KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Sebuah Panggilan

    Sebuah Panggilan

    BY 06 Sep 2026 Dilihat: 7 kali
    Sebuah Panggilan_alineaku

    “Adiiiik!!!!”

    Aku menoleh ke arah datangnya suara. Tidak ada siapa-siapa di sekelilingku. Hanya ada suara hembusan angin yang merontokkan dedaunan dan menerbangkannya entah kemana. Padahal, tadi suara itu jelas sekali terdengar di telinga. Apalagi dalam suasana yang lengang seperti ini, jelas itu tadi sebuah suara panggilan dari seseorang. Tapi, siapa?

    Aku mencoba mengelak dari prasangka berlebihan yang sempat singgah sejenak di hatiku. Hanya karena suara itu mirip dengan suara seseorang yang pernah aku kenal, hampir saja membuatku kembali terjebak pada mimpi-mimpi semu yang selama bertahun-tahun telah dengan susah payah aku coba hapus dari hidupku.

    Kulangkahkan kembali kakiku menyusuri jalanan berbatu, menyeruak timbunan daun dari musim gugur yang baru saja datang menghampiri. Kucoba menghilangkan gema suara panggilan tadi dari hati dan pikiranku namun semakin kucoba untuk menghilangkannya, suara panggilan itu semakin jelas terdengar, memantul dari satu pohon ke pohon yang lain. Bahkan gaungnya kini mulai memenuhi seluruh taman di mana saat ini aku berada. 

    Aku mempercepat langkahku, berharap suara panggilan itu tidak lagi mengikutiku. Akan tetapi, suara panggilan itu masih terus saja membuntutiku, menjejeri langkahku, dan berusaha mendekat ke telingaku. Aku berlari, suara panggilan itu pun ikut berlari, mengejarku, memburuku, berusaha untuk menggapaiku. Aku terus berlari, tanpa arah, tanpa tujuan, ku tutup kedua telingaku dengan kedua tanganku tetapi suara panggilan itu seolah-olah menyusup di antara jemariku dan mempermainkan gendang telingaku. Suara panggilan itu mulai menguasai seluruh anggota tubuhku, menutup semua lubang pori-poriku, menggenggam erat jantung dan hatiku, mencengkeram dengan kuat kedua kakiku, membuat lariku terpontal-pontal dan aku terpelanting, jatuh terjerembab di hamparan pasir putih dalam rupa yang pasi. Suara panggilan itu terus menggema, menyusup di antara urat-urat nadiku hingga kurasakan sebagian darahku berhenti mengalir, kulitku membiru. 

    Dengan sekuat tenaga aku berusaha bangkit sambil mengibaskan butiran pasir yang menempel di jaket dan celana berharap suara panggilan itu ikut terpental bersamanya. Dengan sisa tenaga aku berjalan terseok-seok menuju ke sebuah pohon, duduk terpekur, menyembunyikan diri dari suara panggilan itu tetapi suara panggilan itu sepertinya telah mengetahui jalan pikiranku. Dia telah mendahuluiku, menyatu, berkelindan dengan batang pohon dan meresap ke dalam aliran getahnya, lalu perlahan-lahan mulai mengucur, membasahi rambutku, keningku, wajahku, leher dan kedua tanganku, bercampur dengan keringat yang keluar dari dalam tubuhku padahal suhu saat ini begitu dingin menusuk tulang.

    Tubuhku menggigil hebat. Namun, suara panggilan itu terus menggema dan mengusik ketenanganku.

    “Adiiiik… adiiiik…”

     

    “Pergi… pergilah dari hidupku,” usirku dengan suara gemetar.

    “Adiiik… adiiik…” Suara itu terus memanggilku.

    “Pergi, kataku! Aku tak mau lagi mendengar suaramu. Aku tak mau lagi mendengar panggilanmu!” Suaraku semakin meninggi dan bergetar. Tubuhku mulai terguncang-guncang menahan rasa dingin, tetapi keringat terus mengucur, membasahi baju dan jaket tebal yang kukenakan.

