
Wahai guru…
Bagaimanakah sesungguhnya wajah pendidikan Indonesia pada awal kemerdekaan? Bagaimanakah mereka berdiri di tengah keterbatasan, di antara harapan dan kenyataan yang belum seimbang? Apa yang mereka ajarkan kepada anak-anak negeri yang baru saja merdeka?
Peran guru dalam sejarah Indonesia tidak pernah terpisah dari perjuangan bangsa. Bahkan sebelum kemerdekaan, guru telah menjadi kelompok intelektual yang sadar akan pentingnya perubahan sosial. Mereka bukan sekadar pengajar, tetapi juga penggerak kesadaran rakyat.
Mari kita awali dari peran dan posisi guru pada pemerintahan. Baik pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Kita ketahui organisasi yang menaungi guru secara nasional adalah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Organisasi ini merupakan transformasi dari organisasi sebelum-sebelumnya.
Pada tahun 1912, lahirlah organisasi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Organisasi ini menjadi wadah perjuangan para guru pribumi yang saat itu berada di bawah sistem kolonial. Mereka menghadapi ketidakadilan yang nyata, gaji yang rendah, diskriminasi sosial, serta perlakuan berbeda dibandingkan guru-guru Belanda. PGHB bukan sekadar organisasi profesi. Ia adalah simbol perlawanan. Tak hanya memperjuangkan haknya, mereka juga memperjuangkan hak anak-anak pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Supaya tidak ada lagi diskriminasi terhadap anak-anak pribumi yang bersekolah.
Seiring meningkatnya semangat nasionalisme, pada tahun 1932 nama PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Pergantian nama ini mencerminkan kesadaran nasional untuk memperjuangkan pendidikan yang merdeka dan berkeadilan. Perubahan nama ini bukan sekadar administratif, melainkan ideologis. Kata “Indonesia” mencerminkan tekad untuk membangun bangsa yang merdeka melalui pendidikan.
Namun perjuangan itu terhenti sementara ketika penjajah lain datang. Pada masa penjajahan Jepang (1942–1945), semua organisasi, termasuk PGI, dibubarkan oleh pemerintah militer Jepang, termasuk PGI. Masa pendudukan Jepang membawa sistem pendidikan yang keras, militeristik, dan penuh propaganda.
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno ddan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945, semangat persatuan guru kembali bangkit. Para guru merasa perlu untuk membentuk satu wadah perjuangan yang lebih kuat dan bersatu di bawah semangat kemerdekaan Indonesia. Maka, pada tanggal 25 November 1945, lahirlah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Organisasi ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan nasional. Sehingga setiap tanggal 25 November Pemerintah Republik Indonesia menetapkan sebagai Hari Guru Nasional.
PGRI lahir hanya tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan, sebagai bentuk tekad guru Indonesia untuk ikut mempertahankan dan mengisi kemerdekaan melalui jalur pendidikan. Dalam kongres pendirian organisasi tersebut, para guru bersepakat untuk melepaskan semua perbedaan golongan, agama, suku, dan latar belakang organisasi lama, demi satu tujuan bersama memajukan pendidikan dan memperjuangkan nasib guru Indonesia. Dari sinilah guru Indonesia mulai berjalan sebagai satu barisan yang utuh.
Sekarang mari kita masuk kedalam tata cara pengajaran guru pada masa pasca kemerdekaan. Saat itu masyarakat Indonesia masih lebih memilih pesantren sebagai tempat untuk mencari ilmu. Bisa dibuktikan dari jumlah banyaknya pesantren dibandingkan dengan dengan sekolah. Sebab gedung sekolah pada waktu itu merupakan warisan dari kolonial Belanda dan Jepang. Dampak daripada diskriminasi para penjaja masih membekas di masyarakat. Oleh karena itu, sekolah bukan menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.
Kita awali dari bahasa yang digunakan pada proses belajar mengajar di sekolah. Salah satu perubahan paling fundamental dalam pendidikan pasca kemerdekaan adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Ketika zaman kolonial Belanda, bahasa yang digunakan adalah bahasa Belanda. Hal ini secara tidak langsung menciptakan kesenjangan antara kaum terdidik dan rakyat biasa.
