(Persaingan dan perselisihan akan selalu ada)
Wahai guru…
Apakah guru punya musuh? Mengapa ada persaingan sesama guru disekolah? Bagaimana seharusnya membangun kekeluargaan dalam sekolah?
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Demikian pula seorang guru. Tidak ada guru yang mampu menjalankan seluruh tugas pendidikan seorang diri. Guru membutuhkan guru lainnya yang saling melengkapi kekurangan, saling menguatkan ketika lemah, dan saling mengingatkan ketika keliru. Oleh karena itu, sekolah bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga sebagai tempat bertumbuh dan berkembang bersama dalam suasana kekeluargaan.
Hubungan yang harmonis antarguru akan melahirkan lingkungan kerja yang nyaman. Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi prasangka, iri hati, saling mencurigai dan persaingan yang tidak sehat akan menguras energi yang seharusnya digunakan untuk mendidik anak-anak.
Perlu disadari bahwa sebuah sekolah dihuni oleh banyak individu dengan karakter, latar belakang, pengalaman, usia, dan cara berpikir yang berbeda-beda. Maka perbedaan pendapat, perselisihan, bahkan persaingan adalah sesuatu yang wajar. Hanya saja yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan itu, tetapi bagaimana kita mengelolanya agar tidak berubah menjadi perpecahan dan permusuhan.
Jangan sampai sekolah yang menjadi sumber rezeki justru berubah menjadi sumber kebencian. Jangan sampai tempat yang setiap hari kita datangi untuk mengabdi justru menjadi tempat yang ingin kita hindari karena rusaknya hubungan sesama rekan kerja. Semua itu merupakan tanggung jawab setiap individu guru untuk merawat kemajemukan diantara mereka.
Renungkanlah kalimat ini !
Lebih baik kehilangan sebuah perdebatan daripada kehilangan sebuah persaudaraan.
Disini kita akan bahas beberapa kasus yang terjadi pada guru-guru.
Merasa Paling Hebat
Ketika ada guru yang merasa dirinya lebih pintar, lebih senior, lebih berjasa, atau lebih berpengalaman dibandingkan guru lainnya. Merasa superioritas dibandingkan dengan lainnya. Perasaan itu kemudian melahirkan sikap ingin dihormati secara berlebihan dan ingin selalu diistimewakan. Inilah awal mula lahirnya perselisihan.
Sesungguhnya guru yang mulia itu bukanlah guru yang banyak dipuji, tetapi guru yang mampu membuat orang lain merasa dihargai. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah pula hatinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali masalah muncul hanya karena pilihan kata. Guru yang lebih tua atau lebih berpengalaman terkadang memerintah guru lain tanpa didahului ucapan “tolong”. Padahal, yang memiliki kewenangan memberi perintah adalah atasan sesuai tugasnya. Sesama guru adalah rekan seperjuangan, bukan atasan dan bawahan.
Kalimat sederhana seperti “Mohon bantuannya” atau “Boleh minta tolong?” sering kali jauh lebih bernilai daripada kalimat dengan nada perintah.
Ketika Jabatan Mengubah Sikap
Ada guru yang selama bertahun-tahun dikenal ramah dan mudah bergaul. Namun setelah diangkat menjadi wakil kepala sekolah, koordinator, atau mendapat jabatan tertentu, perlahan sikapnya berubah. Ucapan yang dahulu berupa ajakan berubah menjadi perintah. Diskusi berubah menjadi instruksi. Rekan kerja diperlakukan layaknya bawahan.
Padahal jabatan hanyalah amanah, bukan kemuliaan. Perlu ngkau ketahui, yang dihormati itu bukanlah jabatannya, akan tetapi akhlaknya. Banyak orang mampu menjadi pemimpin, tetapi tidak semua mampu menjadi teladan.
Ironisnya, jabatan itu tidak selamanya melekat. Akan datang masa pergantian kepemimpinan. Ketika jabatan telah berakhir, yang tersisa hanyalah kenangan tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Bila selama menjabat ia meninggalkan banyak luka, maka setelah tidak menjabat lagi, ia akan merasakan sulitnya mendapatkan kembali penghormatan yang tulus. Padahal ia sadar bahwa jabatan itu ada masanya, sedangkan perilaku yang melukai tak akan hilang begitu saja.
Terlalu Pintar Hingga Sulit Rendah Hati
Ada pula guru yang memang memiliki kemampuan luar biasa. Wawasannya luas, ilmunya tinggi, dan prestasinya banyak. Sayangnya, kecerdasan itu tidak diiringi dengan kerendahan hati. Setiap pembicaraannya seakan selalu menggurui. Setiap diskusi kalimatnya berubah jadi menceramahi. Tanpa disadari, orang-orang di sekitarnya menjadi enggan berdialog karena merasa selalu dianggap tidak paham.
