
Ada satu jenis hening yang tipis tapi sebenarnya bising banget di dalam kepala. Buat Eva, hening itu mulainya tepat dua hari lalu.
Sebagai seorang guru—oke, sebut saja pengajar muda yang sehari-hari menghadapi riuhnya anak-anak—Eva biasanya paling jago mengelola emosi. Dia tahu kapan harus bersuara tegas, kapan harus melempar senyum menenangkan. Tapi kalau urusannya sudah menyangkut Winar, radar logikanya sering kali agak bergeser arah.
Winar itu tetangga dekat rumah. Lebih dari sekadar tetangga, sebenarnya. Ada kedekatan yang tidak pernah dideklarasikan lewat komitmen hitam di atas putih, tapi semua orang yang melihat mereka tahu: ada magnet kuat di antara keduanya. Tatapan mata yang bertahan satu detik lebih lama dari biasanya, perhatian-perhatian kecil berupa bekal kue di pagi hari, atau rutinitas pagi yang paling Eva tunggu-tunggu—berangkat bareng ke tempat kerja. Mobil Honda Accord merah milik Winar sudah seperti rumah kedua bagi Eva di pagi hari. Di dalam mobil itu, mereka biasa berbagi tawa, mengeluhkan macetnya jalanan kota, atau sekadar mendengarkan lagu-lagu playlist lawas kesukaan bersama.
Namun, dua hari belakangan ini, garasi rumah Winar sudah tidak ada lagi Honda Accord merah terparkir di sana, bahkan sebelum azan subuh benar-benar selesai berkumandang.
“Aku harus standby di kantor jam tujuh teng, Va,” kata Winar lewat pesan suara singkat dua hari lalu. Suaranya terdengar agak serak, khas orang yang kurang tidur tapi dikejar adrenalin pekerjaan. “Ada project gede yang lagi disiapin. Maaf banget ya, minggu – minggu ini abang ga bisa antar kamu ke sekolah .”
Eva, dengan segala kedewasaan dan kemaklumannya, membalas dengan emotikon senyum hangat. “It’s okay, bang Winar. Sukses ya buat project-nya. Jangan lupa sarapan!”
Eva tahu betul pekerjaan Winar di perusahaan minyak itu memang menuntut dedikasi tinggi. Ditambah lagi, ada desas-desus kalau tim Winar bakal didelegasikan ke Kalimantan untuk proyek ekspansi besar selama tiga bulan penuh. Tiga bulan. Buat ukuran orang yang hampir setiap hari bertukar sapa di batas pagar rumah, tiga bulan itu terasa seperti satu dekade. Eva sudah menyiapkan mental untuk itu. Dia mendukung penuh karier Winar. Dia ingin melihat laki-laki itu bersinar.
Tapi, yang tidak disiapkan oleh Eva adalah bagaimana cara proyek itu memperkenalkan dirinya secara langsung di depan matanya sendiri.
Sore itu, waktu menunjukkan pukul tiga tepat. Udara sisa hujan siang hari menyisakan aroma tanah yang basah dan hawa dingin yang sedikit menusuk kulit. Eva baru saja turun dari ojek online di depan gang rumahnya setelah menyelesaikan kelas tambahan di sekolah tempatnya mengajar. Bahunya agak pegal, dan pikirannya hanya tertuju pada segelas teh melati hangat di teras rumah.
Namun, langkah kaki Eva mendadak melambat saat matanya menangkap siluet yang sangat familier.
Mobil Honda Accord merah milik Winar terparkir manis di depan rumahnya sendiri. Suara mesinnya baru saja mati—menyisakan desau halus kipas radiator yang perlahan mereda. Eva refleks melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul setengah empat sore? Bukankah beberapa hari ini Winar selalu pulang larut malam?
Rasa heran itu belum sempat terjawab ketika pintu kemudi terbuka. Winar turun dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku—tampilan santai tapi entah kenapa selalu berhasil membuat matanya terlihat sangat maskulin. Winar tampak segar, tidak seperti orang yang kelelahan dikejar deadline.
Kemudian, pintu sebelah kiri—pintu penumpang depan, tempat yang biasanya menjadi singgasana Eva setiap pagi—terbuka.
Dari sana turun seorang wanita.
Wanita itu langsung menyita perhatian tanpa perlu berusaha keras. Kulitnya putih bersih, kontras dengan rambut hitam pekat yang dipotong bob rapi membingkai wajahnya yang tirus. Dia mengenakan kulot abu-abu dan blouse putih tanpa lengan yang dibalut cardigan rajut tipis. Sangat modis, sangat khas orang kantoran metropolitan yang tahu persis bagaimana cara mencuri perhatian lewat penampilan minimalis tapi mahal.
