
Kulemparkan tubuh ke atas ranjang. Aku menangis sesenggukan, takut ada yang mendengar. Tak terasa pipiku basah oleh air panas yang meleleh tanpa kusadari.
”TIIDAAAKKK!!!”
Hatiku menjerit sekuatnya, namun hanya sampai dikerongkongan. Petir dan kilat bersahutan seakan merasakan kegaduhan jiwa yang sedang kualami.
”Dengarkan aku!!!”
”Memberontak kamu!!!”
“ Kamu harus mendaftar sekarang!!!”
“Tidak ada gunanya kau masih tetap di sana!!!”
”Akulah contohnya!!”
Kalimat-kalimat tersebut menari-nari dan terngiang-ngiang di telinga dan bayang-bayang yang terasa langsung mencekik leherku. Aku menjadi pusing. Air mata yang tadi mengalir terasa kering kerontang. Entah sedih atau benci, aku tidak tahu lagi.
“Kamu sudah remaja dan akan menentukan masa depan keluarga kita.”
Itulah kata terakhir yang kudengar sebelum kuputuskan telepon. Setelah itu, nada dering teleponku terus berbunyi, tetapi tak lagi kupedulikan. Tubuhku sudah lebih dulu kuhempaskan ke kasur, meski punggungku terasa sakit. Kasurku bukanlah kasur empuk nan mahal, melainkan kasur kapuk peninggalan Ayah.
Ayah…. oh Ayah…
Ku teringat akan sosok Ayah. Seandainya Ayah masih ada di sini tentu dengan bijaksana beliau akan berbicara lembut sambil mengelus kepalaku dengan segala kebijaksanaan dan keteduhan yang beliau miliki.
Ayah… Aku rindu…
Perlahan tak terasa asinnya air mata kembali kukecap dalam dekapanku pada bantal kesayanganku. Aku pun kembali larut dalam tangisan tanpa suara. Alam seakan mengerti dengan kepedihan yang aku alami sehingga turut prihatin dan menangis yang membasahi atap rumahku.
Lalu melintaslah bayangan Ayah.
”Kalau sudah besar mau jadi apa?”
”Anak yang sholeh yang selalu mendoakan Ayah dan Ibu, Aku akan berbakti pada Ayah dan Ibu,” Jawabku dengan mantap dan penuh keyakinan yang tentunya Ayah dan Ibu pasti sangat setuju.
”Aamiin… Semoga Allah meridhai sehingga tercapai cita-citanya. Rajinlah belajar dan tetap semangat ya, Nak.”
Pesan-pesan Ayah menelusup ke dalam hatiku yang tak akan terlupakan seumur hidupku.
Itulah wejangan Ayah saat aku kelas 3 SD. Setahun kemudian beliau sudah tidak lagi bersama kami. Beliau menghadap yang Maha Kuasa. Tidak kusangka kepergian Ayah begitu cepat. Dibalik ketegarannya ternyata beliau menderita penyakit yang tak mungkin disembuhkan dengan obat-obatan Puskesmas Nagari (Puskesri).
Walau Ayahku hanya seorang petani (penggarap sawah) yang hanya tamat Madrasah setingkat SLTP namun beliau sangat memperhatikan pendidikan kami anak-anaknya. Keluarga kami bukanlah keluarga namun kesederhanaan sangat membahagiakan keluarga kecil kami. Selain Bertani Ayah juga memiliki seekor kerbau dan beberapa kambing. Walaupun pekerjaan utama Ayah adalah seorang petani, tapi beliau termasuk petani yang berhasil. Kata Ibu, rumah yang kami tempati sekarang merupakan hasil dari berkebun cabe dan tomat walaupun sawah yang dijadikan kebun cabe dan tomat adalah sawah Datuk Mandugo yang keuntungannya dibagi bersama.
