
Di SMA Negeri 1, nama Rani Kusuma adalah jaminan mutu. Baginya, angka-angka di atas kertas raport bukan sekadar tinta, melainkan mahkota yang harus dijaga. Sejak duduk di sekolah dasar, peringkat satu selalu berada dalam genggamannya, seolah sudah menjadi hak paten yang tak boleh diganggu gugat.
Bagi Rani, remaja dan cinta adalah dua kutub magnet yang jika dipaksakan bertemu akan mengacaukan kompas masa depan. Ia memiliki sebuah komitmen baja: **tidak akan pacaran selama masih memakai seragam sekolah.** “Lihat tuh, Er,” bisik Rani suatu siang di kantin, menunjuk seorang siswi yang sedang menangis tersedu-sedu di pojok karena putus cinta. “Nilai matematikanya anjlok dari delapan puluh ke lima puluh hanya karena urusan hati. Itu yang namanya degradasi intelektual akibat hormon.”
Erli, yang sedang mengunyah siomay, mengangguk mantap. “Setuju. Pacaran itu seperti virus yang memakan sel-sel fokus di otak kita.”
“Benar banget,” timpal Tia, anggota ketiga dari ‘Trio Ambisi’.
“Lebih baik kita bahas soal olimpiade fisika daripada bahas siapa naksir siapa. Cinta itu semu, prestasi itu abadi.”
Ketiganya membentuk kelompok belajar yang eksklusif. Sebuah pakta pertahanan dari serangan asmara yang mereka anggap sebagai gangguan. Namun, benteng itu mulai sedikit goyah ketika dua orang siswa, Arul dan Gusti, sering bergabung. Arul bukan sembarang siswa. Dia cerdas, mandiri, dan memiliki aura kepemimpinan yang tenang. Prestasinya bersaing ketat dengan Rani, membuat diskusi kelompok mereka selalu hidup layaknya debat intelektual yang berkelas.
————————————————————
Pertemuan demi pertemuan belajar kelompok berlangsung. Awalnya, semuanya tampak normal. Namun, perlahan Rani merasakan ada atmosfer yang berbeda setiap kali Arul berada di dekatnya. Sering kali, saat Rani sedang serius menjelaskan teori ekonomi, ia mendapati Arul sedang menatapnya. Bukan tatapan kosong, melainkan tatapan yang dalam, seolah sedang membaca sebuah puisi yang tak tertulis.
“Rani, aku pinjam buku catatan Sejarahmu, ya? Catatanku ada yang terlewat saat bagian Perang Dunia II,” ujar Arul suatu sore.
“Oh, boleh. Tapi jangan sampai kotor, ya,” jawab Rani ketus, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang tiba-tiba berderu kencang seperti mesin motor tua.
Beberapa hari kemudian, buku itu kembali. Namun, kondisinya berubah. Buku itu telah disampul rapi dengan plastik bening yang tebal, sudut-sudutnya simetris sempurna. Arul tidak mengembalikannya langsung; terkadang ia menitipkannya melalui Erli atau Tia.
“Nih, buku kamu. Arul yang titip,” kata Erli dengan nada curiga. “Rajin banget ya dia, sampai disampulin segala. Bau parfum lagi bukunya.”
Tia menyipitkan mata. “Ran, kamu sadar nggak sih? Perhatian Arul ke kamu itu sudah melewati batas frekuensi teman biasa. Ini sudah masuk kategori ‘sinyal darurat’.”
Rani hanya tersenyum tipis, meski di dalam hatinya ada bunga-bunga kecil yang mulai bermekaran. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan saat melihat bukunya dirawat dengan begitu baik oleh tangan Arul.
——————————————
Hingga suatu sore, langit sedang jingga-jingganya. Kelas sudah mulai sepi, menyisakan debu yang menari di bawah sinar matahari yang menembus jendela. Rani sedang mengemasi alat tulisnya ketika Arul menghampiri. Kali ini, dia tidak menitipkan buku itu pada siapapun.
“Rani,” panggil Arul lembut.