Winar berbalik, menyadari kehadiran Eva yang berdiri beberapa meter dari sana. Senyum khas Winar langsung terkembang luas.
“Eh, Va! Baru pulang mengajar ya?” sapa Winar dengan nada suara yang sangat renyah, sangat percaya diri seperti biasanya. Tidak ada nada gugup sama sekali, yang justru membuat dada Eva sedikit mencelos.
“Iya, bang Winar. Baru banget sampai,” jawab Eva, berusaha menjaga suaranya tetap berada di frekuensi paling tenang dan ramah. Dia tersenyum, menyembunyikan rasa lelah—dan rasa aneh yang tiba-tiba menyelinap di ulu hatinya.
Wanita di sebelah Winar mengalihkan pandangannya ke arah Eva. Tatapan matanya sangat tajam, menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki Eva dalam waktu satu detik, sebelum akhirnya melunak menjadi sebuah senyuman formal yang sangat sopan namun terasa berjarak.
“Sesil, kenalin, ini Eva,” ujar Winar memperkenalkan, telapak tangannya sedikit terangkat ke arah Eva dengan gestur yang sangat santun. “Eva, ini Sesil. Rekan satu timku di kantor yang nanti juga ikut berangkat ke Kalimantan.”
Sesil menganggukkan kepalanya pelit namun anggun. “Hai,” ucapnya singkat. Nada suaranya tinggi, khas wanita yang terbiasa memegang kendali dalam setiap percakapan.
“Hai, Sesil. Eva,” balas Eva ramah, lengkap dengan senyum terbaik yang bisa dia pamerkan saat itu.
Ada keheningan satu detik yang terasa sangat panjang. Di bawah tatapan Sesil yang seolah sedang mengurasi eksistensinya, Eva merasa tiba-tiba menjadi sangat asing di tanahnya sendiri. Dia tahu dia harus segera menarik diri sebelum rasa tidak nyaman ini terbaca di wajahnya.
“Kalau begitu, aku permisi dulu ya, bang Winar, mba Sesil. Mari…” ucap Eva santun, sedikit membungkukkan badan sebelum melanjutkan langkah kakinya menuju rumahnya sendiri yang hanya berjarak beberapa meter lagi.
“Oh, iya, Va. Silakan. Selamat beristirahat,” sahut Winar ramah.
Eva mencoba mengayunkan Langkah kakinya agak cepat menuju rumahnya, kalau bisa mungkin dengan gerakan secepat mungkin yang tetap terlihat alami. Eva Ingin segera sampai rumahnya. Namun, Ketika hendak melangkah kakinya, terdengar percakapan Winar dan Sesil yang masih bisa tertangkap jelas oleh indra pendengarannya.
“Siapa, Win? Manis jugamya. Tapi lebih cantuik aku kaan….” terdengar suara Sesil bertanya. Nada suaranya berbisik, tapi di sore yang sepi itu, bisikan tersebut terdengar begitu benderang di telinga Eva . Karena Namanya disebut, Eva mencoba melambatkan langkah kakinya.
Dari dalam pagar rumah, terdengar suara Winar.
“Oh, itu tetangga. Rumahnya yang persis di samping masjid itu,” jawab Winar terdengar santai, disusul suara pintu rumah yang terbuka.
Lalu, terdengar suara tawa kecil. Suara tawa milik Sesil. Tawa yang terdengar sangat ringan, namun entah kenapa terasa sangat menyengat bagi Eva. Ada nada meremehkan yang tipis—atau mungkin itu hanya perasaan tidak aman Eva saja yang sedang bermain-main dengan logikanya?
Begitu sampai rumah. Eva menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Dia bersandar di balik pintu kayu tersebut, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Dada sebelah kirinya berdenyut dengan ritme yang tidak beraturan.
Untuk menghilangkan penat dan galau hatinya, Eva mencoba mandi. Setelah mandi badan Eva terasa segar dan ringan dan dilanjut dengan solat ashar.
Pukul lima sore adalah waktu di mana daerah tempat tinggal mereka biasanya mulai bernapas lega setelah seharian dipanggang matahari. Anak-anak kecil mulai berlarian di lapangan yang terletak tepat di seberang rumah Eva. Beberapa ibu-ibu tampak duduk-duduk di teras rumah masing-masing, menikmati angin sore yang berembus perlahan.
