
Roda sepeda ontel tua milik seorang lelaki paruh baya berderit nyaring setiap kali pedalnya dikayuh menembus sisa gerimis pagi. Di boncengan belakang, aku duduk merapat ke punggung Bapak sambil memegang erat gagang payung biru yang kusam. Di sampingku, melingkar lengan kecil adikku yang duduk berhimpitan di jok tambahan, ikut berteduh di bawah naungan payung yang sama. Bau tanah basah dan desir angin dingin menyelimuti perjalanan kami menuju sekolah.
“Pak, besok ke sekolah diantar pakai motor biar cepat,” celetuk adikku.
“Iya, kalau sudah beli bensin ya Nak,” jawab Bapak sambil terus mengayuh sepedanya.
Aku sedikit melengos.
Motor yang dibicarakan itu telah lama menjadi penghuni gudang, tidak dirawat, apalagi dipajaki. Semua bannya gembos, tempat duduknya telah rusak dihajar tikus.
Hari itu adalah hari pertama sekolah. Dadaku berdesir hangat oleh letupan kegembiraan saat melihat gerbang Taman Kanak-Kanak yang dicat warna-warni penuh gambar kartun. Namun, begitu Bapak menurunkan standar sepedanya dan melambaikan tangan dari balik gerbang, rasa cemas yang asing perlahan merayap. Sekolah itu terasa sangat besar, riuh, dan dipenuhi wajah-wajah yang belum pernah kulihat. Dunia di luar rumah kami ternyata sangat luas dan membingungkan untuk ukuran kaki-kaki kecil kami.
Di sekolah yang sama ini, adikku masuk di kelas TK A, sementara aku berada di kelas TK B. Meskipun beda tingkat, kehadiran adikku adalah satu-satunya penawar rasa canggung. Kami adalah partner sejati. Di rumah, kami berbagi mainan dan cerita; di sekolah, kami saling melirik dari kejauhan ruang kelas untuk saling memastikan bahwa kami baik-baik saja. Namun kami juga sering bertengkar hanya karena hal sepele. Mungkin begitulah saudara, jika bersama selalu berdebat. Jika tidak nampak maka akan dicari.
Namun, harapan tentang sekolah yang ramah perlahan pudar. Sebagian besar murid di TK kami adalah anak-anak tetangga dari keluarga pegawai dan priyayi setempat. Mereka datang dengan pakaian bersih mengkilat, sepatu mahal, dan diantar dengan kendaraan yang jauh lebih mentereng. Perbedaan itu menciptakan jurang yang tidak tertulis.
Kondisi makin terasa berat karena sikap Bu Guru yang jelas pilih kasih. Beliau selalu memberikan perhatian ekstra, senyuman manis, dan pujian beruntun kepada anak-anak itu. Sementara aku dan beberapa anak dari keluarga biasa hanya dipandang sekilas. Karena tidak pandai bersolek atau menarik perhatian, aku hanya memiliki sedikit sekali teman. Bahkan aku diberi tempat duduk paling belakang di kelas, bersama beberapa teman laki-laki yang suka usil mengganggu. Aku tidak berani melawan, rasa kesal kusimpan hingga akhirnya ku curahkan kepada Ibu di rumah.
Rasa bosan, diabaikan, dan keterasingan di dalam kelas akhirnya memuncak pada suatu hari. Saat jam istirahat tiba dan suasana halaman riuh oleh anak-anak yang berlarian, aku mengajak adikku menyelinap keluar melalui celah pagar bambu yang longgar di belakang kamar mandi sekolah. Dengan langkah-langkah kecil dan polos, kami berdua bergandengan tangan menerobos pagar dan berjalan menyusuri tepi jalan raya menuju rumah. Jalanan nampak sepi. Saat itu belum banyak kendaraan besar berlalu-lalang.
“Mbak, jauh banget. Aku capek,” keluh adikku sambil mengusap keringatnya.
“Sebentar lagi sampai,” jawabku singkat.
