Guru Waskita
(Menata batin, Mengendalikan keinginan)
Wahai Guru…
Mengapa ada orang yang mampu memandang kehidupan dengan begitu jernih dalam keheningan? Bagaimana seseorang dapat menjadi guru yang waskita?
Di dalam keheningan, lahirlah cahaya yang tak berwarna. Cahaya itu disebut waskita. Ia bukan sekadar kecerdasan berpikir atau luasnya pengetahuan. Waskita adalah kejernihan batin. Sebuah keadaan ketika pikiran terbebas dari kegaduhan, ego mampu ditundukkan, dan hati menjadi peka membaca tanda-tanda Tuhan, baik yang terhampar di alam semesta maupun yang bersemayam di dalam diri.
Menjadi waskita bukanlah anugerah yang datang begitu saja. Waskita itu tumbuh melalui laku hidup yang terus-menerus dijaga. Karena itu, sudah saatnya seorang guru memberi perhatian pada tiga lapis keberadaan dalam dirinya. Raga, Rasa, dan Sukma. Ketiganya saling memengaruhi. Ketika salah satunya diabaikan, maka kejernihan batin pun perlahan memudar.
Raga dijaga melalui kehidupan yang tertib. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, beristirahat secukupnya, menjaga pola makan, membangun hubungan sosial yang sehat, serta memberi kesempatan bagi tubuh untuk pulih. Tubuh yang sehat membuat pikiran tetap jernih. Sebaliknya, raga yang terabaikan akan membuat tubuh kelelahan, penyakit mudah datang, emosi gampang meledak, dan batin yang kehilangan ketajamannya.
Rasa diasah melalui keheningan. Manusia membutuhkan cahaya, tetapi sesekali juga memerlukan kegelapan agar tidak melihat apapun kecuali ke dalam dirinya sendiri. Manusia menyukai keramaian, tetapi pada waktu-waktu tertentu ia membutuhkan kesunyian agar dapat mendengar suara hatinya. Dalam ruang sunyi itulah rasa menjadi lebih peka dan persoalan dapat dipandang dengan lebih jernih daripada ketika pikiran dipenuhi kebisingan.
Sukma diarahkan agar selalu mengingat asal dan tujuan hidup. Ketika seseorang sudah memasuki ruang sunyi di dalam dirinya, ia akan menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikannya. Kesadaran itu melahirkan sikap berserah kepada Tuhan. Di sanalah sukma menemukan arah pulangnya.
Jalan menuju kewaskitaan bukanlah jalan yang mudah. Dengan melewati jalan sunyi yang dipenuhi latihan, kesabaran, dan pengendalian diri. Tidak banyak tepuk tangan, juga sepi dari pujian. Namun justru di jalan sunyi itulah manusia ditempa menjadi pribadi yang matang. Di jalan itu lahirlah keikhlasan, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengaturan Sang Maha Mengatur.
Para guru, empu, resi, dan kiai pada masa lalu dikenang bukan karena banyak berbicara, tetapi karena kebijaksanaan yang terpancar dari dirinya. Mereka tidak sibuk memamerkan kepandaian, tetapi menghadirkan ketenangan. Mereka lebih banyak memberi teladan daripada penjelasan. Sebab kewaskitaan diperoleh bukan dari banyaknya pengetahuan, jabatan, ataupun kekuasaan, melainkan dari hati yang sederhana dan bening.
Ironisnya, zaman modern justru bergerak ke arah yang berbeda. lomba ingin terlihat cerdas, ingin diakui paling pintar, paling berintegritas. Pengetahuan semakin mudah diperoleh, tetapi kejernihan batin justru semakin sulit ditemukan.
Karena itu, renungkanlah sejenak.
Apakah kewaskitaan masih menjadi bagian dari kehidupan seorang guru pada masa kini? Mengapa kata waskita hampir tidak pernah hadir dalam pembicaraan tentang profesionalisme ataupun kode etik guru?
Padahal setiap hari seorang guru berhadapan dengan tiga medan kehidupan yang akan menguji kualitas batinnya: dirinya sendiri, peserta didik, dan aturan yang mengikat profesinya. Pada ketiga medan inilah kewaskitaan seharusnya menjadi nafas dalam setiap langkah dan setiap keputusan.
Waskita terhadap Diri Sendiri
Pertempuran terbesar seorang guru bukanlah menghadapi siswa yang sulit ataupun aturan yang rumit, tapi menghadapi dirinya sendiri. Di dalam diri manusia selalu ada ego dan nafsu yang terus bergerak mencari keuntungan dan kemenangan.
Tanpa kewaskitaan, ego akan menguasai pikiran, sedangkan nafsu akan menentukan arah tindakan. Akibatnya, seseorang guru tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang sekadar memenuhi keinginannya sendiri. Baginya yang terpenting hanyalah tercapai kepentingan pribadi, meskipun harus mengorbankan kebijaksanaan.
Guru yang waskita selalu mengawasi dirinya sebelum menilai orang lain. Ia lebih dahulu mengoreksi hatinya sebelum mengoreksi kesalahan siswanya. Ia sadar bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan ego yang bersemayam di dalam dirinya sendiri.
