Penulis : Kak Dicky (Member KMO Alineaku)
Saat itu masih pagi. Aku melihat rekan kerjaku terlihat sedih. Tommy, namanya. Namun ia sadar aku sedang memperhatikannya. Tapi dengan cepat ia mengusap air matanya, seolah tidak terjadi sesuatu. Mungkin ia tidak mau ada yang mengetahui masalahnya. Mungkin.
Aku mencoba untuk bertanya akan tetapi karena jam kerja sudah dimulai maka aku tunda niat itu. Mencoba menanyakan saat makan siang nanti saja.
Mungkinkah Tommy memiliki masalah sehingga sampai membuatnya begitu sedih hingga mengeluarkan air mata?
Singkat cerita setelah waktunya jam istirahat telah tiba. Aku berinisiatif untuk mengajaknya makan bersama sekaligus menghibur dan mencarikan solusi. Siapa tahu Tommy memerlukan tempat curhat untuk menyelesaikan masalahnya yang telah dihadapinya.
“Tom, bagaimana jika kita makan siang bersama,” ajakku saat itu.
“Tidak perlu, Kawan! Aku hari ini sedang puasa,” jawab Tommy.
“Jangan berbohong! Ayo nanti aku traktir,” ajakku kembali.
“Tidak perlu repot-repot!” tolak Tommy.
“Marilah, Kawan, jangan menolak! Dan jika kau punya masalah cerita saja kan. Bukankah kita sahabat,” pangkasku.
“Baiklah, Kawan!” jawab Tommy
“Nah seperti itu! Ayo kita ke kantin,” ajakku.
Setelah sampai di kantin, aku kembali melihat tatapan mata Tommy seperti tidak bisa menahan kesedihan. Aku berpikir bila ia sedang memikirkan sesuatu. Hingga ia hari ini tidak fokus bekerja.
Akhirnya aku mencoba untuk memberanikan diri bertanya padanya agar bisa mengurangi kesedihan yang Tommy pendam sendiri. Tapi ia masih mengelak dengan mengatakan tidak ada yang terjadi dengan dirinya. Maka aku mencoba untuk meyakinkannya tidak baik bila dipendam suatu masalah malah hanya akan membuat beban di pikiran menjadi bertambah buruk.
Akhirnya Tommy mau juga menceritakan apa yang membuatnya sedih dan ternyata ada kerinduan pada ibunya di kampung. Halnya ibunya pun sama, merasakan kerinduan yang mendalam karena saat Tommy pamit untuk pergi merantau untuk bekerja sampai Ibunya tidak rela dan menangis sejadinya. Mungkin karena hal ini Tommy sangat sedih hingga air matanya menetes keluar.
Tommy saat itu sangat ingin pulang untuk cuti ke kampung halamannya agar bisa melepas rindu pada Ibunya. Tapi di satu sisi ia harus mengerjakan pekerjaan yang sedang menumpuk. Maka dari itu ia menjadi bertambah bimbang. Aku berpikir sejenak untuk mencarikan solusi agar ia bisa pulang.
Sungguh tidak bisa kubayangkan betapa sedihnya, bila hidup merantau sendiri dengan meninggalkan kampung halaman. Demi mencari rezeki agar hidup menjadi lebih baik. Akhirnya aku mendapatkan ide dengan cara membantu Tommy berbicara dengan Pak Roni, atasan kami. Semoga ia dapat mengizinkan Tommy untuk mengambil cuti dan aku akan segera menghadap atasan untuk meminta izinnya.
“Maaf, Pak! Saya ingin menanyakan sesuatu.”
“Iya, apa yang ingin kau tanyakan? Katakan saja!”
“Begini, Pak! Saya mewakili rekan kerja saya, Tommy. Ia ingin meminta cuti karena ingin pulang ke kampungnya.”
“Tetapi apa alasannya?”
“Karena ia sudah lama tidak bertemu orangtuanya jadi ia ingin pulang.”
“Baiklah! Tapi mengapa ia tidak mengatakan sendiri.”
“Karena ia tidak memiliki keberanian meminta izin, Pak.”
“Baik! Aku akan mengizinkannya.”
“Baiklah, Pak! Terima kasih.”
Lalu aku kembali untuk memberitahukan kabar baik ini pada Tommy agar ia bisa mempersiapkan untuk pulang bertemu orangtuanya. Pastinya Tommy akan sangat bahagia sekali ketika tahu kabar ini jadi tidak sabar aku untuk memberitahunya.
“Kawan! Kau jangan bersedih lagi aku ada kabar baik untukmu.”
“Kabar apa, Kawan!”
“Kau telah diizinkan untuk pulang ke kampung halamanmu.”
“Kenapa bisa? Aku saja belum meminta izin.” “Aku mewakili untuk meminta izin dan kau pun di izinkan oleh Pak Rony”“Terima kasih banyak, Kawan! Kau benar-benar rekan kerjaku yang sangat baik!”“Ya, sudah, sama-sama. Terpenting kau bisa pulang kampung menjenguk ibumu.
Tommy rekan kerjaku pun sangat bahagia dan ia menangis haru mendengar kabar dariku. Apalagi ia akan segera pulang dan melepas kerinduan pada ibunya yang telah dua tahun ia tidak pulang. Akhirnya kini setelah ia kembali aku pun sangat bahagia sekali. Mungkin ibunya pun sama menangis setelah lama anak bujangnya itu tidak pulang.
“Naskah ini merupakan kiriman dari peserta KMO Alineaku, isi naskah sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis”
Comment Closed: Airmata
Sorry, comment are closed for this post.