Lalu kami beristirahat di bawah pohon asam. Daunnya yang melambai ringan mengirimkan kesejukan. Lelah kami sedikit terobati. Namun, kami masih enggan meninggalkan tempat itu. Kudengar kakak-kakak kelas di SD sering mengunjungi pohon asam itu untuk berburu. Tentu saja berburu buah legendaris yang bisa membuat lidah nyaris terbakar: buah asam jawa.
Di rumah, asam jawa sering digunakan untuk bumbu masak dan aneka minuman herbal. Aku bergegas memunguti buah asam yang gugur di semak-semak. Kulitnya yang keras berwarna coklat itu telah membuat air liurku mengalir deras. Adikku turut mengikutiku sampai bawah jembatan. Tak lama kemudian buah asam itu telah memenuhi saku baju seragam dan saku tas sekolah. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Pelarian kecil itu tak bertahan lama. Di tengah perjalanan yang hampir mendekati rumah, kami bertemu dengan Bapak yang sedang bercakap-cakap di teras rumah tetangga. Bapak terperanjat melihat dua anaknya berjalan santai sambil menyeret tas gambar dengan seragam sekolah yang warnanya nyaris tidak bisa dikenali; kotor dan berlumpur. Namun, bukannya marah, Bapak hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, lalu menaikkan kami kembali ke sepeda ontel untuk mengantar kami pulang. Sampai di rumah, kami pun diinterogasi Ibu layaknya pencuri. Jawabku singkat, kami bosan di sekolah.
“Ini buah asam untuk Ibu,” kataku sambil menunjukkan buah asam dari dalam tas.
“Aku diajak kakak,” kata adikku yang polos sama sekali tak membelaku.
Ibu ngomel-ngomel dan memarahiku. Aku dan adikku dihukum mencuci seragamnya sendiri karena besok akan dipakai lagi.
Keputusan konyol itu berbuntut panjang. Keesokan harinya, kabar bahwa aku dan adikku membolos beredar cepat. Di halaman sekolah, beberapa anak tetangga berkumpul dan menunjuk-nunjuk kami. Mereka mengejek dan membuli kami sebagai anak pemalas yang tidak berani sekolah. Ejekan itu membuatku menunduk dalam-dalam, menahan rasa malu yang membakar pipi. Aku tak berani masuk ke gerbang sekolah. Bapak masih menungguku di atas sepeda bututnya
Bapak bergegas turun dari sepeda dan menuntunku ke gerbang sekolah. Di sana sudah ada Bu Guru yang piket pagi untuk menyambut kedatangan siswa. Bapak menyampaikan permohonan maaf kepada Bu Guru. Lalu Bu Guru membawaku dan beberapa siswa lain masuk kelas.
“Anak malas, jam istirahat malah pulang,” ejek salah satu temanku.
Aku tertunduk malu sambil terus berjalan menuju bangkuku. Teman-teman menyorakiku. Namun, suasana kelas tampak berubah hari itu. Beberapa wali murid tampak duduk mendampingi anak-anak di kelas. Beda denganku, sejak pertama masuk sekolah aku sudah dilepas dan harus mampu beradaptasi terhadap lingkungan belajar yang asing. Saat jam istirahat tiba, para Ibu “pendamping” ini sIbuk membuka forum diskusi di teras kelas. Mungkin sekedar membahas uang belanja atau pagi ini masak apa. Jam istirahat, waktu yang sangat tepat untuk menyapa temanku yang sedang bermain.
“Apa Ibumu siswa baru juga?” tanyaku kepada seorang teman yang tadi menyebutku anak malas. Ibunya terdiam lalu dengan pelan berkata,” kamu kok sudah pinter, bisa sekolah sendiri. Beda dengan Dafa nih, dia belum berani sekolah sendiri.”
