(Sibuk Mengejar Pengakuan atau Sibuk Memperbaiki Kepribadian)
Wahai Guru…
Mengapa ketika aku menyembunyikan ilmuku, orang menganggap aku tidak berilmu? Mengapa seseorang baru dianggap pintar setelah mampu menunjukkan semua yang ia ketahui? Benarkah ilmu harus dipamerkan agar dihargai? Ataukah kita telah hidup di zaman yang lebih menghargai penampilan daripada kedalaman?
Hari ini, banyak orang lebih sibuk terlihat pintar daripada menjadi bijaksana. Lebih senang dipuji daripada memperbaiki diri. Kita hidup di masa ketika hampir segala sesuatu dipertontonkan. Prestasi dipublikasikan, pengalaman dibagikan, pengetahuan dipamerkan, bahkan kebaikan pun sering diumumkan. Seolah-olah sesuatu baru dianggap bernilai apabila dilihat dan mendapat pengakuan.
Lihatlah kehidupan guru dalam satu dekade terakhir. Mungkin hanya sedikit guru yang tidak memiliki media sosial. Tidak sedikit pula guru yang menjadikan media sosial sebagai panggung untuk menunjukkan kemampuan, prestasi, atau aktivitasnya. Akibatnya, guru yang memilih diam sering dianggap tidak tahu apa-apa. Guru yang tidak banyak berbicara dinilai kurang berilmu. Padahal belum tentu demikian.
Ada guru yang tidak pernah muncul di depan kamera. Ia bekerja dalam diam tanpa sorotan. Pengetahuannya luas, pengalamannya panjang, dan kebijaksanaannya teruji. Mungkin ia tidak pandai membangun citra di media sosial. Namun ketulusan dan keikhlasannya tetap hidup, meski tanpa penghargaan dan tepuk tangan.
Guru sejati tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut, tetapi dari seberapa dalam ilmunya membentuk dirinya. Ilmu yang diamalkan akan melahirkan kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, serta kemampuan mengendalikan diri. Ia terus membersihkan hatinya agar ilmu tidak berubah menjadi kesombongan dan keinginan untuk dipuji.
Sebab sejatinya ilmu dipelajari bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diamalkan dengan tulus. Ilmu bukan alat untuk meninggikan diri, tetapi jalan untuk menundukkan ego. Orang yang benar-benar berilmu akan semakin matang dalam adab dan semakin mampu menjaga amanah.
Barangkali kita masih dapat menemukan sosok seperti ini pada sebagian guru-guru senior. Mereka tidak banyak berbicara tentang dirinya, tetapi hidupnya menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mengenalnya. Sementara pada sebagian guru muda, godaan untuk mencari pengakuan sering kali lebih besar daripada keinginan untuk membangun kepribadian.
Sadarilah, ukuran tertinggi dari ilmu bukanlah apa yang mampu ditunjukkan kepada orang lain, melainkan apa yang sanggup ditahan dalam diri. Semakin kuat seseorang, seharusnya semakin kecil keinginannya untuk mengumumkan kekuatannya.
Pernahkah engkau menjumpai seorang guru yang di sekolah tampak seperti biasa saja? Penampilannya sederhana, tutur katanya lembut, dan hidupnya jauh dari kemewahan. Namun ketika berada di rumah, banyak orang datang kepadanya membawa berbagai persoalan kehidupan. Mereka tidak datang mencari kesaktian, melainkan mencari ketenangan. Mereka tidak membutuhkan seseorang yang paling pintar, tetapi seseorang yang paling bijaksana.
Di situlah letak ilmu yang sesungguhnya. Ilmu yang tidak membutuhkan simbol, tidak memerlukan panggung, dan tidak mengejar pengakuan. Ilmu yang bekerja dalam kesunyian, tetapi menghadirkan manfaat yang nyata.
Orang yang telah matang ilmunya tidak akan sibuk menunjukkan kelebihan. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri. Ia terus menata niat, membersihkan hati, mengendalikan hawa nafsu, serta merawat akhlaknya. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin kuat dirinya, semakin sedikit keinginannya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Untuk memahami mengapa ilmu tidak layak dipamerkan, kita perlu menoleh ke masa lalu. Pada masa ketika ilmu tidak pernah dipisahkan dari adab dan kebijaksanaan. Saat itu, ilmu dipandang sebagai amanah, bukan sekadar kumpulan pengetahuan. Nilainya tidak diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari besarnya tanggung jawab.
Dahulu, ilmu bukan komoditas yang diperjualbelikan, melainkan titipan yang hanya diberikan kepada mereka yang siap menjaganya. Seorang guru tidak akan sembarangan mengajarkan ilmu sebelum siswanya matang secara akhlak. Kini keadaan mulai berubah. Banyak ilmu dipasarkan layaknya barang dagangan. Tidak sedikit orang mempromosikan dirinya dengan memamerkan kelebihan agar menarik perhatian dan memperoleh pengikut.
