Guru vs Orang Tua Siswa
(Sebuah Anomali dalam Pendidikan)
Wahai guru…
Apakah guru masih dipercaya untuk mendidik? Apakah masyarakat masih menaruh kepercayaan kepada sekolah? Kenapa akhir-akhir ini sangat sering terjadi perseteruan antara guru dengan orang tua?
Pertanyaan itu bisa muncul dari kegelisahan yang mendalam. Sebab hubungan antara guru dan orang tua sejatinya adalah hubungan kemitraan. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengantarkan anak menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu menjalani kehidupan dengan baik. Namun mengapa yang terjadi justru saling curiga, saling menyalahkan, bahkan tidak jarang berujung pada konflik terbuka?
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana dahulu guru begitu dihormati oleh masyarakat. Guru begitu dimuliakan dan menjadi contoh teladan dalam kehidupan. Kehadiran guru disambut dengan penuh penghargaan. Nasehat guru dianggap sebagai petunjuk yang berharga. Bahkan orang tua sering menyerahkan pendidikan anaknya kepada sekolah dengan penuh kepercayaan.
Di masa itu, ketika seorang anak melakukan kesalahan di sekolah lalu mendapat teguran dari guru, orang tua justru mendukung upaya guru tersebut. Mereka percaya bahwa teguran itu merupakan bagian dari proses pendidikan. Guru dan orang tua berjalan beriringan dalam mendidik anak.
Namun dalam satu dekade terakhir, suasana itu perlahan berubah. Kita sering menyaksikan orang tua datang ke sekolah dengan kemarahan yang meluap-luap. Ada yang membentak guru, mengancam kepala sekolah, bahkan tidak sedikit yang berujung pada laporan ke aparat penegak hukum. Ada yang lebih memprihatinkan, sebagian konflik terjadi tanpa adanya upaya komunikasi dan klarifikasi yang memadai.
Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan yang tumbuh di tengah masyarakat. Sebagian orang tua memandang guru bukan lagi sebagai orang yang berjasa dalam pendidikan anaknya. Tetapi dipandang sebagai pihak yang harus selalu dicurigai. Kesalahan kecil diperbesar. Kekeliruan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog justru berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Memang harus diakui, tidak semua guru sempurna. Ada oknum guru yang melakukan tindakan di luar etika profesinya. Ada yang kurang mampu mengendalikan emosi, ada yang menggunakan cara-cara yang tidak tepat dalam mendidik, bahkan ada yang melanggar aturan. Kesalahan tersebut tentu tidak boleh dibenarkan.
Karena itu guru harus terus berbenah. Guru harus meningkatkan kompetensi, memperkuat integritas, serta memperbaiki cara berkomunikasi dengan peserta didik maupun orang tua. Di tengah perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi saat ini, guru dituntut untuk lebih profesional daripada sebelumnya.
Masyarakat menaruh harapan yang sangat besar kepada guru. Guru dianggap harus mampu menjadi pendidik, konselor, motivator, teladan, bahkan terkadang diharapkan mampu menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang terjadi pada anak. Tuntutan itu memang berat, tetapi itulah realitas yang dihadapi profesi guru saat ini.
Namun di balik tuntutan tersebut, orang tua juga perlu memahami tugas dan wewenang guru. Pendidikan bukanlah pekerjaan yang mudah. Mendidik anak berarti membimbing manusia yang memiliki karakter, emosi, dan latar belakang yang berbeda-beda. Dalam proses itu, tidak mungkin semuanya berjalan sempurna.
Seorang guru yang tulus mendidik tidak pernah memiliki niat buruk terhadap muridnya. Jika guru melakukan kesalahan, tentu ia boleh dikritik dan ditegur. Namun kritik yang disampaikan dengan bijaksana akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan amarah yang meledak-ledak.
Persoalannya menjadi lebih rumit ketika kepercayaan itu hilang. Ketika guru tidak lagi dipercaya, maka setiap tindakan guru akan dianggap salah. Nasehat dianggap ancaman. Teguran dianggap kekerasan. Hukuman edukatif dianggap pelanggaran hak anak. Pada akhirnya guru menjadi takut mengambil tindakan apa pun.