Aku melangkah dengan bangga. Ternyata ke sekolah sendiri dan dilepas oleh orang tua itu sungguh keren. Orang tua melepasku bukan karena tidak sayang, tapi karena peduli. Di lingkungan yang baru, sebagai siswa aku harus mampu menjalani aktivitasku sendiri dan belajar mandiri.
Di sekolah kami, siswa dilarang membawa uang, tapi diperbolehkan membawa makanan. Aku dan teman-teman makan siang bersama. Sedangkan siswa yang memiliki “pendamping”, mereka makan siang disuapi Ibunya. Ketika teman-teman lain membuka kotak makan berisi telur dan ikan yang harum, aku dengan lugu membuka bekal pemberian Ibu: nasi hangat dengan lauk tempe goreng dan kecap. “Lauknya cuma tempe! Bau tempe!” celetuk seorang anak dengan nada ejekan yang keras, disusul gelak tawa dari kawan-kawannya.
Kata-kata itu menyengat hatiku. Aku menutup kembali kotak bekalku dengan tangan gemetar. Namun, saat melihat adikku di ujung lorong tetap makan dengan lahap tanpa peduli sekitar, dan mengingat pesan Ibu bahwa makanan yang dIbuat dengan rasa kasih sayang adalah berkah, keberanianku muncul kembali. Kuusap air mata yang hampir menetes, lalu kubuka kembali bekal tempe itu dan kulahap hingga habis, meskipun ada sedikit rasa kecewa.
Sesampainya di rumah, kubanting kotak makanku sambil menangis.
“Aku tidak mau tempe lagi!”
Kulempar tas sekolahku dan aku pun berlari ke kamar. Adikku yang polos hanya bengong menyaksikan pemandangan itu. Sejak saat itu aku tidak pernah membawa bekal makanan ke sekolah. Aku hanya membawa beberapa makanan ringan dan air putih.
Suatu malam aku sudah hampir terlelap. Kulihat dari lubang kecil dinding bambu itu, tampak Ibuku memandangi beberapa lembar uang kecil dari dompetnya yang usang sambil menghela nafas panjang. Selama ini keluarga kami mengandalkan hasil pertanian yang tidak seberapa dan upah Ibuku sebagai penjahit. Aku merasa sedih dan sangat menyesal telah menyia-nyiakan makanan buatan Ibuku. Aku sadar mereka telah berusaha dengan sangat keras.
Sore itu kami mengantar Bapak ke stasiun. Keinginannya untuk merantau tidak bisa kami tahan. Kereta tujuan Jakarta itu bergerak perlahan. Mata kami tak lepas memandang sebuah gerbong yang perlahan menjauh. Bapak melambaikan tangan dari balik jendela. Lalu siluet itu memudar tenggelam di balik langit senja.
Rumah tua dengan lantai yang hampir kandas itu telah menjadi saksi atas perjuangan kami. Tetesan air hujan dari atapnya yang bocor menjelma menjadi danau-danau kecil di lantai dapur dan mengapungkan perahu-perahu kertas kami. Sederhana, namun cukup membuat kami tersenyum. Kadang-kadang ketika malam tiba, kami sering tidak bisa tidur karena membayangkan kapan Bapak pulang. Keluarga paman dan bibi sering datang menjenguk kami. Mereka sangat baik. Ketika lIburan sekolah, kami sering diajak piknik ke beberapa tempat yang belum pernah kukunjungi. Pulangnya kami dibelikan susu kaleng dan beberapa makanan ringan. Sore setelah kami pulang mengaji, Ibu sudah menyiapkan makanan yang kami miliki; singkong goreng dan segelas susu. Susu adalah minuman berkelas saat itu. Kami bercerita ngalor-ngidul sambil menyeruput minuman spesial itu sedikit demi sedikit agar tidak cepat habis. Lalu tawa kami tenggelam dalam suara adzan yang berkumandang memecah pergantian antara siang dan malam. Kami berhamburan bersama anak-anak lain menuju surau.
