KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1 Anak Baru Lagi

    Bab 1 Anak Baru Lagi

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 3 kali
    Anak Baru Lagi_alineaku

    JEJAK MUSIM PANAS

    Bab 1 

    Anak Baru

    Koper itu masih bau pesawat. Alya tahu betul baunya. Campuran samar karpet kabin, udara kering dari pendingin pesawat, plastik pembungkus bagasi, dan sesuatu yang sulit dijelaskan, aroma khas bandara yang selalu membuatnya merasa bahwa hidupnya sedang dimulai ulang. Lagi.

    Koper besar berwarna biru tua itu tergeletak setengah terbuka di lantai kamar barunya. Beberapa kaos masih terlipat rapi di dalamnya, sementara sebuah jaket merah tebal menggantung sembarangan di tepi koper. Alya belum berniat membereskan semuanya. Ia sudah tahu dari pengalaman bahwa membongkar koper terlalu cepat kadang membuat sebuah tempat terasa terlalu permanen. Padahal tidak pernah benar-benar begitu.

    Ia berdiri di depan jendela kamar lantai dua, kedua tangannya bertumpu ringan pada bingkai kayu yang dingin. Dari sana, halaman belakang asrama membentang sampai ke pagar besi hitam yang memisahkan kompleks sekolah dari hutan. Pepohonan tinggi tumbuh rapat di baliknya. Batang-batangnya kurus dan gelap, menjulang seperti tiang-tiang raksasa. Daun yang lebat saling bertaut di atas, menahan sebagian besar cahaya matahari. Bahkan di tengah siang yang cerah, bagian terdalam hutan tampak remang dan dingin, seperti menyimpan malamnya sendiri.

    Alya membuka jendela sedikit. Udara sejuk segera menyelinap masuk. Angin bertiup lembut, menggerakkan tirai putih tipis dan menerbangkan ujung jilbab ungu muda yang membingkai wajahnya. Dari kejauhan terdengar suara burung. Lalu suara dedaunan bergesekan.

    Shhh… shhh…

    Entah mengapa, suara itu terdengar seperti seseorang sedang berbisik. 

    “Jangan terlalu dekat ke sana,” kata Ibu tadi, sambil melipat sajadahnya. Saat itu Alya sedang memasukkan buku-buku ke dalam tas.

    “Kemana?”

    Ibu menunjuk ke luar jendela. “Hutan itu.”

    Alya mengangkat alis. “Kenapa?”

    Ibu terdiam sepersekian detik terlalu lama. 

    “Pokoknya jangan,” sambungnya.

    Alya sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti itu di negara-negara sebelumnya. 

    Jangan pulang terlalu malam. 

    Jangan naik kereta sendirian. 

    Jangan masuk jalan kecil itu. 

    Jangan terlalu percaya orang yang baru dikenal.

    Menurut Alya, orang dewasa memiliki persediaan kata jangan yang tidak pernah ada habisnya. Ia menutup jendela, lalu berdiri di depan cermin kecil di samping lemari. Wajah berkulit kuning langsat menatap balik kepadanya. Mata hitamnya yang besar terlihat sedikit lelah akibat perjalanan panjang kemarin, tetapi tidak ada gunanya mengeluh.

    Ia merapikan jilbabnya sekali lagi. Hari ini ia memilih warna ungu pucat, hampir abu-abu jika terkena cahaya. Tidak terlalu mencolok. Tidak terlalu cerah. Tidak terlalu… berbeda.

    Pengalaman mengajarkan bahwa hal kecil bisa menjadi alasan seseorang menatap terlalu lama. Nama yang sulit diucapkan. Bekal makan siang yang aromanya berbeda. Cara berdoa. Atau, cara berpakaian.

    Alya sudah belajar satu keterampilan penting dari berpindah-pindah negara: Pada hari pertama, jangan memberi orang terlalu banyak alasan untuk bertanya.

    Tiba-tiba—

    Teeeeeng!

    Bel sekolah terdengar dari gedung utama. Alya menatap bayangannya sekali lagi. Hari pertama sekolah.

    Lagi.