Kami hanya mempunyai sepetak sawah yang ditanami padi, yang bisa panen tiga kali dalam setahun. Kalau hasil padi, Ayah tidak menjual semuanya tapi membawanya ke huller untuk dijemur dan digiling menjadi beras. Bahkan untuk membuat rumah, Ayah sendiri yang merancang dan membuatnya secara berangsur-angsur. Ibu dilarang pergi bekerja ke sawah orang dan hanya membantu Ayah saja. Sebagai Ibu rumah tangga, Ibu sangat bahagia sekali. Saat malam tiba, Ayah mengajar mengaji di masjid Baiturrahman, sejak umur 2 tahun aku selalu diajak Ayah untuk sholat berjamaah khususnya sholat Maghrib sehingga sebelum masuk SD aku sudah tamat Iqro 6. dan sudah hafal beberapa surat pendek dalam Juz Amma.
Namun, musibah itu datang, Ayah jatuh sakit. Hanya dalam waktu satu minggu, Ayah berpulang ke Rahmatullah. Kami semua merasa kehilangan, tidak siap akan kepergiannya. Tapi kami harus ikhlas bahwa itulah yang terbaik bagi Ayah.
“Al-Fatihah: Bismillahirrohmaanirrohiim…”
”Ayah…, datanglah…” pintaku sebelum kelopak mataku tertutup.
Tiba-tiba kokok ayam jantan membangunkanku, Kokok si Rembo menggelitik telingaku. Ayam jantan berkokok di pagi hari sebagai respons terhadap cahaya yang diterima. Aku pun bersegera menunaikan kewajibanku sebagai seorang Muslim melaksanakan Sholat Subuh.
“Ayah… Kenapa Ayah tak datang ke mimpiku?”
Selesai sholat Subuh kuhampiri Ibu yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Kuintip dari balik pintu kamarku karena dapur kami bukanlah seperti dapur kaum gedongan yang luas atau modern tapi menyatu dengan rumah, Ibu adalah wanita yang kuat. Sejak peninggalan Ayah, Ibulah yang membanting tulang memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Setiap hari mengambil upah ke sawah tetangga seperti pergi menanam padi, menyiangi padi, menyabit dan upah lainnya yang pastinya halal.
” Ibu, Aku benci abang!!!” Aku merenggut dari balik kamarku.
Ibu terperangah.
”Kenapa Arif?” Ibu berbalik menatapku.
”Malam tadi abang Nando menelpon” jawabku singkat.
“Kenapa tak bilang sama Ibu?” selidik Ibu.
”Maaf Bu, Abang Nando menelpon jam 10 Malam, Ibu sudah tidur” aku menjawab dengan lembut, karena tadi aku sudah tidak sopan pada beliau.
Ibupun meletakkan sarapannya di tengah rumah,
”Caca, ayo sini kita makan bersama-sama, Nanti Ibu mau pergi tanam padi ke sawah datuk Gindo” Ibuku memanggil Salsabilla adik bungsuku. Salsabilla memang suka dipanggil Caca.
”Iya bu,” Salsa datang dengan menggendong bonekanya. Dia tambah imut saja. Dulu waktu kecil aku sangat menyayanginya dan selalu kubawa bermain. Tapi sekarang aku ”lebih suka” mendengar dia mengadu pada Ibu atas keusilanku. Habis Caca sekarang suka membuat aku iri dengan kemanjaannya pada Ibu, walaupun aku akui justru akulah yang lebih manja dari Caca.
Salsabilla terpaut jauh dariku yakni 9 tahun. Caca tidak memperoleh kasih sayang dari seorang Ayah. Ayah meninggal dunia saat Caca baru belajar berjalan. Aku masih ingat ketika Caca baru lahir, aku menjemput Ayah ke sawah sepanjang jalan aku berteriak.
“AyahHHH, adik kita sudah lahir”
Kalau aku ingat, betapa bahagianya aku waktu itu, tentu aku tak akan pernah usil kepada Caca. Tapi yang jelas Caca adalah adik kesayanganku.
” Ibu, Caca nanti sekolah dimana?” Salsabilla memegang tangan Ibu sambil menatap Ibu dengan penuh harap. Memang tahun ini dia baru tamat TK Aisyiah.