Di tengah segala keterbatasan dan rasa terasing, aku menemukan sebuah tempat perlindungan: menggambar. Di atas kertas gambar putih, aku bebas menciptakan duniaku sendiri. Aku menggambar sepeda ontel Bapak, rumah sederhana kami, serta imajinasi tentang tempat-tempat indah yang ingin kukunjungi bersama adikku. Setiap goresan krayon menjadi cara bagiku untuk mengalirkan perasaan yang tak sanggup kuucapkan.
Kemampuan menggambar itu menjadi titik balik. Melihat ketekunan dan keseriusanku menggoreskan warna, Bu Guru mulai memperhatikan hasil karyaku yang selalu rapi dan penuh detail. Aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan di kecamatan, seperti menggambar dan mewarnai. Aku berlatih keras setiap hari, mengasah perpaduan warna dan ketelitian garis. Pada hari perlombaan, dengan berbekal kotak krayon sederhana, aku menyelesaikan gambarku dengan seluruh kesungguhan hati. Saat pengumuman tiba, namaku dipanggil sebagai juara kedua.
Momen ketika piala itu kuangkat di atas panggung, aku melihat Bu Guru memberikan tepuk tangan dan senyuman yang selama ini kurindukan. Teman-teman yang dulu mengejek bekal tempe dan aksi membolos kami kini menatap dengan rasa kagum.
Langkah-langkah kecil yang dimulai dari boncengan sepeda ontel tua di bawah guyuran hujan itu mengajarkanku banyak hal. Dunia ini mungkin luas, penuh perbedaan, dan kadang tidak adil. Namun, selama kita memiliki keteguhan hati, orang-orang tersayang di sisi kita, dan semangat untuk terus berkarya, langkah sekecil apa pun akan selalu sanggup membawa kita menuju pencapaian yang berharga.
Di Balik Seragam Sekolah
Baju seragam putih-merah itu masih di dalam kantong kresek sejak kemarin. Warnanya yang hampir kusam membuat hatiku ngilu. Bagaimana tidak? Siswa lain mendapat seragam baru dari orang tuanya setiap kenaikan kelas. Seragam yang kupakai sehari-hari bahkan warisan dari saudara yang telah beranjak SMP.
“Seragam ini masih layak pakai, kamu pakai ini dulu ya,” kata Ibu membujukku.
“Kapan aku punya seragam baru?” Tanyaku dengan kepala yang tak berani kuangkat. Air mataku mendadak jatuh tak terbendung.
“Bulan depan kuusahakan ya, akan kujahit sendiri seragam milikmu,” jawab Ibu menenangkanku.
Ibu lalu mencuci seragam itu dan menyetrikanya hingga rapi. Paginya aku dan adikku berangkat sekolah dengan penuh percaya diri, sudah lupa itu seragam warisan atau bukan. Pokoknya, apa pun dari Ibu, itulah yang terbaik yang kami miliki.
Suatu hari aku mengalami sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit. Ibu sengaja tidak mengabari Bapak agar tidak khawatir. Terlebih lagi, Bapak di perantauan juga memiliki kesulitannya sendiri. Ia tidak pernah bercerita, namun tubuhnya yang kurus telah berbicara melalui foto yang dikirimnya. Beberapa hari berada di rumah sakit, aku bahkan tidak merasa cemas atau takut. Entah akan hidup atau mati aku tidak mengerti. Yang kutahu hanyalah Ibu selalu diam di pojokan penuh harap, menyimpan segala kekhawatirannya di sudut hatinya yang terdalam demi bisa tetap kuat dan tersenyum di depanku.
Malam itu kupejamkan mata sambil menahan sakit pergelangan tanganku yang masih dihinggapi jarum infus. Udara dingin menembus dinding-dinding paviliun rumah sakit. Tiba-tiba terasa getaran hebat membangunkan semua orang dari mimpinya. Seisi kamar berhamburan keluar, berdesakan ke arah pintu. Listrik padam, kami berlari dalam gelap.
