
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur saat Winar mengencangkan tali sepatunya. Suasana hening pagi itu hanya dipecahkan oleh suara sisa-sisa embun yang jatuh dari daun-daun di halaman rumah. Setelah menunaikan salat Subuh, ada ketenangan yang sempat singgah di hatinya, meski pikirannya tetap melayang pada satu nama: Eva. Hatinya bimbang dan penuh tanda tanya atas apa yang dia lihat semalam. Dirumah Eva sedang berbincang dengan seorang pria. Tampak terlihat akrab dan ceria. Siapa pria yang Bersama Eva semalam? Apakah pacarnya? Hati kecil Winar terus bertanya -tanya.
Winar berangkat menuju bandara bersama tim kerjanya. Di dalam mobil, rekan-rekannya
masih terkantuk-kantuk, namun Winar terjaga sepenuhnya. Tas ransel besar di pangkuannya terasa berat, seberat perasaan yang ia tinggalkan di Jakarta. Pesawat kemudian membawa mereka mengawang di udara, menembus awan-awan kelabu menuju tanah Borneo, Kalimantan.
Adaptasi di Bawah Langit Kalimantan
Kalimantan menyambut Winar dan timnya dengan pelukan yang lembap dan aroma tanah basah yang khas. Di lingkungan baru ini, mereka tidak punya waktu untuk sekadar berwisata. Tugas negara dan tuntutan profesionalitas sudah menunggu di depan mata.
Memasuki bulan April, Mei, hingga Juni, cuaca di lokasi proyek benar-benar tidak menentu. Dominasi hujan lebat dan angin kencang menjadi makanan sehari-hari. Pekerjaan mereka bukan sekadar duduk di balik meja; ini adalah pekerjaan penuh risiko yang menuntut konsentrasi 100%.
“Winar, laporan mingguan untuk pusat harus sudah ready besok pagi ya,” teriak salah satu rekan senior di tengah deru suara hujan yang menghantam atap seng kantor lapangan.
Winar hanya mengangguk mantap. Waktunya benar-benar terkuras. Pagi di lapangan, sore hingga malam berkutat dengan data dan laporan. Lelah? Pasti. Namun, ada satu sosok yang selalu mencoba meringankan beban itu: Sesil.
Sesil adalah rekan satu tim Winar. Gadis itu cerdas, sigap, dan—yang disadari semua orang kecuali mungkin Winar sendiri—sangat perhatian pada Winar.
“Nar, ini kopi sama roti bakar. Jangan lupa makan, kamu dari pagi belum nyentuh nasi,” ujar Sesil suatu sore sambil meletakkan bungkusan di meja kerja Winar.
“Makasih, Sil. Simpan aja dulu, aku tanggung nyelesain layout ini,” jawab Winar tanpa menoleh.
Sesil tidak menyerah. Dia menunjukkan perhatian bukan hanya soal makanan, mengingatkan minum obat ketika Winar sakit, tapi juga teknis pekerjaan. Dia sering membantu merapikan berkas-berkas Winar atau mengingatkan jadwal rapat penting. Namun, bagi Winar, semua itu hanya profesionalitas kerja.
Gue sama Sesil kan satu tim, satu perusahaan. Wajar kalau dia bantu. Namanya juga kerja sama satu tim, pikir Winar datar. Dia bukannya tidak peka, tapi mungkin ini, karena hatinya sudah terlalu penuh dengan bayangan Eva sehingga tidak ada ruang untuk perhatian ke Wanita lain.
Bayangkan. Dari dia masih kelas 1 SMA dan Eva saat itu kelas 2 SMP. Masih terbayang perubahan dan penampilan Eva sebagai remaja belia yang dikuncir dua saat masih di SMP dan sekarang menjadi gadis berhijab yang Anggun dan mempesona.
Bulan ketiga di Kalimantan hampir berakhir. Tugas mereka hampir rampung. Sore hari setelah solat ashar berjamaah di masjid, Winar dan beberapa temannya menyempatkan waktu mencari oleh-oleh di tempat souvenir hingga menjelang malam. Suasana malam itu cukup tenang setelah hujan reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Sesil menemui Winar di teras depan penginapan.
“Nar, kita bentar lagi balik ke Jakarta ya?” Sesil membuka percakapan dengan nada yang berbeda. Lebih lembut, lebih personal.
“Iya, Sil. Akhirnya ya, tugas beres juga.”
Ya. Mereka sudah 3 bulan menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan dua hari lagi mereka akan segera kembali ke Jakarta.
