(Mengajar untuk terkenal atau menginspirasi)
Wahai guru…
Apakah guru tidak boleh menjadi orang terkenal? Apakah guru tidak boleh menjadi orang kaya? Mengapa guru selalu identik dengan kesederhanaan? Ketika seorang guru menjadi orang terkenal, apakah itu sebuah keberhasilan atan ujian?
Di era digital saat ini, hampir setiap orang memiliki media sosial. Dari orang dewasa hingga anak-anak telah memilikinya. Teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, belajar, bahkan membangun citra dirinya. Media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi kabar, tetapi telah menjadi ruang untuk menunjukkan ide, kreativitas, kemampuan, bahkan menjadi sumber penghasilan.
Banyak orang yang awalnya hanya mengunggah kegiatan sehari-hari atau berbagi pengalaman secara sederhana. Namun seiring waktu, jumlah pengikut mereka bertambah, kontennya semakin banyak ditonton, dan popularitas pun meningkat. Dari sanalah muncul berbagai profesi baru seperti selebgram, kreator konten, influencer, YouTuber, atau TikToker.
Di antara profesi baru itu, ada pula para guru. Guru yang awalnya hanya dikenal oleh siswa-siswanya di dalam kelas, kini bisa dikenal oleh ribuan bahkan jutaan orang melalui layar ponsel. Sebagian membagikan materi pembelajaran, sebagian berbagi pengalaman mengajar, sebagian lagi membahas isu pendidikan, dan ada juga yang sekadar menampilkan aktivitas kesehariannya. Tentu tidak ada yang salah dengan hal tersebut.
Guru adalah manusia biasa yang juga memiliki hak untuk berkembang, berkarya, mendapatkan penghasilan tambahan, dan memanfaatkan teknologi. Bahkan jika seorang guru mampu mendapatkan penghasilan dari media sosial secara halal dan bermanfaat, itu bukanlah sesuatu yang yang negatif sehingga perlu dipermasalahkan.
Namun ada satu pertanyaan untukmu. Ketika guru telah memiliki popularitas yang tinggi di media sosialnya, untuk apakah popularitas itu digunakan?
Pada hakikatnya, popularitas hanyalah alat. Kepopuleran seseorang bisa menjadi jalan menuju kebaikan, tetapi juga bisa sebaliknya menjadi pintu menuju kesia-siaan. Banyak guru yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan ilmu, membagikan inspirasi, dan membantu rekan-rekan guru lain berkembang. Mereka menghadirkan konten pembelajaran yang kreatif, memberikan motivasi kepada siswa, memperkenalkan metode mengajar yang inovatif, dan menjadi sumber inspirasi bagi dunia pendidikan. Guru seperti ini layak diapresiasi.
Namun tidak sedikit pula yang perlahan berubah orientasinya. Awalnya mengajar untuk mendidik, tetapi kemudian lebih sibuk mengejar angka tayangan. Ada yang sibuk berupaya agar pengikutnya semakin bertambah. Selalu memperthatikan berapa banyak logo jempol dan hati yang di peroleh. Awalnya membuat konten untuk berbagi manfaat, tetapi lama-kelamaan lebih fokus mencari sensasi agar viral.
Di sinilah seorang guru perlu berhati-hati. Mereka harus benar-benar menyadari bahwa media sosial memiliki kekuatan yang sangat besar. Sering kali sebuah informasi dianggap benar bukan karena isinya benar, tetapi karena disampaikan oleh orang yang terkenal. Banyak orang lebih mudah percaya kepada seseorang yang populer dibandingkan kepada seseorang yang benar.
Inilah salah satu ujian terbesar dari ketenaran. Ketika seseorang memiliki banyak pengikut, maka setiap ucapan dan tindakannya akan ditiru. Bahkan kesalahannya pun sering kali dibela oleh para pengikutnya. Apa yang seharusnya dikritik justru dianggap wajar. Apa yang seharusnya diluruskan malah dipertahankan. Telah tergerus kewarasan dan akal sehat akibat belum memiliki kematangan dalam bermedia sosial.
Seorang guru harus benar-benar memahami hal ini. Karena guru bukan hanya mengajar melalui kata-kata. Guru juga mengajar melalui sikap, perilaku, dan contoh kehidupan yang ditampilkan kepada masyarakat. Ketika seorang guru menjadi figur publik di media sosial, maka tanggung jawab moralnya harus semakin besar.
Sayangnya, tidak semua guru yang menjadi selebgram atau tiktoker siap menghadapi ujian tersebut. Ada yang mulai mengukur keberhasilan dirinya dari jumlah pengikut. Ada yang lebih senang melihat angka tayangan dibandingkan melihat perkembangan siswa-siswanya. Ada yang lebih bersemangat membuat konten daripada mempersiapkan pembelajaran. Semua dibuat terlihat sempurna untuk diunggah. Semua aktivitas harus direkam. Semua momen harus menjadi konten.
Jika engkau merupakan salah satu diantaranya, maka engkau harus memiliki kesadaran. Tidak semua hal harus dipertontonkan. Ada banyak kebaikan yang justru lebih indah ketika dilakukan dalam kesunyian. Ada banyak pengabdian yang tidak membutuhkan kamera. Ada banyak ketulusan yang tidak memerlukan penonton dalam rekaman.