”Wati, kata Ibunya masuk SDIT Permata Hati yang ada di Kota, Caca juga ya Bu” rengek Salsa pada Ibu.
SDIT Permata Hati adalah SD Islam yang sangat bagus, banyak prestasi yang telah diukirnya. Gedung SD nya 4 lantai. Fasilitasnya lengkap dan mana mungkin Ibu akan mengizinkannya, karena jauh dan tentu saja biaya sekolah di SDIT tersebut sangat mahal.
” Bolehkan bang?!!!” Caca melirik padaku. Aku yang sedang galau, tentu tidak dapat menjawab pertanyaan Caca tersebut.
” Kata Wati, disana gedungnya megah, tingkat 4, fasilitasnya lengkap, Kemarin waktu Pawai 17-an Drumbandnya Juara tingkat Kota, Wati ingin jadi mayoretnya. Pasti Abang Nando dan Ibu bangga” Wati berceloteh dengan semangatnya.
“Ayo makan dulu, nanti keburu siang dan Ibu terlambat pergi menanam padi ke sawah. Etek Upiak sudah menunggu Ibu” Ibu mengalihkan pembicaraannya.
”Arif kamu juga makan, ambil nasimu” perintah Ibu.
”Setelah makan jangan lupa kasih makan kambingmu, Sepertinya tak lama lagi kambingmu akan melahirkan” lanjut Ibu
”Iya bu” jawabku singkat.
Rupanya Ibu sudah lupa dengan perbincanganku tadi kalau aku benci abang Nando.
Setelah makan, aku pergi menyabit rumput untuk kambingku. Kambing-kambing inilah peninggalan Ayah, Sudah lebih 6 tahun ini aku menggembalakannya. Setiap tahun lahir 2 ekor. Waktu aqiqah Salsabilla, kami tidak perlu membeli kambing. Ayahku sendiri yang memotongnya. Walaupun saat itu aku meraung-raung agar jangan disembelih.
Aku tersenyum sendiri jika ingat waktu itu, karena akulah yang paling lahap memakan gulai kambing tersebut. Apalagi gulai itu dimasak oleh Angku Mudo. Kambing yang kutangisi, ternyata enak sekali. Akupun tersipu malu saat disindir oleh bang Nando. Seharusnya Bang Nando yang bersedih karena dialah yang merawat kambing itu dari kecil.
Akhirnya buyar lagi pikiranku.
Setelah memberi makan kambing kemudian aku pergi ke sawah atau porak (kebun) jagung. Hari ini kusiangi jagung. Semenjak Ayah tak ada aku sudah diajari oleh abang untuk ikut bertanggungjawab membantu Ibu menambah penghasilan. Aku kagum sekali sama abang Nando. Saat Ayah meninggal abang Nando baru kelas IX SMP. Dia mengorbankan cita-citanya melajutkan sekolah di Kota yaitu sebuah SMA negeri yang favorit.
Walaupun sekolah tersebut terletak diwilAyah administrasi pemerintahan kota, namun letaknya sangat asri di tepi perbukitan. Lulusannya sudah banyak yang menjadi orang hebat. Walikota dan Bupati adalah alumni sekolah tersebut. Sebagai sekolah negeri yang favorit yang sudah lebih setengah abad, tidak diragukan lagi peminatnya sangat banyak sekali. Tapi menurutku abang Nando pasti dapat memasukinya. Pada saat lomba-lomba yang dilakukan SMA tersebut untuk memberikan jalan tol bagi siswa berprestasi, abang Nando juara 1 bidang akademik lomba bidang studi IPA.
Kalau abang Nando sekolah di Kota, tentu abang Nando harus kos. Karena jarak SMA tersebut sangat jauh dari kampungku, sekitar 30 Km. Abang Nando tidak tega meninggalkan Aku dan Salsabilla, apalagi meninggalkan Ibu. Akhirnya abang Nando tetap melanjutkan di Madrasah Aliyah milik yayasan Syaikh Muhammad Arifin di kampungku.
