
Di era media sosial seperti sekarang ini, keadaan semakin nyata. Banyak orang dengan mudah mengomentari kehidupan orang lain hanya berdasarkan potongan video, sepenggal foto, atau berita singkat. Betapa mereka sering travelling bersama pikirannya setelah melihat status media sosial yang lewat di berandanya. Mereka bisa menerjemahkan sedikit yang dilihat itu menjadi pembicaraan yang apabila ditulis mungkin setebal kamus. Terlihat seru banget dan bahkan terkadang dirinya sendiri menjadi keos, merasa tersinggung dan marah akibat tayangan atau status yang tidak menyinggung dirinya sama sekali. Dan seringkali itu berujung pada penilaian negatif. Lalu hati ini bertanya, “Apakah memang seperti ini kondisi karakter masyarakat kita saat ini.”
Ini mungkin bisa disebut sebagai “ghibah.” Mereka merasa sudah mengetahui seluruh cerita, padahal yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan, tetapi seolah mereka pembuat skenarionya. Sebenarnya yang bahaya dalam hal ini adalah tentang “empati.” Ketika penilaian datang terlebih dahulu, perlahan empati pun menghilang. Orang lebih sibuk menghakimi dari pada mendengarkan. Ketika seseorang berusaha memberi sudut pandang positif, dia pun dihakimi sebagai pembela target ghibah yang dimaksud.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini banyak kita temui. Seseorang cenderung diam dan tidak setuju dengan circle mereka pun dianggap salah. Padahal sikap yang ditunjukkan seseorang bisa jadi itu memang karakternya, atau sedang konsentrasi pada urusan pribadinya. Namun, karena orang lain lebih dulu menilai daripada mencoba memahami, ia langsung mendapat label negatif. Penilaian yang terlalu cepat ini, biasanya terjadi karena asumsi, prasangka, atau sudut pandang yang sempit.
Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, kondisi dimana akses informasi tidak lagi ada batas, mestinya kita dapat dengan mudah belajar dan juga mencari informasi. Meluaskan sudut pandang terhadap suatu masalah, adalah hal yang sangat mudah untuk kita lakukan. Tidak seharusnya kita memilih sudut pandang konvensional, yang belum tentu itu benar. Sudut pandang konvensional biasanya lebih mengedepankan ego diri. Padahal Ketika kita meluaskan sudut pandang kita, tentunya banyak hal positif yang bis akita ambil pelajaran. Memahami dulu bukan berarti membenarkan semua hal, melainkan memberi kesempatan bagi kebenaran untuk terlihat secara utuh. Sehingga hubungan antara manusia dapat dibangun atas empati, bukan prasangka.
Di suatu kantor, seorang karyawan bernama Arman terlihat tidak semangat selama beberapa hari ini. Pekerjaan sering tertunda, dan ia lebih diam dibanding biasanya. Melihat perubahan itu, beberapa rekan kerja mulai berbisik dan membuat dugaan sendiri. Mereka langsung menilai bahwa Arman pasti sedang menghadapi masalah berat dalam keluarganya. Ada yang mengatakan rumah tangganya sedang bermasalah, ada pula yang menduga ia sedang terlilit masalah ekonomi. Tanpa bertanya langsung, cerita itu cepat menyebar di lingkungan kantor hingga banyak orang percaya bahwa kondisi Arman disebabkan tekanan pikiran. Beberapa hari kemudian, diketahui bahwa Arman sebenarnya sedang menjalani pengobatan karena penyakit lambung yang kambuh akibat pola makan yang tidak teratur. Ia memilih diam karena tidak ingin pekerjaannya terganggu atau membuat orang lain khawatir.
Ketika mengetahui bahwa Arman sebenarnya sedang sakit lambung, sebagian temannya pun masih mengaitkan sakit itu dengan tekanan masalah hidup yang dihadapi. Mereka beranggapan sakit lambung pasti muncul karena banyak pikiran, stres keluarga, atau beban ekonomi. Padahal dalam kasus Arman, dokter menjelaskan bahwa sakit lambung yang dialami ini lebih dipengaruhi oleh pola makan yang tidak teratur, kebiasaan terlambat makan dan sering mengkonsumsi kopi saat bekerja lembur. Namun, karena orang-orang sudah lebih dahulu membuat penilaian, mereka cenderung mencari hubungan yang sesuai dengan asumsi mereka sendiri.
