KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 3 – Backstreet Tragedy

    Bab 3 – Backstreet Tragedy

    BY 20 Mei 2026 Dilihat: 5 kali
    Backstreet Tragedy_alineaku

    Dunia SMA itu ibarat panggung sandiwara yang naskahnya ditulis sama takdir yang lagi moody. Di SMA Pelita Bangsa, semua orang tahu siapa Priyan—si cowok tenang dengan sorot mata yang sulit dibaca—dan semua orang tahu siapa Lily, si ketua geng “The Roses” yang punya pengaruh sekuat magnet. Tapi, ada satu bab rahasia yang terkunci rapat dari mata publik: Kisah kasih antara Priyan dan Eva.

     

    Eva adalah antitesis dari hiruk-pikuk sekolah. Dia lembut, puitis, dan punya senyum yang cuma ditujukan buat Priyan. Hubungan mereka itu backstreet bukan karena mereka malu, tapi karena Priyan merasa dunianya yang rumit nggak pantas mengusik ketenangan Eva. Mereka punya semesta sendiri di pojok perpustakaan atau di balik pesan-pesan singkat jam dua pagi.

     

    “Aku cuma mau jaga apa yang kita punya, Va. Dunia luar itu berisik,” kata Priyan suatu sore, sambil menggenggam tangan Eva di bawah meja kantin yang tertutup taplak panjang.

     

    “Aku ngerti, Yan. Asal hati kita nggak ikutan berisik,” jawab Eva tulus.

     

    Namun, ketenangan itu hanyalah calm before the storm.

     

    Lily bukan tipe cewek yang terbiasa mendengar kata “tidak”. Sebagai ketua geng paling berpengaruh, apa pun yang dia mau, harus jadi miliknya. Dan saat ini, target radar Lily adalah Priyan.

     

    “Gila sih, si Priyan itu vibes-nya mahal banget. Dingin-dingin empuk,” celetuk salah satu anggota geng Lily saat mereka nongkrong di rooftop.

     

    Lily menyesap minumannya, matanya menyipit menatap Priyan yang berjalan di lapangan basket. “Dia bakal jadi milik gue. Liat aja.”

     

    Teman-teman Lily, yang lebih mirip pasukan tempur daripada sahabat, mulai melancarkan aksi. Mereka nggak main kasar, tapi main halus yang bikin gerah. Setiap Priyan lewat, mereka bakal teriak-teriak memuji Lily di depan Priyan. Mereka sengaja mengatur agar Priyan selalu sekelompok dengan Lily dalam tugas sekolah. Bahkan, mereka mulai menyebarkan narasi kalau Lily dan Priyan adalah couple goals masa depan.

     

    Awalnya, Priyan nggak menghiraukan. Baginya, Lily cuma gangguan sinyal dalam radarnya yang selalu mengarah ke Eva. Tapi, tekanan itu konsisten. Lily mulai mendekati Priyan dengan cara yang sangat “anggun”—membawakan bekal, membantunya saat latihan basket, hingga curhat soal masalah keluarganya yang (entah benar atau tidak) terdengar sangat menyayat hati.

     

    Perlahan tapi pasti, benteng pertahanan Priyan retak. Bukan karena cinta, tapi karena rasa sungkan, rasa kasihan, dan gempuran opini publik yang terus menyudutkannya untuk “memberi kesempatan” pada Lily.

     

    Eva mulai merasakan ada yang nggak beres. Priyan yang biasanya cepat membalas pesan, kini bisa hilang berjam-jam tanpa kabar. Saat berpapasan di koridor, Priyan malah membuang muka atau pura-pura sibuk dengan ponselnya.

     

    “Yan, nanti pulang bareng?” tanya Eva lewat pesan singkat.

    “Maaf, Va. Ada urusan sama anak-anak basket. Kamu duluan aja,” balas Priyan singkat. Dingin.

     

    Eva terdiam di depan lokernya. Hatinya mencelos. Dia mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, Gue salah apa ya? Apa gue terlalu nuntut? Apa kata-kata gue ada yang nyakitin dia?

     

    Eva memutar kembali memori beberapa minggu terakhir. Dia yakin betul, dia selalu berusaha jadi pendengar yang baik buat Priyan. Dia nggak pernah menuntut hal-hal aneh. Dia mencintai Priyan dengan seluruh kesederhanaannya. Nggak mungkin gue nyakitin orang yang paling gue sayang, batinnya perih.

     

    Icha, sahabat karib Eva yang punya insting detektif, mulai curiga. “Va, ini kayanya ada yang nggak beres deh. Priyan itu kayak orang yang lagi di-brainwash. Gue bakal cari tahu ada apa sebenarnya di balik sikap dia yang mendadak berubah jadi es kutub itu.”

