
Udara dini hari sangat dingin, menembus jaket tipis hingga ke tulang. Angin menyeret aroma lembap dari sawah dan tumpukan daun kering, bercampur bau oli mesin, seolah menempel di kulit dan rambut.
Jarum jam di dashboard motor sudah melewati angka satu, tapi perjalanan masih jauh dari usai; setiap detik adalah perjuangan antara ngantuk dan kewaspadaan.
Kelopak mata terasa digantungi beban timah yang beratnya nyaris membuat kepala menunduk sendiri.
Sekilas, ingatan masa kecil muncul: malam-malam saat ia bersembunyi di bawah selimut tipis, takut gelap, mendengar suara angin yang menakutkan di luar jendela.
Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Pandangannya tetap di jalan.
Lampu jalan berdiri berjajar, tapi jaraknya terlalu renggang. Jalanan gelap dengan bayangan yang mengintai.
Di sela-sela itu, terdengar suara hewan malam: seekor burung hantu mengeluarkan teriakan serak, jangkrik bersahutan dari rumput tinggi, dan suara tikus berlari di tepi jalan.
Setiap meter yang ditempuh menjadi ujian kesabaran baru, memaksa tubuh menyesuaikan diri dengan getaran aspal yang tak ramah.
Stang motor digenggam erat dengan tangan dingin yang nyaris mati rasa, sementara punggung mulai kaku setelah berjam-jam menahan getaran itu.
Di belakang, penumpang sudah lama terlelap. Kadang ia ingin menepuk pundak penumpang itu, hanya untuk memastikan orang yang tidur damai di belakang sadar bahwa kursi depan bukanlah simulator Getir—Gojek Tanpa Bayaran.
Napasnya teratur, sesekali terdengar dengkuran kecil yang kontras dengan tubuh pengendara di depan, yang terus berjuang melawan kantuk, rasa dingin, dan kemungkinan kejadian tak terduga—lubang jalan yang tiba-tiba muncul, portal kampung yang tersembunyi, atau kendaraan yang melintas dari arah gelap.
Penumpang di belakang tertidur lelap.
Di depan, tangannya tetap menggenggam stang, menahan dingin dan kantuk, memastikan roda terus bergerak di jalan yang gelap.
Ban depan berdecit pelan ketika seekor kucing tiba-tiba menyeberang, bulu halusnya yang basah menyengat cahaya lampu motor.
Kucing itu melintas dengan tenang, seolah tahu bahwa asuransi motor sudah lewat masa berlaku.
Refleks tangan menarik tuas rem, tubuh sedikit oleng, dan jantung berdegup kencang seolah ingin meloncat keluar.
Sarung tangan tipis mencengkeram stang lebih kencang, jarinya bergetar menahan dingin yang menembus sampai ke tulang.
Dalam sepersekian detik, kantuk hilang total, digantikan aliran adrenalin yang membuat setiap otot menegang, siap bereaksi pada apapun yang muncul selanjutnya.
Lampu lalu lintas di kejauhan berganti dari hijau ke merah. Tak ada kendaraan lain, tapi aturan tetap harus ditaati. Lampu merah itu layaknya guru matematika—tetap memerintah meski tak ada murid di kelas.
Motor berhenti, mesin meraung pelan, sementara uap panas knalpot membumbung tipis, menandai hangat yang hanya semu di udara malam yang menusuk.
Jam sudah mendekati pukul dua pagi. Jalanan lengang. Mesin motor terdengar lebih keras dari biasanya.
Sekilas terdengar suara jangkrik dan gemerisik daun kering yang tertiup angin, kayak bisikan setan yang lagi nawarin pesugihan. “Jangan lupa bayar cicilan motor, Nak,” kira-kira begitu pesannya.
Begitu lampu kembali hijau, tarikan gas perlahan membawa motor masuk ke jalanan yang berubah kasar.
Aroma lembap sawah yang bercampur dengan bau daun kering dan sedikit oli mesin menciptakan kombinasi unik, membawa serta kenangan masa lalu. Dulu, aroma ini menenangkan, mengingatkan pada sore hari bermain di sawah. Sekarang, justru memicu kewaspadaan, pertanda jalanan licin dan mesin motor yang butuh perhatian.
