Dunia Imajinasi memiliki berbagai hal hebat. Bukan hanya tempat, atau monumen, tetapi sebuah momen banyak terjadi di dunia Imajinasi. Tidak hanya kisah inspiratif atau perang, tetapi kisah cinta. Kisah cinta yang seperti apakah? Mari kita simak kisahnya.
Ada tempat bernama museum Gigi, di sana berbagai jenis gigi dari bermacam makhluk di dunia Imajinasi. Museum pada umumnya, tidak ada sesuatu yang spesial. Tapi ada seorang penjaga yang cukup terkenal bernama Topi Panjang dari desa Topi, dikarenakan berhasil menangkap penjahat yang sudah lama menjadi buronan para penjaga dunia Imajinasi.
Museum tersebut terdapat penjara yang digunakan untuk menghukum pengunjung yang melakukan kejahatan. Anna Kristal dari kota Batu tertangkap mencuri makanan pada mesin makanan.
Anna Kristal hidup seorang diri, dia sering kelaparan dan tidak punya tempat tinggal. Topi Panjang harus memenjarakannya apapun alasannya, kejahatan tetap kejahatan.
Sehari dua hari, Topi Panjang merasa prihatin dengan keadaan Anna Kristal. Terlihat dirinya yang kelaparan dan terus memegang perut dengan erat.
“Ini ada roti.. makanlah…”
“Makasih. Maaf aku mencuri makanan… aku kelaparan…” ucap Anna Kristal.
Terjadi percakapan cukup lama, mereka perlahan saling mengenal satu sama lain tanpa mereka sadari.
Hari ketujuh, Topi Panjang akhirnya membebaskan Anna Kristal.
“Sudah, jangan mencuri lagi ya.. Kalau lapar, datang kesini. Aku akan berikan kamu makan.”
“Makasih, Topi Panjang.”
Mereka sering bertemu tiap hari, tetapi sebenarnya tumbuh rasa cinta diantara mereka. Pemilik museum itu merasa terganggu dengan kehadiran Anna Kristal.
Ginni Ban dari negeri Mobil sudah lama menyimpan perasaan pada Topi Panjang, tetapi tidak berani mengungkapkan isi hatinya.
“Anna Kristal?”
“Iya… ada apa ya?”
“Maaf, Topi Panjang. Dia telah mencuri makanan di rumah dekat museum ini beberapa waktu lalu.”
“Anna….”
“Aku tidak melakukannya…. aku sudah janji… Topi… kamu percaya padaku kan?”
“Kamu sudah berjanji….. Kenapa kamu langgar?”
Akhirnya penjaga dunia imajinasi memenjarakan Anna Kristal jauh dari museum.
Sehari dua hari, Topi Panjang rindu dengan Anna Kristal. Seperti biasa, Topi Panjang merekam suaranya untuk menenangkan diri sekalian curhat berupa suara rekaman.
Topi Panjang pun berpatroli dan tidak sengaja mendengar kata “Anna”. Dengan segera ia menghampiri suara tersebut. Topi Panjang melihat Ginni Ban sedang berbicara dengan orang yang mirip dengan Anna.
“Makasih… Timah Jingga sudah menyamar jadi si pencuri itu. Sesuai janjiku, ini uang dan benda yang kamu inginkan.”
Percakapan itu terdengar jelas oleh Topi Panjang. Dikatakan si penyamar bahwa dia melakukannya karena butuh sebuah gigi emas untuk kepentingan dirinya. Diketahui juga, Ginni Ban menjebak Anna Kristal karena rasa cemburu. Si penyamar itu pergi meninggalkan pemilik museum itu.
Topi Panjang bertepuk tangan dan membuat Ginni Ban terkejut.
“Topi.. Kenapa kamu di sini?” Ginni Ban mencoba mengalihkan pembicaraan.
Topi Panjang geram dan memarahi Ginni Ban. “Jadi selama ini kamu menjebak Anna? Tega ya kamu.!”
Ginni pun bersujud minta maaf, akan tetapi semua sudah terlambat. Dia berusaha menjelaskan bahwa Ginni cinta padanya. Akan tetapi Topi berpaling.
