
Dunia Eva rasanya kayak runtuh pas tahu kalau Priyan, cinta monyet sekaligus cinta pertamanya, ternyata main belakang. Sakitnya tuh bukan main, guys. Bayangin aja, janji mau bareng-bareng terus, eh malah kandas gara-gara pengkhianatan yang nggak banget. Tapi, Eva bukan tipe cewek yang bakal berlarut-larut dalam kegalauan unfaedah. Setelah sempat mengurung diri dan menghabiskan stok tisu di kamar, dia langsung glow up secara mental.
“Priyan itu masa lalu, masa depan gue masih panjang,” batin Eva sambil menatap cermin. Dia pun memantapkan niat buat mengejar cita-citanya dari kecil: jadi Ibu Guru. Baginya, mendidik anak bangsa itu jauh lebih berfaedah daripada mikirin cowok yang nggak tahu cara menghargai komitmen.
Begitu lulus SMA di Jakarta, Eva langsung tancap gas. Dia memilih Bandung sebagai tempat pelarian sekaligus tempat belajarnya. Kenapa Bandung? Selain udaranya yang adem, kota ini punya magis tersendiri buat nyembuhin hati yang lara. Kebetulan juga ada Tante Nani , adik mamanya yang tinggal di Bandung. Dia mengikuti tes UTBK. Dan Eva pun diterima di salah satu universitas keguruan ternama di sana.
Di Bandung, Eva bener-bener jadi sosok yang baru. Dia dikenal sebagai mahasiswa yang ramah banget, tipikal cewek yang kalau lewat selalu tebar senyum—bukan senyum genit ya, tapi senyum tulus yang bikin orang ngerasa nyaman. Temennya? Jangan ditanya, dari penjaga kantin sampai dosen kenal sama Eva karena sifatnya yang santun tapi tetep asik diajak ngobrol.
Karena pribadinya yang friendly dan parasnya yang manis khas cewek Jakarta, nggak heran kalau banyak cowok di kampus yang diam-diam (atau terang-terangan) naruh hati. Salah satunya adalah Eros.
Eros ini tipikal cowok Surabaya yang logatnya masih kerasa tapi asik banget. Orangnya putih, bersih, dan punya rambut ikal yang menurut teman-temannya sih “estetik”. Eros sering banget curi-curi kesempatan buat nge-WA Eva.
Chat dari Eros:
“Va, lagi di perpus ya? Titip pinjam buku psikologi pendidikan dong, sekalian ntar aku traktir mie ayam di depan gerbang.”
Eva biasanya cuma bales sambil ketawa kecil. “Sori Ros, ini udah mau balik. Lain kali aja ya!” Eva tahu Eros itu baik, tapi hatinya masih dipagari kawat berduri. Dia menganggap Eros sebagai sahabat seperjuangan yang seru buat diskusi tugas, nggak lebih.
Kalau di kampus ada Eros, di lingkungan tempat tinggalnya juga ada “ujian” lain. Eva selama kuliah numpang di rumah tantenya. Kebetulan, tetangga sebelah rumah tantenya punya anak cowok namanya Rudi.
Rudi ini tipikal cowok “aman”. Penurut, rapi, dan kerjanya udah mapan. Masalahnya, Rudi ini ngebet banget pengen jadiin Eva pacar. Bukan cuma Rudinya aja, tapi bokapnya, Om Aryanto, udah kayak mak comblang profesional. Setiap kali Eva pulang kuliah dan lewat depan rumah mereka, Om Aryanto pasti bakal panggil.
“Eh, Nak Eva baru pulang? Capek ya? Itu si Rudi baru beli martabak, mampir dulu ganti baju terus ke sini makan bareng,” panggil Om Aryanto sambil senyum penuh kode.
Eva yang dasarnya anak sopan, cuma bisa senyum nggak enak. “Aduh, makasih banyak Om, tapi Eva ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Salam buat Rudi ya, Om.”
Sebenernya, Rudi berkali-kali mencoba mendekati Eva secara personal. Mulai dari ngajak nonton bioskop , lihat pameran buku atau pameran seni. Tapi Eva selalu punya cara buat menepis tanpa bikin sakit hati. Dia selalu bilang kalau fokus utamanya sekarang adalah kuliah. Dia nggak mau fokusnya kebelah gara-gara urusan asmara yang belum tentu jelas ujungnya. Pengalaman sama Priyan bikin dia jadi wanita yang sangat logis.