Aspal tambalan membuat roda depan berguncang, memaksa tubuh menyesuaikan keseimbangan. Aku jadi mikir, apa ini latihan simulasi buat menghadapi hidup yang penuh guncangan?
Dari arah berlawanan, truk kontainer melintas dengan raungan berat, gemanya memantul di tebing kecil di sisi jalan, membuat helm bergetar dan tubuh terasa kecil, rapuh di tengah mesin-mesin raksasa yang melaju bebas di malam kosong. Aku merasa seperti upil di jalan tol.
Dulu, aku takut gelap, selalu bersembunyi di balik selimut. Sekarang, aku justru mencari nafkah di kegelapan. Lucu ya, dulu takut sama hantu, sekarang takut sama tagihan. Tapi, dari kegelapan ini aku belajar, bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, justru jadi berani menghadapi rasa takut itu sendiri.
Angin yang ditinggalkan menampar wajah seperti tamparan mantan—dingin dan menyakitkan. Tangan semakin kaku di stang, kayak lagi megang janji palsu.
Di sisi kiri, rumah-rumah berjajar gelap, hanya sesekali ada lampu teras redup seperti mata yang enggan terpejam. Mungkin, mereka lagi pada ngumpet dari tagihan listrik. Papan reklame miring dan berkarat berderit bila tersentuh angin malam, seolah mengingatkan bahwa dunia ini tak ramah—apalagi buat jomblo.
Rumah-rumah itu tampak gelap dan mengancam. Jendela-jendela yang gelap tampak seperti mata yang mengawasi.
Ada sesuatu yang menakutkan dari kesunyian mereka, seolah menyimpan rahasia kelam yang tak ingin diungkapkan.
Bau asap pembakaran sawah terbawa angin, bercampur dengan aroma oli mesin, memberi lapisan nyata pada malam yang sunyi. Aroma ini mengingatkanku pada masa lalu—masa lalu yang penuh kenangan indah dan bau knalpot.
Dulu, bau ini adalah pertanda musim panen telah tiba, saat keluarga berkumpul dan bersukacita. Sekarang, bau ini justru membawa kesedihan, mengingatkanku pada sawah-sawah yang semakin menyempit dan kehidupan petani yang semakin sulit.
Setiap tarikan gas bukan lagi sekadar menempuh jarak, tapi pertarungan melawan kantuk, dingin, dan tubuh yang terus-menerus memprotes. “Mendingan tidur aja, Bang,” gitu kira-kira protesnya.
Sesaat, motor tersendat saat menabrak genangan air tipis di permukaan tambalan aspal. Hatinya menegang—seandainya roda tergelincir, siapa yang akan menolong di tengah kegelapan ini? Malaikat maut? Atau, jangan-jangan, malah setan yang nawarin pinjaman online?
Namun pekerjaan menuntut maju. Jalan masih panjang, dan malam belum tentu ramah—apalagi kalau ketemu begal.

Di jok belakang, penumpang semakin terbenam dalam tidurnya. Kepalanya miring ke kiri, kadang terguncang kecil tiap motor menghantam lubang jalan, rambutnya sedikit menempel di leher karena lembap dingin malam. Aku jadi mikir, apa dia punya ilmu tidur di atas motor? Atau, jangan-jangan, dia itu sebenernya patung manekin yang dipasangi mesin tidur otomatis? Mungkin dia sedang bermimpi indah, terbang di atas awan, atau bertemu dengan orang yang dicintainya. Apakah dia tahu betapa beruntungnya dia bisa tidur dengan nyaman, tanpa harus memikirkan bahaya yang mengintai di jalanan?
Napasnya stabil, sesekali terdengar dengkuran ringan yang bercampur suara angin di sela helm. Ia tak peduli pada udara dingin yang menembus jaket tipisnya, tak peduli pada aroma asap pembakaran sawah yang terbawa angin, atau bahaya yang mengintai setiap tikungan gelap.
