KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Guru VS Siswa

    Guru VS Siswa

    BY 25 Jul 2026 Dilihat: 4 kali
    Syarat menjadi guru di Indonesia_alineaku

    (Sebuah Anomali dalam Pendidikan)

     

    Wahai guru…

    Apakah bisa terjadi perseteruan guru dengan siswa? Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa yang salah dengan pendidikan di sekolah? Mengapa terjadi pelaporan sampai pemidanaan terhadap guru?

     

    Sekarang engkau bisa lihat bagaimana pendidikan saat ini kan !

    Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi bahan renungan bersama. Sebab pendidikan seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, akhlak, dan peradaban. Tapi saksikanlah dalam beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar berita tentang perselisihan antara guru dan siswa. Tidak sedikit kasus yang akhirnya sampai ke meja hijau dengan proses hukum yang panjang dan melelahkan. Dan kebanyakan guru yang mendapatkan ketidakadilan. Guru dihukum karena mendidik anak bangsa.

     

    Fenomena ini merupakan sebuah anomali dalam pendidikan. Sesuatu yang dahulu terasa mustahil, kini menjadi kenyataan yang berulang. Guru yang semestinya membimbing siswa justru harus membela diri. Guru yang seharusnya fokus mendidik, malah sibuk klarifikasi menghadapi laporan dan tuduhan. Apa yang salah dengan semua ini?

     

    Tentu tidak semua guru benar dan tidak semua siswa salah. Ada juga oknum guru yang bertindak melampaui batas sehingga memang harus diberi sanksi. Namun yang menjadi perhatian adalah ketika tindakan pembinaan yang dilakukan guru masih dalam koridor pendidikan justru dipersepsikan sebagai pelanggaran. Pembinaan dianggap sebagai kekerasan terhadap anak dan harus diproses secara hukum.

     

    Mengapa kekerasan itu dimaknai negatif? Bukankah anak-anak perlu di didik dengan keras?

     

    Seharusnya kata “keras” diganti dengan “kejam”. Sebab kejam bermakna negatif. Bagaimana jadinya anak-anak yang tidak mendapat didikan yang keras dari orang tuanya. Lantas anak-anak itu masuk angkatan menjadi TNI ataupun Polisi. Apakah anak-anak itu akan melaporkan kalau ia mendapat kekerasan. Ingat sekali lagi, keras bukan kejam. Keras itu baik, kejam itu yang salah.

     

    Renungkanlah, mengapa bisa terjadi seperti sekarang ini?

     

    Salah satu faktornya adalah adanya perlindungan hukum yang sangat kuat terhadap anak. Aturan untuk perlindungan anak tentu sangat penting. Anak-anak memang harus dijaga dari kekerasan negatif, eksploitasi, dan perlakuan yang merugikan perkembangan mereka. Tidak ada seorang pun yang ingin melihat anak menjadi korban. Tentunya kita sepakat dengan semua itu.

     

    Namun persoalan muncul ketika semangat perlindungan anak itu tidak diiringi dengan pemahaman yang seimbang tentang tugas dan tanggung jawab guru. Akibatnya, sebagian masyarakat menganggap bahwa segala bentuk teguran, hukuman edukatif, atau tindakan pembinaan dan disiplin dari guru adalah sesuatu pelanggaran. Sehingga berujung pada pelaporan kepada yang berwajib. Di sinilah muncul ketegangan yang semakin terasa bagi guru saat berada di ruang-ruang kelas.

    Sekarang ini mulai tumbuh dengan pemahaman dari sebagian siswa bahwa ketika mereka tidak menyukai tindakan guru, mereka dapat mengadukannya kepada orang tua. Jika orang tua tidak terima, persoalan bisa dibawa ke media sosial, dengan tujuan memviralkan guru tersebut agar dihujat oelah orang banyak. Ada juga yang mengadukan ke LSM atau wartawan, bahkan sampai ke aparat penegak hukum.

    Akibatnya, posisi guru menjadi semakin sulit. Mereka diharapkan mampu mendisiplinkan siswa, tetapi di saat yang sama takut dianggap melanggar hak siswa. Mereka dituntut membentuk karakter, tetapi khawatir setiap tindakan pembinaan akan disalahartikan. Lambat laun muncullah apa yang dapat disebut sebagai trauma kolektif para guru.

    Banyak guru yang akhirnya memilih diam. Mereka melihat siswa melanggar aturan, tetapi enggan menegur. Mereka mengetahui ada perilaku yang harus dibina, tetapi memilih membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut menghadapi konsekuensi yang tidak sebanding dengan niat baik mereka.

    Guru itu sudahlah gajinya kecil, tidak disejahterakan, malah ditambah beban tugas dan kewajiban yang semakin mencekik. Daripada menegur siswa malah jadi kasus, lebih baik mereka cari selamat. Guru-guru itu tidak akan peduli lagi terhadap siswa-siswa tersebut. Padahal ketika guru mulai takut mendidik, sesungguhnya ada penyakit yang sangat kronis dalam sistem pendidikan kita.