“Lindhu Yu, Lindhu Yu,” teriak Ibuku sambil membangunkan keluarga pasien sebelahku. Ibu menarikku dan menggendongku keluar sambil membawa infus. Suara riuh terdengar dari berbagai arah. Anak-anak menangis karena ketakutan, orang-orang panik dan berlarian. Listrik menyala kembali. Detak jantung masih menggetarkan seluruh badan. Para petugas sIbuk mengkondisikan keadaan. Kami masih berdiam diri di kursi taman. Aku lalu tertidur dengan nyaman di hangatnya pelukan Ibu.
Pagi itu dokter spesialis anak berkeliling untuk memeriksa pasien di setiap ruangan. Dengan gaya kocaknya, dokter itu berjalan beriringan dengan seorang perawat menghampiri setiap anak sambil bercanda. Pandanganku terhadap dokter yang dulu terkesan menakutkan dengan jarum suntiknya, seketika luntur ketika ia menyapa. Anak-anak pun menyambutnya dengan sukacita.
“Hayo, siapa yang pinter minum obatnya, nanti saya kasih hadiah,” kata dokter sambil tersenyum.
“Hadiahnya apa?” tanya seorang pasien.
“Hadiahnya… doa.” Jawab dokter. Gelak tawa lalu mewarnai ruangan kami.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, kondisiku dinyatakan sudah membaik dan besok sudah bisa pulang. Aku sangat senang. Seminggu lebih aku tidak bercengkerama dengan pohon-pohon jambu, atau berburu kembang pagar untuk dihisap sari madunya. Malam terakhirku di rumah sakit, tanpa diduga saudara-saudaraku datang menjenguk. Mereka adalah saudara-saudara Bapak. Malam itu kami berkemas dengan perasaan senang, haru, juga penuh rasa syukur. Aku segera terbebas dari tajamnya jarum suntik, aroma obat, juga kesendirian yang seperti tak berujung.
Pagi-pagi Ibuku segera mengurus administrasi. Seminggu dirawat sepertinya aku telah menghabiskan sebagian besar tabungan Ibu selama ini. Bau angin musim semi di kebun belakang rumah akhirnya kuhirup kembali. Di bilik sederhana itu, Ibu membaringkan tubuhku yang kurus dan lemah. Kelambu usang itu perlahan-lahan membenamkanku di ranjang tua peninggalan nenek. Sementara adikku menyambutku dengan girang, tak sabar untuk mengajak bermain. Karena penyakitku itu, aku sebulan penuh tidak bersekolah. Seminggu sekali aku masih harus cek up kesehatan ke dokter, hingga akhirnya dinyatakan sembuh total.
Sebulan berlalu, aku kembali menginjakkan kaki di kelas yang telah lama kutinggalkan. Sambutan hangat para guru dan teman mewarnai suasana pagi itu. Aku berusaha mengejar ketertinggalan. Namun tubuhku masih lemah, belum diizinkan ikut olah raga. Ketika teman-teman sIbuk bermain kasti, aku diam di teras kelas untuk membaca. Aku belajar untuk tidak menjadi beban. Mandiri adalah nilai pertama yang tertanam tanpa perlu diajarkan lewat kata-kata. Aku terbiasa menyiapkan peralatan sekolah sendiri, mengancingkan seragam, dan membereskan tempat tidur tanpa perlu diperintah. Rasa mandiri itu perlahan menjalar ke dalam ruang kelas. Aku menaruh perhatian penuh pada setiap pelajaran, menyerap angka dan huruf bagaikan spon yang menyerap air. Bahkan setiap hari belajar tanpa diperintah. Belajar tidak hanya sebagai kewajiban, namun juga kebutuhan.