Kemudian Jepang datang menjajah, sekolah-sekolah wajib menggunakan bahasa jepang sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran. Bahasa Jepang dipaksakan sebagai bahasa resmi pendidikan. Titik baliknya saat bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajah Jepang. Bangsa Indonesia mengambil sikap tegas. Seluruh sekolah warisan dari Belanda dan Jepang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran. Sebagai bahasa pemersatu bangsa, bahasa perjuangan dan identitas bangsa Indonesia. Keputusan ini bukan sekadar teknis, melainkan ideologis. Bahasa Indonesia adalah simbol persatuan, sebagaimana yang telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Kita mengetahui bahwa Indonesia bersatu atas bermacam-macam Suku, Agama, Ras, Golongan dan Etnis. Maka untuk mengikat persatuan tersebut jalan utamanya melalui jalur pendidikan. Disini gurulah yang menjadi ujung tombak dalam merekatkan anak-anak bangsa Indonesia melalui Bahasa Persatuan. Hasilnya seperti yang dapat kita rasakan saat ini. Seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote, bisa menggunakan bahasa Indonesia. Tanpa menghilangkan bahasa ibu sebagai identitas suku dan budayanya.
Keberhasilan ini luar biasa. Agar engkau mengetahui seberapa penting bahasa pada sebuah bangsa besar. Kita akan bandingkan dengan negara lain yang menetapkan beberapa bahasa resmi negaranya seperti India dan Malaysia. Negara India tetap memasukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negaranya. Begitu pula dengan Malaysia, ada bahasa Melayu yang bercampur dengan bahasa Inggris. Maka kita akan temukan bahwa para penjajah tidak meninggalkan bangsa jajahannya begitu saja. Mereka tetap akan menanamkan doktrinasi secara halus bahwa mereka tetaplah bangsa jajahan meskipun telah merdeka.
Sedangkan bangsa Indonesia yang di jajah oleh Belanda, sama sekali melepaskan bahasa Belanda dalam bahasa keseharian masyarakatnya. Indonesia justru berhasil menegaskan identitasnya sendiri melalui bahasa. Inilah yang menjadi keberhasilan pendidikan di sekolah pada masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Di sinilah peran guru begitu besar, mereka bukan hanya mengajarkan bahasa, tetapi membangun identitas bangsa.
Disisi lain, pada awal kemerdekaan, Indonesia menghadapi masalah besar. Para pendiri bangsa menyadari hal itu bahwa bangsa Indonesia sudah merdeka tapi banyak rakyatnya masih buta huruf. Rakyat yang selama ratusan tahun dijajah tidak memiliki akses pendidikan yang memadai. Maka para peniri mulai menetapkan arah pendidikan bangsa Indonesia. Sekolah tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis, tapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air dan nasionalisme kepada siswa sebagai karakter bangsa.
Konsep ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara, yang menekankan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia, bukan sekadar mencerdaskan secara intelektual. Di sekolah-sekolah, guru mengajarkan sejarah perjuangan bangsa, lagu-lagu nasional, serta nilai-nilai pengorbanan. Anak-anak diajak memahami bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan.
Perlu untuk menjadi perhatianmu, meskipun lembaga pendidikan pesantren tradisional masih tetap eksis dan menjadi pilihan utama saat itu. Tapi para kiayi dari kalangan pesantren juga turut menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air kepada santrinya. Hal ini dapat dibuktikan dari fatwa Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, “Hubbul wathon minal iman”. Cinta tanah air sebagian dari iman. Dengan demikian, baik sekolah formal maupun pesantren memiliki tujuan yang sama, membentuk manusia Indonesia yang berkarakter.