Jika kita mempelajari naskah-naskah Nusantara seperti Serat Wedatama, Serat Wirid Hidayat Jati, maupun berbagai pitutur para empu dan resi. Hampir tidak pernah kita menemukan ajaran yang menjadikan ilmu sebagai alat untuk memamerkan kehebatan. Ilmu justru dipandang sebagai sarana membentuk watak, memperhalus budi, dan mendekatkan manusia kepada kebijaksanaan.
Ilmu yang dipamerkan sangat mudah tercemar oleh pamrih. Ketika seseorang sibuk menunjukkan pengetahuannya, yang tumbuh sering kali bukan kejernihan, melainkan keinginan untuk diakui. Padahal keinginan untuk diakui adalah pintu halus bagi lahirnya kesombongan.
Lalu bagaimana cara meredam hasrat untuk pamer?
Orang-orang dahulu percaya, bahwa ilmu yang terlalu sering dipertontonkan perlahan akan kehilangan kekuatan batinnya. Sebab hatinya mulai bergantung pada pujian. Sebaliknya, pada zaman sekarang, orang yang tidak menunjukkan kepandaiannya sering dianggap bodoh. Di sinilah letak kebijaksanaan. Orang yang berilmu mampu menempatkan dirinya sesuai waktu dan keadaan. Ia tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus membiarkan perbuatannya yang berbicara.
Rawatlah perasaanmu. Jangan biarkan emosi dan hawa nafsu menguasai dirimu. Marah boleh hadir, takut boleh singgah, sedih boleh datang, tetapi jangan biarkan semuanya menjadi pengendali hidupmu. Orang yang berilmu mampu membedakan mana suara hati yang jernih dan mana dorongan hawa nafsu.
Jangan pernah merasa lebih tinggi daripada orang lain. Itulah pagar terkuat bagi seorang pencari ilmu. Sebab ketika seseorang mulai merasa lebih hebat, pada saat itulah ilmunya mulai kehilangan cahaya. Kesombongan adalah kebocoran batin yang perlahan menguras kekuatan tanpa disadari.
Mereka yang hidup dengan cara seperti ini sering tampak kalah di mata dunia. Mereka tidak pandai mencari perhatian, tidak pandai membangun pencitraan, bahkan sering dilupakan. Namun dalam perjalanan waktu, justru merekalah yang paling kokoh. Mereka tidak runtuh oleh hinaan dan tidak mabuk oleh sanjungan.
Sebaliknya, orang yang hidup dari pengakuan akan mudah goyah ketika pujian berubah menjadi celaan. Hari ini dipuji, besok dihujat. Hari ini dielu-elukan, esok dilupakan. Hatinya ikut naik turun mengikuti penilaian manusia.
Inilah paradoks zaman modern. Dunia terus mendorong manusia untuk tampil, membuktikan diri, memamerkan pencapaian, dan mengejar validasi. Sementara ajaran para leluhur justru mengajarkan sebaliknya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar kemampuannya untuk menahan diri.
Mengamalkan ilmu sejati tidak dimulai dari ritual yang rumit, tetapi bisa dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Pertama, luruskan niat sebelum bertindak. Sebelum berbicara, bertanyalah kepada diri sendiri, “Apakah ini memang bermanfaat atau hanya agar aku dipuji?” Ketika niat bersih, kata-kata menjadi seperlunya. Ketika niat keruh, kata-kata akan berlebihan.
Kedua, belajarlah diam dengan sadar. Diam bukan berarti tidak berani berbicara, melainkan memberi jeda antara rasa dan reaksi. Orang yang berilmu tidak tergesa-gesa menjawab ketika emosi sedang memuncak. Ia memberi waktu agar pikirannya kembali jernih sebelum mengambil keputusan.
Ketiga, rawatlah kesederhanaan hidup. Kesederhanaan bukan berarti miskin, tetapi tidak diperbudak oleh keinginan. Ilmu yang dipamerkan akan sulit bertahan dalam jiwa yang haus akan pengakuan. Belajarlah merasa cukup, cukup berbicara, cukup memiliki, dan cukup menunjukkan apa yang memang perlu diketahui.
Ketika batin mulai tertata, pujian tidak membuatmu terlena dan celaan tidak membuatmu hancur. Engkau tidak lagi sibuk membuktikan siapa dirimu, karena hidupmu sendiri telah menjadi bukti.
Pada akhirnya, ilmu yang sejati bukanlah ilmu yang membuat seseorang ingin terlihat hebat. Ilmu yang sejati justru membuat seseorang semakin sadar bahwa dirinya masih harus terus belajar. Semakin tinggi ilmunya, semakin lembut tutur katanya. Semakin luas pengetahuannya, semakin rendah hatinya.
Maka janganlah sibuk mengejar pengakuan manusia. Sibukkanlah dirimu memperbaiki kepribadian. Sebab pengakuan hanya bertahan sesaat, sedangkan akhlak akan dikenang jauh setelah nama kita dilupakan.
Orang mungkin lupa seberapa banyak ilmu yang kita miliki. Namun mereka tidak akan pernah lupa bagaimana ilmu itu menjadikan kita sadar sebagai seorang manusia.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Ilmu Tidak Diukur dari Pengakuan Orang
Sorry, comment are closed for this post.