Dua tahun itu ternyata bukan waktu yang sebentar, tapi kalau urusan perasaan, waktu kadang suka main kucing-kucingan. Sekarang, Eva bukan lagi bocah SMP yang hobi kuncir dua asal-asalan. Dia sudah jadi siswi SMA. Gadis remaja yang cantik alami walaupun tidak memakai skincare seperti teman-teman lainnya. Waktunya begitu padat digunakan untuk belajar dan sibuk dengan urusan ekskul. Eva terpilih menjadi koordinator Paduan suara di sekolahnya. Di sisi lain, Winar sudah naik level jadi mahasiswa. Jaket almamaternya sering tersampir di bahu, wajahnya kadang kelihatan ditekuk, namun tidak mengurangi ketampanannya gara-gara tugas laporan yang tak kunjung usai. Sepintas wajah Winar itu mirip dengan penyanyi era tahun 90-an, Yana Julio. Ganteng dan manis. Cowok Batak yang wajahnya lembut dan memiliki garis wajah orang sabar.
Lucunya, dunia mereka itu sebenarnya cuma selemparan batu. Jarak antara SMA Eva dan kampus Winar itu tak sampai dua kilometer—paling cuma 1,5 km kalau ditarik garis lurus. Tapi ya itu, frekuensi mereka buat beneran ngobrol itu kayak sinyal di basement: kadang muncul,namun tiba-tiba lowbat bahkan seringnya hilang begitu saja.
Pertemuan di Bus Sore Itu
Sore itu langit Jakarta lagi warna jingga agak butek karena polusi, tapi udara di dalam bus kota AC ini lumayan adem. Winar sudah duduk manis di deretan kursi tengah, tas ranselnya dipangku. Matanya lagi fokus ke layar HP, ngecek grup WhatsApp angkatannya yang lagi ribut bahas jadwal praktikum besok.
Bus berhenti di halte depan sebuah SMA. Sekelompok siswi dengan seragam putih abu-abu naik sambil ketawa-ketiwi berisik. Salah satunya adalah Eva. Dia naik bareng dua temannya, sambil sibuk ngebahas soal latihan untuk Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional ( FLS3N )yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Mereka ngebahas kekompakan suara dan kostum yang akan mereka pakai pada ajang lomba tersebut.
“Untuk lomba nanti, suara udah oke lah ya. Kira-kira kita mau pake kostumnya kaya gimana?” tanya Eva sambil pegangan ke tiang bus, tidak jauh dari tempat kursi Winar.
“Kalo bisa sih yang gak usah banyak variasi warna. Jangan sama kaya kostum nari. Biar keliatan elegan gituu.” Lusi menimpali pertanyaan Eva sambil nyengir.
Winar yang merasa ada suara familiar langsung mendongak. Pandangan mereka bertemu. Cuma sekejap. Satu detik, dua detik.
Winar tertegun. “Gadis itu lagi.”
Ada rasa yang aneh dalam dada Winar. Semacam rasa familiar yang hangat, tapi juga bikin deg-degan. Dia ingat betul siapa Eva. Tetangga beda beberapa blok yang dulu sering dia lihat, tapi sekarang tampilannya jauh lebih fresh, kulitnya kuning langsat. Wajahnya cantik alami dengan bedak yang tipis menempel di wajahnya.
Sedangkan Eva, Dia cuma mengerjapkan mata sebentar, lalu mengalihkan pandangan wajahnya lagi ke arah temannya. Di dalam kepalanya, Eva cuma membatin.
“Kayaknya cowok itu rumahnya deket rumah gue deh. Siapa ya namanya? Ah, ga tau deh.”
Bagi Eva, Winar cuma sekelebat memori masa lalu yang nggak punya urgensi buat diingat. Nggak ada getaran, nggak ada baper-baperan. Pikirannya saat itu cuma penuh sama satu nama: Priyan, Sang pujaan hati. Cinta pertama yang dia rasakan saat ini.
Priyan adalah alasan kenapa Eva semangat bangun pagi. Cowok itu anak IPA, tipikal murid teladan yang kelihatannya kaku tapi sebenarnya asik kalau diajak ngobrol soal logika.
Dia jago banget matematika, jenis orang yang kalau lihat angka x2 +y2 =r2, langsung kepikiran lingkaran, bukan pusing duluan.
Eva ambil jurusan IPS. Pelajaran matematika dari sejak SMP memang agak kurang. Bukan ga bisa. Bisa. Tapi kalo udah pake rumus-rumus … bikin dia sedikit keder. Makanya Eva bahagia banget bisa ketemu dengan cowok ganteng, pinter lagi matematikanya. Bisa bantuin Eva ngerjain tugas matematika yang diberikan gurunya.
“Eva, besok mau belajar bareng lagi di perpustakaan?” tanya Priyan lewat pesan singkat malam itu.
Eva yang lagi rebahan di kamar langsung guling-guling nggak jelas. “Mau banget!” jawabnya dalam hati, tapi jempolnya mengetik dengan gaya sok asik.
“Boleh, jam berapa? Kebetulan ada materi logaritma yang gue masih agak stuck.”