Sekarang realita yang terjadi, untuk menjalankan program nasional itu banyak hambatan yang dihadapi, salah satunya keterbatasan sekolah. Pemerintah belum memiliki perekonomian yang kuat dan mencukupi untuk mengelola negara pada masa itu. Jumlah sekolah sangat terbatas. Banyak daerah tidak memiliki gedung sekolah sama sekali. Buku pelajaran sulit didapat, alat tulis menjadi barang mewah, dan tenaga pengajar pun masih kurang. Apalagi untuk menambah sekolah-sekolah diseluruh wilayah Indonesia.
Berangkat dari Sekolah Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, sekolah yang di bangun oleh organisasi Muhammadiyah dan pesantren-pesantren tradisional yang berafiliasi dengan organisasi Nahdhatul Ulama memiliki kemandirian, maka pemerintah membuat peraturan boleh membangun sekolah dari pihak swasta. Untuk mengisi kekosongan lembaga pendidikan berupa sekolah yang belum diselenggarakan oleh pemerintah di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam kondisi ini, masyarakat tidak tinggal diam. Semangat gotong royong menjadi solusi utama. Mulai dari saat itu para masyarakat di berbagai daerah bergotong royong membangun lembaga pendidikan baik melalui organisasi seperti NU, Muhammadiyah, Al Washliyah dan lainnya. Ada juga melalui masyarakat setempat yang mendirikan sekolah didaerahnya. Kelak sekolah itu di ambil alih pengelolaannya sehingga menjadi sekolah milik pemerintah atau sekolah negeri. Sebagai contoh sebuah sekolah di Batang Kuis, Kabupaten Deli serdang SD Negeri 101873 Desa Baru. Dulu bernama SD berdikari yang merupakan hasil gotong royong masyarakat setempat membangun sekolah untuk membantu pemerintah menyediakan tempat pendidikan.
Sekolah-sekolah ini menjadi tulang punggung pendidikan nasional pada masa awal kemerdekaan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia dibangun bukan hanya oleh pemerintah, tetapi oleh rakyat. Dari sini dapat kita saksikan ketangguhan dan karakter yang kuat bangsa Indonesia, bangsa pejuang.
Sementara itu, dalam ruang kelas di sekolah-sekolah, para guru mengajar dan mendidik anak-anak bangsa Indonesia sebagai generasi penerus bangsa. Gagasan menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air dan nasionalisme diajarkan dengan penuh dedikasi oleh para guru. Dengan berbagai keterbatasan buku dan media ajar, serta keterbatasan buku dan alat tulis siswa, namun guru dapat mengelolanya sehingga menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas untuk berbakti kepada bangsa dan negaranya.
Guru pada masa itu mengajar bukan karena materi, tetapi karena panggilan jiwa. Mereka sadar bahwa masa depan bangsa berada di tangan anak-anak yang mereka didik. Mereka tetap mengajar dengan sepenuh hati meskipun mendapat gaji setengah hati. Dengan segala keterbatasan dan rintangan perjalanan tidak mengurangi niat suci untuk mendidik anak-anak negeri.
Ditengah situasi minimnya kepedulian masyarakat untuk pendidikan anak-anaknya. Tambah akses ke jenjang sekolah yang lebih tinggi sulit di tempuh. Sehingga banyak anak-anak negeri putus sekolah. Disitu guru selalu menyugesti dan menyemangati murid-muridnya untuk terus belajar, untuk bermimpi, dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Harapan mereka sederhana, agar anak didiknya kelak menjadi manusia yang lebih baik dan mampu membangun bangsa.
Kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari kebodohan dan keterbelakangan. Para guru di era pasca kemerdekaan memahami hal ini dengan sangat baik. Mereka melihat pendidikan sebagai jalan untuk membangun bangsa yang mandiri dan bermartabat. Melalui pendidikan, lahirlah generasi baru Indonesia, generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter dan cinta tanah air.
Apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan mereka. Sekolah yang berdiri kokoh, sistem pendidikan yang terus berkembang, serta generasi yang semakin maju semua itu berakar dari pengorbanan para guru di masa lalu.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Syahnaz)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Guru di era pasca kemerdekaan Indonesia
Sorry, comment are closed for this post.