Yayasan Syaikh Muhammad Arifin adalah salah satu madrasah yang telah ada sejak sebelum zaman kemerdekaan. Sudah banyak ulama dan orang pintar yang lahir dari sekolah ini, bahkan disaat jayanya tahun 70an sampai 90an banyak siswa berasal dari luar provinsi seperti dari Bengkulu, Riau dan Jambi. Namun kejayaannya semakin meredup sehingga saat aku tamat tahun ini hanya meluluskan 23 orang laki-laki dan perempuan.
Ayahku pernah cerita saat beliau sekolah di yayasan Syaikh Muhammad Arifin, bahwa ada gurunya yang mengajarkan kitab kuning berasal dari Mesir. Lulusan universitas AlAzhar mesir.
”Arif, kenapa melamun?” Mak Etek Liman menyapaku saat aku istirahat menyiangi jagung. Mak Etek satu suku dengan aku tepatnya suku Payobadar.
” Eh Metek. Ndak apa-apa Metek,.” jawabku tergagap.
Setelah basa-basi sambil minum di dangau (tempat berteduh) milik Mak Etek Liman aku bertanya
” Layla mau lanjutkan sekolah dimana Mak Etek?”
” Layla akan melanjutkan di Madarasah Aliyah” jawab Mak Etek Liman.
” Dikota ya Mak?” langsung kupotong, karena aku yakin metek akan menyekolahkan putri satu-satunya ke pendidikan yang terbaik. Mak Etek adalah seorang petani yang berhasil dan punya banyak sawah. Tentu menyekolahkan anak perempuannya di kota tidak masalah. Layla bisa bawa motor ataupun bisa juga kos.
” Ah kamu ini, untuk apa ke kota kalau disini ada sekolah untuk melanjutkan pendidikan setamat MTs. Layla sudah Metek daftarkan di madrasah Aliyah Syaikh Muhammad Arifin” Jawab Mak Etek Liman. Ternyata anggapanku salah.
” Layla juga tak ingin ke sekolah yang di kota, katanya kasihan sama Etek mu, Dia kan selalu dimanja sama Etek mu itu. Maklum anak wanita semata wayang. Kalau abangnya Layla, Syaifuddin dan Abrar memang Mak Etek yang menyuruh lanjutkan ke SMAN di kota bahkan Syaifuddin sudah kuliah di IPB Bogor, tapi untuk anak perempuan, Etekmu tak mengizinkannnya.” terang Mak etek sambil meyeruput kopi yang dibawanya.
Penjelasan Mak Etek dapat kuterima, sebab Layla memang anak kesayangan mereka, kalaupun tak sekolah, harta warisan orang tuanya lebih dari cukup untuk menjamin kehidupannya dimasa datang, apalagi dengan adat matrilinieal, kaum perempuan mendapat harta pusaka dari mamaknya .
”Oh ya, Arif sendiri bagaimana? Tentu juga sudah mendaftar di madrasah Aliyah Syaikh Muhammad Arifin” Metek hanya bertanya untuk memperkuat keyakinannya
”Sudah Metek.” jawabku singkat.
” Mak etek lanjutkan kerja dulu ya” Lanjutnya.
” Iya mak etek” Sahutku.
Akupun kembali menyiangi jagungku. Walaupun umurnya baru 2 minggu, kulihat jagungku sudah berbaris rapi dan sangat sehat, kalau tak kusiangi bisa-bisa makanannya direbut oleh semak-semak. Tanaman jagung pada umur 2 minggu berada pada fase vegetatif. Pada fase ini, tanaman jagung telah memiliki 3-5 daun terbuka sempurna dan titik tumbuh sudah berada di atas permukaan tanah. MasyaAllah, betapa indah ciptaanmu Tuhan. Kami manusia adalah makhluk yang engkau ciptakan sebagai khalifah dIbumi ini.
Kreator : al-misykar
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 1 Galau
Sorry, comment are closed for this post.