Bab 1: Senja di Pelataran Sidomulyo
Sore itu, langit Desa Sidomulyo berwarna jingga keemasan. Di teras rumah bambu yang sudah mulai miring, Ani duduk menemani kakek dan neneknya—Simbah Kakung dan Simbah Putri. Bau tanah basah dan aroma padi yang baru dipanen menyeruak. Kedua orang tua renta itu baru saja kembali dari sawah, wajah mereka dihiasi kerutan dalam, saksi bisu perjuangan sebagai petani kecil.
“Ani, wes maem?” (Ani sudah makan?) tanya Simbah Putri dengan suara serak namun lembut.
Ani hanya mengangguk pelan sambil berjalan menuju kamarnya yang ada di bagian tengah rumah. Di hatinya, ada kerinduan yang menyesak. Sudah dua tahun Ayah dan Ibu merantau ke luar negeri demi mengubah nasib, meninggalkannya di desa yang tenang namun sunyi ini. Waktu itu saat kedua orang tua Ani berangkat merantau, dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar di kelas 5 SD.
Dengan menatap foto kedua orang tuanya yang ada di atas meja belajar, air mata mulai menetes. Dadanya terasa sesak menahan kerinduan dan harapan untuk bisa segera bertemu dengan kedua orang tuanya.
Dari jauh kelihatan kakeknya yang dari sawah datang dan membersihkan diri, setelah rapi dan selesai beribadah, kakeknya menghampiri kamar ani seraya berkata, “Nduk, wis maem? Mbahmu wes masak ayam kecap senenganmu lho.” ( nenekmu sudah membuatkan ayam kecap kesukaan mu).
“Sampun, Mbah!” (Sudah, Mbah) jawab Ani lirih. Dia terlihat murung dengan mata berkaca-kaca.
“Mbah, kapan Bapak kalih Ibu kundur saking Jakarta? Aku kangen!” (Mbah, kapan Bapak sama Ibu pulang dari Jakarta? Saya rindu) tanya Ani dengan mata berkaca-kaca.
“Sing sabar, nduk! Riyoyo ngarep bapak ibumu mulih.” ( sabar nak, hari raya idul fitri nanti bapak dan ibu kamu pulang.)
Kakek kemudian dengan pelan menutup kain pintu sambil berlalu menuju ruang makan.
Bab 2: Tamu dari Kota Pahlawan
Keheningan sore itu pecah ketika sebuah mobil travel berhenti di depan halaman. Sosok wanita dengan pakaian rapi dan membawa banyak tas keluar.
“Bibi!” seru Ani.
Bibi, adik dari Ayahnya yang tinggal di Surabaya, datang berkunjung. Ia membawa kabar dan semangat baru. Kedatangannya bukan sekadar melepas rindu, tapi membawa secercah harapan dari kota besar yang selama ini hanya bisa Ani bayangkan melalui cerita.
“Bibi , Kapan Bapak dan Ibu kundur? Ani kangen,” tanya Ani sambil memeluk bibinya itu.
“Hari raya idul fitri ya, sayang.” jawab Bibi sambil memberikan oleh-oleh buah rambutan binjai yang dia bawa dari Surabaya.
“ Hore.. Bapak dan Ibu mau pulang.”
Dengan berlari kecil menuju kakek dan nenek yang ada di ruang tengah, sambil membawa rambutan binjai dari bibinya.
“mbah , nanti kalau ibu pulang, ani mau minta dibelikan baju dan sepatu baru, sepatunya ani sudah jelek”. Ungkap ani ke neneknya yang lagi duduk- duduk di ruang tengah dengan kakeknya.
“Iya, nduk!” (iya nak) sahut neneknya dengan senyum.
Bab 3: Keputusan Berat dan Perjuangan Ibu
Namun, kabar dari Jakarta tidak selalu manis.satu bulan berlalu setelah kedatangan bibinya ke kampung terdengar kabar Ayah ani harus pindah ke lokasi proyek yang ada di kalimantan yang mana tempatnya lebih jauh dan lebih keras untuk merantau. Di sisi lain, Ibu memutuskan kembali lebih awal karena kontraknya habis.