     

    Beberapa hari sebelumnya, Lily sempat mendatangi Eva. Sebuah pertemuan yang terasa sangat janggal. Karena selama ini Lily ga pernah ada interaksi komunikasi dengannya. Paling ketemu cuma saling senyum atau Cuma say Hello.  Lily menatap Eva dengan tatapan menyelidik, seolah ingin menguliti rahasia di balik mata bening Eva. Membuat hati Eva bertanya-tanya. Kok tumben ya sekali ngobrol langsung nanyain pacar.

     

    “Eh, Va. Gue denger-denger lo deket ya sama seseorang? Siapa sih pacar lo? Kasih tahu dong, biar kita sesama cewek bisa saling jaga,” tanya Lily dengan nada manis yang dibuat-buat.

     

    Eva saat itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Nggak ada siapa-siapa kok, Ly.”

     

    Kini, Eva sadar bahwa pertanyaan itu adalah sebuah ancaman tersembunyi. Ternyata Lily menaruh hati pada Priyan dan ingin memilikinya. 

     

    Puncaknya terjadi siang itu. Setelah jam istirahat berakhir, Eva dan Icha kembali ke kantin karena Eva merasa sangat haus dan ingin membeli minuman dingin. Suasana kantin sudah mulai sepi, hanya ada beberapa suara denting piring di kejauhan dari arah dapur. Mba Ratmi dan anak buahnya sedang membereskan meja kantin dan mencuci piring kotor.

     

    Saat mereka melangkah masuk, langkah Eva mendadak kaku. Paru-parunya seolah berhenti berfungsi. Jantungnya berdegup sangat kencang tidak seperti biasanya. Tangannya tiba-tiba terasa dingin.

     

    Di sudut kantin yang agak gelap, di bawah temaram lampu yang belum dimatikan, ada dua orang. Priyan dan Lily.

     

    Priyan sedang memeluk Lily dengan sangat erat. Tangannya bergerak perlahan, membelai rambut dan mencium pipi Lily dengan gerakan yang sedikit mesra—gerakan yang belum pernah dilakukan pada dirinya . Boro- boro dipeluk apalagi dicium,  pegangan tangan aja seingatnya baru 2 kali. Bersama dirinya, Priyan Tidak pernah melakukan hal seberani ini.  Kini, Didepan matanya, Lily tampak menyandarkan kepalanya di bahu Priyan, terlihat begitu manja dan tidak merasa canggung.

     

    PRANG!

     

    Bukan, itu bukan suara piring pecah. Itu suara hati Eva yang hancur berkeping-keping.

     

    Eva terpaku di tempatnya. Matanya memanas, pandangannya mengabur oleh air mata yang siap tumpah. Icha yang ada di sampingnya langsung menutup mulut karena kaget. Icha mengumpat sumpah serapah dalam hatinya. Melihat kelakuan Priyan terhadap Lily. Kurang ajar. Ga nyangka Priyan berbuat seperti itu. 

     

    “Priyan…?” suara Eva nyaris tidak terdengar, tapi di ruangan sesepi itu, suara itu terdengar seperti ledakan. 

     

    Priyan tersentak. Dia melepaskan pelukannya dan menoleh dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Matanya bertemu dengan mata Eva yang penuh luka. Lily, di sisi lain, hanya memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis, seolah ingin berkata, Gue bilang juga apa, dia milik gue sekarang. Siapa dulu gue.. Lily sang ketua geng The Roses. Seng ga ada lawan gitu loh….

     

    Eva nggak sanggup lagi berdiri di sana. Dia berbalik dan lari sekuat tenaga, mengabaikan teriakan Icha dan panggilan lirih Priyan yang sudah terlambat.

     

    “Dasar brengsek lo!” Icha menatap Priyan tajam.

     

    Kemudian Priyan berlari mengejar Icha menuju toilet. Ia berdiri terpaku. Semua sudah terjadi. Alasan yang dia sampaikan pasti tidak akan diterima oleh Eva dan juga sahabatnya Icha. Karena kejadian singkat tadi benar-benar nyata dia lakukan dan disaksikan oleh Eva dan Icha. Priyan menelan air ludahnya. Pahit.

     

    Dunia Eva runtuh. Dia baru sadar bahwa dalam perang intrik remaja, ketulusan seringkali kalah oleh taktik yang licik. Dan yang paling menyakitkan bukan hanya fakta bahwa Priyan bersama Lily, tapi fakta bahwa Priyan membiarkan dirinya “dikalahkan” oleh tekanan itu dan mengkhianati semesta kecil yang mereka impikan  Bersama.

     

    Intrik itu menang. Lily mendapatkan apa yang dia mau. Tapi bagi Priyan, dia baru saja kehilangan satu-satunya hal nyata dalam hidupnya yang penuh kepura-puraan.

     

    Di dalam toilet, Eva menangis ditemani Icha sahabatnya. Eva nangis bukan cuma karena dikhianati. Eva nangis karena dia merasa bodoh banget.

