(Sebuah Anomali dalam Pendidikan)
Wahai guru…
Apakah bisa terjadi perseteruan guru dengan siswa? Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa yang salah dengan pendidikan di sekolah? Mengapa terjadi pelaporan sampai pemidanaan terhadap guru?
Sekarang engkau bisa lihat bagaimana pendidikan saat ini kan !
Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi bahan renungan bersama. Sebab pendidikan seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, akhlak, dan peradaban. Tapi saksikanlah dalam beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar berita tentang perselisihan antara guru dan siswa. Tidak sedikit kasus yang akhirnya sampai ke meja hijau dengan proses hukum yang panjang dan melelahkan. Dan kebanyakan guru yang mendapatkan ketidakadilan. Guru dihukum karena mendidik anak bangsa.
Fenomena ini merupakan sebuah anomali dalam pendidikan. Sesuatu yang dahulu terasa mustahil, kini menjadi kenyataan yang berulang. Guru yang semestinya membimbing siswa justru harus membela diri. Guru yang seharusnya fokus mendidik, malah sibuk klarifikasi menghadapi laporan dan tuduhan. Apa yang salah dengan semua ini?
Tentu tidak semua guru benar dan tidak semua siswa salah. Ada juga oknum guru yang bertindak melampaui batas sehingga memang harus diberi sanksi. Namun yang menjadi perhatian adalah ketika tindakan pembinaan yang dilakukan guru masih dalam koridor pendidikan justru dipersepsikan sebagai pelanggaran. Pembinaan dianggap sebagai kekerasan terhadap anak dan harus diproses secara hukum.
Mengapa kekerasan itu dimaknai negatif? Bukankah anak-anak perlu di didik dengan keras?
Seharusnya kata “keras” diganti dengan “kejam”. Sebab kejam bermakna negatif. Bagaimana jadinya anak-anak yang tidak mendapat didikan yang keras dari orang tuanya. Lantas anak-anak itu masuk angkatan menjadi TNI ataupun Polisi. Apakah anak-anak itu akan melaporkan kalau ia mendapat kekerasan. Ingat sekali lagi, keras bukan kejam. Keras itu baik, kejam itu yang salah.
Renungkanlah, mengapa bisa terjadi seperti sekarang ini?
Salah satu faktornya adalah adanya perlindungan hukum yang sangat kuat terhadap anak. Aturan untuk perlindungan anak tentu sangat penting. Anak-anak memang harus dijaga dari kekerasan negatif, eksploitasi, dan perlakuan yang merugikan perkembangan mereka. Tidak ada seorang pun yang ingin melihat anak menjadi korban. Tentunya kita sepakat dengan semua itu.
Namun persoalan muncul ketika semangat perlindungan anak itu tidak diiringi dengan pemahaman yang seimbang tentang tugas dan tanggung jawab guru. Akibatnya, sebagian masyarakat menganggap bahwa segala bentuk teguran, hukuman edukatif, atau tindakan pembinaan dan disiplin dari guru adalah sesuatu pelanggaran. Sehingga berujung pada pelaporan kepada yang berwajib. Di sinilah muncul ketegangan yang semakin terasa bagi guru saat berada di ruang-ruang kelas.
Sekarang ini mulai tumbuh dengan pemahaman dari sebagian siswa bahwa ketika mereka tidak menyukai tindakan guru, mereka dapat mengadukannya kepada orang tua. Jika orang tua tidak terima, persoalan bisa dibawa ke media sosial, dengan tujuan memviralkan guru tersebut agar dihujat oelah orang banyak. Ada juga yang mengadukan ke LSM atau wartawan, bahkan sampai ke aparat penegak hukum.
Akibatnya, posisi guru menjadi semakin sulit. Mereka diharapkan mampu mendisiplinkan siswa, tetapi di saat yang sama takut dianggap melanggar hak siswa. Mereka dituntut membentuk karakter, tetapi khawatir setiap tindakan pembinaan akan disalahartikan. Lambat laun muncullah apa yang dapat disebut sebagai trauma kolektif para guru.
Banyak guru yang akhirnya memilih diam. Mereka melihat siswa melanggar aturan, tetapi enggan menegur. Mereka mengetahui ada perilaku yang harus dibina, tetapi memilih membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut menghadapi konsekuensi yang tidak sebanding dengan niat baik mereka.
Guru itu sudahlah gajinya kecil, tidak disejahterakan, malah ditambah beban tugas dan kewajiban yang semakin mencekik. Daripada menegur siswa malah jadi kasus, lebih baik mereka cari selamat. Guru-guru itu tidak akan peduli lagi terhadap siswa-siswa tersebut. Padahal ketika guru mulai takut mendidik, sesungguhnya ada penyakit yang sangat kronis dalam sistem pendidikan kita.