Dia hanya mengandalkan jaket tipis dan kepercayaan pada pengemudi. Aku merasa terharu—ternyata, masih ada orang yang percaya sama orang asing di zaman sekarang.
Ada ironi yang begitu tajam: seseorang bisa bermimpi indah di atas kendaraan yang melaju, sementara yang lain harus menahan kantuk dan menjaga kesadaran setinggi-tingginya.
Satu pihak dibawa menuju tujuan dengan tenang, pihak lain memikul beban agar perjalanan tetap aman. Dunia penumpang adalah dunia mimpi, dunia pengemudi adalah dunia nyata yang penuh bahaya.
Penumpang tetap tidur. Motor terus melaju.
Aku merasa seperti pahlawan tanpa tanda jasa—atau, lebih tepatnya, pahlawan dengan tanda jaket Gojek.
Sesekali terdengar suara binatang malam—seekor tikus melintas di tepi jalan, jangkrik bersahutan di sawah. Truk melintas tanpa mengurangi kecepatan. Angin sisa lintasan menghantam tubuhnya. Jauh beda dengan penumpang yang masih bisa tidur nyenyak. Dunia ini memang keras, Bos!
Tiba-tiba, roda depan menghantam lubang lebih dalam dari perkiraan. Motor oleng keras, tubuh pengendara refleks menahan agar tidak tumbang, sarung tangan mencengkeram stang sampai kaku. Aku jadi mikir, apa ini lubang buatan alien? Atau, jangan-jangan, ini portal menuju neraka?
Penumpang di belakang hanya bergeser sedikit, masih terlelap seakan dunia tak berguncang. Aku jadi kesal—enak banget sih tidurnya!
Napas pengendara tercekat; sekejap saja, mereka bisa terjerembab di aspal gelap, dan tak ada siapa pun yang menolong selain malaikat pencabut nyawa, mungkin.
Seketika, ingatannya melayang pada berita kecelakaan yang pernah ia baca beberapa waktu lalu: sebuah motor hancur terlindas truk, pengendaranya tewas seketika.
Ia ingat betul foto-foto yang beredar di media sosial, tubuh-tubuh yang tergeletak tak berdaya di aspal, darah yang membasahi jalanan.
Tangannya gemetar sesaat sebelum kembali menggenggam stang.
Sejak saat itu, ia selalu lebih berhati-hati saat berkendara, selalu berusaha untuk menjaga keselamatan diri dan penumpangnya. Aku jadi parno—apa ini pertanda? Apa aku harus berhenti ngojek dan jadi petani aja?
Ketika motor kembali stabil, jantung masih berdebar kencang. Kantuk yang sempat datang kini sirna, diganti kecemasan pekat yang merayap ke kulit dan tulang.
Malam sepi itu terasa berat dengan tanggung jawab atas penumpang yang tertidur.
Aku merasa seperti Sisyphus—harus mendorong batu besar ke puncak gunung, padahal besok harus ngojek lagi. Jam di dashboard bergerak pelan. Jalan belum juga berakhir. Tapi, apa ada pilihan lain? Aku harus terus bekerja untuk menghidupi keluarga, meskipun harus merasakan lelah dan penat setiap hari.
Di belakang ada napas yang teratur.
Di depan, tidak ada siapa-siapa. Jurang itu terasa makin lebar setiap kilometer, ditambah kilatan cahaya lampu jauh yang bergerak seperti janji yang tak pasti.
Janji manis dari developer perumahan yang nggak pernah ditepati. Kesepian ini bukan hanya karena jalanan yang sepi, tapi juga karena perasaan terasing dari dunia luar.
Aku merasa seperti hidup di dalam gelembung, hanya bisa melihat orang lain dari kejauhan, tanpa bisa benar-benar terhubung. Mungkin, kesepian ini adalah harga yang harus dibayar untuk mencari nafkah di jalanan.
Aku mengatasinya dengan membayangkan wajah anak dan istriku di rumah, membayangkan senyum mereka saat aku pulang membawa rezeki.
Roda kembali bergulir, pelan tapi pasti. Setelah guncangan barusan, jalanan seperti berubah wajah: lebih sunyi, lebih panjang, seolah tak punya ujung.