    Sekolah itu bernama Northwood International School. Bangunannya tidak terlalu besar dibandingkan sekolah Alya sebelumnya di Jerman. Gedung utamanya terdiri dari tiga lantai, dengan dinding bata merah tua yang tampak sudah berdiri puluhan tahun, tetapi bagian depannya direnovasi dengan panel kaca tinggi dan rangka logam hitam yang membuatnya terlihat modern. 

    Di halaman tengah tumbuh beberapa pohon maple besar. Bangku-bangku kayu ditempatkan di bawahnya, sebagian masih basah oleh embun pagi. Udara terasa sejuk. Langit berwarna biru pucat dengan awan tipis yang bergerak perlahan, sementara sinar matahari jatuh miring di antara bangunan.

    Anak-anak berjalan melewati Alya dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang tertawa keras sambil saling mendorong bahu. Ada yang berjalan sambil menunduk menatap ponsel. Dua anak perempuan berbicara cepat dalam bahasa Prancis. Sekelompok anak laki-laki berjaket olahraga berlari menaiki tangga sambil berteriak satu sama lain.

    Semuanya tampak tahu harus pergi ke mana. Semuanya tampak mengenal seseorang.

    Alya berjalan sendiri. Sepatu putihnya berdetak pelan di lantai koridor.

    Tak. Tak. Tak.

    Ia memegang tali tasnya dengan satu tangan sambil memperhatikan nomor-nomor kelas yang tertempel di dinding. 

    Ia sudah hafal ritual menjadi anak baru. Cari kelas. Pilih bangku tengah, jangan terlalu depan sehingga guru selalu melihatmu, tetapi jangan terlalu belakang sehingga orang mengira kau ingin bersembunyi.

    Jangan terlalu banyak bicara di hari pertama. Perhatikan. Siapa yang ramah. Siapa yang terlalu ramah. Siapa yang dingin. Dan siapa yang sebaiknya dihindari.

    Kelas 7B.

    Alya berhenti. Menarik napas. “Bismillah” bisiknya, Lalu membuka pintu. Suara percakapan di dalam kelas mengecil beberapa tingkat. Tidak sampai hening. Tapi cukup untuk membuat Alya tahu bahwa beberapa pasang mata sedang memperhatikannya.

    Wali kelas mereka, seorang perempuan berkacamata dengan rambut cokelat yang digelung rapi, berdiri di depan papan tulis. “Oh. Kamu pasti Alya.”

    Alya mengangguk.

    Guru itu tersenyum tipis lalu menghadap kelas. “Semua, sebentar. Ini Alya. Keluarganya baru pindah ke sini karena pekerjaan orang tuanya.”

    Hanya itu.

    Alya menahan keinginan untuk menghela napas. Kalimat itu terasa seperti label besar yang baru saja ditempelkan di dahinya.

    ANAK BARU. SERING PINDAH. SILAKAN BERTANYA BERKENALAN SENDIRI KETIKA PELAJARAN TELAH USAI.

    Beberapa murid menoleh. Seorang anak laki-laki berambut pirang gelap di barisan depan mengangkat wajah dari bukunya. Tatapannya singkat dan datar, seolah sedang mencatat keberadaan Alya dalam kepalanya, lalu ia kembali menulis.

    Di barisan sebelah kiri, seorang anak perempuan berambut hitam pendek sebahu tersenyum kecil kepadanya. Senyumnya hangat, meski hanya sesaat. Sementara itu, seorang anak laki-laki berkacamata bulat di pojok belakang bahkan tidak mengangkat kepala. Jemarinya sibuk menggambar sesuatu di pinggir buku catatan.

    “Silahkan duduk di sana,” kata guru sambil menunjuk sebuah bangku kosong. 

    Alya berjalan melewati deretan meja. Ia bisa merasakan beberapa mata mengikutinya. Ia duduk, meletakkan tas di lantai, lalu menghembuskan napas perlahan. Bismillah, bisiknya dalam hati. Bukan karena takut. Lebih karena berharap. Semoga kali ini mudah. Semoga kali ini ada teman. Semoga tiga bulan tidak terasa terlalu panjang.

