Hujan.
Menampar genteng sejak magrib.
Aira bersimpuh. Sajadahnya basah.
Bukan oleh air wudhu.
Oleh penat.
Kriet.
Pintu berderit. Seperti tulang tua yang patah.
Jantung Aira jatuh.
“Ya Rabb…” bisiknya. “Jangan sekarang.”
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan. Mengetuk tepat di dadanya.
Aira membuka pintu. Tangan gemetar.
Di ambang, seorang lelaki. Tubuhnya basah.
Seolah baru saja bertarung dengan langit.
“Assalamualaikum,” katanya. Berat.
“Waalaikumsalam,” jawab Aira. Hampir tak terdengar.
“Namaku Rayhan,” ucapnya. “Saya tidak diundang. Tapi saya tidak tega membiarkan pintu ini… mati malam ini.”
Aira tertawa. Pahit.
“Pintu ini sudah lama mati, Pak. Sama seperti saya.”
Rayhan terdiam. Lalu melangkah masuk.
Tanpa izin. Tapi dengan adab.
“Biarkan saya,” katanya. “Sebelum angin merenggut sisa-sisa tempat berteduhmu.”
Tok. Tok. Tok.
Suara palu itu seperti zikir.
Menjahit kembali rumah yang lama robek.
Aira menuang teh. Tangannya bergetar.
“Ini, Pak. Penghangat.”
Rayhan menerima. Jemari mereka tidak bersentuh.
“Anakmu?” tanya Rayhan pelan.
“Sudah tidur,” bisik Aira.
“Bersama ayahnya. Di dalam doa.”
Rayhan mengangguk.
Tenggorokannya tercekat.
“Aku juga. Menidurkan dua malaikatku. Di liang lahat.”
Dunia runtuh sejenak.
Dua orang asing. Bertemu di atas puing yang sama.
“Jika malam kembali menggerogotimu. Dan pintu ini kembali menangis. Panggil aku. Boleh?”
Aira menahan napas.
Mengangguk.
Satu kali.
“Boleh.”
Pintu tertutup.
Klik.
Kali ini, suaranya bukan perpisahan.
Itu janji.
Kreator : Novia Yeni
Comment Closed: Bab 1 Di Ambang Yang Hampir Rubuh
Sorry, comment are closed for this post.