Aspal yang lembap memantulkan cahaya lampu motor seperti kaca pecah, sementara gelap di kanan-kiri menelan setiap bayangan tanpa ampun. Aku merasa seperti Alice di Wonderland—tapi Wonderland-nya versi jalanan Soreang, Bandung.
Angin malam menderu, menusuk sampai ke sendi tangan dan leher, membuat sarung tangan terasa tipis, jaket seperti tak ada bedanya dengan kain biasa.
Menarik napas panjang, mencoba menyalakan semangat yang mulai redup, dan sejenak teringat pada malam-malam panjang lain saat harus pulang sendiri melewati jalan gelap yang tak bersahabat.
Aku jadi mikir, apa aku harus bikin petisi buat minta jalanan ini diberi lampu?
Di kejauhan, kelap-kelip lampu desa tampak seperti bintang yang jatuh ke tanah tapi begitu didekati, cahaya itu lenyap, tergantikan gelap yang sama.
Aku merasa tertipu—kayak dijanjikan cinta sejati, tapi ternyata cuma PHP. Bau asap bakaran sampah dan dedaunan kering sesekali terseret angin, mencampur aroma oli mesin.
Di jok belakang, belum berubah, penumpang masih terlelap tanpa beban, napasnya masih stabil, seakan dunia luar tak pernah ada—membuat jarak antara keduanya terasa lebih nyata, antara yang terjaga dan yang aman nyaman dalam tidur.
Beberapa kilometer kemudian, motor akhirnya berhenti di depan rumah bercat krem di ujung jalan. Jam sudah menunjuk lewat pukul dua dini hari.
Penumpang terbangun dengan wajah linglung, buru-buru meraih tas, lalu turun sambil menguap lebar. “Wah, makasih ya, Mas,” ucapnya singkat. Ia berjalan tergesa masuk ke halaman, pintu pagar berderit lalu tertutup. Aku merasa seperti figuran di film—cuma numpang lewat.
Pengemudi menatap punggungnya yang semakin jauh, napasnya masih terasa berat, menimbang sejenak apakah harus memanggil, mengambil, atau membiarkannya tergeletak di aspal.
Dompet? Ponsel? Atau…jodoh? Suara angin dini hari menggulung sepi di sekitarnya. Saat menunduk, terlihat dompet kecil dan ponsel penumpang tergeletak, setengah tersembunyi di antara bayangan gelap dan lampu motor.
Aku merasa seperti nemu durian runtuh—tapi duriannya udah busuk. Sesaat, terlintas pikiran untuk mengambilnya, siapa tahu isinya lumayan tapi aku langsung teringat pada pesan ibu, “Jangan pernah mengambil hak orang lain, Nak. Rezeki yang haram tidak akan membawa berkah.” Aku juga teringat pada wajah penumpangnya yang polos dan percaya. Aku tidak tega mengkhianati kepercayaannya.
Sesaat, muncul rasa frustasi dan pertanyaan kecil: “Apakah semua usaha ini sia-sia?” Namun malam tak memberi jawaban, hanya diam, dingin, dan kesepian.
Sambil menghela napas panjang, pengemudi turun dari motor. Udara malam terasa lebih menusuk setelah berhenti, dingin merayap masuk ke leher dan punggung yang basah keringat, membuat kulit seperti ditusuk jarum halus. Aku merasa seperti lagi dihipnotis—tapi hipnotisnya versi sedih.
Karma, Hantu, atau Dompet Nyasar?
Ia membungkuk memungut dompet dan ponsel yang tergeletak di aspal, permukaannya dingin dan kasar di tangan—seperti hati mantan yang udah beku, lalu mengetuk pagar rumah bercat krem itu.
Berkali-kali, tapi tak ada jawaban; suara ketukan bergema, diikuti oleh hening yang menekan dada. Rumah itu diam, seakan terputus dari dunia—atau, jangan-jangan, emang lagi nggak bayar iuran komplek?
Lampu di dalam tidak menyala, menambah rasa keterasingan malam. Aku jadi mikir, apa ini rumah hantu?
