Menjadi seorang guru idealnya adalah panggilan jiwa. Pekerjaan ini menuntut kesiapan lahir dan batin dalam melaksanakan tugasnya. Karena karakteristiknya yang unik, profesi guru membutuhkan kemampuan atau skil khusus yang tidak hanya pintar dalam penguasaan materi, cerdas otaknya, tetapi dituntut punya integritas sebagai teladan yang pantas digugu dan ditiru. Sayangnya seleksi mahasiswa calon tenaga kependidikan di negeri ini hanya mengandalkan kemampuan kognitif saja (apalagi hanya tes pilihan ganda he he…). Mereka hanya melewati saringan lewat tes tertulis untuk menjadi tenaga pendidik yang sejatinya tidak hanya sekedar guru pintar, tetapi juga guru yang memiliki karakter (integritas), uswatun hasanah (teladan atau contoh yang baik) bagi anak didiknya.
Saya masih ingat ketika masih ada SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang waktu itu diproyeksikan untuk tenaga guru SD. Ketika ingin menjadi seorang guru, calon peserta harus memenuhi berbagai macam persyaratan yang ditetapkan oleh panitia penerimaan siswa baru saat itu. Mulai dari tinggi badan, bentuk tulisan tangan serta tes kepribadian. Meskipun hanya setingkat SMA, lulusan SPG cukup memadai untuk menjadi guru SD yang pada tingkat ini, kemampuan yang dituntut guru bukan pada seberapa pandai seorang guru dalam mengajar, tetapi seberapa mampu mereka (calon guru SD) ini memberikan keteladanan, sikap membimbing, melindungi dan memotivasi para muridnya. Impian saya, suatu hari pemerintah dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan menambahkan item-item kepribadian dan hal lain yang relevan dengan tugas keguruan sebagai persyaratan masuk mahasiswa calon tenaga pendidik atau guru.
Ulasan di atas sekedar kilas balik dan bahan evaluasi tentang dunia pendidikan di mana penulis ikut terlibat di dalamnya karena profesinya sebagai guru. Dan fakta menarik yang dialami penulis makin menegaskan bahwa profesi guru memang sangat mulia dan seharusnya hanya diisi oleh orang-orang yang mulia. Sebuah tugas besar dan berat dalam menyiapkan anak bangsa untuk menjadi generasi cakap, terampil, berkeahlian dan juga punya integritas (sikap yang teguh mempertahankan prinsip, dan komitmen untuk berada dalam kebenaran yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral). Maka bagaimana dunia pendidikan dalam mengelola sumber daya manusia saat ini, akan terasa manfaatnya setelah lima belas tahun mendatang ketika mereka telah berkiprah dalam dunia nyata, dunia kerja dan jadi pribadi yang mandiri.
Suatu hari penulis secara tidak sengaja bertemu dengan seorang mantan murid SMP, sebut saja Sholeh. Pertemuan tak sengaja itu meninggalkan kesan mendalam khususnya bagi saya selaku gurunya. Memang benar apa kata guru bijak bahwa jangan menilai siswa-siswi kita pada hari ini ketika mereka masih berproses menuntut ilmu. Mereka masih mungkin berubah menjadi apa yang mereka inginkan. Seakan saya dibukakan mata hatinya bahwa everything is possible. Dari sekadar sapaan sampai dengan pembicaraan serius karena ada topik-topik menarik yang saling kami tanyakan.
“Oiya gimana suasana di tempat kerja, sesuai nda antara ilmu di sekolah dengan di lapangan nyata?”
Mendengar pertanyaan ini, Sholeh seperti terperanjat seakan ingin menumpahkan unek-unek yang ada di hatinya. Kemudian Dia meminta untuk menepi dan duduk agar lebih nyaman dalam menyampaikan apa yang ingin diutarakannya. “Begini pa, sebenarnya ini yang selama ini ingin saya diskusikan, tetapi belum ketemu dengan orang yang tepat. Dulu kan Bapak pernah bilang di kelas bahwa kita harus tetap belajar meskipun sudah tidak sekolah. Dan saya masih ingat, kata bapak, sekolahnya di universitas kehidupan (university of life). “Jelasnya membuka pembicaraan yang lebih serius. Kemudian dia bercerita tentang dunia kerjanya dan lingkungan rekan kerjanya yang belum bisa membuat hatinya tenang. Sebagai lulusan sekolah tinggi ternama yang lulusannya terkena ikatan dinas, di satu sisi dia bersyukur karena dimudahkan mendapatkan pekerjaan dengan cepat setelah lulus kuliah. Namun di sisi lain dia merasakan lingkungan kerjanya kurang kondusif bagi ketenangan batinnya. Sholeh pernah bercerita tentang teman kerjanya yang merupakan seniornya di kantor. Sholeh mengaitkan apa yang pernah penulis sampaikan saat dia di kelas 9 SMP. Dia ingat betul bahwa bersekolah itu untuk mencari ilmu, bukan sekadar mencari nilai. Orang tua pun tidak hanya sekadar meminta anaknya pintar tetapi jadi orang yang benar.