Keadaan ini menunjukkan seringkali sulit memisahkan antara fakta dan dugaan. Memang sih, kita bebas untuk menilai orang lain. Tidak ada yang melarang kita berkomentar terhadap orang lain. Tetapi bukankah lebih baik menahan diri untuk tidak berkomentar daripada mengomentari sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya. Bukankah lebih baik diam daripada malu sendiri, terhadap ketidakbenaran yang kita katakan. Memberi penilaian terhadap orang lain memang lebih mudah daripada menilai diri sendiri. “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan tampak jelas.” Memang bagi Sebagian orang , hal yang menarik untuk dibahas saat kumpul-kumpul adalah orang lain. Dan sebagian besar biasanya tentang ketidak baikan.
Anna Eleanor Roosevelt Ibu Negara Amerika Serikat (1933-1945) pernah mengatakan “great minds talking about ideas, averages minds talking about events, small minds talking about people.” Yang maksudnya, orang dengan pemikiran kecil akan selalu suka gossip. Orang yang pemikiran rata-rata, bisa mendengarkan gossip tanpa bereaksi. Sementara orang dengan pemikiran hebat hanya suka berpikir dan bercerita tentang ide-ide, dia tidak menyukai gosip.
Orang yang didominasi oleh small mind akan selalu sibuk dengan urusan orang lain daripada dirinya sendiri yang tidak menghasilkan apa-apa kecuali perseteruan. Ia suka menilai orang lain dari sisi negatif tanpa melakukan penilaian terhadap kelemahan dirinya sendiri. introspeksi diri merupakan cara terbaik untuk menghindari kebiasaan menilai orang lain. Kalaupun harus menilai, sebaiknya kita lihat sisi positif saja, agar diri ini terlatih menuju sudut pandang positif. Karena sebenarnya tidaklah mudah memahami sifat dan karakter seseorang yang sesungguhnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak baik menilai yang ujung-ujungnya menghakimi. Hal tersebut akan mendatangkan konflik saja. Terkadang ketika kita menilai orang lain dari segi negatif, mungkin bukan orang tersebut yang negatif tetapi hati kitalah yang tercemar dan perlu kita daur agar kembali jernih. Dan sebenarnya tetaplah ada sekumpulan orang-orang yang menyukai memikirkan tentang ide-ide positif. Orang-oang yang senang membahas regulasi terhadap peristiwa negatif di sekitar untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan positif dan damai yang dapat mendaur berbagai peristiwa negatif di sekitar kita.
Marilah kita sejenak menengok dari sudut pandang Agama. Ada satu ayat dan satu hadist yang bisa saya ambil pelajaran:
-يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬ -١٢
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sekalian berghibah (menggunjing) satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu sekalian yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.” [QS: 49 (al Hujurat) ayat 12.]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya: “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘ Beliau berkata: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’
Dari dua dasar di atas bisa kita ambil pelajaran bahwa ghibah atau menggunjing adalah menyebutkan sesuatu yang ada pada saudara kita ketika ia tidak hadir, dan apabila hadir ia tidak akan menyukai hal itu. Seperti menggambarkannya dengan apa yang dianggap sebagai kekurangan menurut umum, meremehkan atau menjelekkan. Termasuk dalam ghibah adalah menarik perhatian seseorang terhadap sesuatu dimana orang yang dibicarakan tidak suka apabila dikenali seperti itu.
Segala sesuatu yang tidak disukai itu biasanya menyangkut aib. Tak seorangpun senang apabila aibnya diketahui orang lain. Membeberkan aib seseorang sama halnya mempermalukannya. Semua perbuatan yang membentuk kesan buruk tentang seseorang dan membiarkan orang lain berkesan buruk kepadanya termasuk dalam kategori ghibah. Pada umumnya manusia tidak suka kekurangan atau hal-hal negatif yang ada pada dirinya menjadi bahan perbincangan publik. Diantaranya: keadaan tubuhnya, agamanya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orangtuanya, suami/isterinya, atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya. Perbincangan tentang obyek-obyek tersebut menjadi ghibah apabila orang yang diperbincangkan merasa tidak suka.
Di zaman sekarang, ghibah tidak hanya bisa dilakukan melalui pembicaraan lisan, tetapi bisa juga dilakukan secara tulisan, isyarat, maupun bahasa tubuh. Ghibah secara lisan bisa terjadi saat berbicara dengan seseorang, sekelompok orang. Ghibah secara tulisan bisa dilakukan dalam bentuk tulisan publikasi koran, tabloid, majalah, maupun tulisan pada media sosial. Ghibah melalui bahasa tubuh bisa dilakukan melalui isyarat, ekspresi wajah, maupun gerak tubuh tertentu menirukan gerak orang yang sedang dipergunjingkan.
