KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » 180 Malam yang Tak Pernah Ada

    180 Malam yang Tak Pernah Ada

    BY 15 Nov 2025 Dilihat: 77 kali
    180 Malam yang Tak Pernah Ada_alineaku

    Pada suatu waktu yang tidak mungkin dikenang, di sebuah sudut realitas yang tidak masuk dalam peta dimensi manapun, Zayn Rayan (Keindahan Gerbang Surga) sedang duduk di teras sunyinya, menatap hening yang menggenang di dalam gelas kopinya. Angin tak bergerak. Burung tidak berkicau. Waktu melengkung seperti pita Möbius*. Saat itulah langit tidak pecah, namun membelah. Cahaya hitam yang menetes dari celahnya berpendar dalam warna-warna yang tak pernah ditemukan oleh retina manusia—warna-warna yang berbisik.

     

    Dan dari celah itu turunlah Maharaja Jin, penguasa semesta tak terpetakan, pemegang hak paten atas segala absurditas dan rahasia yang belum di mimpikan. Tubuhnya seperti asap yang mengenakan mahkota dari waktu yang belum lahir. Wajahnya kabur, namun matanya bisa dilihat dari berbagai dimensi sekaligus.

     

    Maharaja tidak menyapa. Ia langsung berkata:

     

    “Engkau telah menyelamatkan sebutir partikel debu dari kehancuran melalui darah seorang pembunuh yang terbunuh saat mencoba mengunyah ular naga peliharaanku. Debu itu mainanku waktu kecil. Dan aku senang.”

     

    Zayn Rayan menatap hening dalam pikirannya. Ia tidak mengerti, namun ia mengerti bahwa ia tidak harus mengerti. Ia hanya menjawab, “Apa yang engkau inginkan dariku?”

     

    “Tidak, kali ini aku yang memberi,” ucap Maharaja sambil mengulurkan segulung energi yang berdenyut seperti nadi kosmos.

    Isinya adalah uang. Tepat 1500 triliun. Dalam mata uang universal yang hanya berlaku dalam perhitungan metafora dan pengharapan.

     

     

    Zayn Rayan si Pemikir Tanpa Sekat

    Zayn Rayan tidak terkejut. Otaknya sudah terbiasa dengan kejadian-kejadian yang ditolak oleh logika. Ia menyimpan semua nalar dalam lemari, dan hari itu ia memilih mengenakan pakaian ide yang longgar. Pikirannya melayang, merancang sebuah keputusan yang akan menyentuh air, lumpur, dan kesadaran kolektif.

    “Jika uang ini berasal dari absurditas, maka ia harus kembali dalam bentuk kebermanfaatan yang melampaui batas waktu dan ruang,” gumamnya. Lalu ia berkata pada Maharaja, “Aku akan membersihkan semua sungai, danau, pantai, dan laut di Jabodetabek. Dalam 180 hari. Tanpa penolakan. Tanpa kompromi. Tapi aku butuh Jin-jinmu.”

    Maharaja Jin tertawa. Tertawanya menghasilkan awan dan arwah-arwah kucing yang mendengkur. “Kabul.”

     

     

    180 Malam yang Diperpanjang Waktu

    Sejak malam itu, malam tidak lagi berdurasi 12 jam. Waktu diseret. Jam 00.00 hingga 05.00 menjadi lipatan-lipatan waktu yang dikhususkan bagi para Jin pekerja. Para manusia, termasuk yang paling keras kepala, jatuh tertidur dalam damai yang dirancang Maharaja.

    Jin-jin bekerja tanpa suara. Mereka menurab sungai dengan material bintang jatuh yang dibungkus tekad. Material itu tidak hanya kuat, tapi juga memiliki kesadaran. Ia akan membersihkan air secara otomatis, menangkap polutan dalam bentuk puisi, dan melarutkan sampah menjadi bunga.

    Danau berkilau seperti memori yang dimandikan. Laut mencerminkan masa depan yang berwarna bening. Pantai menyanyikan lagu-lagu pengampunan. Para Jin bekerja dalam formasi yang teratur, seperti orkestra pembersihan semesta.

    Mereka tak hanya bekerja dengan alat. Mereka bekerja dengan mantra. Setiap gerakan adalah doa. Setiap doa adalah partikel cahaya yang menghapus noda-noda yang tak hanya tampak, tapi juga yang menyembunyikan diri dalam dimensi kesedihan kolektif.

     

     

    Laboratorium Imajinasiku

    Zayn Rayan tidak tidur. Ia terjaga selama 180 hari dengan mata batin terbuka. Ia mencatat. Ia mencipta. Ia mengatur jalannya hukum legalitas yang tidak mungkin. Semua pejabat menandatangani dokumen tanpa sadar. Tidak ada korupsi. Tidak ada tender fiktif. Tidak ada markup. Karena semua tanda tangan dilakukan dalam dimensi kejujuran yang hanya bisa dibuka dengan mantra Maharaja.

