KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Guru Waskita

    Guru Waskita

    BY 09 Sep 2026 Dilihat: 10 kali
    Syarat menjadi guru di Indonesia_alineaku

    Guru Waskita

    (Menata batin, Mengendalikan keinginan)

     

    Wahai Guru…

    Mengapa ada orang yang mampu memandang kehidupan dengan begitu jernih dalam keheningan? Bagaimana seseorang dapat menjadi guru yang waskita?

    Di dalam keheningan, lahirlah cahaya yang tak berwarna. Cahaya itu disebut waskita. Ia bukan sekadar kecerdasan berpikir atau luasnya pengetahuan. Waskita adalah kejernihan batin. Sebuah keadaan ketika pikiran terbebas dari kegaduhan, ego mampu ditundukkan, dan hati menjadi peka membaca tanda-tanda Tuhan, baik yang terhampar di alam semesta maupun yang bersemayam di dalam diri.

    Menjadi waskita bukanlah anugerah yang datang begitu saja. Waskita itu tumbuh melalui laku hidup yang terus-menerus dijaga. Karena itu, sudah saatnya seorang guru memberi perhatian pada tiga lapis keberadaan dalam dirinya.  Raga, Rasa, dan Sukma. Ketiganya saling memengaruhi. Ketika salah satunya diabaikan, maka kejernihan batin pun perlahan memudar.

    Raga dijaga melalui kehidupan yang tertib. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, beristirahat secukupnya, menjaga pola makan, membangun hubungan sosial yang sehat, serta memberi kesempatan bagi tubuh untuk pulih. Tubuh yang sehat membuat pikiran tetap jernih. Sebaliknya, raga yang terabaikan akan membuat tubuh kelelahan, penyakit mudah datang, emosi gampang meledak, dan batin yang kehilangan ketajamannya.

    Rasa diasah melalui keheningan. Manusia membutuhkan cahaya, tetapi sesekali juga memerlukan kegelapan agar tidak melihat apapun kecuali ke dalam dirinya sendiri. Manusia menyukai keramaian, tetapi pada waktu-waktu tertentu ia membutuhkan kesunyian agar dapat mendengar suara hatinya. Dalam ruang sunyi itulah rasa menjadi lebih peka dan persoalan dapat dipandang dengan lebih jernih daripada ketika pikiran dipenuhi kebisingan.

    Sukma diarahkan agar selalu mengingat asal dan tujuan hidup. Ketika seseorang sudah memasuki ruang sunyi di dalam dirinya, ia akan menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikannya. Kesadaran itu melahirkan sikap berserah kepada Tuhan. Di sanalah sukma menemukan arah pulangnya.

    Jalan menuju kewaskitaan bukanlah jalan yang mudah. Dengan melewati jalan sunyi yang dipenuhi latihan, kesabaran, dan pengendalian diri. Tidak banyak tepuk tangan, juga sepi dari  pujian. Namun justru di jalan sunyi itulah manusia ditempa menjadi pribadi yang matang. Di jalan itu lahirlah keikhlasan, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengaturan Sang Maha Mengatur.

    Para guru, empu, resi, dan kiai pada masa lalu dikenang bukan karena banyak berbicara, tetapi karena kebijaksanaan yang terpancar dari dirinya. Mereka tidak sibuk memamerkan kepandaian, tetapi menghadirkan ketenangan. Mereka lebih banyak memberi teladan daripada penjelasan. Sebab kewaskitaan diperoleh bukan dari banyaknya pengetahuan, jabatan, ataupun kekuasaan, melainkan dari hati yang sederhana dan bening.

    Ironisnya, zaman modern justru bergerak ke arah yang berbeda. lomba ingin terlihat cerdas, ingin diakui paling pintar, paling berintegritas. Pengetahuan semakin mudah diperoleh, tetapi kejernihan batin justru semakin sulit ditemukan.

    Karena itu, renungkanlah sejenak.

    Apakah kewaskitaan masih menjadi bagian dari kehidupan seorang guru pada masa kini? Mengapa kata waskita hampir tidak pernah hadir dalam pembicaraan tentang profesionalisme ataupun kode etik guru?

    Padahal setiap hari seorang guru berhadapan dengan tiga medan kehidupan yang akan menguji kualitas batinnya: dirinya sendiri, peserta didik, dan aturan yang mengikat profesinya. Pada ketiga medan inilah kewaskitaan seharusnya menjadi nafas dalam setiap langkah dan setiap keputusan.

    Waskita terhadap Diri Sendiri

    Pertempuran terbesar seorang guru bukanlah menghadapi siswa yang sulit ataupun aturan yang rumit, tapi menghadapi dirinya sendiri. Di dalam diri manusia selalu ada ego dan nafsu yang terus bergerak mencari keuntungan dan kemenangan.

    Tanpa kewaskitaan, ego akan menguasai pikiran, sedangkan nafsu akan menentukan arah tindakan. Akibatnya, seseorang guru tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar memenuhi keinginannya sendiri. Baginya yang terpenting hanyalah tercapai kepentingan pribadi, meskipun harus mengorbankan kebijaksanaan.

    Guru yang waskita selalu mengawasi dirinya sebelum menilai orang lain. Ia lebih dahulu mengoreksi hatinya sebelum mengoreksi kesalahan siswanya. Ia sadar bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan ego yang bersemayam di dalam dirinya sendiri.