Waktu berjalan cepat banget kalau kita sibuk sama hal-hal positif. Selama empat tahun di Bandung, Eva bener-bener jadi mahasiswa teladan. Dia nggak cuma pintar di teori, tapi pas praktek mengajar (PPL), murid-murid di sekolah tempat dia praktek langsung jatuh cinta sama cara mengajarnya yang seru dan nggak kaku.
Eros akhirnya menyerah setelah berkali-kali dapet sinyal friendzone yang kuat dari Eva. Mereka tetep temenan baik sampai wisuda. Sedangkan Rudi? Dia harus gigit jari karena sampai hari kelulusan Eva, dia nggak pernah dapet lampu hijau.
Pas hari wisuda, Eva tampil cantik banget pakai toga. Ada rasa haru yang membuncah. Dia teringat empat tahun lalu dia datang ke kota ini dengan hati yang hancur, tapi sekarang dia berdiri dengan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) di tangan dan hati yang sudah sepenuhnya sembuh.
“Ma, Pa, Eva lulus!” ucapnya sambil memeluk orang tuanya yang sengaja datang dari Jakarta.
“ Selamat ya anakku sayang”, Mama dan papanya memberikan ucapan pada putri kebanggaan mereka. Memeluk dan mencium kedua pipi Eva dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Setelah meraih gelar sarjana, Eva nggak mau lama-lama nganggur. Dia memutuskan buat balik ke Jakarta. Dia merasa panggilannya ada di sana, di kota yang membesarkannya.
Eva mulai menyiapkan berkas lamaran. Dia nggak pilih-pilih, tapi dia pengen banget ngajar di sekolah yang bener-bener butuh dedikasi seorang guru yang mengerti perasaan muridnya. Baginya, jadi guru bukan cuma soal transfer ilmu, tapi soal ngebentuk karakter—biar nggak ada lagi cowok-cowok macam Priyan di masa depan, pikirnya sambil bercanda dalam hati.
Sekarang, Eva bukan lagi gadis remaja yang nangis gara-gara dikhianati. Dia sudah menjadi Wanita dewasa yang Anggun. Ya ..Dia adalah Ibu Guru Eva, wanita mandiri yang siap menata masa depan. Dia sadar bahwa pengkhianatan Priyan dulu bukan akhir dari segalanya, melainkan “pecutan” yang bikin dia lari lebih kencang menuju kesuksesan.
Hati yang pernah patah itu kini sudah tertata rapi, siap untuk dibagikan dalam bentuk kasih sayang kepada murid-muridnya nanti. Dan soal cinta? Eva percaya, Tuhan bakal kasih waktu yang tepat dengan orang yang nggak cuma tahu cara mengucap janji, tapi juga cara menepatinya.
Pagi itu, sinar matahari Jakarta masuk malu-malu lewat celah jendela kelas 4-B. Eva, yang sekarang sudah resmi menyandang status Ibu Guru, berdiri di depan cermin kecil di ruang guru sebentar. Dia merapikan seragam batiknya, memastikan nggak ada sisa sarapan yang nempel di gigi, lalu menarik napas panjang.
“Oke Eva, it’s showtime! Lupakan drama Priyan, lupakan rayuan maut Eros, sekarang fokusnya cuma bocil-bocil lucu ini,” bisiknya menyemangati diri sendiri.
Begitu Eva melangkah masuk ke kelas, suasana yang tadinya riuh kayak pasar tumpah langsung berubah. Tapi bukan jadi hening yang mencekam ya, melainkan hening yang penuh semangat.
“Assalamu’alaikum.. selamat pagi, Anak-anakku yang cantik dan ganteng! Apa kabar dunia hari ini?” sapa Eva dengan nada ceria sambil meletakkan tasnya di meja.
“Wa’alaikum salaam , selamat pagi, Bu Eva Cantik!” jawab anak-anak serempak.
“Waduh, ada maunya nih pasti kalau manggil cantik begini,” goda Eva sambil tertawa. “Ayo, siapa yang hari ini sudah siap jadi Einstein masa depan?”
Seorang murid laki-laki bernama Baim, yang rambutnya selalu berdiri kayak landak, langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Bu Eva, saya nggak mau jadi Einstein, mau jadi YouTuber aja yang subscribers-nya miliaran!”
Eva mendekati meja Baim, lalu menepuk pundaknya pelan. “Boleh banget, Im! Tapi YouTuber keren itu harus pinter ngomong dan punya wawasan luas. Jadi, hari ini kita belajar Bahasa Indonesia biar konten kamu nggak cuma ‘Halo Gaes’ doang, tapi isinya berbobot. Gimana?”