Rani menoleh, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. “Eh, Arul. Belum pulang?”
Arul menyodorkan sebuah buku catatan. Senyumnya tipis, namun matanya memancarkan ketulusan yang luar biasa. “Ini buku Geografi kamu. Terima kasih, ya.”
“Sama-sama,” jawab Rani singkat, hendak mengambil buku itu.
Namun, Arul tidak segera melepaskan pegangannya. “Saya menyelipkan sesuatu di dalamnya. Tolong… buka saat kamu sudah sampai di rumah saja.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Arul berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban. Rani berdiri terpaku. Genggamannya pada buku itu mengerat. Ada rasa penasaran yang membuncah, membakar rasa ingin tahunya hingga ke ubun-ubun.
——————————————————-
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Rani bercabang. Ia mengayuh sepedanya dengan terburu-buru, mengabaikan sapaan tetangga. Begitu sampai di rumah, ia langsung menghambur ke kamar, mengunci pintu, dan melempar tasnya ke tempat tidur.
Dengan tangan gemetar, ia membuka buku Geografi itu. Lembar demi lembar ia buka dengan cepat hingga sampai di bagian tengah. Di sana, terselip sebuah amplop berwarna merah jambu yang harum.
Rani menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya. Isinya adalah secarik kertas dengan tulisan tangan Arul yang rapi:
Untuk Rani,
Mungkin kau melihatku sebagai rekan diskusi yang hanya peduli pada angka dan logika. Namun, di antara rumus dan teori yang kita pelajari, ada satu variabel yang tidak bisa aku abaikan: kehadiranmu.
Aku mengagumi caramu berpikir, caramu mempertahankan prinsip, dan caramu menyayangi adik-adikmu. Aku ingin lebih dekat denganmu, Rani. Bukan sekadar teman berbagi tugas, tapi sebagai seseorang yang memiliki tempat khusus di hatimu. Aku ingin menjadi alasan di balik semangatmu, dan sandaran saat kamu merasa lelah mengejar dunia.
Bolehkah aku melangkah lebih dekat?
— Arul
Rani terduduk lemas di lantai. Kalimat-kalimat puitis itu seperti ombak yang menghantam karang komitmennya. Ia tahu Arul adalah sosok yang baik; dia mandiri, sering membantu ibunya berjualan di pasar sebelum sekolah, dan sangat menyayangi adik-adiknya. Arul adalah definisi lelaki ideal di usia remaja. Namun, suara di kepalanya kembali berteriak: *”Ingat janjimu! Ingat peringkatmu!”*
—————————————————-
Seminggu setelah menerima surat itu, kehidupan Rani berubah menjadi labirin kegelisahan. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Arul selalu muncul setiap kali ia memejamkan mata. Di sekolah, ia menjadi ahli melarikan diri. Jika melihat Arul di ujung koridor, Rani akan segera berbelok ke arah kamar mandi atau perpustakaan.
“Ran, kamu kenapa sih? Kayak buronan polisi saja,” tegur Tia saat melihat Rani bersembunyi di balik mading.
“Aku… aku cuma lagi ingin sendiri,” kilah Rani.
Suatu hari, Naila—siswi paling pendiam di kelas yang biasanya hanya bicara tiga kata sehari—menghampiri meja Rani. Naila meletakkan sebuah catatan kecil di atas meja Rani.
“Arul tanya jawaban,” bisik Naila pendek, lalu pergi begitu saja sebelum Rani sempat merespons.
Rani memijat pelipisnya. Tekanan ini mulai terasa lebih berat daripada ujian nasional. Ia merasa bersalah karena menggantung perasaan seseorang, namun ia juga takut jika ia menerima Arul, semua mimpinya akan hancur berantakan seperti istana pasir yang diterjang ombak.
———————————————
Sebulan telah berlalu. Arul tetap menjadi bayang-bayang yang sabar, namun kesabarannya mulai mencapai batas. Suatu siang, Rani pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tugas biologi. Ia merasa aman di sana karena perpustakaan biasanya sepi saat jam istirahat kedua.