Di iklan aplikasi transportasi, ini biasanya momen bintang jatuh atau promo diskon. Di dunia nyata, hanya dingin, dompet, dan pagar yang tak dibuka. Aku jadi pengen ngasih review bintang satu buat kenyataan.
Akhirnya ia menyelipkan barang-barang itu ke celah pintu, jari-jari terasa kaku oleh dingin, berharap pemiliknya menemukannya esok pagi. Atau, jangan-jangan, malah dicolong maling? Aku jadi merasa bersalah—kenapa nggak aku bawa pulang aja ya?
Kembali ke motor, duduk sebentar, menekan stang, dan menarik napas panjang lagi, mencoba menyalakan semangat yang mulai redup setelah berjam-jam menahan kantuk dan dingin. Angin malam yang menusuk membuat jaket tipis terasa seperti kain tipis di atas tulang—kayak janji politisi.
Perjalanan panjang tadi berakhir, tanpa ucapan terima kasih yang layak, tanpa jejak selain rasa letih yang semakin menumpuk di tubuh.
Aku jadi merasa seperti abis lari maraton—maraton tanpa medali. Jalan pulang terasa lebih dingin, lebih sepi; setiap langkah kaki di atas aspal kosong seperti gema dari kerja keras yang tak dihargai.
Aku jadi mikir, apa aku harus bikin lagu tentang ini? Judulnya “Ojek Online dan Malam yang Kejam”.
Kalau si karma sedang kerja lembur juga, mungkin besok si penumpang bisa bermimpi jadi pengemudi ojek di Antartika. Atau, jangan-jangan, dia emang sengaja ninggalin dompetnya biar aku bisa balikin, terus kita jadi deket, terus jadian? Ah, sudahlah. Kebanyakan nonton sinetron rupanya aku ini.
Ia berhenti sejenak. Lalu kembali menarik gas.
Sesaat, muncul pertanyaan dalam kepala pengemudi: Apakah ada makna di balik semua ini? Apakah aku akan dapet tip dari Tuhan?
Tapi malam tetap diam, hanya menawarkan kesunyian, kelelahan, dan rasa kecewa yang bercampur di tubuh—seolah semua yang dilakukan tak pernah dianggap sebagai kerja. Aku merasa seperti robot—kerja terus, tapi nggak pernah dikasih apresiasi.
Tiba-tiba, dari balik pagar rumah bercat krem itu, muncul sosok tinggi kurus dengan mata merah menyala. Sosok itu melayang mendekat, mengeluarkan suara serak yang menusuk telinga: “Terima kasih sudah mengantarkan…dompet ini.”
Sosok itu tampak mencurigakan. Tubuhnya terlalu kurus, seperti kurang gizi. Matanya merah menyala, seperti habis menangis atau kurang tidur.
Pakaiannya lusuh dan kotor, seperti sudah lama tidak dicuci. Ada aura mistis yang kuat di sekelilingnya, membuat bulu kuduk merinding.
Jadi mikir, apa salah liat? Atau, jangan-jangan, orang ini emang lagi cosplay jadi setan?
“A-anda siapa?” tanya Rian gugup.
Sosok itu nyengir, nunjukin gigi kuningnya yang jarang-jarang. “Saya? Saya adalah…penghuni rumah ini yang lagi bokek.”
Rian nelen ludah. Dia jadi mikir, apa dia harus kabur? Tapi kok ya kakinya kayak di lem Alteco?
“A-apa anda…begal?” tanya Rian lagi.
Sosok itu ketawa ngakak, suaranya kayak knalpot motor yang bocor. “Begal? Yaelah, saya mah bukan begal. Saya cuma lagi butuh duit buat bayar cicilan rumah. Lagian kan ini di rumah, rumah kosan, bukan di jalanan, masa iya nge-begal di rumah sendiri?”
Rian manggut-manggut. Dia jadi mikir, ternyata orang kaya juga punya masalah yang sama kayak dia—masalah keuangan.
“Oh, pantes Mas kayak yang lagi dikejar-kejar debt collector gitu,” ucap Rian.