Sesil menarik napas panjang. Keberaniannya sudah di ujung lidah. “Nar… sebenarnya selama ini , aku merasa kita… aku merasa ada sesuatu yang lebih. Aku suka kamu, Nar.”
Winar tertegun. Sesil nembak duluan. Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Dia menatap Sesil, lalu mengalihkan pandangan ke kegelapan hutan di kejauhan.
Winar terdiam sejenak. Lalu berkata perlahan,”Sil, maaf ya… tapi aku sudah punya pacar,” jawab Winar singkat, tapi langsung membuat Sesil terkejut bukan kepalang.
Sesil terbelalak. Rasa penasaran mengalahkan rasa malunya. “Siapa? Teman satu kantor dengan kita? Selama ini aku nggak pernah lihat kamu teleponan atau posting foto sama siapa pun.” Kemudian tanpa terasa memori Sesil melayang-layang mengingat-ingat Wanita manakah yang sudah merebut Winar dari angannya. Tiba- tiba Sesil teringat Mayang, teman kantor namun beda Divisi. Mayang pernah mengungkapkan perasaan kekagumannya pada Winar. Pernah Sesil pergoki Mayang sedang mengambil foto Winar yang sedang berjalan dan juga sedang bekerja.” Mayang… awas kamu ya,” umpat Sesil dalam hati.
Winar terdiam. Dia menarik napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya. Dia tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Tanpa kata, Winar berbalik dan meninggalkan Sesil yang mematung dalam rasa penasaran yang membuncah.
Masuk ke dalam kamar, mengecek barang dan oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Jakarta. Setelah itu Winar langsung menyambar ponselnya. Jari-jarinya dengan lincah mencari nama Eva.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Winar mencoba lagi. Dan, lagi. Tetap nihil. Perasaan cemas mulai merayap. Dia tidak tahu bahwa di Jakarta, ponsel Eva sedang menjadi sasaran peretas. Semua akses komunikasi Eva kacau balau.
Winar akhirnya menyerah. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur, memejamkan mata. Memorinya berputar ke masa lalu—saat-saat dia mengantarkan Eva ke sekolah tempat gadis itu mengajar.
“Bang Winar, tahu nggak tadi muridku lucu banget masa dia bilang…”
Celoteh Eva seolah terngiang di telinganya. Suaranya yang ceria, tawanya yang renyah. Winar sangat merindukannya.
Tiba-tiba, dari kamar sebelah, sayup-sayup terdengar lagu dari pemutar musik salah satu temannya. Suara Russell Hitchcock dari Air Supply melantunkan lagu Lonely is the Night.
“Lonely is the night when I’m not with you…
Lonely is the night, ain’t no light shining through…
‘Til you’re in my arms,
‘til you’re here by my side…”
Lirik itu seolah menusuk tepat di jantungnya. Winar menerawang menatap langit-langit kamar yang kusam. Bibirnya bergetar, berucap lirih.
“Eva… lagi apa kamu di sana? Kenapa nggak bisa dihubungi? Siapa pria yang bersamamu pada malam itu? Apa kamu sudah jadian dengan pria yang datang ke rumahmu disaat aku mau berangkat ke Kalimantan?”
Pertanyaan itu menari-nari dibenaknya. Hingga akhirnya Winar tertidur di ranjangnya. Seorang diri.
Sementara itu, di Jakarta, kehidupan Eva jauh dari kata tenang. Sejak Winar pergi ke Kalimantan, Eva merasa ada lubang besar di hatinya. Untuk menutupi rasa galau dan rindu yang tidak menentu—karena status hubungannya dengan Winar yang masih “mengambang” karena memang belum ada pernyataan kepastian hubungan mereka. Sepertinya hanya ada hubungan tolong menolong antar sesama tetangga—Eva memilih jalan “pelarian” melalui kesibukan
Pagi mengajar di sekolah, siang hingga sore memberikan pelajaran tambahan bagi siswa yang membutuhkan, dan malamnya dia mengajar di bimbingan belajar (Bimbel).
Hal itu juga dilakukan karena Eva ingin menghindar dari ajakan Romi dengan bermacam alasan. Walau beberapa kali, seingat Eva tiga kali dia pernah mengiyakan ajakan Romi itu. Tapi lama kelamaan Eva merasa jengah. Karena sejujurnya, dia tidak punya perasaan apa-apa terhadap Romi.