Namun, ia salah. Saat sedang menyusuri rak buku bagian belakang, sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya dengan lembut namun tegas. Rani terkejut dan hendak berteriak, namun ia melihat Arul di sana.
Arul membawanya ke sudut ruangan yang tersembunyi oleh rak-rak buku ensiklopedia yang tinggi. Suasana sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu eksekusi.
“Rani, sampai kapan kamu mau lari?” tanya Arul. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
Rani menunduk, tidak berani menatap mata Arul yang tajam. “Arul, maaf…”
“Aku tidak butuh maaf, Rani. Aku butuh kepastian. Satu bulan aku menunggu dalam ketidakjelasan. Jika memang tidak ada ruang untukku, katakan saja. Jangan biarkan aku seperti orang bodoh yang menunggu hujan di musim kemarau.”
Rani menarik napas panjang. Ia teringat akan wajah orang tuanya, teringat akan kelompok belajarnya, dan teringat akan janji pada dirinya sendiri. Ia harus jujur, meskipun itu menyakitkan.
——————————————–
Rani mendongak, memberanikan diri menatap mata Arul. Ia melihat ada harapan sekaligus kecemasan di sana.
“Arul, dengarkan aku,” suara Rani gemetar namun mulai stabil. “Aku sangat menghargai perasaanmu. Jujur, aku juga mengagumimu. Kamu pintar, baik, dan punya karakter yang luar biasa. Siapa pun pasti akan bangga memilikimu.”
Senyum tipis mulai muncul di wajah Arul, namun segera pudar saat Rani melanjutkan.
“Tapi, aku punya komitmen yang tidak bisa kulanggar. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pacaran selama sekolah. Aku tidak ingin fokusku terbagi. Aku ingin kita tetap menjaga apa yang sudah kita bangun selama ini.”
Arul terdiam. Kecewa jelas terpahat di wajahnya, namun ia tetap mendengarkan dengan dewasa.
“Maaf, saya tidak bisa menerima kamu sebagai pacar,” lanjut Rani dengan nada yang lebih tegas namun lembut. “Saya rasa hubungan yang paling baik di antara kita adalah persahabatan. Kita jadi sahabat saja, Rul. Sahabat itu lebih langgeng, tidak ada drama putus, dan tidak ada dusta di dalamnya. Kita bisa tetap belajar bareng, berprestasi bareng, tanpa harus terikat status yang mungkin malah akan membebani kita.”
———————————————————————
Hening menyelimuti mereka selama beberapa saat. Arul menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke rak buku. Ia menatap langit-langit perpustakaan sebelum akhirnya kembali menatap Rani.
“Sahabat, ya?” Arul tersenyum pahit, namun perlahan senyum itu berubah menjadi lebih tulus. “Kamu memang beda, Ran. Itulah alasan kenapa aku menyukaimu sejak awal. Kamu teguh dengan prinsipmu.”
Arul mengulurkan tangannya. “Oke. Sahabat. Tapi jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti, setelah kita lulus, aku akan menanyakan hal yang sama lagi.”
Rani tertawa kecil, rasa sesak di dadanya perlahan menghilang. Ia menyambut jabat tangan Arul. “Itu urusan nanti, Arul. Untuk sekarang, mari kita fokus ke ujian minggu depan.”
Mereka keluar dari perpustakaan bersama-sama. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi persembunyian. Rani menyadari bahwa cinta monyet tidak harus berakhir dengan kepemilikan. Terkadang, cinta yang paling murni adalah saat kita mampu menghargai prinsip orang yang kita cintai.
Di koridor, Erli dan Tia melihat mereka dan saling berpandangan heran. Rani hanya mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum lebar. Ia tetap sang juara, bukan hanya di kelas, tapi juga pemenang atas egonya sendiri. Persahabatan mereka tetap utuh, dan prestasi mereka justru semakin melesat, membuktikan bahwa komitmen adalah kunci dari segala pencapaian.
Kreator : Roseyani
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Batas Suci Trio Ambisi
Sorry, comment are closed for this post.