Pak Gilang, Bu Irma
Pagi yang cerah hari ini di SD Bintang Pelajar Pak Gilang, Bu Irma dan beberapa guru sibuk membantu dan mengecek murid-murid kelas 6 berseragam pramuka mendirikan tenda. Hari ini pramuka siaga sangat antusias mengikuti kegiatan perjusa (perkemahan Jumat Sabtu) walaupun di halaman sekolah. Sebagai pembina pramuka, pak Gilang beserta Pembina pramuka lainnya telah melakukan sosialisasi sebelum perjusa dilaksanakan dua hari sebelumnya.
Pramuka siaga sudah disosialisasikan untuk menyiapkan peralatan pribadi yaitu seragam pramuka lengkap, baju olahraga sekolah, jaket atau baju hangat, matras atau alas tidur, sleeping bag, selimut ringan, handuk, sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, sandal jepit, tisu basah dan kering, piring plastik/melamin beserta sendok, botol/tempat minum (tumbler), peralatan ibadah seperti sajadah, sarung, mukena, senter, obat-obatan pribadi atau kotak P3K, jas hujan, payung dan kantong plastik untuk pakaian kotor dan sampah.
Bu Irma, sekretaris pembina pramuka juga sudah membagi seluruh pramuka siaga menjadi beberapa kelompok dengan istilah Barung. Pengumuman kelompok barung itu sudah diumumkan di papan majalah dinding (mading) SD Bintang Pelajar dari kemarin. Di mading itu juga diumumkan secara tertulis tentang peralatan pribadi dan peralatan yang harus dibawa per kelompok seperti tenda, alas tenda, tongkat, tali, kompor portabel, wajan penggorengan, panci, ember, gayung, bumbu-bumbu, beras, telur, tahu, tempe, lauk matang dan sayur.
Wajah para pramuka siaga terlihat bergembira walaupun banyak peralatan yang perlu dibawa untuk acara perjusa. Mereka pun makin bergembira karena dapat berkelompok dengan teman-temannya yang sudah dikenal hampir lima tahun enam bulan.
Tenda-tenda pun telah berdiri di halaman sekolah. Di ujung kiri tenda terlihat kesibukan pramuka siaga dengan nama Barung Biru yang anggotanya terdiri dari Tomo, Tommy, Made, Samuel dan Rojak. Setelah tenda telah berdiri, mereka masuk ke dalam tenda dan saling bertanya bekal lauk apa yang dibawa dari rumahnya masing-masing.
Wangi rendang yang gurih, aroma manis tahu dan tempe bacem, serta harumnya bumbu ayam betutu bercampur memenuhi tenda. Rasanya seperti ada festival makanan kecil-kecilan di tengah perkemahan.
Perut mereka pun mulai berbunyi.
“Eh, itu suara apa?” tanya Tommy sambil melihat ke kanan dan kiri.
“Suara perutmu!” jawab Tomo cepat.
“Bukan! Perutku sedang menyanyikan lagu kebangsaan,” balas Tommy serius.
Semua langsung tertawa.
Tomo kemudian membuka kotak bekalnya dengan gaya penuh percaya diri.
“Sudah, sudah! Daripada kalian ribut, kenalan dulu dengan jagoanku!”
Ia membuka tutup kotak bekalnya.
“Ta-da! Ini makanan khas Solo, Jawa Tengah!”
Di dalam kotak tampak tahu dan tempe bacem berwarna cokelat mengkilap. Bentuknya sederhana, tetapi aromanya membuat siapa pun ingin segera mencicipinya.
“Wah, kelihatannya enak!” kata Made.
“Bukan cuma kelihatannya,” kata Tomo bangga. “Rasanya manis, gurih, dan bikin ingin tambah lagi!”
Tommy langsung mendekat.
“Boleh coba?”
“Belum!”
“Lho, kenapa?”
“Karena kamu belum mengakui kalau bekalku paling hebat!”
Tommy mendengus.
“Belum tentu!”
Ia lalu menepuk dadanya dengan bangga.
“Sekarang lihat jagoanku!”
Tommy membuka wadah makanannya. Aroma rendang langsung menyebar ke seluruh penjuru tenda.
“Waduh!” seru Tomo. “Ini baru namanya serangan mendadak!”
Tommy tertawa.
“Ini rendang! Andalan orang Padang. Rasanya gurih, kaya rempah, dan sedikit pedas. Pokoknya mantap!”
“Sedikit?” Made mengangkat alis. “Menurutku hidungku saja sudah terasa pedas.”