“Siap, Bu! Log in belajarnya kalau gitu!” sahut Baim yang disambut tawa satu kelas.
Interaksi di kelas Eva memang nggak pernah kaku. Dia selalu berusaha memposisikan diri sebagai kakak sekaligus mentor. Baginya, anak SD itu nggak bisa cuma dikasih teori, tapi harus diajak “main” logikanya.
“Bu Guru, Bu Guru!” panggil Laras, siswi berkuncir dua yang duduk di barisan depan.
“Kenapa, Laras Sayang? Ada kesulitan?”
“Tadi pagi aku lihat Bu Eva diantar cowok ya ke depan gerbang? Itu pacar baru Bu Guru ya? Lebih ganteng dari yang di foto itu nggak?” tanya Laras dengan polosnya—tapi sebenernya agak julid tipis-tipis.
Eva sempat tersedak ludah sendiri. Duh, anak zaman sekarang detektif banget ya, batinnya. Ternyata itu tadi ojek online yang kebetulan motornya kinclong banget.
“Wah, Laras bakalan jadi detektif nih kalau sudah gede,” canda Eva sambil mencubit pelan pipi Laras.
“Itu tadi bukan pacar, Sayang. Itu Mas-mas ojek yang baik hati yang menyelamatkan Bu Guru dari kemacetan Jakarta yang luar biasa. Lagian, Bu Guru lagi jatuh cinta sama kalian semua kok, jadi nggak butuh pacar dulu.”
Masuk ke sesi pelajaran, Eva menggunakan metode yang asik. Dia nggak cuma nulis di papan tulis sampai tangannya pegal, tapi diajak diskusi. Saat membahas tentang cita-cita, Eva melihat salah satu muridnya, Dimas, yang biasanya pendiam, cuma melamun.
Eva menghampiri Dimas dan berjongkok di samping kursinya agar tinggi mereka sejajar. “Dimas, kalau boleh tahu, pahlawan super favorit Dimas siapa?”
Dimas menoleh pelan, “Spiderman, Bu.”
“Wah, sama dong! Tahu nggak kenapa Spiderman hebat? Bukan cuma karena bisa manjat gedung, tapi karena dia selalu menolong orang tanpa pamrih. Dimas juga gitu, Bu Guru perhatikan Dimas sering bantuin temen yang kesulitan rapikan kursi. Itu namanya Superpower kebaikan.”
Mata Dimas langsung berbinar. Senyum tipis muncul di wajahnya yang malu-malu. “Emang iya ya, Bu?”
“Iya, dong! Jadi, jangan ragu buat terus jadi anak baik ya,” pungkas Eva dengan tulus.
Melihat binar mata anak-anaknya, mendengar tawa mereka, dan merasakan energi murni dari jiwa-jiwa kecil itu, hati Eva terasa penuh. Rasa sakit hati akibat dikhianati Priyan dulu benar-benar terasa seperti debu yang hilang tertiup angin. Kalau dulu dia nggak patah hati, mungkin dia nggak akan seberani ini merantau ke Bandung dan menemukan jati dirinya yang sekarang.
Saat jam istirahat berbunyi, anak-anak nggak langsung lari keluar. Beberapa malah mengerubungi meja Eva. Ada yang pamer bekal, ada yang curhat kucingnya baru melahirkan, sampai ada yang cuma pengen pegang tangan Eva.
“Bu Eva, nanti kalau aku sudah gede dan jadi sukses, Bu Eva jangan pensiun dulu ya. Aku mau jemput Bu Eva pakai mobil terbang!” celetuk si Baim sebelum lari keluar kelas.
Eva tertawa lepas. Air mata bahagia hampir saja menetes. Di detik itu, dia sadar: Inilah rumahnya. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan buat cari gaji, tapi ini adalah misi cinta yang paling mulia.
“Terima kasih, Tuhan,” bisik Eva dalam hati sambil melihat punggung murid-muridnya yang berlarian di koridor. “Bandung kasih aku ilmu, tapi anak-anak ini kasih aku hidup.”
Eva membereskan bukunya dengan perasaan paling bahagia sedunia. Ternyata, pengkhianatan masa lalu hanyalah cara semesta untuk menuntunnya ke pelukan anak-anak yang tulus mencintainya apa adanya. Hari ini, Eva bukan cuma seorang sarjana, tapi dia adalah seorang pahlawan bagi murid-muridnya. Dan itu, jauh lebih cukup dari sekadar kata ‘cinta’ dari seorang Priyan.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 4 – Move On
Sorry, comment are closed for this post.