    Zayn Rayan berpikir: Mengapa manusia tidak bisa memutuskan untuk bersih? Mengapa kotoran dianggap normal? Apakah mereka lupa bahwa air adalah cermin dari jiwa?

    Dan ia menuliskan kalimat yang kelak akan tertanam di setiap dinding digital pengolah sampah:

    “Seperti juga kehidupan, sungai, danau, pantai, laut adalah kehidupan. Bila Anda mengotori atau merusak kehidupan, Anda pantas mati.”

     

     

    Hari ke-180: Dunia Berubah Namun Tidak Tahu

    Pekerjaan selesai. Tidak ada yang tahu bagaimana. Manusia hanya terbangun pada hari ke-181 dan dunia berubah. Sungai seperti jantung yang berdetak dalam harmoni. Danau seperti mata para nabi. Laut seperti napas para penyair.

    Udara selalu wangi. Melati. Sereh. Kamboja. Kenanga. Pinus. Semua menyatu seperti tubuh yang tak terlihat namun terasa. Wangi itu tidak pernah hilang, sebab ia bukan bau, melainkan kenangan masa depan.

    Setiap sudut memiliki penampang sampah digital. Sampah tidak lagi bau, tidak lagi diam. Ia bicara, memohon untuk didaur ulang. Sistem ini hanya bisa berjalan karena Jin telah memasukkan sebagian kesadaran mereka ke dalam algoritma.

     

     

    Buku Warisan Jin: Kitab Pemurnian Air

    Sebagai akhir perjanjian, masyarakat Jin menyerahkan Buku Pembersihan Total, sebuah kitab dari kertas waktu dan tinta dari air mata meteor. Buku itu tidak bisa dibaca oleh mereka yang berbohong. Tapi di tangan Zayn Rayan, buku itu menyala, dan ia menyalinnya ke dalam 17 bahasa manusia.

    Di halaman pertama tertulis:

    “Air tidak bisa dibersihkan. Ia harus diajak bicara.”

     

     

    APBN Republik ini Membayar Zayn Rayan

    Meskipun seluruh dana berasal dari Maharaja Jin, pekerjaan ini tercatat dalam sejarah manusia sebagai karya Zayn Rayan. APBN diminta membayar. Tapi uang itu tidak pernah ditransfer kepada Zayn Rayan, karena setiap rupiah yang hendak diberikan menguap menjadi benih pohon.

    Pohon itu tumbuh di setiap bantaran sungai. Akarnya menyerap kebohongan. Daunnya mengajarkan kesabaran.

     

     

    Epilog: Kesendirian yang Baru

    Zayn Rayan tidak menjadi kaya. Ia tidak menjadi terkenal. Tapi ia menjadi legenda yang tidak ditulis di buku-buku sejarah.

    Ia kembali duduk di teras sunyinya, menatap hening dalam gelas. Namun kali ini, angin berbisik. Burung bersiul dalam bahasa isyarat. Dan langit tidak membelah, tapi tersenyum.

    Maharaja Jin muncul sekali lagi, hanya untuk mengucapkan:

    “Debuku telah pulang. Dan engkau, wahai manusia, telah menjadi sungai itu sendiri.”

     

     

    Epilog: Dialog Terakhir Jin

    Pada malam ke-181, saat dunia telah bersih seperti halaman pertama kitab suci yang tak pernah dikotori tafsir, Zayn Rayan duduk di sebuah dermaga cahaya di tengah danau yang baru saja mendapatkan kembali namanya: Danau Nurani.

    Angin mengalun seperti seruling kayu. Air mengayun pelan, seolah mendengarkan percakapan langit dan dedaunan. Aroma pinus dan kenanga menari di udara. Zayn Rayan menutup mata. Ia tahu, waktu yang ia tunggu telah datang.

    Seketika, kabut tipis menyusup dari retakan dimensi. Cahaya biru kehijauan mengalun dari danau, membentuk siluet seorang Jin—bukan Maharaja, tapi salah satu arsitek agung di antara para makhluk tak terlihat. Ia memperkenalkan diri sebagai Nafas Kedua, Jin perancang sistem pembersihan perairan dan kesadaran.

    “Zayn Rayan,” ucap Jin itu, suaranya lembut seperti selimut yang menenangkan badai. “Kini saatnya engkau tahu bagaimana semua ini bekerja. Bukan dengan alat. Bukan dengan teknologi. Tapi dengan perubahan makna.”

    Zayn Rayan membuka matanya, menatap Jin itu dengan bening yang telah dipurnakan 180 malam penciptaan.

    “Ceritakan padaku,” ujarnya. “Bagaimana kalian mengubah dunia yang busuk menjadi semesta yang harum? Bagaimana kalian mengubah manusia?”

    Nafas Kedua tersenyum. “Kami tidak mengubah mereka. Mereka yang memilih berubah. Kami hanya memperkenalkan cermin yang jujur.”

