BAB 1: PINTU KAYU YANG BERDERIT
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan biasa. Hujan yang dinginnya sampai ke tulang.
Hujan yang membuat orang lebih memilih mati kedinginan di dalam rumah daripada basah di luar.
Tio sudah tiga hari tidak makan.
Tas di punggungnya kosong. Isinya cuma surat yang tidak pernah dikirim dan batu kecil yang dipungut dari jalan. Katanya buat jimat. Padahal dia tahu jimat tidak mengenyangkan.
Dia tersesat.
Katanya kalau jalan lurus ke utara akan ketemu desa. Tapi semua jalan di hutan ini melingkar. Pohonnya sama. Tanahnya sama. Bahkan suara gagak di atas kepalanya juga sama.
“Keluar… tolong…”
Suaranya serak. Tidak ada yang menjawab. Hanya guntur.
Lalu dia melihatnya.
Cahaya. Kuning. Redup. Dari celah kayu.
Sebuah gubuk.
Kecil. Tua. Atapnya bocor di tiga tempat. Tapi asap mengepul dari cerobongnya. Dan baunya…
Bukan bau kayu basah. Bukan bau tanah.
Baunya sup.
Tio lupa sudah berapa lama tidak mencium bau makanan. Perutnya berbunyi. Tapi kakinya ragu.
Gubuk di tengah hutan? Di tengah hujan? Pasti perangkap.
Tapi dinginnya terlalu jahat.
Dia melangkah.
Pintu kayunya berderit panjang saat dia dorong.
_Kriiieekkk…_
Di dalam, hangat.
Ada api kecil di tungku. Ada panci mendidih. Dan ada seorang nenek.
Rambutnya putih semua, diikat asal. Bajunya tambalan. Tangannya keriput tapi kuat, sedang mengaduk panci dengan sendok kayu.
Nenek itu tidak kaget. Seolah sudah menunggu.
“Kamu basah,” katanya. Suaranya pelan. Tidak ramah, tapi juga tidak marah. “Duduk.”
Tio duduk di kursi kayu. Giginya gemetar.
Nenek itu menuang sup ke mangkuk tanah liat. Uapnya naik ke wajah Tio. Hangat. Wangi wortel, jahe, dan sesuatu yang tidak bisa dia sebut namanya.
“Sup Penghangat Hati,” kata nenek itu. “Minum.”
Tio meraih mangkuk dengan dua tangan. Panas. Tapi dia tidak peduli. Tegukan pertama masuk ke tenggorokannya.
Dan dia menangis.
Bukan karena pedas. Bukan karena asin.
Karena hangatnya sampai ke dada yang sudah lama beku. Hangatnya seperti tangan yang tidak pernah dia punya. Hangatnya seperti rumah yang tidak pernah dia kenal.
Dia menangis sampai bahunya terguncang. Supnya tumpah sedikit.
Nenek Ysra tidak menenangkannya. Hanya duduk di seberang, mengaduk pancinya pelan.
“Kalau sudah selesai menangisnya,” kata nenek itu, “cerita.”
Tio mengangkat wajah. Matanya merah. “Cerita apa?”
“Cerita kenapa kamu ada disini. Sup ini tidak bisa dibayar pakai uang. Dibayarnya pakai cerita jujur.”
Tio diam. Sudah lama dia tidak bicara dengan siapa-siapa.
Tapi entah kenapa, di depan api kecil dan mangkuk sup itu, kata-kata keluar sendiri.
“Tentang… tentang aku yang kabur dari panti. Tentang aku yang dicuri orang buat kerja. Tentang aku yang lari lagi. Tentang aku yang… takut pulang karena tidak ada yang menunggu.”
Setiap kalimat, nenek itu mengangguk. Tidak memotong. Tidak menghakimi.
Hanya mengaduk sup.
“Wortel ini,” kata Nenek Ysra tiba-tiba, “ditanam di tanah bekas darah. Dua puluh tahun lalu di sini perang. Tanahnya keras. Tapi kalau kau siram tiap hari, dia tetap mau tumbuh.”
Tio menatap mangkuknya.
“Air embun pagi ini aku ambil jam empat. Pas langit masih gelap. Garamnya dari laut. Jauh. Tapi aku jalan kaki untuk mengambilnya.”
“Kenapa?” tanya Tio lirih.
“Karena luka juga butuh perjuangan untuk sembuh,” jawab nenek itu. “Kamu juga.”
Supnya habis. Perut Tio hangat. Dadanya juga. Untuk pertama kali dalam tiga hari, dia tidak menggigil.
Nenek Ysra berdiri. Mengambil selimut tipis, menyampirkannya ke bahu Tio.
“Tidur di sini malam ini. Besok kalau mau pergi, pergilah. Kalau mau tinggal, bantu aku menanam.”
Tio mengangguk. Belum berani bicara banyak.
Sebelum memejamkan mata di tikar jerami, dia melihat ke meja.
Di sana ada buku.
Sampulnya kayu. Tebal. Tuanya bukan main.
Buku itu terbuka sendiri. Di halamannya ada tulisan baru, masih basah:
Resep 1: Sup Penghangat Hati
Bahan: Wortel dari tanah bekas darah, air embun pagi, garam laut, 1 cerita jujur.
Catatan: Yang makan akan menangis dulu. Itu normal.
Di bawahnya, ada coretan kecil:
“Selamat datang, Tio.”
Tio tidak ingat pernah menyebut namanya.
Di luar, hujan masih turun.
Tapi di dalam gubuk itu, untuk pertama kali…
Tio merasa tidak sendirian.
Pintu kayu masih berderit kalau angin lewat.
Tapi kali ini, suaranya tidak menakutkan.
Suaranya seperti bilang: _“Kamu aman.”_
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 1 dari novel Rahasia buku sihir nenek Ysra
Sorry, comment are closed for this post.