    Waskita dalam Mendidik Siswa

    Guru yang waskita tidak pernah terburu-buru memberi label kepada seorang anak. Ia tidak mudah mengatakan bahwa seorang murid bodoh, malas, atau tidak berbakat. Ia memahami bahwa setiap anak datang ke dunia dengan membawa potensi yang berbeda-beda.

    Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang unggul dalam seni, memiliki kecerdasan sosial, kreativitas, kepemimpinan, kemampuan kinestetik, atau kelebihan lain yang mungkin belum tampak.

    Jika seorang anak mampu mengikuti pembelajaran dengan baik, guru akan membantu mengembangkan potensinya. Namun ketika seorang anak mengalami kesulitan, guru yang waskita tidak berhenti pada kekurangannya. Ia justru bertanya lebihanaa,

    “Di manakah kelebihan anak ini yang belum aku temukan?”

    Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang menjadi fondasi penting dalam pendidikan. Akan tetapi, seorang guru yang waskita tidak menjadikan keterbatasan pada tiga kemampuan itu sebagai akhir dari penilaian terhadap seorang anak.

    Ia terus mencari cahaya yang tersembunyi di dalam diri siswanya. Cahaya itu mungkin hadir dalam seni, olahraga, kepemimpinan, empati, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, ataupun bentuk kecerdasan lain yang belum terlihat.

    Karena bagi guru yang waskita, setiap anak adalah amanah Tuhan yang membawa keistimewaannya masing-masing. Tugas guru bukan menentukan siapa yang paling hebat, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik menuju masa depannya.

    Waskita dalam Menjalankan Aturan

    Ketika engkau menjadi guru, berarti siap memikul tanggung jawab untuk menaati berbagai aturan yang berlaku. Aturan memang diperlukan agar pendidikan berjalan tertib dan terarah.

    Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai bunyi teks peraturan. Guru sering berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks, perselisihan dengan peserta didik, kesalahpahaman dengan orang tua, tekanan masyarakat, perbedaan pendapat dengan rekan sejawat, tuntutan pimpinan, hingga kebijakan yang terkadang sulit dipahami.

    Dalam situasi seperti itulah kewaskitaan menjadi penentu. Guru yang waskita tidak gegabah mengambil keputusan hanya karena dorongan emosi. Ia mampu membedakan persoalan yang harus diselesaikan dengan ketegasan, persoalan yang membutuhkan kesabaran, dan persoalan yang cukup dijawab dengan kebesaran hati.

    Waskita tidak menjadikan aturan sebagai senjata untuk menyalahkan orang lain, tetapi sebagai pedoman untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan.

    Latihan menjadi guru yang waskita harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hiduplah dengan ritme yang seimbang. Tidurlah secukupnya, makanlah secukupnya, dan berbicaralah seperlunya. Kurangi kebisingan, bukan hanya suara dari luar, tetapi juga banjir informasi yang memenuhi pikiran. Batin yang terlalu penuh akan sulit menjadi jernih.

    Luangkan pula waktu untuk berdiam dalam keheningan. Duduklah beberapa menit pada saat suasana tenang. Rasakan setiap tarikan dan hembusan nafas. Amati pikiran yang datang tanpa harus mengikuti ke mana arahnya. Lakukan dengan tekun, sebab kejernihan batin lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

    Ketika suatu saat masalah datang, jangan hanya bertanya,

    “Mengapa ini terjadi kepadaku?”

    Cobalah bertanya,

    “Apa yang sedang Tuhan ajarkan melalui peristiwa ini?”

    Pertanyaan sederhana itu akan mengubah seseorang dari pribadi yang merasa menjadi korban menjadi seorang pembelajar, dari manusia yang reaktif menjadi pribadi yang reflektif.

    Pada akhirnya, kewaskitaan bukanlah kemampuan melihat hal-hal gaib, melainkan kemampuan memandang kehidupan dengan hati yang jernih. Guru yang waskita mungkin tidak selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan. Namun ia selalu memiliki kebijaksanaan dalam menyikapi setiap keadaan. Ia tidak mudah dikuasai ego, tidak cepat menghakimi, dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.

    Sebab guru sejati bukan hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga mendidik dengan kejernihan batin.

    Barangkali, dunia pendidikan hari ini tidak sedang kekurangan orang-orang pintar. Akan tetapi, yang lebih dibutuhkan justru adalah lahirnya kembali guru-guru yang waskita; guru yang mampu menata batinnya sebelum menata siswanya, mampu mengendalikan keinginannya sebelum mengendalikan kelasnya, serta mampu mendengarkan suara hati sebelum sibuk memperdengarkan suaranya sendiri.

    Sebab perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari kurikulum yang baru, teknologi yang lebih canggih, atau aturan yang semakin banyak. Perubahan sering kali berawal dari satu hal yang tidak disangka, hati seorang guru yang jernih. Dari hati yang jernih lahirlah pikiran yang bijaksana, ucapan yang menenangkan, dan tindakan yang memanusiakan. Di sanalah kewaskitaan menemukan maknanya, bukan sebagai sesuatu yang luar biasa, melainkan sebagai cara seorang guru menjalani hidupnya setiap hari.

     

     

    Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Guru Waskita

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021