Sore itu, langit Makassar seperti disepuh tembaga. Erna melangkah lelah menyusuri lorong depan rumahnya setelah seharian berkutat dengan tugas kuliah di kampus. Baginya, hari itu terasa luar biasa panjang. Namun, ketika gagang pintu depan ia putar dan daun pintu terdorong ke dalam, pandangannya langsung tertuju pada selembar kertas beramplop cokelat yang tergeletak di atas ubin.
Seseorang tampaknya baru saja menyelipkan surat itu melalui celah bawah pintu—mirip cara tukang pos bekerja saat mengantar kabar.
Erna berjongkok, memungut amplop itu. Dadanya berdesir begitu melihat goresan tinta di bagian depan: tulisan tangan yang sangat ia kenal. Dari Arman. Pacarnya sejak zaman putih-abu-abu, kekasih yang harus ia ikhlaskan berjarak puluhan ribu mil darinya karena bekerja di sebuah perusahaan ekspor hasil laut di Irian Jaya demi merajut masa depan.
Dengan jemari sedikit bergetar, Erna membuka lipatan kertas di dalamnya dan membaca setiap baris kata:
Na,
Bulan depan saya dapat izin cuti. Saya mau pulang kampung ke Makassar. Banyak hal yang harus kita bicarakan secara langsung, Na. Ada hal penting sekali yang tidak bisa saya sampaikan lewat telepon atau surat.
Nanti kalau saya sudah sampai, saya langsung ke rumahmu.
Arman.
Mata Erna berbinar. Surat pendek itu seperti embun yang menyiram dahaganya selama bertahun-tahun merawat hubungan jarak jauh.
—
Sebulan berlalu bagaikan detik yang merayap lambat. Begitu pekan kepulangan Arman tiba, Erna mengambil keputusan nekat: ia membolos kuliah selama seminggu penuh. Masa bodoh dengan absen atau teguran dosen. Bagi Erna, tak ada yang lebih penting selain menyambut kepulangan lelaki yang telah menemani perjalanan hidupnya selama tujuh tahun terakhir.
Di dalam kamarnya, Erna mematut diri di depan cermin, merapikan baju dan merajut berbagai kemungkinan indah di kepalanya.
“Pasti mau ka’ naajak menikah…” gumamnya pelan, tersenyum sendiri.
Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Hubungan mereka memang penuh kerikil tajam. Ia ingat betul drama masa SMA dulu, ketika orang tuanya menolak mentah-mentah kehadiran Arman. Masalah klasik: bibit, bebet, bobot, hingga perbedaan kasta sosial yang diagung-agungkan keluarga besar Erna. Arman hanyalah anak lelaki sederhana dari keluarga biasa, sementara keluarga Erna terpandang di kampungnya.
Namun Arman membuktikan keseriusannya. Ia pergi jauh ke tanah Papua untuk mengadu nasib, bekerja keras di perusahaan hasil laut, hanya agar memiliki cukup ‘harga diri’ dan tabungan untuk meminang Erna.
“Pasti naanggap mi memadai tabungannya. Naitu makanya nabicara langsung…” pikir Erna penuh keyakinan.
Membayangkan Arman akan bersimpuh di hadapannya dan secara resmi mengajak melangkah ke pelaminan membuat dada Erna dipenuhi kehangatan yang meletup-letup.
—
Keesokan harinya, deru suara motor yang berhenti di depan pagar membuat jantung Erna berdegup kencang. Dari balik gorden window, tampak sosok lelaki berbadan tegap dengan kulit sedikit lebih gelap tersengat matahari pantai Papua. Arman.
Erna bergegas membuka pintu. Wajahnya berseri-seri, senyum manis tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Arman! Akhirnya pulang ko…” panggil Erna penuh kerinduan.
“Iya, Na. Baru kemarin malam saya tiba di rumah,” jawab Arman. Suaranya terdengar berat, agak tertahan.
“Ayo masuk, duduk ki dulu. Saya ambilkan ko minum nah? Mau ki minum apa? Es syrup atau kopi?” Erna menyambutnya dengan semangat yang membumbung tinggi.
Arman menggeleng pelan sambil menatap lantai teras. “Tidak usah repot-repot, Na. Tidak lama jika’ juga ini. Duduk maki’ dulu, ada mau kubicarakan.”
Erna menarik kursi plastik di teras rumahnya, duduk berhadapan dengan Arman. Senyum Erna masih mengembang, namun ada kekakuan yang mulai ia rasakan dari gestur tubuh lelaki di hadapannya. Arman tampak tak berani menatap langsung ke matanya.
—
Erna mencoba mencairkan suasana. “Kena’pa pale’ tegang sekali muka’mu, Man? Kayak orang mau diuji skripsi saja. Bikin penasaran ko dari bulan lalu, tulis surat bilang ada hal penting mau dibicarakan. Apa itu sebenarnya?”
Arman terdiam sejenak, menghembuskan napas berat sambil memilin jemarinya. “Iya, Na… Memang penting sekali ini. Makanya saya sengaja pulang, tidak mau ji kalau cuma lewat telepon kubilang ki.”