Pendidikan bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran. Jika tugas guru hanya mengajarkan rumus matematika atau menjelaskan isi buku pelajaran, mungkin pekerjaan itu suatu hari bisa digantikan oleh teknologi AI. Namun yang tidak bisa digantikan adalah peran guru dalam membentuk karakter, membangun disiplin, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Karakter tidak lahir dari kenyamanan semata. Karakter juga dibentuk melalui koreksi, nasihat, teguran, dan pembiasaan yang terkadang tidak menyenangkan bagi anak. Seorang siswa yang tidak pernah ditegur ketika salah akan tumbuh dengan keyakinan bahwa semua yang dilakukannya selalu benar. Apalagi kesalahan mereka malah dibela oleh orang tuanya.
Di sinilah letak tantangan pendidikan modern. Kita ingin melindungi anak, tetapi jangan sampai perlindungan itu berubah menjadi pembenaran atas setiap kesalahan anak. Kita ingin menjaga hak siswa, tetapi jangan sampai menghilangkan kewibawaan guru. Kita ingin menciptakan sekolah yang aman, tetapi jangan sampai menjadikan guru merasa terancam ketika menjalankan tugasnya.
Sesungguhnya hubungan guru dan siswa bukanlah hubungan antara lawan dan kawan. Bukan pula hubungan antara penguasa dan yang dikuasai. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan antara pendidik dan peserta didik yang dibangun di atas kepercayaan, kasih sayang, saling menghormati dan tanggung jawab.
Ketika seorang guru menegur siswa karena terlambat, tujuan utamanya bukan untuk mempermalukan siswa. Ketika guru memberi sanksi edukatif karena melanggar aturan sekolah, tujuan utamanya bukan untuk menyakiti. Semua itu dilakukan agar siswa belajar tentang konsekuensi, tanggung jawab, dan kedisiplinan.
Sayangnya, makna pendidikan semacam ini mulai memudar dalam sebagian pandangan masyarakat. Banyak orang tua yang langsung membela anak tanpa terlebih dahulu mencari akar persoalannya. Apa pun cerita anak dianggap sebagai kebenaran mutlak. Sementara penjelasan guru sering kali tidak diberi ruang yang cukup untuk didengar.
Padahal seorang anak juga perlu diajarkan bahwa guru adalah orang yang harus dihormati. Menghormati guru bukan berarti membenarkan semua tindakan guru, tetapi mengakui bahwa guru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter. Jika penghormatan terhadap guru hilang, maka sekolah akan kehilangan salah satu fondasi terpentingnya.
Lebih mengkhawatirkan lagi, jika guru terus-menerus merasa tidak dilindungi dalam menjalankan tugasnya, maka semangat mendidik akan semakin menurun. Guru hanya akan berfokus pada penyampaian materi pelajaran. Mereka enggan terlibat dalam pembinaan karakter karena dianggap terlalu beresiko.
Akibatnya, sekolah mungkin akan menghasilkan anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi lemah dalam integritas. Mereka mampu mengerjakan soal-soal yang rumit, tetapi tidak mampu menghargai orang lain. Mereka menguasai teknologi, tetapi tidak memahami etika. Mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi miskin tanggung jawab.
Menurutmu, apakah ini sebuah kerugian besar bagi bagi guru atau masa depan bangsa?
Karena itu, semua pihak perlu duduk bersama untuk membangun keseimbangan. Negara harus memastikan perlindungan terhadap anak berjalan dengan baik, tetapi juga memberikan kepastian hukum bagi guru yang menjalankan tugas pembinaan secara profesional. Orang tua harus menjadi mitra sekolah, bukan lawan sekolah. Guru juga harus terus meningkatkan kompetensi dan menghindari cara-cara pembinaan yang bersifat kekerasan atau merendahkan martabat siswa.
Pendidikan akan berhasil jika ketiga unsur ini berjalan seiring: guru, orang tua, dan negara.
Jika engkau guru, janganlah lelah menjadi pendidik meskipun tantangan semakin berat. Tetaplah membimbing dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih sayang. Sebab sejarah membuktikan bahwa kemajuan suatu bangsa selalu lahir dari tangan para guru yang ikhlas mendidik generasinya.
Jika engkau orang tua, percayalah bahwa sebagian besar guru datang ke sekolah bukan untuk mencari musuh bagi anak-anak kita. Mereka hadir dengan niat mulia untuk membantu membentuk masa depan anakmu menjadi lebih baik.
Jika suatu hari guru dan siswa berada di posisi sebagai dua pihak yang saling berhadapan, maka sesungguhnya yang kalah bukan hanya guru atau siswa. Tetapi pendidikan bangsa itu sendiri.
Sebab pendidikan tidak akan pernah tumbuh di atas rasa takut, kecurigaan, dan permusuhan. Pendidikan hanya akan berkembang ketika ada saling percaya, saling menghormati, dan kesadaran bahwa guru dan siswa sejatinya berada di satu perahu yang sama: berlayar menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Hormatilah guru tanpa mengabaikan hak anak. Lindungilah anak tanpa melemahkan kewibawaan guru. Sebab ketika keseimbangan itu terjaga, sekolah akan kembali menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, mendidik, dan menumbuhkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berintegritas.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru VS Siswa
Sorry, comment are closed for this post.