Hubungan Eva dan Priyan itu ibarat grafik fungsi linear yang naik terus. Stabil dan manis. Priyan sering pinjam catatan, Eva sering bawa bekal camilan. Walau tidak secara terang-terangan hubungan Eva dengan Priyan, tapi teman-teman dekat mereka sudah sering nge-cie-ciein mereka di koridor. Ya. Hanya beberapa teman dekat mereka saja yang tau hubungan mereka berdua. Eva dan Priyan sepakat untuk tidak memamerkan hubungan yang baru mereka jalin ini.
Winar dan Realita Mahasiswa
Sementara Eva lagi asik main drama remaja SMA, Winar lagi berjuang sama realita hidup mahasiswa. Dia sering banget satu bus sama Eva tanpa cewek itu sadari. Winar sengaja milih jam pulang yang barengan sama anak sekolah, cuma buat bisa lihat Eva dari jauh.
“Woy, Nar! Bengong aja lo. Naksir anak SMA ya?” celetuk Dimas, teman sekampus Winar saat mereka lagi di kantin.
Winar tersedak es tehnya. “Apaan sih. Nggak lah.”
“Halah, mata lo tuh nggak bisa bohong. Tiap ada bus lewat, lo pasti nyariin seseorang. Move on, Bro! Di kampus banyak mahasiswi yang lebih mateng,” goda Dimas sambil ketawa.
Dimas sahabat Winar. Pada Dimas lah Winar bisa curhat isi hatinya. Itu juga karena Dimas sering meledek Winar. Karena di kampus ada beberapa teman Wanita yang bertanya pada Dimas. Winar udah punya pacar belum. Dimas sering jawab. Tanya aja langsung sama orangnya. Saat disampaikan pada Winar tentang pertanyaan dari teman Wanita di kampusnya itu, Winar hanya tersenyum. Winar sebenarnya memang agak pendiam. Namun didalam hati dan pikirannya hanya ada satu wajah. Wajah seorang gadis dengan tatapan mata yang indah. Gadis tetangga rumahnya. Eva.
Winar cuma senyum tipis. Masalahnya bukan soal “matang” atau nggak. Ada sesuatu tentang Eva yang bikin Winar merasa tenang. Cara Eva ketawa bareng teman-temannya, cara dia fokus baca buku di bus,tatapan matanya yang indah, itu semua jadi hiburan tersendiri buat Winar di tengah tekanan tugas kuliah yang gila-gilaan.
Tapi Winar juga tahu diri. Dia tahu Eva nggak pernah ngelirik dia. Dia tahu posisi dia di mata Eva cuma sekadar “cowok yang kayaknya rumahnya dekat dengan rumahnya”.
Insiden di Kedai Kopi
Suatu Sabtu sore, takdir mutusin buat main-main lagi. Eva dan Priyan lagi hangout di sebuah kedai kopi hits yang letaknya di antara kampus Winar dan sekolah Eva. Mereka duduk di pojokan, sibuk bahas soal-soal olimpiade (iya, kencan mereka se-nerd itu).
“Pri, kalau yang ini caranya gimana?” tanya Eva sambil nunjuk soal integral.
Priyan mendekat, jarak mereka jadi cuma beberapa senti. “Jadi gini, Va. Lo harus substitusi dulu nilainya…”
Di saat yang sama, pintu kedai kopi kebuka. Winar masuk bareng teman-teman organisasinya. Mereka mau rapat dadakan. Mata Winar langsung menangkap sosok Eva di pojokan. Tapi hatinya mencelos waktu lihat ada cowok di samping Eva yang kelihatannya dekat banget.
Winar mencoba bersikap biasa aja. Dia memesan Americano tanpa gula—pahitnya pas sama suasana hatinya saat itu.
“Eh, itu bukannya si Eva ya?” bisik salah satu teman Winar yang juga tetangga mereka, namanya Rian.
“Iya,” jawab Winar singkat.
“Sama cowoknya ya? Wah, serasi sih. Cowoknya keliatan pinter,” lanjut Rian tanpa dosa.
Winar cuma bisa nahan napas. Dia milih buat duduk membelakangi meja Eva. Dia nggak mau merusak suasana hati Eva dengan kehadirannya yang nggak diundang itu.
Perasaan yang Kontras
Bagi Eva, sore itu sempurna. Dia merasa Priyan adalah sosok yang tepat. Pintar, sabar, dan selalu ada buat dia. Dia merasa saat ini dunia terasa begitu indah. Hari-harinya penuh ceria dan semangat berangkat ke sekolah karena ada sang pujaan hati disana dan juga teman-teman yang mendukungnya.
Sedangkan bagi Winar, sore itu adalah pengingat kalau dia sudah tertinggal jauh. Dia merasa seperti penonton di barisan paling belakang dalam film kehidupan Eva. Dia punya perasaan, tapi dia nggak punya akses. Winar berusaha menenangkan perasaan hatinya, ,perasaan yang berkecamuk, bergelora di dalam hatinya. Apa daya.. hatinya sudah begitu terpaut dengan pesona gadis remaja pujaan hatinya, tetangga rumahnya, Eva.
Kreator : Siti Muspirah ( Fira Khairil )
Comment Closed: BAB 2 – Dua detik Yang Biasa Saja
Sorry, comment are closed for this post.