Eva memutuskan untuk duduk di teras rumahnya. Dia menggenggam secangkir teh hangat yang kepulannya sudah mulai hilang, berusaha menikmati semilir angin untuk mendinginkan kepalanya yang sejak siang tadi terasa penuh.
Namun, semesta tampaknya sedang ingin menguji ketahanan mental seorang Eva sore itu.
Dari kejauhan, di seberang lapangan berumput hijau tipis itu, dua sosok berjalan beriringan. Winar dan Sesil.
Winar sudah berganti pakaian dengan kaos polos hitam yang pas di badannya, sementara Sesil mengenakan kaus putih santai dan celana jins pendek yang memamerkan kakinya yang jenjang dan putih bersih. Mereka tampak sangat serasi. Gaya berjalan mereka berdua memancarkan aura orang kota yang penuh rasa percaya diri—bebas, santai, dan sangat intim. Mereka tampak sedang mengobrolkan sesuatu yang sangat seru, terlihat dari gestur tubuh . Sesil yang sesekali tertawa lepas sambil menunjuk ke arah jalan raya utama di ujung lapangan. Winar terlihat seperti biasa. Terlihat agak jaim tapi tetap memberikan reaksi atas ucapan yang keluar dari mulut Sesil.
Eva mengunci pandangannya pada pasangan itu. Ada rasa penasaran yang menyiksa, yang menahan matanya untuk tidak berpaling.
Lalu, sebuah insiden kecil terjadi.
Jalan setapak di pinggir lapangan itu memang agak tidak rata karena akar pohon peneduh yang menyembul ke permukaan tanah. Entah disengaja atau tidak, tiba-tiba saja tubuh Sesil terlihat oleng. Langkah kakinya tampak tersandung sesuatu. Dia mengeluarkan pekikan kecil yang cukup nyaring hingga terdengar samar ke seberang lapangan.
Dengan refleks yang sangat cepat—refleks seorang laki-laki yang selalu siap melindungi—tangan Winar terjulur ke depan. Dia meraih lengan Sesil, menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh tersungkur ke tanah. Tubuh mereka sempat merapat selama beberapa detik. Jarak yang begitu tipis hingga Eva bersumpah dia bisa merasakan debaran canggung di antara mereka dari tempatnya duduk.
Setelah memastikan Sesil berdiri dengan tegak kembali, Winar tidak melepaskan tangannya begitu saja.
Winar justru menurunkan genggamannya dari lengan ke telapak tangan Sesil. Jari-jari mereka bertautan. Sesil tampak mendongak, menatap Winar dengan senyum manis yang sangat manja, dan Winar membalasnya dengan anggukan kepala yang seolah berkata, “I’ve got you.”
Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang tampaknya menuju ke minimarket di ujung jalan, berjalan beriringan, dengan jemari yang saling mengunci satu sama lain. Begitu santai, begitu natural, seolah pamer kemesraan tipis-tipis di depan umum seperti itu adalah hal paling biasa yang dilakukan pasangan muda mudi yang sedang dilanda asmara..
Di teras rumahnya, Eva merasakan seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak habis.
Hati Eva berdebar kencang. Kali ini bukan debaran manis seperti saat Winar menatapnya dalam-dalam di dalam mobil, melainkan debaran dingin yang menyakitkan. Ada rasa panas yang mengalir deras dalam darahnya, membuat telapak tangannya mendadak dingin. Rasa cemburu? Kecewa? Atau merasa dikhianati oleh sebuah harapan yang bahkan belum sempat dia utarakan?
“Itu anaknya Bu Hilmi ya, Va?”
Suara lembut itu tiba-tiba membuyarkan lamunan menyakitkan Eva. Eva tersentak, menoleh ke samping dan mendapati mamanya.—Mama—sudah berdiri di sana sambil membawa sepiring pisang goreng hangat. Tatapan Mama juga mengarah ke seberang lapangan, tepat ke arah dua sosok yang kini sudah mulai menjauh di ujung jalan.
“Eh… iya, Ma. Itu bang Winar,” jawab Eva, berusaha sekuat tenaga menjaga nada suaranya agar tetap stabil dan tidak bergetar.
Mama meletakkan piring di meja kecil, lalu ikut duduk di kursi rotan di sebelah Eva. Matanya menyipit, mengamati punggung Winar dan Sesil yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan.