Siang itu terik matahari menyengat tubuh. Di bawah bayang-bayang pohon jati kukayuh sepeda legendarisku sekuat tenaga sambil membonceng adikku. Jalan terabasan itu mendadak menjadi arena balap liar ketika anak-anak pulang sekolah. Sepeda Hordog buatan Belanda itu telah lama menjadi primadona di parkiran sekolah. Pasalnya, di antara semua sepeda yang parkir, hanya sepedaku yang paling ketinggalan zaman. Sepeda ini peninggalan kakek, yang telah puluhan tahun mengantarkannya ke sawah, bahkan ke sekolah memenuhi undangan wali murid.
Sesampainya di rumah, seperti biasa, Ibuku melontarkan kata-kata yang sangat fasih dan sudah kuhafal sepenuhnya.
“ Cepat ganti baju, cuci tangan, makan,………”, Ibu belum selesai dengan kalimatnya.
“ Lalu salat!” sahut adikku sambil menganggukkan kepala.
Kami balapan lari menuju kamar mandi. Aku selalu mejadi orang yang harus mengalah dalam segala hal, terutama dengan adikku. Sifatnya yang sedikit manja tidak suka dikalahkan siapapun. Setelah beberes, kami menuju dapur untuk menyambut makanan yang disiapkan Ibu. Saat itulah kami dikagetkan dengan sebuah bungkusan besar di atas meja. Benda yang terbungkus kertas koran itu membuatku penasaran. Sementara Ibu terdengar sIbuk mencuci piring. Adikku yang tidak sabaran langsung mengambil bungkusan itu dan membukanya.
“ Wow….seragam baru!” Teriak adikku penuh kegirangan. Aku terperanjat. Segera kuperiksa seluruh isi bungkusan. Aku sangat senang setelah mendapati seragam baru milikku dan beberapa peralatan sekolah. Semua tampak bersih dan baru. Bau kainnya yang khas masih melekat. Di pojokan ruangan sudah terparkir sebuah sepeda yang masih terbungkus plastik. Warnanya hitam, dilengkapi keranjang putih di bagian depan. Bentuknya cantik, seperti sepeda anak perempuan kebanyakan. Kami kegirangan, menari-nari, menyanyi meluapkan kebahagiaan. Ibuku tersenyum dari balik pintu dapur sambil terus membereskan piring.
Kini aku bisa mengayuh sepedaku sendiri dengan dada tegak dan angin pagi yang menyapa wajah. Selain itu, setiap kali momen kenaikan kelas tiba, Ibu selalu mengajakku ke toko untuk membeli peralatan sekolah yang baru dan berkualitas: tas, sepatu, hingga kotak pensil bermerek yang dulu hanya bisa kupandangi dari kejauhan. Keesokannya kami menulis surat untuk Bapak yang jauh di perantauan, menceritakan tentang peralatan sekolah dan sepeda baru kami.
Dengan sepeda itulah aku berkeliling kampung bersama teman-temanku, menikmati segarnya aroma kebebasan dan kebanggaan. Bahkan kami bersama mencari buah ceplukan dari sawah bekas jagung yang tak jauh dari rumah. Rasanya sungguh manis ketika buah keemasan itu hampir layu kelopak pembungkusnya. Tahukah kalian, buah dengan nama ilmiah Physalis angulata itu kaya manfaat? Batangnya memang kecil, termasuk tumbuhan perdu. Namun tumbuhan ini memiliki banyak manfaat, di antaranya bisa menurunkan kadar gula darah, meredakan peradangan dan nyeri sendi, mengontrol kesehatan jantung, dan meningkatkan imunitas tubuh. Buah ceplukan juga kaya vitamin K yang sangat baik untuk kesehatan tulang. Keesokan harinya, hasil perburuan itu kami jual di sekolah. Teman-teman sangat menyukai buah ini karena rasanya manis dan harganya murah. Dari situlah kami belajar mencari uang kecil dengan berjualan. Bahkan es lilin yang dibawa guru pun kami jualkan ke teman-teman saat jam istirahat.
