Jam tiga sore.
Di sebuah perpustakaan tua yang punya aroma yang khas. Aroma kertas tua dan kayu lapuk yang menyusup dari sela-sela rak seperti menempel di udara. Sunyi. Tenang. Sedikit lembap,
sedikit debu, sedikit misterius.
Perpustakaan itu bukan tempat yang populer. Letaknya agak tersembunyi di balik gedung fakultas lama yang cat dinding dalamnya mulai mengelupas. Bangunan lama yang dibangun sekitar tahun 60-an. Dengan jendela-jendela melengkung berwarna putih, lebar, tinggi dan jumlahnya banyak, tampak gagah bersanding dengan bata jingga kemerahan di bagian luarnya. Interior di dalamnya, tak kalah menarik dengan langit-langitnya yang tinggi dan dipenuhi oleh lampu-lampu gantung khas era itu. Ditambah kipas angin tua model baling-baling yang berderit pelan, seolah sedang menguap kelelahan.
Kesan kekinian terlihat dari adanya beberapa pendingin ruangan yang berdiri di setiap sudut dan pojok baca. Menambah kenyamanan pembaca dan pengunjung perpustakaan. Deretan rak-rak buku yang berjejer merupakan rak-rak berbahan kayu jati yang kokoh terlihat mengkilap dan elegan berdiri anggun memenuhi hampir seluruh ruangan. Sebenarnya perpustakaan ini bukanlah perpustakaan satu-satunya yang ada di universitas ini. Bangunan megah dengan desain masa kini, berdiri tak jauh dari gedung rektorat merupakan perpustakaan utama yang modern dengan segala fasilitas kekinian.
Tapi di sinilah, di tempat ini, Rana selalu merasa paling nyaman — seolah suara pikirannya bisa terdengar lebih jernih ketika dunia luar tidak terlalu ikut campur.
Rana, seorang gadis berperawakan sedang. Wajahnya oval, tampak manis dengan sepasang mata berbentuk almond dinaungi kelopak berbulu lentik. Hidung mancung serasi dengan bibirnya yang tidak terlalu lebar dengan deretan gigi yang tampak rapi. Rambutnya hitam kecoklatan pertanda gadis itu sering beraktifitas di luar ruangan sesuai dengan kulitnya yang sawo matang. Bugar dan energik di usianya.
Ia duduk di tempat yang sama setiap kali datang, selama tiga bulan terakhir ini. Meja kayu di pojok ruang baca lantai dua, tepat di samping jendela kaca yang kadang berembun saat hujan turun. Dari tempat duduknya, ia bisa melihat dan mengamati hampir seluruh ruangan, spot terbaik menurutnya. Tapi, yang terpenting, ia tidak mudah terlihat.
Rana mengambil sesuatu dalam tas kanvasnya. Kini di hadapannya terbuka buku catatan bergaris dengan sudut kertas yang mulai melengkung. Ia hanya datang dengan satu buku catatan lusuh itu dan pulpen warna biru. Setiap kali ia datang hanya untuk mencatat. Bukan kuliah. Bukan riset. Ia menuliskan hal-hal yang tak pernah mampu diucapkan. Kalimat-kalimat yang hanya bisa eksis jika disembunyikan. Dengan pulpen warna biru yang sudah nyaris habis, dan tinta ujungnya sudah mulai bocor, tapi ia tetap memakainya. Ada semacam kedekatan dengan alat tulis yang hampir rusak — perasaan sentimentil nyaris mirip seperti dirinya sendiri.
“Kalau aku menghilang hari ini, adakah yang sadar bahwa aku pernah duduk di sini?”
Tulisnya perlahan, huruf demi huruf, seolah takut menyakitinya. Ia merenung lagi..
Pukul 15.03
Terdengar suara pintu kayu yang terbuka. Engselnya berdecit kecil. Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang menghentikan alur pikirannya. Langkah sepatu kets melintasi lantai ubin tua yang kadang berderak sendiri.
Pelan. Beraturan. Tidak tergesa, tapi pasti. Seperti metronom yang mengatur ketukan musik latar dalam film misteri.
Rana tidak perlu menoleh. Ia tahu siapa yang datang.
Laki-laki itu.
Datang lagi. Seperti biasa.
Rana melihat sekilas pada jam di tangan kanannya. Mengernyitkan dahi sambil menarik ke atas sudut bibir kirinya, sedikit berdecak pelan. Sedikit kagum dan aneh sekaligus. Laki-laki itu selalu datang pukul tiga lewat tiga menit. Langkahnya tidak pernah tergesa, tapi selalu tiba di waktu yang sama. Seolah semuanya sudah diatur, tidak boleh lebih cepat atau lebih lambat.
Saat suara terdengar mendekat, Rana melirik. Sedikit saja.
Ia mengenakan hoodie abu-abu pudar, celana jeans yang mulai kusam, dan tas kain selempang. Duduk berseberangan darinya, di bangku tiga dari ujung rak ketiga. Ia tidak pernah bicara dengan siapa pun. Bahkan tidak dengan petugas perpustakaan.