Mereka kembali tertawa.
Tidak mau kalah, Made ikut membuka bekalnya.
“Kalau begitu, Bali juga punya jagoan!”
Ia memperlihatkan ayam betutu buatan ibunya. Potongan ayam dengan bumbu rempah yang melimpah tampak menggugah selera.
“Ini ayam betutu khas Bali. Ibuku yang membuatnya.”
Tommy mengangguk kagum.
“Wah, lengkap sudah. Solo punya bacem, Padang punya rendang, Bali punya ayam betutu.”
“Dan semuanya ada di sini!” kata Tomo.
“Berarti kita tidak perlu pergi keliling Indonesia,” celetuk Tommy.
Made tertawa. “Kamu mau keliling Indonesia atau keliling meja makan?”
“Dua-duanya!”
Di tengah kegembiraan itu, Samuel yang biasa dipanggil Sam tiba-tiba tersenyum misterius.
“Kalau kalian sudah selesai pamer bekal, sekarang giliranku.”
Ia mengangkat sebuah bungkusan.
Tomo langsung penasaran.
“Apa itu, Sam?”
“Bukan sekadar makanan.”
“Wah, jangan bilang bom!” Tommy pura-pura takut.
“Bukan. Ini teka-teki!”
Sam membuka sedikit bungkusannya dan memperlihatkan kue dengan tekstur berpori dan warna kuning kecokelatan.
“Nah, coba jawab. Ada kue yang terkenal dari Medan, tetapi namanya malah menggunakan nama daerah lain. Kue apa?”
Tomo menggaruk kepalanya.
“Dari Medan… tapi namanya daerah lain…”
Made mulai berpikir.
“Jangan-jangan Kue Jakarta?”
“Bukan!”
“Jawa Barat?”
“Bukan juga!”
Tommy tiba-tiba mengangkat tangan.
“Aku tahu!”
Semua menoleh.
“Bika… Medan!”
Sam menggeleng.
“Belum tepat.”
Tommy menggaruk kepala.
“Ya ampun, susah juga!”
Sam akhirnya tertawa.
“Menyerah?”
“Menyerah!” jawab mereka hampir bersamaan.
Sam mengangkat kuenya tinggi-tinggi.
“Jawabannya… BIKA AMBON!”
“Bika Ambon?” Tomo terkejut.
Tommy langsung protes.
“Lho? Katanya dari Medan! Kok namanya Ambon?”
Sam terkekeh.
“Nah, itu yang menarik. Nama ‘Ambon’ pada Bika Ambon bukan berarti kue ini berasal dari Maluku. Ada penjelasan sejarah yang mengaitkan nama tersebut dengan kawasan Jalan Ambon di Medan, tempat kue ini dahulu diproduksi dan dijual.”
“Ooooh…” Made mengangguk-angguk.
Tommy masih terlihat penasaran.
“Jadi namanya bikin orang salah tebak?”
“Bisa dibilang begitu,” jawab Sam.
Tomo tertawa.
“Berarti kalau ada kuis tentang makanan Indonesia, jangan cuma lihat namanya!”
“Betul!” kata Sam. “Kadang nama makanan punya cerita sendiri.”
Belum sempat mereka membahas lebih jauh, Rojak yang sejak tadi duduk sambil mendengarkan tiba-tiba mengangkat alis.
“Kalau begitu, sekarang giliranku kasih teka-teki!”
Tommy mengeluh.
“Lagi?”
“Tenang. Ini lebih gampang.”
Rojak tersenyum jahil.
“Kue apa yang waktu dibuat harus digoyang-goyang cetakannya?”
Tomo langsung menatap Tommy.
Tommy menatap Made.
Made menatap Sam.
Sam menatap Rojak.
Lalu keempatnya serempak mengangkat tangan.
“MENYERAH!”
Rojak tertawa puas.
“Jawabannya adalah… Kembang Goyang!”
“Hah? Benar-benar digoyang?” tanya Tomo.
“Benar!”
Rojak segera membuka wadah transparan yang dibawanya. Di dalamnya terdapat camilan renyah berbentuk seperti bunga.
“Cantik, ya?” katanya.
“Seperti bunga yang bisa dimakan,” ujar Made.
“Dan yang lebih menarik,” lanjut Rojak, “namanya memang berkaitan dengan cara membuatnya.”
Ia menunjuk kue tersebut.