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Sejak kelas dua, namaku selalu bertengger di peringkat pertama saat pembagian rapor. Prestasi yang konsisten itu membuat para guru mulai melirikku. Aku sering ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam berbagai ajang perlombaan, mulai dari menulis kaligrafi, tartil Qur’an, baris-berbaris, serta menggambar dan mewarnai. Setiap kali berdiri di atas panggung perlombaan dengan seragam putih-merah yang bersih, rasa percaya diri yang dulu sempat redup sewaktu kecil mulai tumbuh membesar. Aku berani bermimpi lebih tinggi, aku ingin menjelajahi dunia yang penuh misteri.
Setelah dua tahun lamanya, akhirnya Bapak pulang dari perantauan. Kehangatan sebuah keluarga kecil kembali kami rasakan di rumah sederhana itu. Sebelum tidur, Bapak menggendong tubuh mungilku di punggungnya sambil bergurau. Adikku juga mengantri untuk digendong. Kami saling berbagi cerita tentang masa-masa yang lalu ketika Bapak tidak di rumah. Pahit dan manis harus kami telan bersama. Lalu cerita itu menguap seiring dengan malam yang semakin gelap.
Ibuku masih sama seperti kemarin. Dengan sebuah mesin jahit tua yang suaranya gemelutuk saban malam, Ibu menerima jahitan pakaian tetangga, memotong kain, dan menyatukan benang hingga larut malam. Usaha jahit Ibu mengalami kemajuan pesat. Berawal dari jahitan perorangan, ketelitian dan kerapian karya Ibu mulai terdengar luas hingga Ibu dipercaya mengerjakan berbagai seragam sekolah, PKK, yasinan, hingga seragam hajatan di daerah kami.
Suara mesin jahit di rumah kami yang tadinya tunggal kini berubah menjadi ritme yang riuh. Ibu menambah beberapa unit mesin baru dan mempekerjakan tetangga sekitar. Rumah kami bertransformasi menjadi bengkel kerja yang hidup. Roda ekonomi keluarga kami berputar makin kencang dan membaik secara signifikan. Dengan kesIbukan Ibu dan Bapak yang makin padat, keluarga kami mulai mampu memiliki asisten rumah tangga untuk membantu mengurus rumah dan mengurusku. Mbak Yah, begitulah panggilannya. Ia dengan sabar mengajariku mencuci baju, memasak, dan membersihkan rumah. Namun pada akhirnya ia harus pulang kampung karena menikah dan tidak akan kembali bekerja di rumah kami. Aku dan adikku menjadi terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri; menimba air mengisi bak mandi, memasak, mencuci, dan membereskan rumah. Anak sekecil ini, yang biasanya masih bermain, harus dihadapkan pada situasi yang menuntutnya untuk mandiri. Bahkan kami terbiasa memasak sendiri ketika orang tua tidak di rumah untuk bekerja. Aku dan adikku sangat jauh dari kehidupan anak manja pada umumnya.
Usaha Bapak juga sempat mengalami pasang surut. Namun keadaan telah memaksanya untuk bertahan. Kami yakin bahwa Allah telah mengatur rezeki masing-masing. Dengan mengumpulkan biaya sedikit demi sedikit, akhirnya Bapak dan Ibu mampu mewujudkan impian lama mereka: membangun rumah yang lebih kokoh dan luas. Proses pembangunan rumah berjalan beriringan dengan pembiayaan sekolahku sehingga pembangunan sempat tersendat. Kami menempati rumah yang masih jauh dari sempurna. Lantainya masih kasar, tembok masih bata yang belum di plaster. Bahkan pintu dan jendela dIbuat dari anyaman bambu. Rumah yang belum layak ini kami tempati bertahun-tahun. Pernah kami merasa malu dan berkecil hati ketika saudara jauh berkunjung. Kami belum bisa menjamunya di tempat yang layak, belum bisa menyediakan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Namun di sisi lain, berada di rumah ini kami merasa lebih tentram. Bagaimanapun ini rumah hasil jerih payah keluarga kami. Aku sangat bersyukur telah memiliki kamar sendiri. Meskipun sederhana, itu tak apa-apa. Bagiku rumahku adalah istanaku.