Lebih ironis lagi, dalam beberapa kasus, ada orang tua yang menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk menekan pihak sekolah. Karena merasa memiliki jabatan, kedudukan, atau relasi tertentu, mereka dapat dengan mudah memberikan tekanan kepada guru maupun kepala sekolah. Tidak sedikit guru yang harus menerima mutasi, teguran, atau bahkan kehilangan jabatan hanya karena menghadapi konflik dengan anak dari keluarga yang memiliki kekuasaan.
Cobalah engkau lihat fenomena-fenomena itu. Sungguh miris kan !
Padahal pendidikan tidak boleh tunduk kepada kekuasaan. Pendidikan harus berdiri di atas keadilan. Siapa pun orang tuanya, setiap anak harus diperlakukan sama dan setiap guru juga berhak mendapatkan perlindungan yang sama.
Fenomena lain yang semakin sering terjadi adalah budaya memviralkan masalah. Ketika terjadi persoalan di sekolah, sebagian orang tua lebih memilih membuat video dan mengunggahnya ke media sosial daripada datang untuk berdiskusi. Informasi yang disampaikan sering kali hanya berasal dari satu sudut pandang. Akibatnya masyarakat langsung memberikan penilaian tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
Padahal dalam setiap konflik selalu ada dua sisi cerita yang perlu didengar. Keadilan lahir dari klarifikasi, bukan dari asumsi. Kebenaran ditemukan melalui dialog, bukan melalui kemarahan yang dipertontonkan.
Masyarakat yang bijak tentu akan mencari informasi dari kedua belah pihak. Mereka tidak akan langsung menyalahkan guru hanya berdasarkan cerita sepihak. Sebab mereka memahami bahwa anak-anak pun bisa saja keliru dalam menyampaikan suatu peristiwa.
Terkadang muncul situasi yang cukup mengherankan. Dua siswa bertengkar di sekolah. Guru berusaha melerai, menasihati, dan mendamaikan mereka. Persoalan sebenarnya telah selesai di antara kedua anak tersebut. Namun orang tua salah satu pihak justru datang dengan kemarahan besar dan menyalahkan guru.
Ada pula yang menuntut guru karena anaknya terluka saat bermain atau beraktivitas di sekolah. Seolah-olah sekolah adalah tempat yang mampu mengawasi setiap gerakan anak selama dua puluh empat jam. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, resiko kecil seperti terjatuh, tersandung, atau berselisih dengan teman adalah bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Bukan berarti sekolah bebas dari tanggung jawab. Sekolah tetap harus memberikan perlindungan dan pengawasan yang maksimal. Namun orang tua juga harus memahami bahwa sekolah bukan tempat penitipan anak yang dapat menjamin tidak akan terjadi satu pun masalah.
Di sinilah pentingnya membangun kembali kemitraan antara guru dan orang tua. Pendidikan yang berhasil tidak mungkin dibangun hanya oleh sekolah. Sebaik apa pun guru mengajar, hasilnya akan terbatas jika tidak didukung oleh keluarga. Sebaliknya, sebaik apa pun orang tua mendidik di rumah, anak tetap membutuhkan bimbingan guru di sekolah.
Guru dan orang tua bukanlah lawan yang harus saling mengalahkan. Keduanya adalah sahabat seperjuangan yang memikul amanah yang sama. Ketika guru dan orang tua saling percaya, anak akan tumbuh dengan baik. Ketika keduanya saling menghormati, anak akan belajar tentang penghormatan. Dan ketika keduanya mampu bekerja sama, anak akan mendapatkan pendidikan terbaik yang tidak bisa diberikan oleh salah satu pihak saja.
Sekarang, coba tanya pada dirimu sendiri !
Saat terjadi masalah pada anak, apakah engkau memilih emosi atau komunikasi?
Apakah engkau lebih suka mencari kambing hitam atau mencari solusi?
Apakah engkau ingin memenangkan pertengkaran atau menyelamatkan masa depan anak?
Karena sesungguhnya yang paling dirugikan dari konflik antara guru dan orang tua bukanlah guru, bukan pula orang tua, melainkan anak-anak yang sedang belajar tentang kehidupan. Mereka membutuhkan teladan tentang cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, saling menghargai, dan penuh kebijaksanaan.
Sebab pendidikan tidak akan pernah berhasil jika guru dan orang tua berdiri berseberangan. Pendidikan hanya akan berhasil ketika keduanya berjalan bergandengan tangan menuju tujuan yang sama, membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan beradab.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru VS Orang tua Siswa
Sorry, comment are closed for this post.