     

    Eva merasa bodoh karena selama ini dia ngerasa paling special, ngerasa cintanya cukup buat bikin Priyan setia. Eva bodoh karena setiap kali Icha atau teman-teman lain ngasih kode kalau Priyan main belakang, Eva selalu ngebela Priyan dan selalu bilang, “Priyan nggak kayak gitu, dia beda.”

     

    Ternyata Priyan sama aja. Bahkan lebih parah, karena dia mainin peran sebagai “cowok baik-baik” di depannya, sementara di belakang, dia menikmati perhatian dari Lily dan gengnya.

     

    “Gue kurang apa, Cha?” tanya Eva ke Icha. “Gue berusaha selalu ada buat dia. Gue jaga rahasia serapat mungkin hubungan gue sama dia karena itu maunya dia. Ternyata, rahasia itu cuma cara dia buat bisa selingkuh tanpa ketahuan.”

     

    Icha mencoba menenangkan Eva sahabatnya. Dia memeluk Eva dan mencoba menguatkan hatinya yang sedang kacau. “ Udahlah Eva. Untung hubungan lo sama Priyan kan juga belum jauh. Udahlah masih banyak cowok ganteng dan keren yang naksir lo. Udah ga usah dipikirin banget. Ntar malah lo yang jadi sakit. Cuekin aja!”

    Eva menangis sesenggukan. Sedih. Karena cinta pertamanya berakhir begitu cepat dan begitu tragis. Terjadi didepan matanya. Setelah Eva  mencoba meredakan tangis dan mencoba menata hatinya, Eva dan Icha Kembali ke kelas mereka.

     

    Beberapa hari setelah kejadian itu, Priyan coba menemui Eva. Dia nunggu di gerbang sekolah, dia kirim ratusan pesan permintaan maaf. Dia bilang dia terpaksa, dia bilang dia nggak enak sama temen-temen Lily yang selalu nekan dia, dia bilang dia sebenernya sayang gue tapi dia “terjebak” sama pengaruh Lily.

     

    Eva cuma baca pesan-pesan itu dengan perasaan datar.

     

    Dulu, mungkin Eva bakal luluh. Mungkin Eva bakal bilang, “Iya, aku ngerti, kita coba lagi ya.” Tapi sekarang? Rasa sakit itu udah membunuh bagian dari diri gue yang penuh percaya itu.

     

    “Yan,” kata Eva saat akhirnya mereka bicara untuk terakhir kalinya di depan gerbang. “Nggak ada orang yang ‘terjebak’ dalam pelukan orang lain kalau dia emang nggak mau. Lo punya pilihan buat nolak, tapi lo lebih milih buat khianatin gue.”

     

    “Va, tolong… aku sayang banget sama kamu. Lily itu cuma status, hati aku di kamu,” dia mencoba memohon, matanya kelihatan tulus. Tapi ketulusan itu sekarang terasa kayak racun buat Eva.

     

    “Hati lo di gue, tapi tangan lo di rambut dia? Hati lo di gue, tapi lo biarin gue ngerasa kayak orang tolol di depan semua orang? Enggak, Yan. Sayang itu bukan bikin orang yang lo cinta ngerasa sehina ini.”

     

    Eva  meninggalkan Priyan yang masih berdiri di pintu gerbang. Meskipun dada Eva masih terasa perih tiap kali lihat dia di koridor, meskipun dia harus nahan air mata tiap kali denger lagu yang sering mereka denger bareng, gue tahu satu hal: Gue nggak mau balik lagi.

     

    “Gue mungkin bodoh karena pernah percaya sama Priyan. Eva mungkin terlalu polos dalam mencintai. Tapi gue nggak akan jadi orang bodoh untuk kedua kalinya dengan memberikan kesempatan pada orang yang sudah menghancurkan harga diri gue di depan mata gue sendiri”, batin Eva dalam hati.

     

    Sekarang, biarlah Lily memiliki Priyan dengan segala intriknya. Dan biarlah Priyan terikat pada cintanya yang penuh kepalsuan itu. Gue? Gue mau pulang ke diri gue sendiri. Memulihkan luka yang dia buat, dan belajar bahwa mencintai seseorang itu penting, tapi mencintai diri sendiri itu jauh lebih utama.

     

    Luka ini memang dramatis, kepedihan ini memang nyata. Tapi dari sini gue belajar, kalau cinta yang tulus nggak akan pernah membiarkan pasangannya bertanya-tanya sendirian di tengah kegelapan. Dan Priyan… dia bukan lagi “semesta” gue. Dia cuma sekadar pelajaran pahit yang pernah mampir dalam hidup gue.

     

     

    Kreator : Siti Muspirah  ( Fira Khairil )

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 3 – Backstreet Tragedy

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021