(Malas Positif dan Malas Negatif)
Wahai guru…
Apakah masih ada guru pemalas? Mengapa guru bisa malas? Apa yang menyebabkan mereka berani malas?
Guru itu manusia juga yang memiliki sifat yang beragam. Ada guru yang penuh semangat, ada yang selalu ingin berkembang, ada yang terus belajar meski usia bertambah. Namun ada pula yang berhenti dalam zona nyaman hingga perlahan kehilangan gairah untuk mendidik. Ironisnya, meskipun telah menyandang profesi guru, masih ada yang belum memiliki kesadaran penuh tentang makna tugas yang diembannya.
Sejatinya, kemalasan adalah sesuatu yang semestinya dihindari oleh seorang guru. Harusnya malas itu merupakan sebuah hukum haram baginya. Sebab guru bukan hanya bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi juga memikul amanah masa depan banyak anak. Namun kenyataan tidak selalu seindah harapan. Di berbagai tempat, kita masih menemukan guru yang malas dalam menjalankan tugasnya.
Berbagai sistem telah dibuat untuk mendorong kedisiplinan guru. Absensi digital, laporan kinerja, supervisi, hingga penilaian berkala diterapkan agar guru tetap profesional. Bahkan sebagian guru merasa sistem tersebut sangat ketat, hampir menyerupai sistem kerja di perusahaan. Namun anehnya, di tengah berbagai aturan itu, kemalasan masih saja muncul dalam berbagai bentuk.
Lalu, malas seperti apa yang dimaksud?
Tentu bukan sekadar merasa lelah sesekali karena beban pekerjaan yang menumpuk. Mallas yang dimaksud di sini adalah kemalasan yang berdampak negatif terhadap proses pendidikan. Misalnya malas masuk kelas padahal jadwal mengajar sudah tiba, malas mempersiapkan pembelajaran, malas membuat media ajar, malas melakukan inovasi, malas membimbing siswa yang mengalami kesulitan, atau bahkan malas hadir ke sekolah ketika merasa tidak diawasi.
Kemalasan juga bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus. Ada guru yang hadir secara fisik dalam kelas, tetapi lebih sibuk dengan gadgetnya. Ada guru yang mengajar sekadar menggugurkan kewajiban. Datang kesekolah, selesai mengajar dan pulang. Ada pula yang hanya memberikan tugas tanpa membimbing proses belajar. Guru masuk ke ruang kelas, memberikan soal dan meninggalkan siswanya dalam kelas. Dari luar tampak bekerja, tetapi sesungguhnya itu hanya kamuflase untuk menutupi kemalasannya.
Kadang-kadang kemalasan itu muncul ketika menghadapi siswa tertentu. Mungkin siswa tersebut bandel, suka membantah, sering membuat masalah, atau bahkan sering mengadu kepada orang tua. Akibatnya guru merasa enggan mendekati siswa itu. Padahal justru siswa seperti itulah yang paling membutuhkan perhatian dan kesabaran seorang pendidik.
Coba engkau renungkan !
Apakah siswa itu sedang menunggu uluran tangan kita? Apakah siswa yang paling sering membuat masalah sebenarnya sedang meminta untuk dipahami? Jangan-jangan kita menyebut mereka sebagai anak nakal hanya karena kita sudah terlalu lelah untuk mengenali luka yang mereka sembunyikan.
Tidak semua anak bisa terbuka dengan orang tuanya tapi malah lebih terbuka dengan gurunya. Tidak semua orang tua juga bisa memahami permasalahan anak-anaknya. Di sinilah peran dan kehadiran guru sangat dibutuhkan sebagai orang tua kedua.
Saat ini kesejahteraan guru, khususnya guru ASN, telah mengalami peningkatan dibandingkan masa lalu. Gaji dan tunjangan yang diterima jauh lebih baik dibandingkan generasi guru sebelumnya. Bagi guru swasta dan honorer, lebih banyak berharap pada tunjangan sertifikasi, sebab sebagian dari mereka masih berpenghasilan kurang memadai.
Namun kesejahteraan yang meningkat ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya dedikasi. Sebagian guru menjadi lebih bersemangat setelah mendapatkan penghargaan yang layak. Namun sebagian lainnya justru terlena oleh kenyamanan. Mereka merasa tidak akan bisa dipecat sebagai guru ASN.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kadang-kadang kemalasan lebih mudah tumbuh ketika seseorang merasa posisinya aman sebagai ASN. Mereka merasa tidak ada ancaman yang berarti terhadap pekerjaannya. Mengajar atau tidak mengajar, rajin atau tidak rajin, penghasilannya tetap diterima setiap bulan. Tidak ada sanksi pemecatan. Perasaan aman yang berlebihan inilah yang terkadang melahirkan sikap tidak peduli terhadap tanggung jawab.
Sementara itu, banyak guru honorer dan guru swasta yang justru datang paling awal dan pulang paling akhir. Dengan penghasilan yang jauh lebih kecil, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik. Mereka tidak merasa lebih hebat, tetapi karena mereka menyadari bahwa profesi guru adalah panggilan hati, bukan sekadar sumber penghasilan.
Namun tentu saja kita tidak boleh menggeneralisasi. Banyak juga guru ASN yang sangat berdedikasi dan banyak pula guru non-ASN yang masih perlu memperbaiki diri. Kemalasan tidak mengenal status kepegawaian. Kemalasan itu hinggap di dalam hati manusia yang mulai kehilangan makna dari pekerjaannya
Ketika seorang guru malas berada di tengah lingkungan sekolah, dampaknya tidak hanya dirasakan dirinya sendiri. Rekan guru pun akan terbebani akan keberadaaannya. Siswa kehilangan hak untuk mendapatkan pembelajaran yang layak ketika sosk guru tidak beraa dalam ruang kelas. Bahkan budaya kerja dilingkungan sekolah perlahan akan menurun akibat dari guru malas.
