Jadilah Guru bagi Dirimu Sendiri
(Menemukan Kejernihan Rasa)
Wahai Guru…
Sudahkah engkau mengenal siapa dirimu? Sudahkah engkau menyadari makna menjadi seorang guru? Ataukah selama ini engkau hanya menjalani rutinitas mengajar tanpa pernah menyelami kejernihan yang ada di dalam dirimu?
Menjadi guru bukan sekadar memiliki kemampuan menyampaikan pelajaran. Menjadi guru adalah perjalanan menuju kesadaran diri. Jangan biarkan dirimu hanyut dalam arus kehidupan yang sibuk, tetapi lupa mengelola kehidupan batin. Sebab di dalam setiap manusia tersimpan kekuatan yang luar biasa, dan kekuatan itu bernama Kesadaran Diri.
Bagi guru mengajar bukan hanya menyampaikan pelajaran. Sejatinya mengajar adalah perjalanan panjang untuk terus mengenali diri, menata hati, membersihkan niat, dan memperbaiki cara memandang kehidupan. Sebab seorang guru tidak hanya sedang membentuk siswa, tetapi juga sedang dibentuk oleh setiap siswa yang ditemuinya.
Ketika mengajar di kelas yang penuh semangat dan mudah diarahkan, hampir semua guru mampu menunjukkan wajah terbaiknya. Namun ketika berhadapan dengan siswa yang sulit diatur, mudah membantah, atau lambat memahami pelajaran, saat itulah kualitas diri seorang guru benar-benar diuji. Saat itu yang muncul bukan lagi kemampuan mengajar, melainkan kualitas hati.
Setiap hari kita berbicara tentang ilmu. Namun ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu Rasa. Rasa itu bukan sekadar perasaan senang atau sedih. Rasa adalah kejernihan hati yang mampu melihat sesuatu sebelum pikiran sibuk memberi penilaian. Ia adalah kesadaran yang hadir sebelum kata-kata terucap dan sebelum emosi mengambil alih.
Ketika seorang guru masih mudah tersinggung oleh ucapan siswa, mudah marah karena kesalahan kecil, atau sibuk membandingkan satu anak dengan anak lainnya, sesungguhnya yang sedang bekerja adalah pikiran, bukan rasa.
Ingat, jangan aktifkan pikiranmu untuk menilai. Sebab pikiran selalu ingin menghakimi. Pikiran itu senang membandingkan. Pikiran itu ingin menang dan merasa benar. Sebaliknya, rasa mengajak kita untuk memahami sebelum menilai. Jangan dulu ambil keputusan tanpa melalui rasa.
Guru yang hidup dalam kejernihan rasa tidak hanya melihat nilai pada rapor seorang anak. Ia mampu melihat kegelisahan yang tersembunyi di balik senyumnya. Ia mampu merasakan bahwa siswa yang sering membuat keributan sebab kehilangan perhatian di rumahnya. Siswa yang malas belajar belum tentu malas, karena bisa jadi ia sedang kehilangan harapan.
Kepekaan seperti itu tidak lahir dari kecerdasan intelektual semata. Tapi tumbuh dari hati yang terus dibersihkan. Karena itu, seorang guru tidak cukup hanya memperkaya pengetahuan. Ia juga harus memperhalus rasa.
Hanya orang-orang yang memiliki kesadaranlah yang bisa memperhalus rasa di dalam dirinya.
Ilmu membuat seseorang mampu menjelaskan.
Rasa membuat seseorang mampu memahami.
Ilmu mengajarkan cara berbicara.
Rasa mengajarkan kapan harus diam.
Ilmu menunjukkan apa yang benar.
Rasa menunjukkan bagaimana menyampaikan kebenaran tanpa melukai.
Pelajaran semacam ini mungkin tidak diajarkan di bangku perkuliahan. Sebab ilmu itu lahir dari perjalanan hidup, dari pengalaman para guru bijaksana, dan dari nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita.
Di dalam ruang kelas, sesungguhnya guru juga sedang belajar.
Ketika menghadapi anak yang keras kepala, guru belajar kesabaran.
Ketika menemui siswa yang lambat memahami pelajaran, guru belajar ketelatenan.
Ketika segala usaha yang dilakukan belum membuahkan hasil, guru belajar keikhlasan.
Setiap siswa adalah cermin yang memperlihatkan bagian-bagian diri kita yang masih perlu diperbaiki. Karena itu, jangan terburu-buru menyalahkan siswa. Mungkin ada cara kita mengajar yang perlu diperbaiki. Jangan cepat menyalahkan keadaan. Bisa jadi hati kita sendiri belum cukup lapang untuk menerima setiap perbedaan.