Ia terlihat membawa buku yang sama setiap hari. Atau tampaknya begitu. Sampulnya coklat polos, tidak ada judul, tidak ada label. Ia akan membuka buku itu, membaca pelan… tapi gerakan matanya aneh. Kadang hanya melihat satu halaman selama lima menit. Kadang langsung membalik banyak halaman dalam satu detik. Seolah-olah, ia membaca bukan untuk memahami… tapi untuk mengingat apa yang pernah dilupakan.
Rana sempat mengira ia hanya pura-pura membaca.
Tapi semakin sering ia mengamati, semakin ia merasa mungkin laki-laki itu memang tidak membaca dengan cara yang biasa. Matanya bergerak pelan, kadang ragu. Seperti seseorang yang mencoba memahami dunia yang bahasanya tidak pernah diajarkan.
Dan, anehnya… itu membuat Rana merasa tidak sendiri.
Rana berhenti mengamati.
Ia menarik napas pelan lalu mulai menulis satu kalimat lagi.
“Aku rasa, kami berdua sama-sama tidak sedang membaca buku. Kami sedang membaca diri kami sendiri, lewat halaman orang lain.”
Rana mendesah seraya menolehkan kepala memandang keluar lewat jendela disampingnya. Langit di luar mulai menggelap menimpa semburat merah sisa keindahan siang hari tadi. Cuaca berubah perlahan. Angin bertiup kencang membuat dahan pohon-pohon angsana yang tumbuh di sekeliling gedung perpustakaan terlihat meliuk dan melambai, menambah suram suasana.
Rana menikmati lukisan Illahi yang terpampang indah dihadapannya. Terasa syahdu dan sendu sekaligus. Membuatnya merasa banyak hal yang ingin ia tulis. Ia menulis dengan cepat di bukunya, terkadang mengernyitkan dahi, terkadang tersenyum kecil. Tenggelam dalam kesunyian dunia namun di keriuhan pikirannya yang sibuk. Tak lama hujan turun perlahan, menimbulkan suara rintik-rintik yang menyatu dengan detak jam tua di dinding.
Dentangnya pelan, lambat, berat dan nyaris menyerupai isak. Empat kali.
Seseorang di rak belakang mematikan lampu — seperti biasa. Menandakan jam tutup perpustakaan makin dekat.
Rana mengangkat kepalanya, memandang ujung meja dihadapannya. laki-laki itu masih di tempatnya. Mengamatinya menatap halaman yang sama sejak tadi. Ada sesuatu di wajahnya — ketenangan yang dibuat-buat, atau mungkin luka yang tidak tahu cara bicara. Rana terpaku hanya memandang tanpa ekspresi.
POV Irwin
Aku masuk lewat pintu samping. Langkahku lambat. Jam tanganku menunjukkan 15.03—aku merasa sedikit terlambat, tapi anehnya, aku justru berharap ia sudah datang lebih dulu seperti biasa.
Dan.. ternyata, memang dia sudah di sana.
Duduk di dekat jendela, di meja pojok yang hanya cukup untuk dua orang jika dipaksakan. Ia tidak melihatku. Tapi aku bisa melihatnya—tangannya, rambutnya yang sedikit tertiup angin dari pendingin udara di dekatnya duduk.
Aku berdiri di balik rak puisi lama, tempat yang sengaja kupilih sejak pertama kali melihatnya. Dari sini, aku bisa mengamatinya tanpa terlihat. Mungkin terdengar aneh, tapi rasanya seperti membaca cerita yang belum selesai dan aku tak ingin melewatkan satu halaman pun.
Di benakku tiba-tiba saja muncul sebait puisi — Puisi Sapardi.
“…dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.”
Puisi itu nyaris seperti aku. Mengamati dari jauh, tapi tak pernah menyapa.
Suara langkahku kutahan. Lantai marmer tua ini kadang berderit jika diinjak di bagian tertentu. Tapi sore ini, perpustakaan sangat tenang. Heningnya begitu lekat, seperti ruang antara mimpi dan nyata.
Ia tidak menyadari kehadiranku, atau pura-pura tidak. Tapi dari cara ia bersikap, aku tahu ia sedang berpikir. Bertanya-tanya. Menunggu. Mengamati. Dan itu cukup untuk membuatku bertahan lebih lama di balik rak.
Aku belum siap menyapanya. Belum saatnya. Aku beranjak menuju meja diujung rak ketiga tempat yang biasa aku gunakan. Dan mulai membaca buku dengan fokus yang aku paksakan. Sulit tentu saja, namun akhirnya aku larut juga dalam bacaanku. Dan aku diliputi perasaan nyaman, entah.. apakah karena kehadiran gadis itu, pikirku sambil lalu. Terlalu malas untuk berpikir. Rasanya begitu damai, seperti ada yang menemaniku.
Aku tahu gadis itu mulai memperhatikanku seperti aku memperhatikannya. Anehnya aku menyukai perasaan itu meski terasa tidak benar. Dan, biarkan sore ini berlalu dengan tenang. Aku tak ingin merusak perasaan ini.
***
Di pojok perpustakaan itu, dua orang duduk dalam diam.
Tidak saling kenal. Tidak bicara. Bergulat dengan pikiran masing-masing. Namun anehnya, merasa akrab satu sama lain.
Sepertinya, takdir sudah bersiap membuka satu halaman baru.
Mungkin…
Kreator : Mala Elgwosh
Comment Closed: Bab 1 – Di Pojok Perpustakaan
Sorry, comment are closed for this post.