     

    Pendidikan bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran. Jika tugas guru hanya mengajarkan rumus matematika atau menjelaskan isi buku pelajaran, mungkin pekerjaan itu suatu hari bisa digantikan oleh teknologi AI. Namun yang tidak bisa digantikan adalah peran guru dalam membentuk karakter, membangun disiplin, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan.

    Karakter tidak lahir dari kenyamanan semata. Karakter juga dibentuk melalui koreksi, nasihat, teguran, dan pembiasaan yang terkadang tidak menyenangkan bagi anak. Seorang siswa yang tidak pernah ditegur ketika salah akan tumbuh dengan keyakinan bahwa semua yang dilakukannya selalu benar. Apalagi kesalahan mereka malah dibela oleh orang tuanya.

     

    Di sinilah letak tantangan pendidikan modern. Kita ingin melindungi anak, tetapi jangan sampai perlindungan itu berubah menjadi pembenaran atas setiap kesalahan anak. Kita ingin menjaga hak siswa, tetapi jangan sampai menghilangkan kewibawaan guru. Kita ingin menciptakan sekolah yang aman, tetapi jangan sampai menjadikan guru merasa terancam ketika menjalankan tugasnya.

    Sesungguhnya hubungan guru dan siswa bukanlah hubungan antara lawan dan kawan. Bukan pula hubungan antara penguasa dan yang dikuasai. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan antara pendidik dan peserta didik yang dibangun di atas kepercayaan, kasih sayang, saling menghormati dan tanggung jawab.

    Ketika seorang guru menegur siswa karena terlambat, tujuan utamanya bukan untuk mempermalukan siswa. Ketika guru memberi sanksi edukatif karena melanggar aturan sekolah, tujuan utamanya bukan untuk menyakiti. Semua itu dilakukan agar siswa belajar tentang konsekuensi, tanggung jawab, dan kedisiplinan.

    Sayangnya, makna pendidikan semacam ini mulai memudar dalam sebagian pandangan masyarakat. Banyak orang tua yang langsung membela anak tanpa terlebih dahulu mencari akar persoalannya. Apa pun cerita anak dianggap sebagai kebenaran mutlak. Sementara penjelasan guru sering kali tidak diberi ruang yang cukup untuk didengar.

    Padahal seorang anak juga perlu diajarkan bahwa guru adalah orang yang harus dihormati. Menghormati guru bukan berarti membenarkan semua tindakan guru, tetapi mengakui bahwa guru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter. Jika penghormatan terhadap guru hilang, maka sekolah akan kehilangan salah satu fondasi terpentingnya.

    Lebih mengkhawatirkan lagi, jika guru terus-menerus merasa tidak dilindungi dalam menjalankan tugasnya, maka semangat mendidik akan semakin menurun. Guru hanya akan berfokus pada penyampaian materi pelajaran. Mereka enggan terlibat dalam pembinaan karakter karena dianggap terlalu beresiko.

    Akibatnya, sekolah mungkin akan menghasilkan anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi lemah dalam integritas. Mereka mampu mengerjakan soal-soal yang rumit, tetapi tidak mampu menghargai orang lain. Mereka menguasai teknologi, tetapi tidak memahami etika. Mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi miskin tanggung jawab.

    Menurutmu, apakah ini sebuah kerugian besar bagi bagi guru atau masa depan bangsa?

    Karena itu, semua pihak perlu duduk bersama untuk membangun keseimbangan. Negara harus memastikan perlindungan terhadap anak berjalan dengan baik, tetapi juga memberikan kepastian hukum bagi guru yang menjalankan tugas pembinaan secara profesional. Orang tua harus menjadi mitra sekolah, bukan lawan sekolah. Guru juga harus terus meningkatkan kompetensi dan menghindari cara-cara pembinaan yang bersifat kekerasan atau merendahkan martabat siswa.

    Pendidikan akan berhasil jika ketiga unsur ini berjalan seiring: guru, orang tua, dan negara.

    Jika engkau guru, janganlah lelah menjadi pendidik meskipun tantangan semakin berat. Tetaplah membimbing dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih sayang. Sebab sejarah membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa selalu lahir dari tangan para guru yang ikhlas mendidik generasinya.

    Jika engkau orang tua, percayalah bahwa sebagian besar guru datang ke sekolah bukan untuk mencari musuh bagi anak-anak kita. Mereka hadir dengan niat mulia untuk membantu membentuk masa depan anakmu menjadi lebih baik.

    Jika suatu hari guru dan siswa berada di posisi sebagai dua pihak yang saling berhadapan, maka sesungguhnya yang kalah bukan hanya guru atau siswa. Tetapi pendidikan bangsa itu sendiri.

    Sebab pendidikan tidak akan pernah tumbuh di atas rasa takut, kecurigaan, dan permusuhan. Pendidikan hanya akan berkembang ketika ada saling percaya, saling menghormati, dan kesadaran bahwa guru dan siswa sejatinya berada di satu perahu yang sama: berlayar menuju masa depan yang lebih bermartabat.

    Hormatilah guru tanpa mengabaikan hak anak. Lindungilah anak tanpa melemahkan kewibawaan guru. Sebab ketika keseimbangan itu terjaga, sekolah akan kembali menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, mendidik, dan menumbuhkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berintegritas.

     

     

    Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Guru VS Siswa

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021