“Oh… mungkin itu pacarnya kali ya, Va? Cantik ya, putih bersih gitu orangnya. Kelihatan anak orang kayanya, cocok disandingkan sama Winar yang sekarang penampilannya sudah makin sukses, Kelihatan cocok lah. Sama- sama kerja kantoran dan kayanya dari orang berada juga ya” gumam Mama dengan nada bicara yang sangat polos, tanpa ada maksud menyakiti sama sekali.
Pacarnya kali ya, Va.
Kalimat itu bergaung berulang-ulang di kepala Eva seperti beduk masjid yang dipukul keras-keras. Hadeeuuuuh… Perasaan di dalam dada Eva rasanya makin tidak keruan. Ada rasa sesak yang bertumpuk dengan rasa gengsi yang tinggi. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan mamanya sendiri, tapi di sisi lain, dadanya rasanya ingin meledak tapi dia hanya bisa tersenyum kecut, meneguk teh hangatnya yang kini terasa hambar sama sekali di lidah.
Ketika satu pintu terasa tertutup rapat dan menyakitkan, terkadang pintu lain yang tidak kita inginkan justru terbuka lebar-lebar dengan paksa.
Romi adalah seorang pria yang yang dikenalkan oleh teman Eva di sekolah. Sudah beberapa bulan ini gencar melakukan pendekatan. Romi bekerja sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan swasta terkemuka. Dia tampan, mapan, sangat percaya diri, dan memiliki gaya bicara yang selalu terdengar meyakinkan—tipe pria yang tahu persis bagaimana cara menggunakan pesonanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Masalahnya hanya satu: Eva tidak memiliki percikan rasa sedikit pun untuk Romi.
Romi sudah berkali-kali mengajaknya jalan, mulai dari sekadar makan malam, menonton bioskop, hingga datang ke acara pameran seni akhir pekan. Namun, Eva selalu memiliki seribu satu alasan yang sangat santun untuk menolaknya. “Maaf, Mas Romi, akhir pekan ini aku harus mengoreksi ujian anak-anak.” “Maaf, mas Romi, badanku kurang fit.” “Maaf, mas Romi, ada acara keluarga.” Eva berpikir Romi akan perlahan mundur setelah menerima begitu banyak penolakan halus. Tapi ternyata, dia salah menilai tingkat kegigihan pria itu.
Malam Minggu pun tiba. Malam di mana Winar dijadwalkan akan berangkat ke Kalimantan keesokan paginya. Pikiran Eva benar-benar kacau seharian. Dia ingin sekali mengirim pesan pada Winar, sekadar mengucapkan selamat jalan atau menanyakan apakah barang bawaannya sudah siap. Tapi bayangan tangan Winar yang menggenggam erat jemari Sesil kemarin sore itu selalu datang menghantui, membunuh setiap keberanian yang tersisa dalam dirinya.
Di tengah perang batin itu, ponsel Eva bergetar di atas meja kamar. Nama Romi terpampang di layar.
Eva menghela napas panjang sebelum menggeser tombol hijau. “Halo,mas Romi?”
“Halo, Eva! Selamat malam Minggu,” suara Romi terdengar sangat bersemangat di seberang telepon, diiringi suara latar musik kafe yang samar-samar. “Kamu lagi sibuk enggak?”
“Malam, mas Romi. Enggak terlalu sih, cuma lagi santai aja di kamar. Ada apa ya?”
“Nah, pas banget! Gini, Va, aku kebetulan lagi ada di daerah dekat rumah kamu nih. Lagi mampir ke rumah temenku, si Dimas, yang ternyata rumahnya cuma beda kelurahan dari tempat kamu,” ujar Romi dengan nada suara yang terdengar sangat kebetulan yang direncanakan. “Pikirku, mumpung udah tanggung dekat banget gini, aku mau mampir sebentar ke rumah kamu ya? Boleh kan? Cuma sebentar kok, mau ngobrol bentar.”
Eva langsung panik. Otaknya berputar cepat mencari alasan baru. “Aduh, mas Romi… tapi ini udah jam delapan malam. Kurang enak sama tetangga kalau bertamu malam-malam begini.”
“Ah, tenang aja, Va. Kita ngobrol di teras aja santai, lagian kan cuma sebentar. Masa tetangga sedekat itu nggak boleh mampir? Aku udah di jalan nih, lima menit lagi sampai ya. Sampai ketemu!”
Klik.
Telepon ditutup sepihak sebelum Eva sempat menyusun kalimat penolakan yang lebih tegas. Eva menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk antara kesal dan pasrah. Pria ini benar-benar tahu cara mempersempit ruang geraknya. Dengan enggan, Eva bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya, dan mengganti baju santai rumahannya dengan kulot panjang hitam dan kaus lengan panjang berwarna pastel yang sopan namun kasual.