Alih-alih menyerah, Ibu mencoba peruntungan baru di tanah kelahiran. Dengan modal seadanya, Ibu mulai berjualan sayuran dan bumbu dapur di pasar lokal Sidomulyo yang ada di kampung ani. Meskipun pasar ini bukan pasar induk daerah yang ramai akan pembeli dan tidak buka 24 jam seperti pasar – pasar yang ada di kota besar tapi cukup untuk ibu ani mengadu nasib dan mencoba peruntungannya di pasar ini. Setiap subuh, Ani melihat ibunya bersiap menembus kabut pagi. Membawa banyak sayur – sayuran hasil panen dari sawah kakeknya dan beberapa hasil panen tetangga yang menjual ke ibunya untuk di jual kembali di pasar lokal sidomulyo, dengan memakai motor butut ayahnya yang dikirim dari surabaya karena sudah tidak di pakai, seperti biasa sebelum berangkat ke pasar ibunya berpamitan pada kakek dan neneknya serta membangunkannya untuk shalat subuh seraya ibunya berkata “Kita harus mandiri, nduk,” pesan Ibu tiap kali berangkat.
Setiap pagi rutinitas ani terbiasa menyiapkan diri sendiri untuk berangkat ke sekolah. Dia bersekolah di Sekolah SDN 12 Sidomulyo yang tidak jauh dari rumahnya bekisar 700 meteran dan dia terbiasa berjalan kaki dengan teman- temannya yang tinggal satu kampung dengannya.
Bab 4: Keajaiban di Buku Tabungan
Suatu hari, sebuah pengumuman di kantor BRI unit desa menyebutkan nama neneknya tertulis dalam pengumuman menjadi salah satu pemenang undian ulang tahun Bank BRI yang ke 52. Keluarga mereka yang selama ini tekun menabung sedikit demi sedikit dari hasil tani dan jualan pasar, mendapatkan hadiah tak terduga berupa sepeda motor Mio
“The Miracle” dimulai di sini. Mereka memenangkan undian tabungan berupa sepeda motor . Bagi orang lain mungkin biasa, tapi bagi keluarga petani di Sidomulyo, ini adalah jembatan menuju masa depan. Karena dalam keadaan sulitnya perekonomian, mereka mendapatkan sepedah motor yang menjadi tumpuan alat transportasi dalam mencari nafkah sebagai tambahan kebutuhan dan biaya sekolah. Ibu ani menggunakan motor ini ani untuk mengantarkan ani pulang pergi dari sekolah dan mengikuti beberapa les privat yang ada di sekolahnya. Dia berharap dengan memberikan fasilitas pendidikan yang baik kedepannya akan memudahkan ani untuk mencapai cita – citanya terutama keinginannya untuk bisa dsekolah di sekolah favorit dia.
Bab 5: Gerbang Masa Depan
Berkat hadiah tersebut dan kerja keras Ibu di pasar, Ani berhasil mewujudkan mimpinya. Ia dinyatakan lolos seleksi di sekolah favorit di pusat kota lamongan yaitu di PONPES DARUL ULUM yang ada paciran
“Belajarlah yang rajin, buat Simbah dan orang tuamu bangga,” ucap Simbah Kakung saat mengantar Ani ke terminal dengan mata berkaca-kaca. Ani membawa doa-doa dari desa menuju gemerlapnya pendidikan kota. Dengan berbekal keberanian dan tekatnya untuk bisa meraih cita-citanya menjadi seorang dokter kandungan, Ani membiasakan dirinya sedari dini untuk mandiri sehingga ketika dia bersekolah di luar kampungnya dia sudah mampu mengurus dirinya sendiri meski setiap satu bulan ibu atau kakeknya menjenguknya di kota ataupun setiap liburan sekolah dia pulang.
Waktupun tak terasa cepat berlalu. Ani kini sudah lulus dari sekolah Mts maupun MA yang ada di PONPES DARUL ULUM, kini dia berencana untuk melanjutkan kuliah di Universitas negeri yang ada di surabaya. Dia berharap mampu mewujudkan cita-citanya untuk jadi seorang dokter yang mampu membantu keluarganya dan orang – orang yang ada di sekitarnya.
Bab 6: Rumah Baru, Harapan Baru
Beberapa tahun berlalu, kini Ani sudah menjadi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota besar yaitu di Surabaya dan Ayahnya yang di perantauan akhirnya pulang dengan membawa kabar gembira
Ayah mengajak Ani, Ibu, dan kedua Simbah untuk pindah ke rumah baru yang lebih layak dan kokoh. Bukan sekadar bangunan beton, rumah itu adalah simbol dari ketabahan mereka melewati masa-masa sulit. Di teras rumah baru itu, Ani menyadari bahwa keajaiban bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit begitu saja, melainkan buah dari doa Simbah, kerja keras orang tua, dan keteguhan hati untuk tidak menyerah pada keadaan.
Kreator : Nur Rochmawati
Comment Closed: The Miracle
Sorry, comment are closed for this post.