Dalam dunia imajinasi, banyak banget bisa jadi cerita. Dunia imajinasi itu dunia tanpa batas. Dalam kisah kali ini ada sebuah desa Matahari. Seperti apa sih kisahnya, yuk kita simak kisahnya.
Dulu dunia imajinasi tidak ada nama desa Matahari, melainkan desa Es Abadi. Tempatnya berada di dalam gua, dipenuhi tumpukan es yang kokoh. Tapi penduduk disana sangat sombong dan tak peduli satu sama lainnya, maka dari itu nama desa mereka adalah Es Abadi.
Tiba tiba ada sebuah peringatan yang menandakan gelombang panas akan masuk ke desa mereka. Kejadian gelombang panas ini terjadi setiap seribu tahun sekali. Para penduduk tidak percaya dengan peringatan itu, bahkan menghancurkan alat peringatan.
Satu jam kemudian gelombang panas datang. Secara perlahan bangunan mereka meleleh. Semua orang panik, ada yang meminta tolong, ada yang sibuk mengurusi perabotan dan lainnya. Tapi tidak sedikit juga yang memilih bertahan di sana, walau banjir sudah meninggi. Sebagian besar memilih mengungsi keluar dari gua tersebut. Mereka hanya bisa melihat bangunan mereka meleleh hingga habis tak bersisa.
Kabar desa Es Abadi mengalami musibah, banyak pihak yang memberikan bantuan, selimut, pakaian, keperluan lainnya. Tapi para penduduk menolak bantuan tersebut, mereka anggap dunia menertawakan mereka.
Mereka pindah lokasi ke bukit untuk menghindari musibah yang sama. Desa Es Abadi telah hancur, menyisakan para penduduk.
Ada satu keluarga Cair Langit yang mengusulkan untuk membuat rumah yang terbuat dari batu. Penduduk marah dan mengira keluarga itu mengasihani mereka. Akhirnya keluarga Cair Langit diusir oleh mereka. Di tengah musibah, para penduduk tetap sombong dan angkuh.
Dingin Biru adalah anak ketiga dari Cair Langit. Ia sedang berdoa pada Peri Bintang.
“Peri Bintang.. kami tidak punya tempat berlindung, bantu kami Peri..”
Di saat Dingin Biru berdoa, ada beberapa penduduk berkata, “Eh.. ngapain minta pada peri Bintang, ga ada gunanya.”
Ada juga yang berkata, “Sok minta bantuan.. keluarga sendiri aja ga ada yang bantu.”
Kata demi kata yang didengar Dingin begitu menyakitkan buatnya. Dingin menangis di pelukan ibunya. Berita Dingin meminta bantuan pada Peri Bintang pun tersebar. Banyak yang menghina Dingin. Keluarganya membela, tapi para penduduk tidak peduli dan terus menghina keluarga Cair Langit.
Keesokan harinya, teman dari keluarga Cair Langit berdatangan. Prof. Dust, seorang pengelana yang memiliki tujuan mulia di dunia Imajinasi, empat sekawan dari desa Warna, Tembaga Hijau dari kota Adaptor, raja Kaca dari kerajaan Kacamata, dan Mata Elang dari bukit Penjaga Dunia. Mereka semua adalah teman dari keluarga Cair Langit. Para penduduk heran dengan datangnya para legenda.
Teman keluarga Cair Langit menyiapkan strategi untuk membangun desa yang kokoh, kuat, dan indah.
“Dingin… Kalau ga salah Ibu pernah liat gambar indahmu tentang desa. Boleh Ibu lihat?”
Dingin memberikan gambar itu, sungguh indah dari penataan bangunan, keindahan dan arsitektur, serta warna warni yang sesuai dengan arsitekturnya. Mereka semua setuju untuk membuat desa sesuai rancangan gambar Dingin. Para penduduk tidak diizinkan melihat proses pengerjaannya, lalu Prof. Dust mengeluarkan debu kuning dan menebarkannya pada penduduk bertujuan tidak bisa melihat apa yang mereka kerjakan.
Satu tahun telah berlalu, rancangan pembangunan berhasil dikerjakan. Mata para penduduk mulai bisa melihat. Terkejutnya mereka melihat desa yang begitu indah, seperti rumah pohon tetapi terbuat dari kaca, kayu, batu dan dilekatkan oleh lem madu. Jalan yang menghubung dari pohon satu ke pohon lainnya. Air terjun kecil tapi berada di empat titik berbeda. Jalan di bawah yang berwarna warni, rumput rumput hijau yang indah, dan lampu yang melayang dan bergerak seperti bintang yang menerangi. Mereka semua kagum dengan keindahan desa itu. Mereka malu untuk minta maaf dan meminta untuk tinggal di desa itu.
“Kami memaafkan kalian,” Ayah dari keluarga Cair Langit berkata pada mereka dan mereka dipersilahkan tinggal di desa tersebut. Beberapa penduduk melihat punggung leher keluarga tersebut dan terkejutnya mereka. Tanda di punggung leher itu adalah tanda bahwa mereka keturunan dari perintis desa Es Abadi.
Semua berkumpul di tengah dan kepala keluarga dari Cair Langit mengatakan, “Desa ini bukan lagi menggunakan nama Es Abadi, tetapi desa Matahari untuk mengingatkan kita atas korban bencana setahun yang lalu.. Dan.. Mengingatkan pada kita… Untuk tidak sombong dan angkuh… Sekian dan terima kasih.”
Setelah pidatonya selesai datanglah Peri Bintang lalu berkata dengan tegas.
“Keluarga Cair Langit.. Aku tetapkan dirimu menjadi tonggak hati murni buat desa Matahari ini… Aku akan memberikan hadiah buat desa ini…”
Peri Bintang membuat empat matahari yang mengelilingi desa tersebut untuk melindungi dari segala ancaman dan satu matahari di tengah tengah desa untuk menjaga kehangatan desa tersebut.
Desa Matahari menjadi pengingat, bahwa kesombongan dan keangkuhan hanya membawa petaka. Belajar untuk peduli pada diri sendiri dan sekitar
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: bab 3 – Desa Matahari
Sorry, comment are closed for this post.