    “Adiiiiik… adiiik…”

    “PERGIII!!!”

    Aku memekik keras sembari menutup rapat kedua telingaku. Kutangkupkan wajah ke atas pangkuan agar pekikanku tak terdengar oleh siapa pun.

    Syukurlah, taman bermain ini memang benar-benar sepi pada jam seperti ini. Semua anak tentu masih berada di sekolah, mengerjakan tugas di dalam kelas yang hangat sambil bersenda gurau dengan teman-teman mereka.

    Hanya aku yang duduk sendirian di sini, menggigil, berkeringat, dan berusaha mati-matian mengusir suara yang seharusnya sudah lama tidak mungkin kudengar lagi.

    Beberapa saat kemudian suara panggilan itu mulai berhenti menggangguku, hembusannya terasa menyapu wajahku ketika secara perlahan dia mulai bergerak menjauhi telingaku. Tetapi sedetik kemudian kurasakan sebuah tangan halus menyentuh daguku. Aku terkejut saat dengan setengah memaksa tangan itu menegakkan wajahku. Aku membuka mataku lebar-lebar tetapi tidak ada siapapun di dekatku. Lalu tangan siapakah tadi? Aku mulai merasa ketakutan. Mungkin penunggu pohon ini marah mendengar suara pekikanku.

    “Kenapa kamu menghindariku?”

    Sebuah bisikan lembut tiba-tiba tertangkap telingaku.

    “Siapa kamu? Kenapa kamu terus menggangguku?”

    “Apa kamu lupa dengan suaraku? Coba dengarkan baik-baik.”

    “Jadi… kamu suara panggilan itu?”

    “Yah…”

    “Tetapi kamu sudah lama meninggalkanku. Dan aku sudah lama pula menganggapmu mati.”

    “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Kamulah yang berusaha melupakanku.”

    “Karena kamu memang pantas untuk dilupakan.”

    “Ha… ha… Kamu bohong. Kamu telah berbohong besar kepada dirimu sendiri.”

    “Aku tidak pernah membohongi diriku sendiri. Dan, kalaupun itu pernah kulakukan, sama sekali bukan urusanmu!”

    “Memang itu bukan urusanku, tetapi karena itu menyangkut diriku maka mau tidak mau itu juga menjadi urusanku. Lihat apa yang baru saja terjadi pada dirimu. Hanya karena mendengar suara yang mirip dengan suaraku saja kamu sudah hampir terpengaruh dan terjebak ke masa lalumu.”

    “Apa maksudmu? Tapi itu memang suaramu, bukan? Kamu sengaja ingin menggangguku dan ingin menjebakku kembali ke masa-masa pahit itu. Kenapa? Karena kamu tidak ingin melihatku hidup bahagia, iya pasti itu tujuan kamu. Kamu ingin menghancurkan hidupku!!” Aku memekik penuh amarah dengan suara itu.

    “Lihat dirimu baik-baik. Bukan aku yang ingin menghancurkan hidupmu, tetapi dirimu sendirilah yang telah melakukannya. Kenapa kamu tega mencampakkan aku, apa salahku padamu?” 

    Suara panggilan itu terus saja berusaha memojokkanku. Aku mulai menangis, entah menangis untuk apa. Mungkin memang benar apa yang dikatakannya. Sebenarnya, akulah yang telah mencoba menghancurkan hidupku sendiri karena bersikeras untuk terus mencintainya, meskipun kenyataan di depan mata tidak memungkinkan bagiku untuk mencintainya, apalagi sampai memilikinya.

    Seandainya dulu aku tidak bersikap keras kepala dan mau berdamai dengan kenyataan, tentu situasinya tidak akan menjadi seperti sekarang.

    “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

    Pertanyaan dari suara panggilan itu membuyarkan lamunanku.