“Adonannya dibuat dari bahan seperti tepung beras, santan, dan gula. Setelah itu, adonan dituang pada cetakan berbentuk bunga. Cetakannya kemudian digoyang-goyangkan di atas minyak panas sampai kue terlepas dari cetakan adonannya dan digoreng sampai menjadi kuning kemasan.”
Tommy mengangguk serius.
“Jadi, yang digoyang cetakannya?”
“Betul!”
“Kirain kuenya yang joget,” kata Tommy.
Tenda langsung dipenuhi suara tawa.
Rojak ikut tertawa sambil menyodorkan wadahnya ke tengah.
“Nih, coba saja. Ini resep andalan ibuku. Keluargaku bahkan sudah membuatnya menjadi usaha camilan sejak aku masih kecil.”
Tomo mengambil satu.
“Wah, renyah!”
Made ikut mencicipi.
“Enak!”
Tommy tidak mau ketinggalan.
“Kalau begini caranya, aku punya ide.”
“Apa?” tanya Sam.
“Besok kita masing-masing bawa makanan khas daerah lagi!”
Tomo langsung menggeleng.
“Boleh. Tapi jangan lupa satu hal.”
“Apa?”
“Bawa juga cerita tentang makanannya.”
Sam tersenyum.
“Setuju! Jadi kita bukan cuma makan, tetapi juga belajar.”
Di dalam tenda sederhana itu, anak-anak terus berbagi makanan, teka-teki, dan cerita. Mereka mulai menyadari bahwa Indonesia ternyata seperti sebuah meja makan yang sangat panjang.
Ada rendang dari Sumatera Barat, bacem dari Jawa Tengah, ayam betutu dari Bali, Bika Ambon dari Medan, dan Kembang Goyang yang renyah dari Betawi.
“Berbeda rasa, berbeda cerita, tetapi semuanya bisa dinikmati bersama dan yang paling penting tidak ada yang pulang dari tenda dalam keadaan lapar!” kata Tomo.
“Eh, tunggu!” seru Tommy tiba-tiba.
“Apa lagi?” tanya Tomo.
“Rendangnya masih ada?”
Semua tertawa.
“Dasar Tommy!”
Tanpa disadari mereka belajar satu hal penting yaitu mengenal Indonesia bisa dilakukan dari mana saja bahkan dari dalam sebuah tenda dan sambil makan bersama sahabat.
Usai sholat Isya berjamaah, pluit dan sirine berbunyi sebagai tanda semua pramuka siaga dan para pembina pramuka berkumpul di lapangan sekolah. Suasana malam di sekolah yang biasanya sunyi namun kini ramai dengan suara ketua – ketua regu mengatur barisan. Setelah semua barisan teratur, acara dimulai dengan sambutan dan arahan dari kepala sekolah, lalu dilanjutkan dengan permainan, penampilan bakat seperti menyanyi dan api unggun.
Pada sesi penampilan bakat ada persembahan lagu yang dinyanyikan oleh satu regu pramuka siaga bernama Barung Merah. Tim yang terdiri dari Cut Rayya (keturunan keluarga dari Aceh), Euis (dari suku sunda), Gendis (dari keluarga suku Jawa), Andi Rahmah (dari suku Bugis), dan Mince (dari keluarga Irian Jaya) bersama-sama menampilkan medley lagu mewakili lagu-lagu se-Indonesia. Dengan merdunya mereka menyanyikan lagu Bungong Jeumpa dari Aceh, Es lilin dari Sunda, Suwe Ora Jamu dari Jawa, Anging Mamiri dari Bugis, dan Yamko Rambe Yamko dari Irian Jaya. Di balik unjuk bakat ini, setiap orang akan belajar hal penting yaitu mengenal Indonesia melalui budaya dan lagu sehingga lebih mendalam lagi mengenal budaya Nusantara, menumbuhkan rasa cinta tanah air, menguatkan semangat Bhinneka Tunggal Ika atau persatuan bangsa.
Di rangkaian acara sebelum api unggun dinyalakan, Bu Arum, kepala sekolah, menyampaikan amanahnya. Di dalam amanahnya kepala sekolah berkata, “Kita tidak harus berjalan di jalan yang sama untuk tetap berada di bawah langit yang sama. Satu langit, berjuta bintang. Bersinarlah dengan bakat, ilmu, dan keterampilanmu. Tak perlu menjadi bintang yang sama. Jadilah bintangmu sendiri, karena langit akan lebih indah ketika semua bintang bersinar bersama.”
Kreator : Rumsilah (Arum)
Comment Closed: BAB 1 – Kemah Pertama
Sorry, comment are closed for this post.