Semakin lama seseorang menjadi guru, seharusnya semakin kecil keinginannya untuk dipuji. Guru tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirinya paling pintar. Kebahagiaannya justru muncul ketika melihat siswanya tumbuh, berkembang, bahkan mampu melampaui dirinya. Sebab keberhasilan seorang guru bukan ketika namanya dikenal banyak orang, melainkan ketika ilmu, akhlak, dan keteladanannya hidup di dalam diri para siswanya.
Namun ada satu pergulatan batin yang hampir selalu dialami oleh setiap guru. Di satu sisi, seorang guru pasti ingin menjadi pendidik yang ideal. Di sisi lain, ia tetap manusia biasa yang memiliki rasa lelah, kecewa, bahkan kadang kehilangan semangat. Ia menghadapi persoalan keluarga, tekanan pekerjaan, tanggung jawab sosial, dan berbagai persoalan hidup yang terkadang menguras tenaga maupun batin.
Tidak ada yang salah dengan itu. Guru bukan malaikat yang tidak pernah keliru. Ia juga memiliki keterbatasan, membutuhkan istirahat, keluarga, perhatian, dan ruang untuk memulihkan dirinya. Karena itu, belajarlah mendengarkan “alarm” yang ada di dalam tubuhmu.
Ketika tubuh mulai lelah, pikiran mulai penuh, dan hati mulai mudah marah, mungkin itulah saatnya berhenti sejenak untuk menata kembali keseimbangan hidup. Sebab tubuh yang sehat memudahkan pikiran menjadi jernih, dan hati yang tenang akan lebih mudah memperhalus rasa.
Merawat diri bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari tanggung jawab. Sebab hati yang lelah akan sulit menumbuhkan kasih sayang. Pikiran yang dipenuhi beban akan kesulitan melahirkan kebijaksanaan.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan kehilangan dirimu di dalam pekerjaan. Cintailah siswa-siswamu, tetapi jangan berharap semua akan membalas cintamu dengan cara yang sama. Berikan yang terbaik, namun jangan menjadikan penghargaan sebagai tujuan.
Ketika keseimbangan itu mulai tumbuh, perlahan hati menjadi lebih tenang. Guru tidak lagi mudah kecewa ketika usahanya tidak dihargai. Tidak mudah marah ketika pendapatnya ditolak. Tidak pula mudah larut dalam kebanggaan ketika dipuji. Ia memahami bahwa semua itu hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup.
Pada akhirnya, kualitas seorang guru tidak hanya diukur dari banyaknya pelatihan yang diikuti, banyaknya penghargaan yang diraih atau banyaknya gelar yang disandang. Kualitas guru sesungguhnya terlihat dari kejernihan hatinya.
Apakah ia masih mampu mendengarkan siswa dengan penuh perhatian?
Apakah ia masih mampu memaafkan kesalahan mereka?
Apakah ia masih bersedia belajar dari siapa pun, bahkan dari anak-anak yang diajarnya?
Semakin matang seorang guru, hidupnya justru semakin sederhana. Guru yang tidak haus pengakuan. Guru yang tidak sibuk mempertahankan citra. Guru yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Guru yang lebih memilih memperbaiki diri daripada menyalahkan orang lain.
Sebab ia sudah memiliki kesadaran bahwa pendidikan itu bukan sekadar memindahkan pengetahuan, tetapi menghadirkan keteladanan. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan. Mereka juga mengamati bagaimana kita hidup. Mereka belajar dari cara kita menghormati orang lain, mengendalikan emosi, menerima kritik, dan memperlakukan setiap orang dengan kasih sayang. Dari situlah mereka belajar tentang makna menjadi manusia.
Karena itu, perjalanan seorang guru sesungguhnya adalah perjalanan ke dalam dirinya sendiri.
Setiap hari kita dipanggil untuk kembali membersihkan niat. Kembali menata hati. Kembali memperhalus rasa. Karena ilmu yang hanya berhenti di kepala akan menjadi pengetahuan. Namun ilmu yang turun ke hati akan menjelma menjadi kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan itulah yang akan menghidupkan pendidikan.
Sampai di sini, ingatlah!. Jangan pernah merasa telah selesai menjadi pembelajar. Selama masih ada siswa yang menunggu di depan kelas, selama masih ada kehidupan yang mengajarkan makna, selama napas masih diberikan oleh Sang Pencipta, perjalananmu belum berakhir.
Teruslah belajar.
Teruslah memperbaiki diri.
Teruslah menjaga kejernihan rasa.
Karena sebelum engkau berhasil mendidik seorang siswa, sesungguhnya engkau sedang dididik oleh kehidupan untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana.
Itulah cara menjadi seorang guru.
Bukan sekadar mengajar dengan ilmu.
Tetapi mendidik dengan hati.
Dan setiap hari, diam-diam, terus memperbaiki dirinya sendiri.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Jadilah Guru bagi Dirimu Sendiri
Sorry, comment are closed for this post.