    ——-

    Waktu istirahat selalu menjadi bagian paling sulit. Pelajaran punya aturan. Ada guru. Ada buku. Ada sesuatu yang harus dikerjakan. Sedangkan waktu istirahat tidak begitu.

    Di kantin Northwood, suara ratusan percakapan bercampur dengan bunyi sendok, nampan, kursi yang bergeser, dan mesin minuman yang berdengung tanpa henti. Aroma kentang goreng, saus tomat, roti panggang, dan sup hangat memenuhi udara.

    Meja-meja panjang tersebar di seluruh ruangan. Dan seperti di semua sekolah yang pernah Alya datangi, meja-meja itu sudah terbagi meskipun tidak ada satu pun garis yang digambar di lantai. Ada yang duduk berdasarkan bahasa. Ada yang berdasarkan klub olahraga. Ada yang berdasarkan kebiasaan. Dan ada yang duduk bersama hanya karena mereka sudah mengenal satu sama lain sejak bertahun-tahun lalu.

    Alya membuka tas kecilnya dan mengeluarkan kotak bekal. Ia selalu membawa bekal di hari pertama. Itu salah satu aturan pribadinya. Cara paling aman untuk menghindari kebingungan tentang makanan yang boleh ia makan, bahan yang tidak ia kenal, atau pertanyaan panjang kepada petugas kantin ketika antrean di belakangnya semakin panjang.

    Ia menemukan meja kosong di dekat jendela.

    Ya sudah.

    Makan sendiri bukan hal baru. Alya baru saja menarik kursi ketika sebuah suara ceria terdengar dari belakang.

    “Kamu Alya, kan?”

    Alya berbalik. Anak perempuan berambut pendek yang tadi tersenyum kepadanya berdiri di sana. Dari dekat, Alya bisa melihat bintik-bintik freckles tipis di sekitar hidungnya. Rambut hitam kecokelatan dipotong sedikit tidak rata di ujung, dan sebuah gelang kain berwarna-warni melingkari pergelangan tangan kirinya.

    “Aku Mira,” katanya. “Kamu mau duduk bareng?”

    Untuk pertama kalinya hari itu, bahu Alya terasa sedikit lebih ringan. Ia tersenyum.

    “Boleh.”

    Mira langsung menarik kursi tanpa keraguan sedikit pun, seolah mereka memang sudah berencana makan bersama sejak pagi.

    Ia membuka kotak makanannya. Di dalamnya ada pasta, potongan wortel, dua buah stroberi, dan sesuatu yang tampak seperti telur tetapi berwarna terlalu cokelat untuk disebut telur biasa.

    “Kamu dari mana sebelumnya?” tanya Mira sambil menusuk pastanya dengan garpu.

    Alya tertawa kecil.

    Tentu saja,  “Pertanyaan favorit semua orang.” kata Alya pelan. Alis hitamnya terangkat sedikit, bulu matanya yang lebat mengerjap beberapa kali sebelum senyum tipis muncul di wajahnya. 

    Mira berhenti mengunyah. “Oh. Maaf.”

    “Tidak apa-apa.” Alya tersenyum lebar dan tertawa kecil. “Jerman.”

    “Wah.” Mira berhenti mengunyah dan menatap Alya dengan mata sedikit membesar.

    “Sebelumnya Turki.”

    Alis Mira terangkat lebih tinggi.

     

    “Sebelumnya lagi…” Alya mencoba menghitung dalam kepala, lalu menyerah. “Ya… banyak.”

    Mira mengangguk perlahan. Anehnya, tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya.

    “Aku juga,” katanya. “Ayahku diplomat.” Ia mengangkat kedua tangannya seperti sedang menyerah.

    “Kita seperti koper berjalan.”

    Alya terdiam sesaat. Lalu tertawa. Bukan tawa sopan yang ia gunakan ketika bertemu orang baru. Tawa sungguhan.

    Koper berjalan?

    “Yup. Dipindahkan setiap beberapa tahun. Kadang bahkan belum hafal jalan ke supermarket, sudah disuruh pindah lagi.”