Waskita dalam Mendidik Siswa
Guru yang waskita tidak pernah terburu-buru memberi label kepada seorang anak. Ia tidak mudah mengatakan bahwa seorang murid bodoh, malas, atau tidak berbakat. Ia memahami bahwa setiap anak datang ke dunia dengan membawa potensi yang berbeda-beda.
Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang unggul dalam seni, memiliki kecerdasan sosial, kreativitas, kepemimpinan, kemampuan kinestetik, atau kelebihan lain yang mungkin belum tampak.
Jika seorang anak mampu mengikuti pembelajaran dengan baik, guru akan membantu mengembangkan potensinya. Namun ketika seorang anak mengalami kesulitan, guru yang waskita tidak berhenti pada kekurangannya. Ia justru bertanya lebihanaa,
“Di manakah kelebihan anak ini yang belum aku temukan?”
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung memang menjadi fondasi penting dalam pendidikan. Akan tetapi, seorang guru yang waskita tidak menjadikan keterbatasan pada tiga kemampuan itu sebagai akhir dari penilaian terhadap seorang anak.
Ia terus mencari cahaya yang tersembunyi di dalam diri siswanya. Cahaya itu mungkin hadir dalam seni, olahraga, kepemimpinan, empati, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, ataupun bentuk kecerdasan lain yang belum terlihat.
Karena bagi guru yang waskita, setiap anak adalah amanah Tuhan yang membawa keistimewaannya masing-masing. Tugas guru bukan menentukan siapa yang paling hebat, melainkan membantu setiap anak menemukan jalan terbaik menuju masa depannya.
Waskita dalam Menjalankan Aturan
Ketika engkau menjadi guru, berarti siap memikul tanggung jawab untuk menaati berbagai aturan yang berlaku. Aturan memang diperlukan agar pendidikan berjalan tertib dan terarah.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai bunyi teks peraturan. Guru sering berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks, perselisihan dengan peserta didik, kesalahpahaman dengan orang tua, tekanan masyarakat, perbedaan pendapat dengan rekan sejawat, tuntutan pimpinan, hingga kebijakan yang terkadang sulit dipahami.
Dalam situasi seperti itulah kewaskitaan menjadi penentu. Guru yang waskita tidak gegabah mengambil keputusan hanya karena dorongan emosi. Ia mampu membedakan persoalan yang harus diselesaikan dengan ketegasan, persoalan yang membutuhkan kesabaran, dan persoalan yang cukup dijawab dengan kebesaran hati.
Waskita tidak menjadikan aturan sebagai senjata untuk menyalahkan orang lain, tetapi sebagai pedoman untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan.
Latihan menjadi guru yang waskita harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hiduplah dengan ritme yang seimbang. Tidurlah secukupnya, makanlah secukupnya, dan berbicaralah seperlunya. Kurangi kebisingan, bukan hanya suara dari luar, tetapi juga banjir informasi yang memenuhi pikiran. Batin yang terlalu penuh akan sulit menjadi jernih.
Luangkan pula waktu untuk berdiam dalam keheningan. Duduklah beberapa menit pada saat suasana tenang. Rasakan setiap tarikan dan hembusan nafas. Amati pikiran yang datang tanpa harus mengikuti ke mana arahnya. Lakukan dengan tekun, sebab kejernihan batin lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Ketika suatu saat masalah datang, jangan hanya bertanya,
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Cobalah bertanya,
“Apa yang sedang Tuhan ajarkan melalui peristiwa ini?”
Pertanyaan sederhana itu akan mengubah seseorang dari pribadi yang merasa menjadi korban menjadi seorang pembelajar, dari manusia yang reaktif menjadi pribadi yang reflektif.
Pada akhirnya, kewaskitaan bukanlah kemampuan melihat hal-hal gaib, melainkan kemampuan memandang kehidupan dengan hati yang jernih. Guru yang waskita mungkin tidak selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan. Namun ia selalu memiliki kebijaksanaan dalam menyikapi setiap keadaan. Ia tidak mudah dikuasai ego, tidak cepat menghakimi, dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Sebab guru sejati bukan hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga mendidik dengan kejernihan batin.
Barangkali, dunia pendidikan hari ini tidak sedang kekurangan orang-orang pintar. Akan tetapi, yang lebih dibutuhkan justru adalah lahirnya kembali guru-guru yang waskita; guru yang mampu menata batinnya sebelum menata siswanya, mampu mengendalikan keinginannya sebelum mengendalikan kelasnya, serta mampu mendengarkan suara hati sebelum sibuk memperdengarkan suaranya sendiri.
Sebab perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari kurikulum yang baru, teknologi yang lebih canggih, atau aturan yang semakin banyak. Perubahan sering kali berawal dari satu hal yang tidak disangka, hati seorang guru yang jernih. Dari hati yang jernih lahirlah pikiran yang bijaksana, ucapan yang menenangkan, dan tindakan yang memanusiakan. Di sanalah kewaskitaan menemukan maknanya, bukan sebagai sesuatu yang luar biasa, melainkan sebagai cara seorang guru menjalani hidupnya setiap hari.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru Waskita
Sorry, comment are closed for this post.