“Aku sudah merekam semua percakapan kalian. Siap-siap masuk penjara!”
Topi berlari sekuat tenaga menuju kereta api Lebah Madu, tapi terus dihadang Ginni yang terus meminta maaf. Ginni bahkan mengancam akan merusak nama baik Anna Kristal bila Topi pergi ke penjara para penjaga Dunia Imajinasi.
Topi mengatakan dengan nada emosi, “Mau kamu jebak sekalipun atau merusak nama baiknya, aku tetap cinta Anna!!”
Ginni mencoba membandingkan ketenaran dan kekayaan, Topi Panjang tidak perduli dengan semua itu. Dia tetap lanjut untuk membebaskan Anna dari tuduhan pencurian.
Sesampainya di sana, Topi Panjang segera menyerahkan rekaman penting itu kepada penjaga penjara yang selama ini menahan Anna Kristal. Suasana mendadak hening saat rekaman diputar. Wajah para penjaga berubah tegang, lalu perlahan dipenuhi rasa bersalah. Setelah semua bukti terdengar jelas, borgol di tangan Anna akhirnya dilepaskan.
Anna menatap Topi Panjang dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari memeluknya erat. Kerinduan yang selama ini tertahan pecah begitu saja. Mereka saling berpelukan, seolah tak ingin kehilangan lagi, lalu berciuman singkat di tengah rasa haru yang memenuhi ruangan. Namun sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Tiba-tiba suara langkah tergesa terdengar dari arah lorong. Ginni Ban muncul sambil membawa senjata, matanya penuh amarah. Tanpa ragu, ia mengarahkan pistol tepat ke arah Anna.
“Anna! Awas!” teriak Topi Panjang.
Dalam sepersekian detik, Topi langsung menarik tubuh Anna dan melindunginya. Suara tembakan memecah suasana. Peluru menembus bahu dan kaki Topi Panjang hingga tubuhnya terjatuh keras ke lantai. Anna yang panik buru-buru mencoba menopangnya, tetapi tanpa sengaja mulut Topi membentur lutut Anna hingga ia meringis kesakitan.
“Topi! Jangan tutup mata… tolong…” suara Anna bergetar, menahan tangis.
Sementara itu, para penjaga segera bergerak cepat. Ginni Ban berhasil dilumpuhkan dan ditangkap sebelum sempat melarikan diri. Setelah seluruh kejahatannya terbukti, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Di tengah kekacauan itu, Anna tetap memeluk Topi Panjang erat, tak peduli darah yang mulai membasahi pakaiannya. Yang ia tahu saat itu hanya satu, ia hampir kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya.
“Topi… Topi… bangun…” suara Anna bergetar sambil mengguncang tubuhnya pelan.
Topi Panjang membuka matanya perlahan. Dengan napas yang masih berat, ia mencoba tersenyum meski menahan sakit.
“Setidaknya… aku berhasil menyelamatkanmu dua kali…”
“Apa-apaan sih…” balas Anna setengah menangis, setengah kesal.
Namun beberapa detik kemudian, Anna justru terdiam. Ia menatap wajah Topi Panjang lebih dekat, lalu tanpa sadar tawanya pecah di tengah suasana haru itu.
Dua gigi depan Topi Panjang ternyata patah saat ia terjatuh tadi.
Wajahnya yang berusaha terlihat keren malah jadi sangat lucu dengan sepasang gigi ompong di depan. Topi Panjang yang sadar dirinya ditertawakan hanya bisa ikut nyengir pasrah.
“Heh… jangan ketawa gitu juga…”
Anna makin susah menahan tawa sambil mengusap air matanya. Di tengah rasa takut karena hampir kehilangan, ternyata masih ada hal kecil yang bisa membuat hatinya hangat kembali.
Dan sejak saat itu, dunia imajinasi mengenal sebuah kisah bernama Sepasang Gigi—kisah cinta tentang seseorang yang kehilangan sepasang giginya demi menyelamatkan orang yang paling ia cintai.
Kreator : David W. Rehatta (Dsmile5)
Comment Closed: Bab 4. Sepasang Gigi
Sorry, comment are closed for this post.