Lima menit kemudian, suara deru mobil honda HR-V hitam milik Romi terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah Eva.
Eva melangkah keluar menuju teras. Malam itu udara terasa agak lembap. Lapangan di seberang rumah tampak sepi, hanya ada beberapa pemuda yang mengobrol di kejauhan. Ada satu detail yang malam itu membuat suasana terasa berbeda: lampu taman di seberang jalan yang biasanya menerangi area depan pagar rumah Eva ternyata sedang mati. Kegelapan merayap tipis, menyisakan area depan rumah Eva dalam kondisi remang-remang yang hanya diterangi oleh lampu teras yang sengaja tidak terlalu terang.
Romi turun dari mobilnya dengan senyum lebar yang sangat percaya diri. Dia mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker yang tidak dikancingkan dua bagian atasnya, memamerkan kalung perak tipis di lehernya. Penampilan yang sangat maskulin dan trendi.
“Malam, Va. Kamu kelihatan manis banget malam ini, padahal cuma di rumah,” puji Romi langsung begitu kakinya menapak di teras rumah Eva.
“Malam,mas Romi. Bisa aja mas Romi. Silakan duduk,” jawab Eva sesopan mungkin, menunjuk ke arah dua kursi kayu di teras.
Romi duduk dengan gaya yang sangat santai, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain. Dia segera membuka obrolan dengan sangat lancar. Harus diakui, Romi adalah tipe pembicara yang ulung. Dia tahu cara membaca situasi, pandai mencari topik yang sedang viral di media sosial, dan menyajikannya dengan bumbu komedi yang pas.
“Kamu tahu nggak berita yang lagi ramai soal tren investasi baru itu, Va? Banyak banget yang ketipu karena tergiur return cepat. Padahal kalau dipikir pakai logika sehat…” Romi mulai bercerita panjang lebar, lengkap dengan gestur tangan yang ekspresif.
Eva mendengarkan sambil sesekali mengangguk dan tersenyum tipis. Tapi sejujurnya, fokusnya tidak ada di sana. Pikirannya melayang bebas, melompati pagar rumahnya menuju beberapa rumah diseberang sana. Tadi kata bu RT yang lewat depan rumah Winar, sempat terlihat tampak agak sunyi namun lampunya menyala terang. Apakah Winar sedang mengemas barang-barangnya? Apakah dia sedang bersama Sesil sekarang?
“Eh, Va, kamu kok kayak melamun gitu? Kurang menarik ya topiknya?” tanya Romi tiba-tiba, memajukan tubuhnya sedikit ke depan untuk mencari perhatian penuh dari mata Eva.
“Ah, enggak kok, mas Romi. Menarik banget. Aku cuma agak kurang fokus aja karena tadi siang lumayan capek di sekolah,” sanggah Eva cepat, merasa tidak enak hati karena ketahuan tidak menyimak.
,
Eva mencoba membalas ucapan Romi dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Dia menopang dagunya dengan tangan, matanya menatap Romi dengan pandangan yang bagi orang luar mungkin terlihat seperti tatapan penuh minat dan malu-malu—padahal itu hanyalah topeng kebingungan karena Eva sedang memikirkan cara paling sopan untuk menyuruh Romi pulang tanpa menyinggung perasaannya.
Namun, posisi duduk mereka yang dekat hanya terhalang diantara meja kecil berisi minuman dan kue, di bawah temaram lampu teras yang minim, menciptakan ilusi visual yang sangat berbeda bagi siapa pun yang melihat dari kejauhan.
Terutama bagi seseorang yang baru saja melangkah keluar dari rumah menuju rumah Eva.
Winar melangkah keluar dari pintu rumahnya dengan perasaan yang campur aduk karena dia akan berangkat esok hari.
Koper besarnya sudah rapi di dekat pintu masuk, siap diangkut besok pagi pukul delapan. Semua dokumen pekerjaan sudah aman di dalam tas ranselnya. Secara profesional, Winar siap 100%. Dia merasa percaya diri dengan proyek besar ini. Tapi secara personal, ada satu urusan yang mengganjal di dadanya seperti duri yang tidak bisa dicabut.
Eva.