    Alya masih tertawa ketika sebuah bayangan jatuh di atas meja mereka. Seorang anak laki-laki berdiri sambil membawa nampan makan siang. Tubuhnya tinggi untuk anak seusianya, rambut cokelatnya sedikit berantakan seperti tidak pernah benar-benar disisir, dan sebuah headphone besar menggantung di lehernya.

    “Boleh gabung?”

    Mira menunjuk kursi kosong dengan garpunya. “Jonas. Ini Alya.”

    Jonas duduk. Ia memandang Alya selama sekitar dua detik.

    “Anak baru lagi.”

    Alya menunggu nada mengejek. Tidak ada. Cara Jonas mengatakannya terdengar seperti seseorang sedang mengumumkan cuaca.

    Hari ini berawan.

    Besok mungkin hujan.

    Ada anak baru lagi.

    Alya mulai menyukai itu.

    ——–

    Pelajaran terakhir hari itu adalah sains. Ruang laboratorium berada di sisi paling belakang gedung sekolah. Sisi yang menghadap langsung ke hutan.

    Meja-meja hitam panjang memenuhi ruangan, masing-masing dilengkapi keran kecil dan wastafel logam. Lemari kaca di sepanjang dinding berisi tabung reaksi, gelas ukur, model kerangka manusia, serta beberapa stoples berisi benda-benda yang Alya sengaja tidak perhatikan terlalu lama. Bau alkohol dan bahan pembersih samar-samar memenuhi udara.

    Pintu terbuka. Mr. Hargreeve masuk dengan langkah cepat. Ia tinggi dan sangat kurus. Kemeja putihnya dimasukkan rapi ke dalam celana abu-abu, tetapi salah satu lengan bajunya tergulung sedikit lebih tinggi daripada yang lain. Rambutnya yang mulai menipis disisir ke belakang, dan wajahnya memiliki garis-garis tajam yang membuatnya tampak lebih tua ketika sedang serius.

    Yang paling diperhatikan Alya adalah matanya. Mata abu-abu yang bergerak cepat. Ke papan tulis. Ke murid-murid. Ke jam. Ke jendela. Lalu kembali ke kelas. Seolah-olah ia selalu menghitung sesuatu.

    “Buku halaman dua belas,” katanya.

    Tidak ada salam. Tidak ada perkenalan. Tidak ada senyum. Suara halaman buku di balik hampir bersamaan.

    Alya membuka bukunya. 

    Mr. Hargreeve mulai menjelaskan tentang struktur sel, tetapi Alya beberapa kali memperhatikan caranya berbicara. Cepat. Terlalu cepat. Dan entah mengapa… tegang. Setiap beberapa menit, matanya melirik ke arah jendela. Jendela yang menghadap hutan.

    Menjelang akhir pelajaran, cahaya sore mulai berubah keemasan. Bayangan ranting-ranting pohon bergerak perlahan di kaca.

    Kemudian—

    KRAK!

    Suara keras terdengar dari luar. Seperti ranting besar patah. Beberapa murid langsung menoleh. Alya ikut melihat ke jendela. Pepohonan bergoyang pelan tertiup angin.

    Tidak ada apa-apa.

    “Itu dari hutan,” bisik seseorang dari belakang.

    Mr. Hargreeve membeku. Hanya sesaat. Tetapi Alya melihatnya. Guru itu berjalan cepat ke jendela dan—

    Srrrt!

    Ia menarik tirai sampai tertutup rapat. Ruangan seketika menjadi lebih gelap.

    “Fokus ke depan,” katanya. Suaranya lebih keras daripada yang diperlukan. Kelas menjadi sunyi. Mr. Hargreeve kembali ke mejanya.

    Alya menatapnya. Ada sesuatu yang mengencang di dadanya. Bukan takut, belum. Lebih seperti sebuah alarm kecil dalam pikirannya yang baru saja menyala.

    Ia mengenal reaksi orang ketika terganggu. Ia mengenal reaksi orang ketika marah. Dan karena bertahun-tahun hidup di tempat-tempat baru, Alya menjadi cukup pandai mengenali reaksi orang ketika mereka berusaha menyembunyikan sesuatu, dan yang tadi itu bukan reaksi normal.

