dikalahkan adalah diri sendiri.

     

    Musuh itu tidak tampak oleh mata. Juga tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam diri sendiri. Ia ikut bangun ketika kita membuka mata di pagi hari, menemani sepanjang aktivitas, bahkan sering kali ikut tidur bersama kita tanpa pernah kita sadari.

     

    Seperti sebuah peribahasa yang sering terdengar. “Kuman di seberang lautan dapat terlihat, tapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat”. Pepatah ini bukan sekadar sindiran, tetapi sebagai cermin bagi siapa saja, termasuk guru. Sebab tidak sedikit guru yang begitu mudah menilai cara mengajar orang lain, mengomentari perilaku rekan kerja, bahkan mengkritik kebijakan sekolah, tetapi lupa bertanya kepada dirinya sendiri,

    “Apakah aku sudah menjadi seorang guru benar dan baik?”

     

    Jawablah pertanyaan itu dengan kejernihan hati dan kejernihan pikiran!

     

    Ada pula nasehat dari orang bijak yang mengatakan, “Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri”. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang sangat dalam. Seorang guru mungkin mampu mendidik ratusan siswa, tetapi belum tentu mampu mendidik dirinya sendiri. Guru mungkin pandai menasehati siswa tentang kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran, tetapi belum tentu mampu menerapkan semuanya dalam kehidupan pribadinya.

     

    Camkan ini !

    Pendidikan yang paling sulit bukanlah mendidik orang lain, melainkan mendidik diri sendiri.

     

    Ini merupakan sebuah peringatan bagi diri kita untuk selalu intropeksi diri. Bukan hanya sekali atau dua kali, ketika melakukan kesalahan, melainkan setiap hari. Terlebih lagi saat malam mulai sunyi dan semua aktivitas selesai, cobalah bertanya kepada diri sendiri,

     

    “Apakah hari ini aku telah membuat kesalahan?”

    “Apakah hari ini aku telah menyadari kesalahanku?”

    “Apakah hari ini aku telah memperbaiki kesalahan itu?”

     

    Dari berbagai petuah di atas, semuanya bermuara pada satu hal, yaitu kesadaran diri seorang guru. Di dalam diri setiap guru terdapat sesuatu yang harus senantiasa dikendalikan. Jika dibiarkan tumbuh tanpa kendali, hal itu akan menguasai dirinya, mempengaruhi cara berpikir, sikap, dan setiap tindakannya. Pada akhirnya, yang lahir bukan lagi kebijaksanaan, melainkan berbagai perilaku yang membawa dampak negatif, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya.

     

    Sampai disini apakah engkau paham, bagian apa dari dirimu yang menjadi lawanmu?

    Sejak lahir, manusia membawa dua anugerah sekaligus ujian dalam dirinya, akal dan nafsu. Keduanya tidak tampak secara kasat mata sehingga tidak dapat dilawan dengan kekuatan fisik. Meski tak terlihat, pengaruhnya sangat nyata. Keduanya tidak menampakkan wujudnya, tetapi pengaruhnya terlihat jelas melalui cara seseorang berpikir, berbicara, bersikap, dan bertindak.

     

    Akal mengajak manusia berpikir jernih, mempertimbangkan kebenaran, dan memilih jalan yang baik. Sedangkan nafsu selalu menginginkan kepuasan. Nafsu tidak selalu buruk, tetapi ketika tidak dikendalikan, ia akan melahirkan sifat-sifat yang merusak, seperti ego, kesombongan, iri hati, dengki, dan ambisi yang berlebihan.

     

    Musuh itu tidak berteriak. Ia hanya berbisik di dalam hati dan pikiran. Namun sedikit demi sedikit menguasai dirimu. Lama-kelamaan, engkau tidak lagi merasa dirimu salah. Semua yang dilakukan dianggap benar. Semua kritik dianggap serangan. Semua nasehat dianggap penghinaan.

    Di sinilah anomali itu bermula. Seorang guru yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada siswa justru gagal mengendalikan dirinya sendiri.

     

    Guru yang Egois

     

    Ego adalah bagian dari diri setiap manusia. Tanpa ego, seseorang mungkin kehilangan kepercayaan diri. Namun ketika ego tumbuh tanpa kendali, ia berubah menjadi penguasa dalam kehidupan seseorang.

    Guru yang dikuasai ego selalu merasa dirinya paling benar. Pendapatnya harus diterima. Sarannya harus diikuti. Keputusannya tidak boleh dibantah. Kadang ia berlindung di balik usia yang lebih tua, masa kerja yang lebih lama, jabatan yang lebih tinggi, atau pengalaman yang lebih banyak. Semua itu dijadikan alasan untuk membenarkan dirinya.

    Dalam setiap rapat, ia ingin menjadi pusat perhatian. Dalam setiap diskusi, ia ingin menjadi penentu keputusan. Jika idenya diterima, ia merasa bangga. Jika ditolak, ia merasa diremehkan. Ketika tim berhasil, ia menganggap dirinya tokoh utama. Namun ketika tim gagal, ia mencari kambing hitam agar dirinya tetap terlihat benar.

