KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 1 – Kemah Pertama

    BAB 1 – Kemah Pertama

    BY 11 Okt 2026 Dilihat: 7 kali
    Kemah Pertama_alineaku

    Pak Gilang, Bu Irma

    Pagi yang cerah hari ini di SD Bintang Pelajar Pak Gilang, Bu Irma dan beberapa guru sibuk membantu dan mengecek murid-murid kelas 6 berseragam pramuka mendirikan tenda. Hari ini pramuka siaga sangat antusias mengikuti kegiatan perjusa (perkemahan Jumat Sabtu) walaupun di halaman sekolah. Sebagai pembina pramuka, pak Gilang beserta Pembina pramuka lainnya telah melakukan sosialisasi sebelum perjusa dilaksanakan dua hari sebelumnya. 

    Pramuka siaga sudah disosialisasikan untuk menyiapkan peralatan pribadi yaitu seragam pramuka lengkap, baju olahraga sekolah, jaket atau baju hangat, matras atau alas tidur, sleeping bag, selimut ringan, handuk, sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, sandal jepit, tisu basah dan kering, piring plastik/melamin beserta sendok, botol/tempat minum (tumbler), peralatan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, senter, obat-obatan pribadi atau kotak P3K, jas hujan, payung dan kantong plastik untuk pakaian kotor dan sampah.

    Bu Irma, sekretaris pembina pramuka juga sudah membagi seluruh pramuka siaga menjadi beberapa kelompok dengan istilah Barung. Pengumuman kelompok barung itu sudah diumumkan di papan majalah dinding (mading) SD Bintang Pelajar dari kemarin. Di mading itu juga diumumkan secara tertulis tentang peralatan pribadi dan peralatan yang harus dibawa per kelompok seperti tenda, alas tenda, tongkat, tali, kompor portabel, wajan penggorengan, panci, ember, gayung, bumbu-bumbu, beras, telur, tahu, tempe, lauk matang dan sayur.   

    Wajah para pramuka siaga terlihat bergembira walaupun banyak peralatan yang perlu dibawa untuk acara perjusa. Mereka pun makin bergembira karena dapat berkelompok dengan teman-temannya yang sudah dikenal hampir lima tahun enam bulan. 

    Tenda-tenda pun telah berdiri di halaman sekolah. Di ujung kiri tenda terlihat kesibukan pramuka siaga dengan nama Barung Biru yang anggotanya terdiri dari Tomo, Tommy, Made, Samuel dan Rojak. Setelah tenda telah berdiri, mereka masuk ke dalam tenda dan saling bertanya bekal lauk apa yang dibawa dari rumahnya masing-masing.

    Wangi rendang yang gurih, aroma manis tahu dan tempe bacem, serta harumnya bumbu ayam betutu bercampur memenuhi tenda. Rasanya seperti ada festival makanan kecil-kecilan di tengah perkemahan.

    Perut mereka pun mulai berbunyi.

    “Eh, itu suara apa?” tanya Tommy sambil melihat ke kanan dan kiri.

    “Suara perutmu!” jawab Tomo cepat.

    “Bukan! Perutku sedang menyanyikan lagu kebangsaan,” balas Tommy serius.

    Semua langsung tertawa.

    Tomo kemudian membuka kotak bekalnya dengan gaya penuh percaya diri.

    “Sudah, sudah! Daripada kalian ribut, kenalan dulu dengan jagoanku!”

    Ia membuka tutup kotak bekalnya.

    “Ta-da! Ini makanan khas Solo, Jawa Tengah!”

    Di dalam kotak tampak tahu dan tempe bacem berwarna cokelat mengkilap. Bentuknya sederhana, tetapi aromanya membuat siapa pun ingin segera mencicipinya.

    “Wah, kelihatannya enak!” kata Made.

    “Bukan cuma kelihatannya,” kata Tomo bangga. “Rasanya manis, gurih, dan bikin ingin tambah lagi!”

    Tommy langsung mendekat.

    “Boleh coba?”

    “Belum!”

    “Lho, kenapa?”

    “Karena kamu belum mengakui kalau bekalku paling hebat!”

    Tommy mendengus.

    “Belum tentu!”

    Ia lalu menepuk dadanya dengan bangga.

    “Sekarang lihat jagoanku!”

    Tommy membuka wadah makanannya. Aroma rendang langsung menyebar ke seluruh penjuru tenda.

    “Waduh!” seru Tomo. “Ini baru namanya serangan mendadak!”

    Tommy tertawa.

    “Ini rendang! Andalan orang Padang. Rasanya gurih, kaya rempah, dan sedikit pedas. Pokoknya mantap!”