Dalam kehidupan masyarakat saat ini, ghibah juga bisa saja dilakukan dengan dukungan media massa sehingga mempunyai efek yang sangat luas. Kita bisa menyaksikan banyak stasiun televisi maupun berbagai media sosial menyajikan acara ghibah yang dikemas sedemikian rupa dan secara tidak sadar masyarakat pun menikmati dan memberi apresiasi yang luas dibuktikan dengan rating jumlah penonton maupun jam tayang yang tinggi. Demikianlah adanya saat ini ghibah pun didukung oleh teknologi informasi yang canggih. Lalu bagaimana dengan orang yang hanya menyaksikan atau mendengarkan orang lain yang ghibah? Mendengarkan atau menyaksikan berarti membiarkan orang lain berbuat mungkar.
Apabila mampu menghentikan ghibah berarti mampu memupuk kebajikan. Ghibah termasuk perbuatan yang harus dan wajib kita hindari dan tinggalkan. Allah SWT menggambarkan orang yang ghibah seperti memakan bangkai saudaranya yang telah mati. Membicarakan aib, kekurangan, dan hal-hal negatif dari orang lain bisa berakibat pada matinya karakter baik seseorang. Sering disebut “character assassination”, citra diri hancur dan mati seperti bangkai akibat ghibah.
Asumsi dan ghibah (menggunjing) memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam banyak hal, ghibah sering terjadi karena asumsi yang belum tentu benar. Ketika seseorang membuat dugaan tentang orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya, lalu dugaan itu diceritakan atau dibahas dengan orang lain, makai a telah membuka pintu ghibah. Misalnya, seseorang melihat seorang tetangga sering pulang larut malam, lalu berasumsi bahwa ia melakukan hal-hal yang buruk. Dugaan tersebut kemudian diceritakan pada temannya dan menjadi bahan pembicaraan. Padahal, bisa jadi orang tersebut pulang larut malam karena pekerjaan atau urusan keluarga. Dalam hal ini asumsi yang belum terbukti telah berkembang menjadi ghibah dan bahkan berpotensi menjadi fitnah, jika informasi yang ada ternyata tidak benar.
Dalam surah Al-Hujurat ayat 12 disebutkan bahwa Sebagian prasangka adalah dosa. Dalam ayat tersebut juga terdapat larangan mencari-cari kesalahan orang lain dan ghibah. Ada keterkaitan antara prasangka yang tidak terkendali dapat mendorong seseorang untuk mencari-cari informasi, lalu membicarakan keburukan orang lain.
Secara sederhana, hubungan itu dapat digambarkan sebagai berikut:
Asumsi (prasangka) 🡪 Kesimpulan tanpa fakta 🡪 membicarakan orang lain 🡪 Ghibah 🡪 Berpotensi fitnah
Oleh karena itu, salah satu cara menghindari ghibah adalah dengan tidak mudah mempercayai asumsi yang muncul dalam pikiran. Ketika muncul dugaan tentang seseorang, lebih baik menahan diri, berprasangka baik, dan menyadari bahwa kita mungkin tidak mengetahui keseluruhan ceritanya. Apa yang kita lihat belum tentu menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Dengan demikian kita tidak hanya terhindar dari penilaian yang tidak adil, tetapi juga terhindar dari dosa ghibah yang merusak hubungan antar manusia.
Seringkali asumsi lahir dari informasi yang tidak lengkap, pengalaman masa lalu, prasangka, ataupun sudut pandang yang terbatas. Ketika kita tidak berusaha memahami situasi secara utuh, kita beresiko membangun opini yang keliru tentang seseorang. Akibatnya hubungan menjadi renggang, muncul kesalahpahaman, bahkan perlakuan tidak semestinya terhadap orang yang dinilai.
Kalau kita tidak melengkapi informasi tentang fakta yang ada, maka penilaian seseorang bisa dipengaruhi masa lalu. Karena otak menggunakan pengalaman terdahulu. Pola asuh, trauma, penghianatan atau rasa tidak aman akibat pernah direndahkan. Mekanisme pertahanan diri untuk antisipasi bahaya bekerja. Kita harus meluaskan wawasan dan sudut pandang agar tidak menilai berdasarkan luka yang pernah ada.
Kreator : Sukma Wahyunitasari
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 2_Saat Penilaian Datang Sebelum Pemahaman
Sorry, comment are closed for this post.