“Va, ayolah. Makan malam sekali aja. Aku yang traktir di tempat baru yang lagi viral itu,” ajak Romi, seorang pria yang gigih (atau mungkin keras kepala) mendekati Eva.
“Maaf Mas Romi, aku banyak koreksian tugas siswa. Capek banget,” tolak Eva halus. Ini sudah penolakan kesekian kalinya.
Namun, Romi bukan tipe pria yang mudah menyerah. Ditambah lagi mamanya sepertinya suka dengan Romi dan sering mengatakan padanya bahwa Romi orangnya baik, kerjanya mapan, boleh juga diterima jadi pacarnya. Bikin kepala Eva pusing dan ga nyaman. Eva pernah mengatakan pada Romi bahwa dia ga bisa menerima Romi jadi pacarnya. Ga ada perasaan istimewa pada Romi. Tapi Romi berkata padanya dengan gaya sok puitis yang membuat Eva sedikit mual, Romi berkata, “Ok Nggak apa-apa, Va. Pokoknya selama janur kuning belum melambai-lambai di depan rumahmu, masih ada kesempatan buat aku, kan? Sekarang belum ada rasa suka sama aku. Kan ga menutup kemungkinan siapa tau minggu depan kamu suka sama aku!”
Dih! Apaan si !
Eva hanya tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan. Dalam hati Eva menggerutu,” dasar batu!” Saat itu yang Eva inginkan hanya segera pulang, mandi, dan tidur agar besok badannya segar Ketika bangun pagi.
Masalah semakin pelik ketika ponsel Eva diretas. Pesan-pesan aneh keluar dari nomornya, meminjam uang ke teman-temannya. Eva panik. Rasa takut dan malu bercampur aduk.
“Va, kamu beneran butuh duit? Ini kok WA kamu minta transfer?” tanya seorang teman guru.
Eva gemetar. Akhirnya, dengan sisa keberaniannya, dia memutuskan mengganti nomor ponselnya secara total. Di tengah kekacauan itu, dia lupa memberitahu Winar—atau mungkin, dia merasa Winar juga terlalu sibuk di Kalimantan untuk memikirkannya. Apalagi sebelum keberangkatannya ke Kalimantan Eva menyaksikan sendiri Winar berjalan bersisian dengan Sesil, teman kantornya yang cantik dan ikut juga berangkat ke Kalimantan.
Kesibukan yang luar biasa dan tekanan mental membuat Eva mengabaikan alarm tubuhnya sendiri. Dia sering telat makan. Rasa perih di perutnya dianggap angin lalu, hanya butuh minum air hangat, pikirnya.
Namun, tubuh manusia punya batas. Setelah pembagian rapor dan hari pertama libur sekolah, pertahanan fisik Eva runtuh.
Malam itu, tubuhnya menggigil hebat. Demam tinggi menyerang. Dia muntah berkali-kali, rasa mual yang hebat menghimpit perutnya yang perih. Kakaknya segera melarikan Eva ke Rumah Sakit Pelni Jakarta.
“Asam lambung akut dan gejala typus, Bu. Harus rawat inap beberapa hari ke depan,” ujar dokter kepada ibunda Eva.
Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, dengan selang infus menancap di tangannya, Eva menatap jendela. Air matanya menetes. Terasa hangat di pipinya. Di saat ini dia merasa sangat lemah dan tak berdaya. Wajah yang muncul di pikirannya tergambar wajah mamanya, wajah temannya Sonia, murid-muridnya yang ceriwis dan lucu, kemudian wajah Romi dan ….. Winar namun terlihat samar.
“Bang Winar… aku sakit. Kamu di mana? ” batinnya lirih, sementara di Kalimantan, Winar juga sedang menatap langit yang sama, terpisah jarak ribuan mil, namun disatukan oleh rasa sepi yang sama hebatnya.
Dua jiwa ini sedang diuji oleh jarak dan komunikasi yang terputus. Winar yang bergelut dengan resiko pekerjaan dan godaan perhatian seseorang yang bernama Sesil, serta Eva yang berjuang melawan kegalauan dan gangguan Kesehatan ditubuhnya yang mengharuskan dia bermalam di rumah sakit.
Hanya waktu yang akan menjawab, apakah rindu yang mereka simpan dan perasaan cinta yang ada dalam diri mereka akan menemukan jalan pulang dan menemukan pintu yang sama ataukah jarak benar-benar akan menjadi jurang pemisah yang permanen bagi mereka berdua.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 9 – Rindu Yang Tak Sampai Ke Telingamu
Sorry, comment are closed for this post.