Kolaka, sekitar tahun 2000-an.
Setelah menjalani hidup di Kota Makassar selama empat tahun lebih sebagai anak rantau, bertemu dengan teman baru, lingkungan baru, sungguh menjadi pengalaman yang luar biasa bagi Gita Adriana. Kini dia kembali ke kampung halamannya, kota kecil yang indah dengan pemandangan laut yang sangat indah serta udara pegunungan yang masih terasa di pagi hari.
“Gita … Bangunmiki’, nak. Sudah hampir jam enam ini, belumpiki’ shalat shubuh, toh?”
Suara Mama’ dari dapur yang diikuti bunyi minyak panas di wajan, seketika membuat Gita yang masih setengah sadar beranjak dari tempat tidurnya.
“Iye, Ma’. Bangunma’,” sahutnya dari dalam kamar.
Dengan setengah sadar Gita berlari kecil ke toilet sambil mencium aroma nasi goreng khas Mama’.
Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai umat muslim, dia tak langsung beranjak dari sajadah padahal perutnya sudah setengah keroncongan karena mencium aroma nasi goreng Mama yang rasanya macam restoran.
Gita menatap sajadah, ingatannya kembali ke masa kecil ketika Bapak sering membangunkan untuk sholat subuh. Beliau juga orang yang sangat disiplin tentang shalat. Bahkan ketika Bapak sudah terbaring sakit, beliau selalu memintanya untuk membersihkan badan, mulut serta pakaian sebelum mulai melaksanakan shalat.
Tak terasa air matanya menetes, rasa rindu kepada Bapak dan kebiasaan yang sudah ditanamkan sejak kecil seakan tergambar nyata di depan mata.
Sembari memperbaiki letak mukena, ia lalu mengirimkan doa untuk Ayahanda tercinta. Setelah itu, ia bergegas menuju dapur.
“Ma’ rinduta’mi nasi gorengta’,” ucap Gita sambil lahap menikmati hidangan dan menambahkan sambel ke piringnya. Maklum, ia sudah teramat rindu dengan masakan Mama’.
“Iye lah, nak. Makan yang banyak,” timpal Mama yang menemani Gita di meja makan.
“Oh iya, mana Meli? Masih tidur, Ma?” tanya Gita penasaran.
“Begitumi memang adikmu. Apalagi tidak kuliahmi juga, sesuka hatinya saja,” jawab Mama’.
“Ih, Ma’. Janganki begitu, atau saya saja nanti yang nasehati dia karena disinimika’ biarpi saya yang tanyaki’ nanti,” ujar Gita.
“Tambahka’ lagi nah, Ma’,” sambungnya sambil tersipu malu karena nambah. Nasi goreng yang super lezat versinya sudah hampir memenuhi piringnya lagi.
Kembali ke rumah membuat Gita serasa menjadi anak kecil yang semuanya serba disediakan. Kata Mama’, sekarang nikmati dulu waktumu sebelum memutuskan untuk tahap berikutnya. Yang ada di kepala Gita saat ini, hanya ingin jadi PNS, agar bisa membanggakan Mama’.
Kolaka, kampung halaman Gita yang sangat terkenal dengan Sumber Daya Alam yang melimpah dan merupakan tempat tinggal penduduk asli dari Suku Mekongga. Gita sendiri berasal dari tanah Bugis, hanya saja orang tuanya mendapat penugasan di Kolaka. Jadi, sejak tahun 80-an mereka sudah menetap di kota kecil yang sangat melimpah juga hasil buminya ini. Mulai dari Cokelat, Cengkeh, Merica hingga hasil alam lainnya. Tapi Kolaka sangat terkenal dengan tanaman cokelatnya hingga dinamakan Kota Kakao.
Tugu Kolaka juga identik dengan Cokelat, tak jauh dari pelabuhan yang menghubungkan dengan Selat Bone, tugu cokelat itu berdiri. Bahkan untuk menandai para penumpang kapal pelabuhan jika sudah tiba di tanah Mekongga, tugu cokelat yang sudah mulai kelihatan dari tepi laut ketika menggunakan sarana kapal dalam penyeberangan ke kota Bajoe, Sulawesi Selatan.
Selain itu, Kolaka juga punya bandara, dari segi transportasi sudah sangat mendukung. Sangat berbeda jauh dari keadaan sewaktu aq masih kuliah dulu.
Selama empat tahun Gita menempa ilmu di Kota Daeng, Makassar, hanya sarana transportasi kapal yang bisa digunakan. Dan selalu saja ada drama ketika harus kembali ke Makassar setelah libur semester.
Sejak Gita kuliah, kemandiriannya terbentuk. Kini Gita sudah sangat mandiri. Keadaan membentuknya menjadi pribadinya saat ini, bahkan jauh sebelum dia memutuskan untuk kuliah di kota seberang. Jauh dari Mama dan Meli.
Namun, pesan Bapak selalu ada dalam ingatan. “Nak, sekolah yang tinggi yah, belajar yang rajin…”
Kreator : Anita Anwar
Comment Closed: Bab 1 Kolaka
Sorry, comment are closed for this post.