Ilmu memang harus dibagikan. Namun cara menyampaikannya jauh lebih penting daripada banyaknya ilmu yang dimiliki. Guru yang hebat bukan yang selalu berbicara, tetapi yang mampu membuat orang lain merasa nyaman untuk belajar.
Guru yang Selalu Bergantung pada Orang Lain
Sebaliknya, ada guru yang hampir selalu meminta bantuan. Hampir setiapada tugas, diserahkan kepada rekan lain dengan berbagai alasan. Kadang ia berpura-pura tidak mengerti. Kadang berpura-pura tidak mampu. Bahkan ada yang sengaja tidak belajar agar selalu dibantu.
Akibatnya, beban pekerjaan menjadi tidak seimbang. Guru yang rajin semakin sibuk, sedangkan guru yang malas semakin nyaman. Tidak jarang kepala sekolah pun akhirnya menyerahkan tugas guru tersebut kepada orang lain demi kelancaran pekerjaan. Keputusan ini memang menyelesaikan tugas, tetapi perlahan merusak rasa keadilan di antara guru. Keikhlasan akan berubah menjadi pamrih.
Tolong-menolong adalah kebaikan. Namun menjadikan orang lain sebagai penanggung jawab atas kewajiban kita adalah bentuk ketidakadilan.
Mencari Muka
Ada guru yang tampak sangat rajin ketika berada di hadapan atasan. Ucapannya lembut, sikapnya sopan, dan kesediaannya membantu terlihat luar biasa. Namun ketika atasan telah pergi, sikap itu berubah. Ia mulai mengeluh, bergosip, bahkan merendahkan rekan-rekannya.
Loyalitas seperti ini bukanlah ketulusan, tapi pencitraan. Guru yang berintegritas akan memiliki sikap yang sama, baik ketika dilihat maupun ketika tidak ada yang melihat.
Perselingkuhan yang Merusak Kepercayaan
Ada pula kenyataan pahit yang terkadang terjadi di lingkungan sekolah, yaitu perselingkuhan antar guru. Bahkan melibatkan sesama guru atau pimpinan sekolah. Perbuatan ini bukan hanya merusak rumah tangga pelakunya, tetapi juga menghancurkan kepercayaan dan kenyamanan seluruh warga sekolah.
Rekan-rekan guru yang mengetahui sering kali memilih diam karena tidak ingin terlibat konflik. Akibatnya, budaya saling peduli perlahan menghilang. Padahal sekolah adalah tempat menanamkan nilai moral kepada anak-anak. Sangat ironis jika pendidiknya justru memberi teladan yang bertolak belakang
Merasa Lebih Tinggi Karena Status
Ada guru berstatus PNS yang merasa lebih tinggi daripada guru PPPK ataupun guru honorer. Padahal kemuliaan seseorang tidak pernah ditentukan oleh status kepegawaiannya. Anak-anak tidak akan bertanya siapa guru yang PNS dan siapa guru yang honorer. Mereka hanya mengenang siapa guru yang menyayangi mereka, mengajari mereka dengan ikhlas, dan menginspirasi mereka.
Status itu hanyalah administrasi. Sedangkan Akhlaklah yang menentukan kemuliaan seseorang.
Masih banyak lagi perilaku-perilaku kecil yang dapat memicu keributan di sekolah. Gosip, iri hati, saling menjatuhkan, berebut perhatian pimpinan, hingga enggan mengakui keberhasilan rekan sendiri. Jika semua itu dibiarkan, maka perlahan sekolah akan kehilangan ruh kekeluargaannya.
Ingatlah, sekolah adalah rumah kedua setelah rumah tempat tinggal kita. Di sanalah sebagian besar waktu kita dihabiskan. Maka sudah sepatutnya kita menjadikan sekolah sebagai tempat yang penuh ketenangan, saling menghormati, dan saling menguatkan.
Bukan berarti kita harus selalu sepakat dalam segala hal. Perbedaan tetap akan ada. Namun perbedaan tidak boleh menghilangkan rasa hormat.
Guru yang dewasa bukanlah guru yang selalu menang dalam perdebatan, tetapi guru yang mampu menjaga persaudaraan meskipun berbeda pendapat.
Ingat ini baik-baik !
Jangan biarkan ego mengalahkan persaudaraan.
Jangan biarkan jabatan mengalahkan akhlak.
Jangan biarkan kecerdasan mengalahkan kebijaksanaan.
Jangan biarkan persaingan menghilangkan rasa saling menghargai.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan dikenang bukan karena pangkat, status, ataupun jabatan yang pernah kita miliki, melainkan karena akhlak yang kita tinggalkan di hati orang-orang yang pernah bekerja bersama kita.
Kreator : Syahril Fuadi Nasution (Fuady Hoja)
Comment Closed: Guru VS Guru
Sorry, comment are closed for this post.