    “Sedikit?” Made mengangkat alis. “Menurutku hidungku saja sudah terasa pedas.”

    Mereka kembali tertawa.

    Tidak mau kalah, Made ikut membuka bekalnya.

    “Kalau begitu, Bali juga punya jagoan!”

    Ia memperlihatkan ayam betutu buatan ibunya. Potongan ayam dengan bumbu rempah yang melimpah tampak menggugah selera.

    “Ini ayam betutu khas Bali. Ibuku yang membuatnya.”

    Tommy mengangguk kagum.

    “Wah, lengkap sudah. Solo punya bacem, Padang punya rendang, Bali punya ayam betutu.”

    “Dan semuanya ada di sini!” kata Tomo.

    “Berarti kita tidak perlu pergi keliling Indonesia,” celetuk Tommy.

    Made tertawa. “Kamu mau keliling Indonesia atau keliling meja makan?”

    “Dua-duanya!”

    Di tengah kegembiraan itu, Samuel yang biasa dipanggil Sam tiba-tiba tersenyum misterius.

    “Kalau kalian sudah selesai pamer bekal, sekarang giliranku.”

    Ia mengangkat sebuah bungkusan.

    Tomo langsung penasaran.

    “Apa itu, Sam?”

    “Bukan sekadar makanan.”

    “Wah, jangan bilang bom!” Tommy pura-pura takut.

    “Bukan. Ini teka-teki!”

    Sam membuka sedikit bungkusannya dan memperlihatkan kue dengan tekstur berpori dan warna kuning kecokelatan.

    “Nah, coba jawab. Ada kue yang terkenal dari Medan, tetapi namanya malah menggunakan nama daerah lain. Kue apa?”

    Tomo menggaruk kepalanya.

    “Dari Medan… tapi namanya daerah lain…”

    Made mulai berpikir.

    “Jangan-jangan Kue Jakarta?”

    “Bukan!”

    “Jawa Barat?”

    “Bukan juga!”

    Tommy tiba-tiba mengangkat tangan.

    “Aku tahu!”

    Semua menoleh.

    “Bika… Medan!”

    Sam menggeleng.

    “Belum tepat.”

    Tommy menggaruk kepala.

    “Ya ampun, susah juga!”

    Sam akhirnya tertawa.

    “Menyerah?”

    “Menyerah!” jawab mereka hampir bersamaan.

    Sam mengangkat kuenya tinggi-tinggi.

    “Jawabannya… BIKA AMBON!”

    “Bika Ambon?” Tomo terkejut.

    Tommy langsung protes.

    “Lho? Katanya dari Medan! Kok namanya Ambon?”

    Sam terkekeh.

    “Nah, itu yang menarik. Nama ‘Ambon’ pada Bika Ambon bukan berarti kue ini berasal dari Maluku. Ada penjelasan sejarah yang mengaitkan nama tersebut dengan kawasan Jalan Ambon di Medan, tempat kue ini dahulu diproduksi dan dijual.”

    “Ooooh…” Made mengangguk-angguk.

    Tommy masih terlihat penasaran.

    “Jadi namanya bikin orang salah tebak?”

    “Bisa dibilang begitu,” jawab Sam.

    Tomo tertawa.

    “Berarti kalau ada kuis tentang makanan Indonesia, jangan cuma lihat namanya!”

    “Betul!” kata Sam. “Kadang nama makanan punya cerita sendiri.”

    Belum sempat mereka membahas lebih jauh, Rojak yang sejak tadi duduk sambil mendengarkan tiba-tiba mengangkat alis.

    “Kalau begitu, sekarang giliranku kasih teka-teki!”

    Tommy mengeluh.

    “Lagi?”

    “Tenang. Ini lebih gampang.”

    Rojak tersenyum jahil.

    “Kue apa yang waktu dibuat harus digoyang-goyang cetakannya?”

    Tomo langsung menatap Tommy.

    Tommy menatap Made.

    Made menatap Sam.

    Sam menatap Rojak.

    Lalu keempatnya serempak mengangkat tangan.

    “MENYERAH!”

    Rojak tertawa puas.

    “Jawabannya adalah… Kembang Goyang!”

    “Hah? Benar-benar digoyang?” tanya Tomo.

    “Benar!”

    Rojak segera membuka wadah transparan yang dibawanya. Di dalamnya terdapat camilan renyah berbentuk seperti bunga.

    “Cantik, ya?” katanya.

    “Seperti bunga yang bisa dimakan,” ujar Made.

    “Dan yang lebih menarik,” lanjut Rojak, “namanya memang berkaitan dengan cara membuatnya.”

    Ia menunjuk kue tersebut.