    “Aku sedang memikirkan kebodohanku di masa lalu yang sampai sekarang masih saja kusimpan. Pergilah dari hidupku dan jangan pernah kembali lagi untuk menggangguku.”

    “Maafkan aku, tetapi foto-fotomu yang tersebar di dunia maya memaksaku untuk mencari jejakmu.”

    “Kamu sudah berhasil menemukanku. Sekarang pergilah.”

    What? Aku sudah dengan susah payah mencarimu. Tetapi setelah bertemu, kenapa kamu malah mengusirku?”

    “Aku tidak pernah memintamu untuk mencariku dan aku juga tidak lagi mengharapkan kehadiranmu. Apa karena dulu aku begitu mencintaimu, lalu kamu menganggap aku akan dengan mudah menerima kehadiranmu? Kamu tidak pernah berubah sejak dulu. Kamu selalu lebih mementingkan menjaga image-mu daripada menjaga perasaanku.”

    “Kamu lebih memilih tega mengabaikan perasaanku daripada harus kehilangan wibawamu. Kamu tidak pernah mau mengakui bahwa kamu juga mencintaiku, bahwa kamu juga membutuhkan diriku. Hanya karena kamu seorang public figure, kamu tega menistakan semua itu dari hati dan nuranimu.”

    “Kamu memang jahat. Kamu orang paling jahat yang pernah kukenal. Dasar pengecut! Aku sangat membenci dirimu. Pergiiii! Pergi kamu dari hidupku!”

    Akhirnya aku tak lagi mampu mengontrol emosiku. Aku bahkan tak lagi peduli jika ada orang yang memperhatikanku atau mungkin menganggapku gila karena meracau seorang diri di taman bermain anak yang lengang ini.

    “Baiklah. Aku menerima semua hinaanmu itu. Aku memang seorang pengecut karena tidak pernah mempunyai keberanian untuk menyatakan perasaanku. Aku terlalu egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Aku memang patut dipersalahkan. Aku tidak pernah tahu sedalam itu perasaan cintamu dulu kepadaku. Aku tidak akan menyalahkanmu kalau sekarang kamu sangat membenciku. Tapi tidakkah ada pintu maaf untukku?”

    “Aku tidak berharap kamu akan memberiku kesempatan satu kali lagi. Tetapi paling tidak, maafkanlah aku. Aku akan pergi, tetapi aku akan terus kembali sampai kau bersedia memaafkanku.

    “Selamat tinggal, Adik. Maaf telah mengganggu ketenanganmu.”

    Setelah berkata begitu, suara panggilan itu perlahan bergerak menjauh, meninggalkan hembusan dingin yang membuat mataku perih—seperih hatiku ketika mendengar dia kembali memanggilku dengan sebutan itu.

    Adik.

    Kutinggalkan taman bermain yang dipenuhi tumpukan daun-daun kering. Warna coklatnya menyamarkan pasir yang bertebaran di seluruh area taman. Beberapa butir pasir masuk ke dalam boots-ku, tetapi tak lagi ku pedulikan.

    Aku hanya ingin segera sampai di kamarku yang hangat. Merebahkan diri di atas kasur busa yang empuk dan menghilangkan rasa penat yang saat ini tidak hanya menyiksa fisikku, tetapi terlebih-lebih telah meremuk redamkan batinku.

    Atau mungkin membenamkan diri dalam bathtub berisi air hangat agar seluruh keletihan ini sirna dan berganti dengan rasa segar.

    Oh, secangkir kopi panas sepertinya juga bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menenangkan diri.

    Aku semakin mempercepat langkah agar segera bisa melakukan semua hal yang mungkin dapat mengusir bayangan dirinya dari pikiranku.

    Kulewati bangunan demi bangunan untuk sampai di apartemenku. Namun, pandanganku seolah menjadi nanar. Entah memang mataku yang sudah terlalu penat atau pikiranku yang mulai mempermainkanku.

