Menyulam adalah salah satu hobiku. Sekitar 1978, saat aku masih duduk di kelas III sekolah dasar, aku sudah gila menyulam. Setiap kali melihat sulaman di sarung bantal, taplak, atau yang lainnya pasti rasanya aku sudah kemecer dan tanganku mulai terasa gatal kepengen menyulam saja. Orang pertama yang mengenali passion-ku ini tiada lain dan tiada bukan adalah Papaku tersayang.
Aku ingat, betapa koleksi benang sulamku sangat beragam merk dan warnanya. Ada benang sulam cap Payung dan DMC (yang benangnya berwarna sembur itu). Koleksi midangan-ku pun beragam dari ukuran kecil, tanggung, hingga yang besar. Juga jarum sulam yang berpuluh jumlahnya. Semua itu, Papa yang membelikan dan mencukupinya untukku.
Aku juga masih ingat, kalau aku sowan ke rumah Eyang Tardjo di Walikota Mustajab, selalu ada sarung bantal baru yang Eyang pasang untuk menghiasi kursi sofa Eyang. Motif sulamannya selalu tampak cantik dan indah di mataku. Maklum, itu sarung bantal dari luar negeri yang Eyang beli saat beliau rihlah ke Eropa. Kalau tak salah, sarung bantal itu made-in Inggris, Belanda, atau Jerman. Cantik pokoknya. Sayang, aku sudah tak menyimpannya lagi.
Betapa Papa paling tahu betapa saat itu aku sibuk menelan ludah demi melihat sulaman di sarung bantal dengan motif kembang beraneka warna yang keren abis itu. Lalu, dengan tenang Papa akan mengeluarkan kertas HVS putih dan pulpen dari dalam tas kerjanya. Tak lama kemudian, Papa duduk di kursi lalu sibuk menggambar pola sulaman sarung bantal yang sudah sukses membuat tanganku gatal ingin segera menyulam.
Maka, sudah bisa dipastikan, esok hari akan ada kegiatan insidentil bagi Papa, yaitu menggambar pola sulaman itu pada kain errow warna hitam atau krem yang selalu ada dalam kotak sulamanku. Selanjutnya, hari-hariku akan menjadi hari-hari yang menyenangkan karena aku akan sibuk dengan kegiatan menyulam di sela-sela jam belajar dan membaca. Papa selalu mengatakan bahwa sulamanku bagus seperti mesin. Walau hanya beberapa variasi tusuk sulam yang aku kuasai, tetapi sudah cukup lumayan bagi anak seusia 9 tahun dengan karya sulaman sarung bantal waktu itu.
Masih kuingat pula dengan baik, bahwa Papalah yang rajin membawa hasil karya sulamanku ke tukang pigura untuk membingkai hasil sulamanku. Ada sulaman berjudul ‘Burung Merak’ dan ‘Kembang di Keranjang’ yang aku sulam dengan memanfaatkan media sisir rambut. Betapa bangganya aku ketika Mama memajang pigura karya sulamanku itu untuk menghiasi dinding ruang tamu dan ruang makan. Paa, Maa, terima kasih untuk support kalian atas passion menyulamku ini. Sungguh, apa yang telah kalian lakukan, sangat berarti bagiku dalam mengenali dan menemukan passion menyulamku dan memberi perlakuan yang tepat sehingga aku dapat menghasilkan berbagai karya yang bernilai.
Kreator : Maryam Damayanti Payapo
Comment Closed: 8. Suporter Paling Jempolan
Sorry, comment are closed for this post.