Sosok itu ngangguk. “Tepat sekali. Makanya, saya harus ngumpet di rumah ini tapi gara-gara kamu nganterin dompet ini, saya bisa ketahuan.”
Rian merasa bersalah. Dia jadi mikir, apa dia harus nolongin orang kayak gini? Tapi gimana caranya? Penumpang yang malam tadi aja ternyata baru masuk barusan ongkosnya di aplikasi.
“Terus, apa yang bisa saya bantu? Kalau yang tadi itu? Penghuni kos yang lain?” tanya Rian.
“Iya, lantai atas.” Sosok itu mikir sebentar, sambil tersenyum licik,”Saya punya ide. Gimana kalo kamu jadi partner saya?”
Rian kaget,”Jadi partner gimana? Maksudnya apa?”
“Maksudnya, kamu bantuin saya nyari duit buat bayar cicilan rumah ini,” jelas sosok itu. “Nanti, hasilnya kita bagi dua.”
Rian mikir keras. Dia jadi mikir, apa ini kesempatan buat dia keluar dari kemiskinan? Tapi apa bener dia bisa percaya sama orang kayak begini? Mungkinkah ini jalan pintas yang selama ini ia impikan, atau justru jurang yang akan menelannya?
“Tapi, gimana caranya saya bisa nyari duit buat Mas?” tanya Rian.
Sosok itu nyengir lagi. “Gampang. Kamu kan pengemudi ojol. Kamu bisa nganterin saya ke tempat-tempat yang rame. Nanti, saya bisa nyopet, terus kita bagi hasilnya.”
Rian melotot. Nyopet? Itu kan sama aja kayak maling! Itu kan nggak bener,” kata Rian. “Nggak mau, Bang!”
Sosok itu mendengus. “Yaelah, sok suci banget kamu. Emang kamu pikir, jadi pengemudi ojol itu kerja beneran apa? Kerja keras banting tulang, tapi hasilnya nggak seberapa. Mendingan kita jadi penjahat aja sekalian. Lebih cepet kaya!”
Rian terdiam. Dia jadi mikir, apa bener kata orang ini? Apa dia harus jadi penjahat biar bisa kaya? Bayangan anak dan istrinya yang kelaparan melintas di benaknya. Apakah ia rela mengorbankan prinsipnya demi sesuap nasi?
Tiba-tiba, dari arah kejauhan, terdengar suara sirine polisi sedang patroli.
Sosok itu langsung panik,”Aduh, polisi dateng! Saya harus ngumpet!” kata sosok itu.
Sosok itu langsung ngilang, ninggalin Rian sendirian di depan rumah bercat krem.
Rian celingukan, bingung. Dia jadi mikir, apa yang harus dia lakuin sekarang? Apakah dia akan terlibat dalam masalah jika polisi datang? Apakah dia harus melaporkan kejadian ini kepada polisi, meskipun dia tidak memiliki bukti yang kuat? Tapi kok ya males ngurusnya.
Belum lagi kalo polisinya malah minta “uang rokok”. Lagian, dia juga nggak punya bukti apa-apa. Cuma modal cerita ketemu orang aneh di tengah malem? Bisa-bisa dia yang diketawain.
Dia ngeluarin HP-nya, niat mau browsing di Google, nyari tau apa efek samping dari kebanyakan begadang. Tapi baru juga kebuka, eh, ada notifikasi WhatsApp dari grup keluarga.
Dia ngebuka, ternyata emaknya nge-share video ceramah Ustadz Abdul Somad tentang bahaya riba. Rian mendengus. Emaknya emang paling jago bikin dia merasa bersalah. Udah hidupnya susah, ditambah lagi dicekokin ceramah agama. Makin pengen kabur aja rasanya.
Dia ngelirik jam di dashboard motornya. Udah jam tiga lewat dua belas menit. Dia harus pulang. Anak istrinya pasti udah nungguin dia. Walaupun dia tau, yang ditungguin sebenernya bukan dia, tapi duit hasil ngojek-nya.
