BAB 1: JEJAK SALJU MENUJU RUMAH
Subuh di Akademi Tanah Fajar. Udara masih dingin, tapi aneh.
Hembusannya hangat.
Sembilan jubah berdiri di gerbang. Sembilan bintang di punggung.
Di depan, Leon. Di tengah, Eira.
Leon menatap langit yang mulai terang. “Kompas?”
Lyra ngeluarin kompas es. Jarumnya muter sendiri. “Menunjuk ke utara. Ke Desa Salju Retak.”
Riko narik napas panjang. “Oke tim. Tiga hari jalan. Tidur di tenda. Gak ada ngeluh.”
Mira nyubit lengannya. “Yang paling banyak ngeluh kamu.”
Eira diem. Liontin pecah di lehernya berdenyut pelan. Panas.
“Adik,” bisik Leon pelan. “Boleh pegang tangan kakak?”
Eira angguk. Jari kecilnya digenggam Leon. Dingin, tapi gak gemetar.
Dari balkon atas, Selene ngeliat. Ardin di sampingnya, tangan menggenggam pagar.
“Mereka…” suara Selene pecah. “Mereka mau ke tempat itu.”
Ardin menoleh ke arah suara. Matanya kosong, tapi senyum.
“Biar mereka pulang bawa keajaiban, Selene.”
Selene menutup mata. “Aku takut kalau dia liat aku dan nanya… kenapa aku ninggalin dia 9 tahun.”
—
DI PERJALANAN – HARI PERTAMA
Salju makin tebal. Tapi setiap kali Eira lewat, salju di bawah kakinya gak tenggelam.
Kael yang jalan di belakang ngerem. “Lihat itu.”
Semua berhenti.
Jejak kaki Eira… ninggalin bunga es kecil. Mekar 1 detik, lalu hilang.
Vanya bisik. “Kekuatan penyembuh.”
Toran garuk kepala. “Atau kutukan yang bingung.”
Eira kaget. “Aku… aku gak sengaja.”
Lyra jongkok. “Itu bagus, Ra. Itu artinya kamu ngingetin salju… kalau dia bisa jadi bunga.”
Malamnya mereka bikin api unggun.
Leon cerita sambil tusuk sate jamur. “Tau gak, 9 tahun lalu aku juga jalan ke desa ini. Nyari Ibu.”
Eira menatap api. “Terus ketemu?”
Leon diem. “Ketemu makam.”
Hening.
Eira meremas tangan Leon. “Kita bakal ketemu Ayahku. Hidup.”
Leon senyum, tapi matanya berkaca. “Iya. Kita ketemu.”
—
DI ISTANA ES BAWAH TANAH
Veyrin berdiri di depan peta. 3 titik bercahaya: Gunung, Bunga, Pohon.
Dia tusuk titik “Pohon” dengan rune ᛜ.
“Jalan duluan. Biar luka mereka kebuka.”
Di cermin, dia liat Eira ketawa kecil karena Rika jatuh ke salju.
Veyrin berbisik. “Mata biru itu… sama persis.”
Tangannya mengepal sampai berdarah.
“Ambil anak itu. Bawa ke benih ketiga.”
—
AMBANG DESA SALJU RETAK – HARI KETIGA
Papan desa roboh. Tertutup salju.
Tapi ada asap dari 2 rumah.
Leon angkat tangan. “Berhenti.”
Di tengah desa, seorang pria tua buta duduk di depan rumah kayu.
Dia menenun selendang. Tangannya hafal polanya.
Eira maju selangkah. Liontinnya panas banget.
Pria itu berhenti menenun. Hidungnya bergerak.
“Siapa?” tanyanya pelan. “Bau… bau bunga salju.”
Eira membuka mulut. Suaranya kecil.
“Ayah…”
Pria itu gemetar.
Benang di tangannya putus.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 1 dari Novel Sihir Tanah Fajar Perjalanan 9 bintang
Sorry, comment are closed for this post.