    Semua tulisan yang kutemui seolah bertuliskan kata yang sama.

    Adik.

    Adik.

    Adik.

    Dan, adik.

    Papan nama pertokoan, papan nama jalan, papan-papan pengumuman… semuanya berubah menjadi satu kata yang sama.

    Adik.

    Semua orang yang kutemui, yang berpapasan denganku, yang sedang duduk-duduk di kafe dan restoran, semuanya mengucapkan kata itu.

    “Adik… adik… adik…”

    Suara mereka semuanya mirip dengan suara panggilan itu. Mendengung-dengung seperti sekelompok lebah yang baru saja keluar dari sarangnya.

    Ya Tuhan…

    Suara panggilan itu benar-benar telah meracuni pikiranku, menyumbat saraf-saraf otak, dan tak memberiku kesempatan untuk memikirkan hal lain selain suara itu.

    Aku terus mempercepat langkah. Berusaha menghindari gema suara-suara itu dengan menutup kedua telingaku.

    Dan ketika akhirnya aku sampai di depan pintu gerbang apartemen, semua tulisan pada daftar nama penghuni apartemen berubah menjadi satu kata.

    Adik.

    Kubuka dengan tangan gemetar pintu kamarku yang di sana juga tertulis kata yang sama.

    Adik.

    Aku tak lagi peduli.

    Kulemparkan tubuhku ke atas kasur, kututupi wajahku dengan bantal, lalu kucoba melupakan semua yang telah kualami hari ini.

    Tetapi semua usaha itu sia-sia.

    Seluruh isi kamarku telah dipenuhi tulisan yang sama.

    Adik.

    Akhirnya aku menyerah.

    Kubiarkan pikiranku menyatu dengan kata itu. Kucoba menikmati kembali kebahagiaan yang dulu sering kurasakan setiap kali dia memanggilku dengan sebutan tersebut.

    “Adik … Lho, kamu ngapain sendirian di luar? Hujan-hujan lagi. Kenapa nggak gabung sama yang lain di dalam sana? Lebih hangat dan bisa mencicipi hidangan yang sudah tersedia.”

    Orang yang memanggilku Adik itu tiba-tiba sudah berada di hadapanku.

    Aku sangat gugup saat itu dan tak tahu harus menjawab apa.

    Laki-laki itu sepertinya juga tidak membutuhkan jawabanku. Dia terus berdiri di sana, membiarkan rambutnya yang tersisir rapi basah oleh cipratan air hujan. Begitu pula kemejanya yang licin dan mengeluarkan aroma wangi ketika tertimpa butiran-butiran kecil air hujan yang terhempas oleh angin.

    Hari itu, kalau tidak salah, ada acara seminar atau simposium. Entahlah, aku sudah lupa. Dan dia menjadi salah satu narasumber.

    “Aku… hm…”

    “Ya sudah, aku tunggu di dalam, ya.”

    Dia berkata sambil beranjak masuk kembali ke dalam ruangan, sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku.

    Sekilas kulihat pandangan aneh di matanya. Ada sedikit rasa khawatir di sana.

    Selalu seperti itu.

    Dia tidak pernah mau berlama-lama berada di dekatku atau bercakap-cakap denganku. Tetapi jika aku tidak ada, dia selalu mencariku, meneleponku, atau mengirimiku SMS meski kalimatnya hanya pendek-pendek dan sama sekali jauh dari kata manis.

    Aku sama sekali tidak paham mengapa dia bersikap seperti itu kepadaku.

    Acuh, tapi butuh.

    Apa mungkin karena dia merasa aku selalu ada ketika dia membutuhkan seseorang untuk menolongnya?

    Aku sendiri juga heran mengapa selalu saja terjadi kebetulan-kebetulan yang membuat dia merasa harus berhutang budi kepadaku.