    ——-

    Sepulang sekolah, Alya berjalan bersama Mira dan Jonas menuju gerbang utama. Matahari sudah lebih rendah. Cahaya sore berwarna keemasan menyapu dinding bata Northwood dan membuat bayangan mereka memanjang di trotoar. Angin berhembus lebih dingin daripada pagi tadi. Ujung jilbab Alya berkibar lembut di bahunya.

    Di sebelah kanan mereka, di balik pagar besi, hutan membentang dalam diam. Alya menoleh ke sana. Semakin sore, pepohonan itu terlihat semakin rapat. Semakin gelap.

    “Kamu lihat hutan itu?” tanya Jonas tiba-tiba.

    Alya menoleh kepadanya. “Iya. Kenapa?”

    Jonas berhenti berjalan. Mira ikut berhenti. Suara anak-anak lain perlahan menjauh menuju gerbang. Sesaat kemudian, hanya suara angin dan dedaunan yang terdengar.

    Jonas menatap ke arah pepohonan. Wajahnya yang biasanya datar kini terlihat berbeda. Lebih serius.

    “Musim panas lalu,” katanya pelan, “ada murid yang meninggal di sana.”

    Alya membeku. Angin kembali bertiup. Kali ini terasa lebih dingin.

    “Apa?”

    “Katanya kecelakaan,” lanjut Jonas. “Tapi sejak itu, kepala sekolah melarang semua orang masuk ke hutan.”

    Mira yang sejak tadi diam menelan ludah. “Aku baru dengar.”

    Jonas menoleh kepadanya. “Karena sekolah tidak suka membicarakannya.”

    “Memangnya apa yang terjadi?” tanya Alya.

    Jonas mengangkat bahu. “Tidak ada yang benar-benar tahu.”

     Ia kembali memandang hutan. “Atau tidak ada yang mau cerita.”

    Alya mengikuti tatapannya. Di antara batang-batang pohon, cahaya sore hanya mampu masuk beberapa meter sebelum ditelan bayangan.

    Tiba-tiba dia teringat Mr. Hargreeve. Suara ranting patah. Tirai yang ditutup terburu-buru. 

    Fokus ke depan.

    “Dan ada satu hal lagi,” kata Jonas.

    Alya menoleh. 

    Jonas menatapnya lurus. “Kepala sekolah berhenti.”

    Mira mengernyit. “Berhenti?”

    “Mendadak.”

    “Kapan?”

    “Dua minggu lalu.”

    “Kenapa?”

    Jonas mengangkat bahu lagi. “Tidak ada yang tahu.”

    Angin berhembus di antara pepohonan. Daun-daun bergerak pelan.

    Shhh… shhh…

    Kali ini Alya benar-benar merasa seperti mendengar bisikan. Ia menatap hutan itu lebih lama. Pagar besi. Pepohonan gelap. Bayangan yang bergerak di antara ranting. Murid yang meninggal. Kepala sekolah yang pergi mendadak. Dan guru sains yang tampak ketakutan hanya karena suara ranting patah.

    Pagi tadi, hutan itu hanya bagian dari pemandangan kamar barunya. Sekarang tidak lagi.

    Untuk pertama kalinya sejak tiba di negara ini, Alya tidak hanya merasa seperti anak baru. Ia merasa sedang berdiri di awal sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang selama ini mungkin sengaja disembunyikan.

    Dan masalahnya, Alya tahu satu hal tentang dirinya sendiri. Ia tidak pandai membiarkan pertanyaan tanpa jawaban.

    Tatapannya masih tertuju pada hutan ketika Mira menyentuh lengannya.

     “Ayo. Sudah sore.”

    Alya mengangguk. 

    Mereka kembali berjalan menuju gerbang. Namun setelah beberapa langkah, Alya menoleh sekali lagi. Di balik pagar, dedaunan terus bergoyang ditiup angin. Seolah hutan itu sedang menunggunya. Dan Alya tiba-tiba teringat sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi juga jauh lebih mendesak.

    Ia tidak punya banyak waktu. Karena dalam tiga bulan, Ia akan pergi lagi.

     

     

    Kreator : Vifta Indrawati

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1 Anak Baru Lagi

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021