    Ia mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya memancar hologram air sungai, danau, laut, dan pantai. Masing-masing mengandung sistem kesadaran: bukan hanya untuk menyaring limbah, tapi juga menyaring niat.

    “Air bukan untuk dicuci. Tapi untuk mencuci,” kata Jin itu. “Kami mengajarinya berbisik kepada manusia. Setiap kali mereka membuang sesuatu ke sungai, air akan mengulanginya sebagai gema perasaan. Bila mereka membuang marah, air akan membalas dengan ketenangan. Bila mereka membuang ketamakan, air akan menampilkan kemiskinan mereka dalam bayangan. Sampai manusia tak tahan melihat dirinya sendiri.”

    “Jadi air adalah guru?” tanya Zayn Rayan.

    “Lebih dari itu,” jawab Nafas Kedua. “Air adalah rekaman batin kolektif. Kami hanya membantunya berbicara.”

    Ia merenung. Ia teringat saat pertama kali mengunjungi muara Ciliwung yang waktu itu menjadi makam plastik dan minyak hitam. Kini, muara itu menjadi tempat anak-anak bermain sembari memetik bunga air yang tumbuh dari kesadaran bersih.

    “Lalu bagaimana manusia berubah tabiatnya?” tanyanya lagi.

    Jin itu menarik langit malam, seakan menggulung kanvas waktu, dan menunjukkan Zayn Rayan gambaran hati manusia dalam bentuk pohon.

    “Setiap manusia kami beri satu biji harapan, ditanam di dalam dirinya sendiri. Tapi hanya mereka yang mengenali bau surga-lah yang menyiraminya. Mereka mulai merasa malu jika melihat sungai kotor. Malu adalah pintu kesadaran pertama. Lalu mereka mencintai air. Cinta adalah pintu kedua.”

    Zayn Rayan tersenyum. “Dan pintu ketiga?”

    “Adalah ketika mereka tahu bahwa mencintai bumi bukan hanya bentuk ibadah ekologis, tapi cara mengajukan aplikasi menuju surga sejati.”

    Tiba-tiba langit berubah warna. Aurora metafora menyelimuti bintang-bintang. Semua pohon bergetar pelan, seperti menyambut sesuatu.

    Zayn Rayan berdiri. “Aku paham sekarang. Surga bukan hadiah. Tapi efek samping dari hidup yang benar.”

    Jin itu menunduk. “Tepat sekali. Dan kami para Jin, yang dahulu hanya dianggap pembisik setan, kini memilih menjadi arsitek harapan. Kami menyalin kasih menjadi sistem, mantra menjadi mesin, dan doa menjadi data. Kami tidak menghapus kesalahan manusia—kami memberi mereka cermin dan waktu.”

    Ia menghampiri Zayn Rayan, lalu menyerahkan sebuah bola bening seukuran kepalan tangan.

    “Ini adalah Inti Kebersihan Abadi. Ia bukan alat. Tapi keputusan. Letakkan di mana engkau mau. Ia akan menciptakan koloni cahaya—yang akan terus berkembang bila manusia terus memilih untuk sadar.”

    Zayn Rayan menerima bola itu. Hangat. Seperti detak jantung yang baru pertama kali merasakan arti dari degupnya sendiri.

    Lalu ia bertanya untuk terakhir kalinya, “Mengapa kalian, para Jin, peduli pada bumi?”

    Nafas Kedua menjawab lirih, “Karena kami pun sedang belajar. Kami ingin masuk surga, tapi surga tidak menerima makhluk yang membiarkan dunia rusak. Bumi adalah ujian semua makhluk berakal, termasuk kami.”

    Hening. Tak ada angin. Tapi seluruh daun bertepuk tangan.

    Zayn Rayan mengangguk. “Maka kita semua kini satu aliansi. Pembersih semesta.”

    “Dan pembangun harapan,” tambah Jin itu.

    Kemudian tubuh Nafas Kedua larut menjadi air, menyatu kembali ke danau Nurani. Zayn Rayan menatap bola bening di tangannya. Ia tahu, tugasnya belum selesai. Tapi kali ini, ia tidak sendiri.

    Ia berjalan menuju dermaga. Di belakangnya, jejak langkahnya menumbuhkan lumut cahaya.

    Langit pun berbisik, “Surga itu diciptakan, bukan ditemukan.”

    Dan malam itu, bumi tak lagi merasa kesepian.

     

     

    Tamat.

    *Pita Möbius adalah sebuah permukaan topologi dengan satu sisi dan satu batas.Pita ini dibuat dengan menempelkan ujung-ujung pita persegi panjang setelah salah satu ujungnya diputar setengah putaran. Ia memiliki sifat-sifat unik seperti hanya memiliki satu sisi dan tetap utuh saat dibelah di tengah.

     

     

    Kreator : Mariza

    Bagikan ke

    Comment Closed: 180 Malam yang Tak Pernah Ada

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021