    Ironisnya, orang yang dikuasai ego hampir tidak pernah menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai ego. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan dirinya. Semakin sering dipuji, semakin sulit menerima kritik. Semakin tinggi jabatan yang dimiliki, semakin besar pula dirinya untuk merasa paling penting.

    Ego adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari diri seorang manusia. Ia akan berubah menjadi lawan, ketika kita biarkan ia berkembang sendiri tanpa dikendalikan. Ego harus tunduk dengan akal yang jernih dan hati yang suci. Jernih dari segala pikiran negatif, dan suci dari semua sifat yang tidak baik. Maka egopun dapat dikendalikan.

    Seorang guru yang hebat bukanlah guru yang selalu ingin didengar. Guru yang hebat justru mampu mendengar. Bukan guru yang selalu ingin dihormati, melainkan guru yang terlebih dahulu menghormati orang lain.

    Guru yang berhasil mengendalikan egonya tidak sibuk mempertontonkan kelebihannya. Ia cenderung untuk menutupi segala kelebihan yang dimilikinya. Ia tidak merasa perlu menceritakan prestasi yang pernah diraih, relasi yang dimiliki, ataupun pengalaman yang telah dilalui.

    Ia membiarkan karya yang berbicara.

    Ia lebih banyak bekerja daripada berbicara.

    Ia lebih banyak memberi daripada meminta penghargaan.

    Guru seperti inilah yang kehadirannya selalu dirindukan. Rekan kerja merasa nyaman berdiskusi dengannya. Siswa merasa dihargai. Orang tua merasa dihormati. Ia tidak meninggikan dirinya, tetapi justru ditinggikan oleh akhlaknya.

     

    Guru yang ambisius

     

    Selain ego, musuh lain yang sering menyelinap ke dalam diri guru adalah ambisi. Ambisi pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Keinginan menjadi guru berprestasi, meningkatkan kompetensi, melanjutkan pendidikan, atau menghasilkan karya terbaik adalah bentuk ambisi yang positif.

    Namun saat ambisi menguasai diri, maka ia berubah menjadi racun. 

    Ketika demi meraih tujuan dengan menghalalkan segala cara.

    Ketika jabatan menjadi obsesi.

    Ketika penghargaan menjadi tujuan utama.

    Ketika pengaruh dan kekuasaan lebih penting daripada pengabdian.

    Di saat itulah seorang guru mulai kehilangan arah. Ia tidak lagi bekerja karena panggilan hati, tetapi demi kepentingan pribadi.

    Jika engkau telaah, apakah ambisi dari seorang guru?

     

    Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa jabatan dalam sebuah intansi sering menjadi sesuatu yang diperebutkan. Semua orang berhak mencita-citakannya. Tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Namun yang menjadi persoalan adalah cara mencapainya.

    Ketika seseorang mulai mengandalkan kedekatan, menjilat atasan, menjatuhkan rekan, memanipulasi penilaian, bahkan menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan nilai moral, sesungguhnya ia sedang menggadaikan kehormatan dirinya sendiri.

    Jabatan yang diperoleh dengan cara yang tidak baik akan sulit melahirkan kepemimpinan yang baik. Karena apa yang diperoleh secara keliru sering kali harus dipertahankan dengan cara yang keliru pula.

    Padahal jabatan hanyalah amanah. Ia bukan ukuran kemuliaan seseorang. Banyak guru biasa yang pengaruhnya jauh lebih besar daripada pejabat pendidikan. Banyak guru yang tidak memiliki jabatan apa pun, tetapi dirinya selalu diharapakan untuk kehadirannya. Itulah kemuliaan yang sesungguhnya.

    Sekarang engkau renungkan kata-kata ini !

     

    Pertempuran terbesar bukanlah menghadapi siswa yang sulit diatur. Bukan pula menghadapi orang tua yang sering menyalahkan sekolah. Bukan juga menghadapi rekan kerja yang berbeda pendapat.

    Pertempuran terbesar adalah ketika kita berusaha menaklukkan kesombongan dalam hati, mengendalikan ego dalam pikiran, serta menahan ambisi agar tetap berada di jalan yang benar.

    Karena orang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri, ia akan lebih mudah menghadapi siapa pun.

    Guru yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih sabar menghadapi anak didiknya. Lebih bijaksana menghadapi kritik.  Lebih lapang menerima perbedaan. Lebih rendah hati menerima keberhasilan. Dan lebih ikhlas saat menerima kegagalan.

    Pada akhirnya, kemenangan terbesar seorang guru bukanlah ketika berhasil mendidik ribuan siswa menjadi orang hebat. Melainkan ketika ia berhasil mendidik dirinya sendiri menjadi pribadi yang semakin baik.

    Sebab guru yang terus memperbaiki dirinya akan selalu memiliki cahaya untuk menerangi orang lain. Cahaya itu tidak pernah lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kerendahan hati untuk terus belajar dan terus memperbaiki diri.

     

     

    Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Guru VS Dirinya sendiri

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021