Dia narik napas panjang, berat banget rasanya. Dia mutusin buat pulang. Dia nggak mau ngambil risiko yang nggak jelas. Dia nyalain motornya dan ngebut, berusaha ngilangin semua pikiran aneh di otaknya.
Di sepanjang jalan, dia terus mikirin kejadian tadi. Dia jadi mikir, apa dia udah gila sampe ketemu orang aneh kayak tadi? Apa dia harus periksa ke dokter jiwa? Atau jangan-jangan, dia emang udah gila dari dulu, cuma baru sadar sekarang?
Dia nyetir sambil ngelamun, sampe nggak sadar udah nyampe perempatan lampu merah. Untung aja dia refleks ngerem, kalo nggak, udah nyungsep nabrak mobil boks. Dia ngedumel sendiri, nyalahin dirinya yang kurang fokus.
Tiba-tiba, HP-nya bunyi lagi. Kali ini, bukan dari grup keluarga, tapi dari nomor yang nggak dikenal. Dia berhenti di pinggir jalan, di bawah lampu penerangan yang remang-remang. Dia ngebuka pesannya dengan perasaan was-was.
Isinya: “Rian, saya tau kamu lagi butuh duit. Kalo kamu mau, saya bisa kasih kamu kerjaan yang gajinya lumayan. Dateng aja ke warung kopi ‘Kopi Kenangan Mantan’ deket flyover Sabilulungan besok jam 10 pagi. Jangan telat ya. Pake baju yang sopan. Jangan lupa bawa KTP sama KK.”
Rian mengerutkan kening. Warung kopi ‘Kopi Kenangan Mantan’? Dia jadi mikir, apa ini jebakan? Atau, jangan-jangan, ini beneran kesempatan buat dia? Tapi kok ya pake disuruh bawa KTP sama KK segala? Mau ngelamar kerja apa mau ngajuin pinjaman online?
Dia ngeliat lagi nomor pengirim pesan itu. Nggak ada nama, nggak ada foto profil. Dia jadi ragu. Apa dia harus datengin warung kopi itu besok pagi? Apa dia nggak sebaiknya ngelanjutin ngojek aja kayak biasanya?
Rian nyimpen HP-nya di saku jaketnya. Dia narik napas panjang, berat banget rasanya. Dia nyalain motornya lagi, tapi kali ini nggak ngebut. Dia nyetir pelan-pelan, sambil terus mikirin pesan itu.
Di sepanjang sisa perjalanannya, dia terus mikirin pesan itu. Apa ini beneran kesempatan buat dia? Atau, jangan-jangan, ini cuma akal-akalan orang buat nipu dia? Atau, yang lebih parah, jangan-jangan dia mau dijadiin tumbal pesugihan?
Akhirnya, Rian nyampe di depan gang rumahnya. Gang sempit yang cuma muat satu motor. Dia nyetir pelan-pelan, ngelewatin tumpukan sampah yang bau banget. Dia udah kebal sama bau sampah. Udah jadi bagian dari hidupnya sehari-hari.
Rian tiba di depan rumahnya. Rumah kontrakan kecil yang udah dia tempatin selama lima tahun. Dia matiin mesin motor dan mengamati sekelilingnya. Suasana sepi dan gelap. Cuma ada suara jangkrik yang saut-sautan. Dia merasa capek banget. Dia pengen cepet-cepet masuk rumah dan tidur.
Tapi sebelum dia masuk rumah, dia ngelirik lagi HP-nya. Dia jadi mikir, apa dia harus bales pesan itu? Apa dia harus nanya siapa pengirimnya? Apa dia harus googling dulu warung kopi ‘Kopi Kenangan Mantan’?
Rian ngegelengkan kepala. Dia mutusin buat nggak bales pesan itu. Dia nggak mau ngambil risiko yang nggak perlu. Dia masuk rumah dengan perasaan campur aduk—antara capek, bingung, penasaran, dan sedikit parno. Dia juga ngerasa bersalah, karena udah pulang telat dan bikin anak istrinya khawatir.
Kreator : Adhipateyya Khanti Wardoyo (ADWANTHI)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 1. Kisah Rian dan Refleksi Diri
Sorry, comment are closed for this post.