    “Adonannya dibuat dari bahan seperti tepung beras, santan, dan gula. Setelah itu, adonan dituang pada cetakan berbentuk bunga. Cetakannya kemudian digoyang-goyangkan di atas minyak panas sampai kue terlepas dari cetakan adonannya dan digoreng sampai menjadi kuning kemasan.”

    Tommy mengangguk serius.

    “Jadi, yang digoyang cetakannya?”

    “Betul!”

    “Kirain kuenya yang joget,” kata Tommy.

    Tenda langsung dipenuhi suara tawa.

    Rojak ikut tertawa sambil menyodorkan wadahnya ke tengah.

    “Nih, coba saja. Ini resep andalan ibuku. Keluargaku bahkan sudah membuatnya menjadi usaha camilan sejak aku masih kecil.”

    Tomo mengambil satu.

    “Wah, renyah!”

    Made ikut mencicipi.

    “Enak!”

    Tommy tidak mau ketinggalan.

    “Kalau begini caranya, aku punya ide.”

    “Apa?” tanya Sam.

    “Besok kita masing-masing bawa makanan khas daerah lagi!”

    Tomo langsung menggeleng.

    “Boleh. Tapi jangan lupa satu hal.”

    “Apa?”

    “Bawa juga cerita tentang makanannya.”

    Sam tersenyum.

    “Setuju! Jadi kita bukan cuma makan, tetapi juga belajar.”

    Di dalam tenda sederhana itu, anak-anak terus berbagi makanan, teka-teki, dan cerita. Mereka mulai menyadari bahwa Indonesia ternyata seperti sebuah meja makan yang sangat panjang.

    Ada rendang dari Sumatera Barat, bacem dari Jawa Tengah, ayam betutu dari Bali, Bika Ambon dari Medan, dan Kembang Goyang yang renyah dari Betawi.

    “Berbeda rasa, berbeda cerita, tetapi semuanya bisa dinikmati bersama dan yang paling penting tidak ada yang pulang dari tenda dalam keadaan lapar!” kata Tomo.

    “Eh, tunggu!” seru Tommy tiba-tiba.

    “Apa lagi?” tanya Tomo.

    “Rendangnya masih ada?”

    Semua tertawa.

    “Dasar Tommy!”

    Tanpa disadari mereka belajar satu hal penting yaitu mengenal Indonesia bisa dilakukan dari mana saja bahkan dari dalam sebuah tenda dan sambil makan bersama sahabat.

    Usai sholat Isya berjamaah, pluit dan sirine berbunyi sebagai tanda semua pramuka siaga dan para pembina pramuka berkumpul di lapangan sekolah. Suasana malam di sekolah yang biasanya sunyi namun kini ramai dengan suara ketua – ketua regu mengatur barisan. Setelah semua barisan teratur, acara dimulai dengan sambutan dan arahan dari kepala sekolah, lalu dilanjutkan dengan permainan, penampilan bakat seperti menyanyi dan api unggun.    

    Pada sesi penampilan bakat ada persembahan lagu yang dinyanyikan oleh satu regu pramuka siaga bernama Barung Merah. Tim yang terdiri dari Cut Rayya (keturunan keluarga dari Aceh), Euis (dari suku sunda), Gendis (dari  keluarga suku Jawa), Andi Rahmah (dari suku Bugis), dan Mince (dari keluarga Irian Jaya) bersama-sama menampilkan medley lagu mewakili lagu-lagu se-Indonesia. Dengan merdunya mereka menyanyikan lagu Bungong Jeumpa dari Aceh, Es lilin dari Sunda, Suwe Ora Jamu dari Jawa, Anging Mamiri dari Bugis, dan Yamko Rambe Yamko dari Irian Jaya. Di balik unjuk bakat ini, setiap orang akan belajar hal penting yaitu mengenal Indonesia melalui budaya dan lagu sehingga lebih mendalam lagi mengenal budaya Nusantara, menumbuhkan rasa cinta tanah air, menguatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika atau persatuan bangsa. 

    Di rangkaian acara sebelum api unggun dinyalakan, Bu Arum, kepala sekolah, menyampaikan amanahnya. Di dalam amanahnya kepala sekolah berkata, “Kita tidak harus berjalan di jalan yang sama untuk tetap berada di bawah langit yang sama. Satu langit, berjuta bintang. Bersinarlah dengan bakat, ilmu, dan keterampilanmu. Tak perlu menjadi bintang yang sama. Jadilah bintangmu sendiri, karena langit akan lebih indah ketika semua bintang bersinar bersama.”

     

     

    Kreator : Rumsilah (Arum)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 1 – Kemah Pertama

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021