Kegundahan Sholeh terkait dengan kondisi nyata di dunia kerja yang sesungguhnya Dia sedari awal bekerja di bidang yang berkaitan dengan perpajakan, sudah pernah mendapat pesan (wanti-wanti, bahasa jawa) dari orang tuanya dan rekan-rekan seprofesi yang masih punya integritas bahwa ada banyak potensi atau peluang untuk melakukan kecurangan dalam menjalankan tugasnya. Dan situasi ini benar-benar dihadapi oleh Sholeh di tempat kerjanya. Awalnya dia sebagai pegawai baru belum mengetahui seluk beluk dunia kerja di tempat itu. Sampai suatu saat, dia diajak mendampingi penagihan pajak ke suatu perusahaan berskala besar. Dari beberapa kunjungan, Sholeh jadi tahu bagaimana seniornya ini menangani penghitungan pajak. Ada sesuatu yang di luar prosedur atau SOP yang seharusnya. Dan ketika ditanyakan kepada seniornya, dia memang mengakui dan katanya itu sesuatu yang lumrah dan biasa. Dari fakta inilah akhirnya Sholeh mulai menjauhi seniornya ini.
Sebagai orang baru, sulit baginya untuk memberi nasihat atau mengingatkan. Maka Sholehpun mengambil sikap menolak dengan halus ketika diajak menangani klien pajaknya. Dan belakangan Sholeh mulai dijauhi seniornya dan juga teman-teman seprofesi yang memilih jalan pintas ini. Dia berusaha bertahan dengan caranya ini meskipun tidak disukai oleh teman-temannya. Dia berkeyakinan bahwa ini sesuatu yang dilarang dan hasilnya pun dia yakin tidak akan berkah. Rupanya sikap ini dia pertahankan karena dia pernah ingat cerita penulis waktu penulis mengajar di kelas. “Saya masih teringat dengan jelas apa yang pernah Pak Guru ceritakan di kelas tentang pelajaran kehidupan yang sering disisipkan di tengah-tengah pelajaran.” Kenangnya beberapa tahun yang lalu. Sholeh menirukan kalimat bertuah itu: “Kalau kita bekerja dengan kualitas kerja yang bergaji 10 juta, tetapi kualitas pekerjaan kita hanya 5 juta, maka waspadalah, Allah akan mengambil sisanya lewat jalan lain seperti sakit, kehilangan, penggunaan yang sia-sia. Dan sebaliknya, kalau kita bekerja dengan kualitas 10 juta, namun pendapatan kita hanya 5 juta, maka yakinlah, Allah akan menggantinya dalam bentuk lain seperti kesehatan, tentramnya hati, anak-anak yang menyenangkan hati, dilancarkannya urusan kita dan hal lain yang mengandung nilai keberkahan.”
Rupanya makna pernyataan di atas telah membuat Sholeh sedikit berbeda dalam berprinsip etika berhadapan dengan praktik yang mengusik hati nurani ini. Dan menurut cerita Sholeh ada rekan kerja yang juga seniornya, mengambil jalur ‘abu-abu’ dengan mau bersekongkol dengan para wajib pajak. Dan darinya dia tentu mendapatkan tambahan pundi-pundi dari transaksi tersebut. Tetapi ada keanehan pada dirinya yang membuat Sholeh heran sekaligus bertambah yakin akan prinsip yang dipegangnya selama ini. Teman Sholeh ini sering curhat dan ujung-ujungnya malah pinjam uang kepada Sholeh. Setengah tidak percaya, Sholeh sering menanyakan, “Kok bisa mas, kalau dihitung-hitung jumlah pemasukan Mas kan lebih banyak.” Tanya Sholeh setengah keheranan. Sementara yang ditanya tidak bisa menjelaskan. Sholehpun akhirnya mengaitkan dengan pernyataan yang pernah dingatnya ketika perolehan rezeki dari jalan yang tidak halal, maka akan dibelanjakan untuk yang tidak halal juga. Dan ternyata benar, ada kabar dari rekan Sholeh, bahwa selama ini uang hasil suap itu banyak lari ke meja judi online. Inilah contoh ketidakberkahan rezeki. Berapapun banyaknya, ia tidak akan dapat mencukupi keinginan hawa nafsunya. Dan dari kejadian ini, Sholeh semakin yakin dan mantap hidup hanya dengan yang halal dan akan dia jadikan salah satu kurikulum dalam mendidik keluarganya kelak agar mereka menjadi generasi yang sholeh sholehah, ilmunya manfaat dan berkah serta selamat dunia dan akhiratnya. Aamiin.
Profil Penulis
Hidayat Adi Firmanto, pengajar di sebuah SMP di Tegal. Sejak tahun 2021, penulis banyak belajar di Komunitas Menulis yang pernah diikuti. Penulis bisa dihubungi lewat FB Hidayat Adi Firmanto, IG @hidayataf_70 dan email hidayatadifirmanto@gmail.com.
Comment Closed: Antara Aku, Sekolah dan Muridku
Sorry, comment are closed for this post.