Erna tersenyum menggoda. “Apa injo? (Apa itu?) Jangan ko bikin makin penasaran! Soal hubungan ta’ toh? Soal masa depan ta’?”
Arman menatap Erna sebentar, lalu menunduk lagi. “Iya… Soal hubungan ta’. Tapi, Na… Saya mau minta maaf sebesar-besarnya sama kau.”
Kening Erna berkerut, senyumnya perlahan memudar. “Minta maaf? Minta maaf untuk apa, Man? Ada salahmu di Papua kah?”
Suara Arman bergetar. “Bukan, Na. Bukan masalah kerjaanku di sana. Tapi… Saya datang ke sini mau minta selesai maki’ saja. Harus ji selesai hubungan ta’.”
Erna tergagap, tertawa hambar karena tak percaya. “Bah! Bercanda ko toh? Jangan ko main-main begitu, Man! Tujuh tahun ki jalan sama-sama, bolos ka’ kuliah seminggu cuma mau tunggu ko pulang, baru mau ko datang cerita lucu begini?”
Arman menggeleng pelan. “Tidak bercanda ka’, Na. Serius ka’ ini…”
Dada Erna mulai bergemuruh, nada suaranya meninggi. “Kenapa?! Apa alasannya?! Ada perempuan lainmu di sana di Irian Jaya? Katakan, Man! Apa salahku?!”
Arman menatap Erna dengan mata berkaca-kaca. “Tidak ada perempuan lainku di sana, Na. Demi Allah tidak ada. Tapi… Orang tuaku di kampung sudah perjodohkan ka’. Sama anak temannya Tetta (Ayah).”
Erna tersentak, matanya membelalak. “Dijodohkan?! Apanya bilang dijodohkan?! Kita ini sudah tujuh tahun Pacaran, Arman! Dari zaman SMA ki bertahan! Dulu keluargaku yang tidak restui ki, tapi kita sama-sama bertahan. Sekarang, pas keluargaku mulai luluh, kau malah mau menyerah begitu saja gara-gara perjodohan?!”
Arman menunduk dalam. “Paham ka’, Na… Paham sekali. Tapi tidak bisaka’ membangkang sama Amba’ dan Ummi. Beliau berdua sudah berjanji sama itu keluarga. Lagipula… Orang tuaku juga masih trauma dengan penolakan keluargamu dulu. Merekasa merasa direndahkan. Jadi mereka mau ka’ menikah sama orang yang memang mau terima keluarga kita apa adanya…”
Air Erna mata mulai menetes membasahi pipinya, suaranya parau. “Jadi gara-gara gengsi dan dendam lama, kau korbankan perasaan ta’? Kenapa baru sekarang kau bicara, Man?! Kenapa tidak dari dulu waktu kau baru berangkat ke Papua?! Kenapa harus tunggu tujuh tahun hidupku kuhabiskan untuk tunggu kau?!”
Suara Arman makin pelan. “Maafkan ka’, Na… Saya juga berat sekali. Tapi ini keputusan keluarga besar. Saya tidak bisa lawan Tettaku…”
Erna menyapu air matanya dengan kasar, menatap Arman tajam. ” Pengecut ko! Kau bilang kau berjuang di Papua untuk saya, untuk buktikan sama keluargaku kalau kau sanggup! Ternyata pas kau pulang, kau cuma bawa kabar kalau kau tidak punya keberanian untuk pertahankan ka’!”
Arman hanya bisa menunduk, tak mampu membalas. “Maafkan ka’, Erna… Maafkan ka’…”
—
Semua khayalan indah yang dibangun Erna selama sebulan terakhir hancur berkeping-keping dalam hitungan menit. Impian tentang gaun pengantin, tentang senyum bahagia orang tuanya yang akhirnya merestui, dan tentang kehidupan bersama setelah tujuh tahun jarak memisahkan—semuanya menguap begitu saja.
Arman berdiri dari kursinya, menatap Erna dengan tatapan bersalah yang teramat sangat. Namun, rasa bersalah itu tidak bisa mengembalikan waktu tujuh tahun yang telah berlalu.
“Saya pamit dulu, Na. Minta maafka’ sekali lagi…” ucap Arman pelan sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan teras rumah Erna.
Erna hanya terduduk kaku di kursinya, memperhatikan punggung Arman yang makin menjauh hingga menghilang di belokan lorong. Suara mesin motor Arman terdengar menjauh, membawa pergi seluruh impian dan harapan yang pernah mereka rakit bersama.
Kecewa? Sangat. Hatinya terasa remuk tak berbentuk. Kecewa pada Arman yang ternyata tak seberani yang ia bayangkan, dan kecewa pada takdir yang memainkan perasaannya begitu tega. Namun di balik kegetiran itu, Erna sadar, tak ada gunanya mengemis pada lelaki yang tak mau memperjuangkannya.
Sore makin menua di kota Makassar. Erna menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya. Kecewa itu pasti. Tapi mau bagaimana lagi? Hidup harus tetap berjalan, meski harus dilanjutkan tanpa orang yang paling ia harapkan.
Kreator : Roseyani
Comment Closed: Senja di Ujung Penantian
Sorry, comment are closed for this post.