Winar tahu dia sudah mengabaikan gadis itu selama dua hari terakhir. Alasan pekerjaan memang nyata, tapi keputusannya untuk membawa Sesil mampir ke rumahnya kemarin sore karena Sesil memaksa ingin ikut kerumah Winar untuk melihat kesiapan apakah barang dan berkas yang mereka butuhkan sudah siap untuk dibawa. Akhirnya kepikiran iseng dibenak Winar yang memiliki motif terselubung yang kekanak-kanakan. Winar ingin melihat bagaimana reaksi Eva. Winar ingin tahu apakah ada rasa cemburu di mata gadis itu ketika melihatnya bersama wanita lain yang tidak kalah menarik.
Tindakan menopang tubuh Sesil di seberang lapangan kemarin sore itu sebenarnya pure dilakukan tanpa sengaja. Benar- benar tanpa sengaja. Dia tahu Eva sering kali duduk di teras pada jam-jam tersebut. Winar tidak ada niat sedikitpun untuk menunjukkan bahwa dia kini sudah memiliki kekasih dan ingin memamerkan kekasihnya. Sesil memang cantik. Sesil memang cewe yang menggoda dan sering mengejarnya. Ide kerumah Winar itu juga adalah dari Sesil Dia berusaha ingin memastikan barang-barang dan berkas -berkas yang akan diperlukan Winar sudah dikemas dengan baik. Winar kali ini tak dapat menolak, permintaan Sesil.
Namun sekarang, menjelang keberangkatannya ke Kalimantan, rasa kebersamaan dengan Sesil kemarin sore itu menguap begitu saja, digantikan oleh rasa rindu dan bersalah yang mendalam. Winar ingin berpamitan secara baik-baik. Dia ingin melihat mata teduh Eva dan mendengar ucapan “Hati-hati di jalan ya,bang Winar,” yang selalu bisa menenangkan hatinya.
Dengan langkah mantap, Winar berjalan menyusuri jalan setapak di depan rumahnya, berniat menyeberang menuju gerbang rumah Eva.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti di batas kegelapan jalan yang lampunya mati.
Mata Winar menyipit, mencoba menembus keremangan malam yang menyelimuti teras rumah Eva. Di sana, di bawah cahaya kuning redup lampu teras, Eva tidak sedang sendirian.
Ada seorang pria di sana.
Pria itu berpenampilan sangat rapi, duduk dengan posisi yang sangat santai dan dominan di hadapan Eva. Dan yang membuat darah Winar mendadak mendidih adalah bagaimana cara Eva menatap pria itu. Dari sudut pandang Winar yang berdiri di kegelapan, Eva tampak sedang mendengarkan pria itu dengan kepala yang sedikit dimiringkan, menopang dagu, dan melempar senyum manis yang sangat lembut—jenis senyum yang biasanya hanya diberikan Eva kepadanya saat mereka sedang mengobrol intim di dalam mobil pagi hari.
Eva terlihat begitu malu-malu, begitu menikmati percakapan itu, seolah-olah dunia di sekitar mereka sudah runtuh dan hanya menyisakan mereka berdua.
“Siapa cowo itu?” batin Winar berteriak. Rasa percaya diri yang biasanya dia miliki mendadak runtuh berkeping-keping dalam hitungan detik.
Winar merasa dadanya sesak oleh kombinasi rasa cemburu yang membakar, keresahan yang tidak menentu, dan rasa tidak enak hati yang luar biasa. Dia yang awalnya berniat datang sebagai seorang pemenang yang akan pergi berjuang ke luar pulau, kini justru merasa seperti seorang pecundang yang tidak lagi memiliki tempat di hati gadis yang selama ini dia jaga dalam diam.
Rasa gengsi yang tinggi melarang Winar untuk melangkah lebih jauh. Dia tidak ingin mengacaukan “momen bahagia” Eva dengan pria barunya. Dengan perlahan, Winar mundur beberapa langkah ke dalam kegelapan, berbalik arah, dan berjalan kembali menuju rumahnya dengan bahu yang tampak sedikit layu.
Di dalam rumahnya yang sunyi, Winar menatap kopernya dengan perasaan hampa yang teramat sangat. Besok pagi jam delapan dia akan berangkat ke Kalimantan bersama Sesil dan tim lainnya. Proyek besar menantinya. Kesuksesan finansial dan karier sudah di depan mata.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Winar menyadari bahwa keberhasilan sebesar apa pun di luar sana akan terasa hambar jika tidak ada rumah hangat yang menunggunya pulang dengan penuh rindu. Dan rumah hangat itu, tampaknya, kini sudah memiliki tamu baru yang siap menggantikannya.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 8 – Pamit Yang Tertinggal Di Remang Malam
Sorry, comment are closed for this post.