Hari Ketika Dunia Terasa Berhenti
Hari itu tidak datang dengan tanda-tanda.
Tidak ada petir, tidak ada gempa.
Langit tetap biru, orang-orang tetap berjalan, waktu tetap berdetak.
Hanya aku yang merasa dunia berhenti berputar.
Aku masih ingat betul detiknya—saat kabar itu sampai,
saat namamu disebut dengan nada yang berbeda,
saat kata “sudah tidak ada” terdengar terlalu berat untuk dimengerti.
Ibu pergi.
Kalimat itu sederhana, namun rasanya seperti kehilangan separuh napas.
Aku duduk terdiam,
seakan tubuhku ada, tapi jiwaku tertinggal entah di mana.
Aku ingin bertanya, “Kenapa secepat ini?”
tapi lidahku kelu.
Aku ingin menangis,
tapi air mataku seperti lupa cara jatuh.
Allah,
ternyata begini rasanya kehilangan yang sesungguhnya.
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat itu pernah kubaca berkali-kali.
Aku mengajarkannya, menghafalnya, bahkan menenangkannya untuk orang lain.
Namun hari itu, ayat tersebut tidak lagi menjadi teori—ia menjelma nyata,
mengetuk dadaku dengan keras.
Ibu bukan hanya seseorang yang pergi.
Ia adalah tempat pulang.
Ia adalah suara pertama yang kucari saat lelah.
Ia adalah doa yang tak pernah absen menyebut namaku dalam sujud panjangnya.
Dan tiba-tiba…
semua itu terasa diambil dalam satu waktu.
Aku memandang sekeliling,
rumah ini masih berdiri,
kursi itu masih di tempatnya,
jam dinding masih berdetak seperti biasa.
Tapi rumah ini tidak lagi sama.
Ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh apa pun.
Aku mulai bertanya pada Tuhan—bukan dengan amarah,
melainkan dengan hati yang benar-benar bingung.
“Ya Allah, bagaimana caranya hidup tanpa ibu?”
Hari itu aku belajar satu hal pahit:
kehilangan tidak selalu datang dengan teriakan.
Kadang ia hadir dengan sunyi,
dan justru itu yang paling menyakitkan.
Aku ingin kuat.
Aku ingin terlihat tegar.
Namun di sudut hatiku, ada anak kecil yang berteriak ketakutan:
“Sekarang aku harus bersandar ke siapa?”
Aku tahu, ibu sudah kembali pada Pemiliknya.
Aku tahu, Allah lebih mencintainya.
Namun sebagai manusia,
hatiku belum siap melepaskan.
Dan mungkin…
Allah memang tidak meminta kita langsung ikhlas.
Allah hanya meminta kita jujur pada rasa.
Karena duka juga bagian dari iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya mata meneteskan air mata dan hati bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai oleh Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hari itu aku menangis.
Dan untuk pertama kalinya, aku belajar:
menangis bukan tanda lemah,
ia adalah cara jiwa bertahan.
Hari itu dunia terasa berhenti.
Namun tanpa kusadari,
di situlah awal perjalanan baru dimulai—perjalanan belajar berdiri,
tanpa ibu di sisi, tapi dengan Allah yang tetap setia menemani.
Setelah Ibu Pergi, Aku Belajar Berdiri
Bab 1
Hari Ketika Dunia Terasa Berhenti
Hari itu datang tanpa aba-aba.
Tidak ada tanda khusus di langit, tidak ada suara keras yang memperingatkan.
Pagi tetap pagi.
Orang-orang tetap beraktivitas.
Hanya aku yang merasa waktu tiba-tiba berhenti.
Kabar itu datang pelan, tapi menghantam keras.
Kata-katanya singkat, namun maknanya terlalu besar untuk diterima.
Ibu pergi.
Aku mengulang kalimat itu dalam hati, berkali-kali,
seolah berharap maknanya berubah.
Namun tidak.
Semakin diulang, semakin terasa nyata.
Tubuhku ada di tempat itu,
tapi jiwaku seperti tertinggal jauh.
Aku ingin menangis, tapi air mata seakan takut jatuh.
Aku ingin berteriak, tapi suara hilang entah ke mana.
Allah,
ternyata beginilah rasanya kehilangan yang sesungguhnya.
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat itu bukan hal baru bagiku.
Aku pernah membacanya dengan tenang,
mengucapkannya untuk menguatkan orang lain.
Namun hari itu, ayat tersebut turun langsung ke dadaku,
tanpa jarak, tanpa jeda.
Ibu bukan hanya seseorang yang kupanggil “mak”.
Ia adalah tempat aku pulang tanpa perlu menjelaskan apa pun.
Ia adalah doa paling rutin yang diam-diam mengiringi hidupku.
Ia adalah nama yang selalu disebut dalam sujud panjangnya.
Dan hari itu, semua terasa diambil bersamaan.
Aku duduk dalam diam yang panjang.
Tidak tahu harus berbuat apa,
tidak tahu harus berkata apa pada Tuhan.
*“Ya Allah, setelah ini aku harus bagaimana?”*
Hari itu aku belajar satu hal:
kehilangan tidak selalu datang dengan jeritan.
Kadang ia hadir dalam sunyi,
dan justru itulah yang paling melumpuhkan.
Aku tahu ibu kembali pada Pemiliknya.
Aku tahu Allah lebih mencintainya.
Namun hatiku masih manusia—
ia butuh waktu untuk menerima.
Dan mungkin,
Allah tidak menuntut kita langsung ikhlas.
Allah hanya ingin kita jujur pada luka.
Kreator : Yustisia Teti ( T. Tisia Oktari )
Comment Closed: Bab 1 Hari Ketika Dunia Terasa Berhenti
Sorry, comment are closed for this post.