Terlebih lagi Kepala Sekolah sebagai atasannya yang mendapat tekanan dari atasan pula. Jika tidak sangup membina guru tersebut maka ia dianggap tidak mampu mengatasi masalah. Mereka benar-benar tidak memiliki kesadaran bahwa rezeki berupa gaji yang di terima tidak memiliki keberkahan dari perbuatan malas tersebut.
Lebih menyedihkan lagi, terkadang kemalasan dibiarkan terlalu lama. Teguran diabaikan. Nasihat dianggap angin lalu. Akhirnya semua orang memilih diam karena merasa tidak mampu mengubah keadaan.
Padahal setiap jam pelajaran yang kosong bukan sekadar kehilangan waktu. Di dalamnya ada hak siswa yang terabaikan. Ada kesempatan belajar yang hilang. Ada masa depan yang seharusnya bisa dibentuk, tetapi dibiarkan berlalu begitu saja.
Pernahkah engkau bertanya kepada diri sendiri, “Apakah gaji yang engkau terima hari ini benar-benar sebanding dengan pengabdian yang telah engkau berikan?”
Tentu saja itu pertanyaan yang sepele. Namun justru pertanyaan seperti itulah yang dapat membangunkan hati nurani. Sebab ukuran keberhasilan seorang guru bukan hanya absensi yang penuh atau administrasi yang lengkap, tetapi kebermanfaatannya bagi peserta didik.
Siswa mungkin tidak memahami laporan kinerja guru. Mereka tidak mengerti angka kredit atau beban kerja. Tetapi mereka sangat paham siapa guru yang hadir dengan hati dan siapa guru yang hadir hanya dengan badan. Mereka tahu siapa yang peduli ketika mereka gagal. Mereka tahu siapa yang meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka. Mereka tahu siapa yang mengajar dengan penuh semangat dan siapa yang hanya menunggu jam pelajaran berakhir.
Karena itu, jangan heran jika siswa sulit menaruh rasa hormat kepada guru yang pemalas. Rasa hormat sejati tidak lahir dari jabatan atau usia, melainkan dari keteladanan dan pengorbanan.
Berbicara tentang kemalasan, ada satu hal yang menarik untuk engkau renungkan. Tidak semua kemalasan itu buruk. Ada yang disebut sebagai malas positif.
Malas positif adalah ketika seseorang enggan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia malas bergosip, malas mencari kesalahan orang lain, malas membuat konflik, malas memperpanjang urusan yang tidak penting, dan malas melakukan pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah bagi peserta didik.
Guru yang memiliki “malas positif” akan mencari cara kerja yang lebih efektif. Guru itu tidak ingin menghabiskan energi pada hal-hal yang sia-sia. Ia memilih fokus pada kegiatan yang benar-benar memberikan dampak bagi dirinya dan perkembangan siswanya.
Sebaliknya, malas negatif adalah kemalasan yang membuat kualitas pendidikan menurun. Kemalasan yang menyebabkan tugas terbengkalai, pembelajaran tidak berjalan, dan siswa kehilangan kesempatan belajar. Maka yang perlu diperangi bukanlah rasa lelah, melainkan rasa malas yang membuat kita berhenti berkembang.
Karena sesungguhnya setiap guru pasti pernah merasa jenuh. Setiap guru pernah merasa lelah. Setiap guru pernah mengalami titik di mana semangatnya menurun. Itu sangat manusiawi.
Tetapi guru yang hebat bukanlah guru yang tidak pernah lelah. Guru yang hebat adalah guru yang tetap melangkah meskipun lelah. Tetap mengajar meskipun tidak selalu mendapat pujian. Tetap mendidik meskipun hasilnya tidak langsung terlihat.
Tidak ada obat paling ampuh untuk menyembuhkan kemalasan selain kesadaran dari dalam diri sendiri. Aturan dapat mengawasi perilaku, tetapi tidak dapat mengubah hati. Supervisi dapat memeriksa pekerjaan, tetapi tidak dapat menumbuhkan keikhlasan.
Guru mesti memiliki kesadaran dan kepedulian. Bahwa setiap kata yang ia ucapkan dapat menjadi inspirasi. Bahwa setiap keputusan yang ia ambil dapat menentukan arah kehidupan seorang anak. Dan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan yang selesai ketika bel pulang berbunyi, tetapi amanah yang akan terus meninggalkan jejak. Bahkan ketika dirinya sudah tidak lagi berada di sekolah.
Jika hari ini engkau merasa mulai malas, cobalah melihat kembali alasan mengapa dahulu engkau memilih menjadi guru.
Ingatlah wajah-wajah anak-anak didik yang pernah berhasil karena bimbinganmu.
Ingatlah doa-doa orang tua yang menitipkan anaknya kepadamu.
Ingatlah bahwa mungkin ada seorang siswa yang masa depannya berubah hanya karena satu kalimat penyemangat yang keluar dari mulutmu.
Jangan biarkan kemalasan merampas kemuliaan profesi yang begitu agung ini.
Jika engkau menjadi kepala sekolah dan menjumpai guru malas seperti itu, apa yang akan engkau lakukan?
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru Pemalas
Sorry, comment are closed for this post.