    Beberapa saat kemudian, kulihat dirinya telah kembali berbaur dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan. Dan seperti biasa, kebanyakan perempuanlah yang mengelilinginya.

    Aku tidak akan sanggup masuk ke dalam sana. Tidak akan sanggup menyaksikannya tertawa-tawa bahagia dengan beberapa perempuan yang selalu berada di sekelilingnya.

    Aku tidak akan mampu membendung rasa cemburu ketika melihat mata-mata genit mereka menatapnya penuh kekaguman, saling berebut mencari perhatian darinya.

    Aku terus berdiri di tempatku, memandangi sosoknya yang memang mengagumkan.

    Tidak salah jika perempuan-perempuan itu berpikiran sama denganku.

    Sesekali kulihat matanya mengarah ke sekeliling ruangan, entah siapa yang sedang dicarinya.

    Tetapi beberapa saat kemudian, matanya mengarah kepadaku.

    Mungkin dia ingin memastikan bahwa aku masih ada.

    Wajahnya terlihat damai ketika mata kami bersiborok.

    Seperti biasa, tanpa senyum.

    Aku baru masuk ketika acara sudah dimulai. Semua peserta telah duduk tenang di kursinya masing-masing dan para narasumber sudah berada di atas mimbar.

    Aku selalu suka melihat gaya lincahnya ketika mempresentasikan makalah.

     

    Ruang seminar sudah sepi ketika aku keluar dari toilet. Di atas sebuah meja di pojok ruangan, kulihat sebuah tas. Tas siapa yang tertinggal di sana?

    Mungkin milik salah satu peserta, pikirku.

    Aku segera mendekatinya untuk mencari tahu. Barangkali aku mengenal pemiliknya atau setidaknya ada identitas yang melekat pada tas itu. 

    Aku langsung mengenali tas tersebut ketika sudah berada di dekatnya. 

    Tidak salah lagi. Ini pasti miliknya.

    Dia memang sangat pelupa, apalagi jika sudah asyik mengobrol dengan teman-temannya. Dia bisa melupakan banyak hal. Aku lalu mengambil tas itu untuk kuserahkan kepadanya.

    Baru saja aku akan keluar dari ruangan, kulihat dia berjalan cepat ke arahku.

    “Kamu mencari ini?” tanyaku seraya menyodorkan tasnya.

    “Alhamdulillah, untung ada Adik yang menemukannya. Aku tadi keasyikan ngobrol sampai lupa mengambilnya. Terima kasih.”

    “Sama-sama,” balasku sambil tersenyum kecil.

    “Teeeeeeeeeeet!”

    Suara bel pintu membuyarkan lamunanku.

    “Siapa sih yang pencet-pencet bel? Bikin kaget orang saja,” pikirku.

    Aku tidak menggubrisnya. Paling-paling juga tukang koran yang meminta tolong untuk dibukakan pintu gerbang.

    Aneh.

    Semuanya tiba-tiba kembali normal setelah aku mengalah dan berdamai dengan masa laluku.

    Aku tidak lagi menemukan tulisan-tulisan Adik yang tadi memenuhi kamarku. Aku juga tidak lagi mendengar dengungan suara panggilan itu di telingaku. Kamarku sudah kembali tenang seperti semula.

    Aku lalu beranjak menuju meja untuk menyalakan laptop. Begitu kubuka Yahoo-ku, kulihat ada satu kiriman dari seseorang yang tidak kukenal. Karena penasaran, aku membukanya. Betapa kagetnya aku ketika melihat isinya.

    Aku segera mengunduh kiriman tersebut. Baru saja proses unduhan selesai, tiba-tiba terdengar suara yang sudah sangat kukenal.

    “Adiiiiiiiiiiiiiiiiiik…”

     

    Berlin, Sparrstraße 2
    16 Oktober 2010
    Awal musim gugur yang dingin.

     

    Kreator : Diah Rofika

    Bagikan ke

    Comment Closed: Sebuah Panggilan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021