Seorang guru, sejatinya tidak bekerja untuk mendapatkan tepuk tangan. Guru itu bekerja untuk membentuk masa depan anak-anak yang mungkin tidak akan pernah mengingat seluruh jasanya. Jangan sampai kepedulian ini menghilang dari dalam dirimu.
Terkadang tanpa disadari, demi mengejar perhatian publik, seorang guru mengunggah konten yang tidak memiliki nilai pendidikan. Bahkan ada yang melibatkan peserta didik dalam berbagai video demi mendapatkan lebih banyak penonton.
Engkau pahami ini. Jangan sekali-kali menjadikan anak sebagai alat untuk mencari popularitas. Anak-anak memiliki hak atas privasi dan perlindungan dirinya. Guru harus memahami bahwa setiap foto, video, dan informasi tentang peserta didik harus digunakan dengan penuh tanggung jawab. Tidak boleh mengambil video anak untuk kepentingan media sosialnya tanpa seizin orang tua si anak. Apa lagi konten itu bersifat komersil.
Lebih memprihatinkan lagi ketika media sosial mulai mengganggu tugas utama seorang guru. Sepeti guru yang melakukan siaran langsung saat jam pembelajaran. Ada yang sibuk membuat konten ketika seharusnya mendampingi siswa. Ada yang lebih sering memeriksa jumlah penonton dibandingkan memeriksa hasil belajar siswa. Bahkan ada guru mengajak siswanya untuk joget-joget yang tidak berfaedah. Ketika hal itu terjadi, maka perlahan-lahan profesi guru mulai bergeser dari pusat kesadaran hidupnya.
Guru yang tadinya mengajar sebagai tujuan utama, kini konten yang menjadi prioritas. Guru yang awalnya menjadikan siswa sebagai fokus utama, kini penonton yang menjadi perhatian utama. Padahal tugas guru tidak pernah berubah sejak dahulu. Tugas guru adalah mendidik, bukan menjadi terkenal.
Jika ketenaran datang karena dedikasi dan karya-karyanya dalam pendidikan, itu adalah bonus. Tetapi jika pendidikan dikorbankan demi ketenaran, maka guru telah kehilangan arah.
Jika engkau guru yang aktif di platform media sosialmu. Mari sejenak kuajak dirimu untuk bertanya kepada diri sendiri.
Apakah dirimu membuat konten untuk memberikan manfaat atau hanya untuk mendapatkan perhatian?
Apakah dirimu lebih bahagia melihat siswa berkembang atau melihat jumlah penonton bertambah?
Apakah media sosial membantumu menjadi guru yang lebih baik atau justru menjauhkan dirimu dari tugas utama sebagai pendidik?
Tidak semua yang viral itu bernilai baik.
Tidak semua yang ramai dibicarakan akan membawa keberkahan.
Tidak semua yang menghasilkan uang akan menghasilkan kemuliaan.
Sebaliknya, ada begitu banyak guru yang tidak memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi doa-doanya menyala dalam hati siswa-siswanya. Ada guru yang tidak pernah viral, tetapi ilmunya terus mengalir melalui generasi yang ia didik. Ada guru yang tidak dikenal masyarakat luas, tetapi namanya disebut dengan hormat oleh para siswanya sepanjang hayat.
Media sosial sesungguhnya adalah alat yang netral. Ia bisa menjadi sarana kebaikan, pendidikan, inspirasi, dan pengembangan diri. Namun ia juga bisa menjadi tempat kesombongan, pencitraan, dan perlombaan mencari pengakuan. Semua bergantung pada siapa yang menggunakannya.
Jika seorang guru memanfaatkan media sosial untuk berbagi media pembelajaran, praktik baik, inovasi pendidikan, karya siswa, atau inspirasi yang membangun karakter, maka kehadirannya akan menjadi cahaya bagi banyak orang. Masyarakat akan semakin menghormatinya. Peserta didik akan mendapatkan teladan yang baik. Dan dunia pendidikan akan memperoleh manfaat yang besar.
Namun jika media sosial hanya menjadi panggung untuk mencari sensasi dan popularitas, maka lambat laun citra guru di mata masyarakat akan memudar. Sebab kemuliaan seorang guru tidak lahir dari jumlah pengikutnya. Kemuliaan seorang guru lahir dari ilmu yang diajarkan, akhlak yang dicontohkan, dan generasi yang berhasil ia didik.
Pada akhirnya, seorang guru tidak perlu memilih menjadi terkenal atau tidak terkenal. Sikap yang perlu dipilih guru adalah tetap menjadi pendidik yang benar.
Jika ketenaran datang karena ilmu dan manfaat yang diberikan, maka syukurilah. Jika tidak datang, maka tetaplah mengajar dengan ikhlas.
Keberhasilan seorang guru bukanlah ketika namanya dikenal oleh jutaan orang di media sosial, melainkan ketika ilmu dan nilai-nilai yang ia tanamkan terus menyala di dalam diri siswa-siswanya.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru Selebritis
Sorry, comment are closed for this post.