Baju seragam putih-merah itu kini terlipat rapi di lemari. Wangi kain dan sabun pelicin baju menyerbak halus, bercampur dengan aroma angin pagi yang menerobos dinding bambu rumah kami. Setiap kali jemariku menyusuri serat kainnya yang halus, kenangan masa lalu selalu berputar pelan—tentang bagaimana selembar seragam tidak hanya menjadi penanda bahwa aku adalah seorang murid Sekolah Dasar, melainkan juga saksi bisu atas transformasi, kerja keras, dan pencarian jati diri keluarga kami.
Baritan
Menjelang tahun baru Islam, orang-orang di kampungku sudah tampak sIbuk menyiapkan perlengkapan hajatan syukuran. Warga kampung sudah mulai berburu daun pisang dan janur kuning di pagi hari. Hajatan masal itu akan digelar pada malam 1 Muharram, di jalan umum, tepatnya di pertigaan jalan depan rumahku. Memang tradisi ini sudah berlangsung turun temurun, bahkan Ibuku juga turut melestarikannya, sebagaimana yang dilakukan oleh simbahku. Baritan, itulah nama hajatan itu. Waktu itu usiaku masih delapan tahun. Aku sangat penasaran dengan hal-hal yang belum kumengerti, bisa dibilang rasa ingin tahuku lebih besar dari tubuhku sendiri. Aku masih belum mengerti mengapa disebut baritan, yang kutahu anak-anak sangat antusias mengikuti hajatan tersebut sambil membawa beberapa takir plonthang di nampan. Setiap takir berisi nasi dan lauk-pauk yang tak biasa. Ada sambal goreng, telur dadar, dan ayam goreng. Tentu ini bukan menu yang biasa kusantap setiap hari. Betapa lezatnya, itulah yang terbayang di benak kami, anak-anak kampung Semanding. Waktu itu pernah kutanyakan pada ayahku tentang baritan, namun belum mendapat jawaban yang memuaskan.
Pagi itu Ibuku tampak sIbuk di dapur menyiapkan masakan khas untuk acara baritan. Sedangkan simbahku tampak sIbuk membuat takir. Takir adalah wadah yang dIbuat dari daun pisang dan dikunci dengan lidi. Di bagian luar, disematkan sehelai janur kuning. Sedangkan aku hanya bantu-bantu mengupas bawang dan mengiris sayuran. Sambil terus bekerja, kutanyakan pada simbahku tentang takir plonthang. Sambil tersenyum simbahku menjelaskan bahwa takir yang dIbuatnya disebut takir plonthang karena warna takir merupakan perpaduan warna daun pisang yang hijau dan janur yang berwarna kuning. Aku masih penasaran mengapa orang-orang sangat nekat memanjat pohon kelapa hanya untuk mengambil beberapa helai janur demi membuat takir plonthang? Simbah kembali menjelaskan bahwa makna simbol takir plonthang adalah wadah atau bentuk penyampaian rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, meminta keselamatan dunia dan akhirat, langgeng dalam berkeluarga, dan penyelamatan untuk diri sendiri serta saudara. Percakapan kami terputus ketika Ibu memanggilku untuk membantunya mengambil kayu bakar di belakang dapur.
Menjelang magrib semua masakan sudah siap. Aku dan simbah segera menyajikannya di sebuah nampan. Satu nampan berisi lima takir. Sambil menata lauk-pauknya, aku kembali bertanya pada simbah, mengapa harus takir? Padahal saat itu sudah ada besek, wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Simbah kembali menjelaskan bahwa takir itu bukan sembarang wadah. Takir berasal dari perpaduan kata “tata” dan “pikir”, yang berarti manusia harus menata pikirannya, dengan cara bersyukur kepada Allah, maka harus berusaha memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi muslim yang taat. Aku semakin mengerti maksud simbah. Aku menjadi merasa bersalah ketika ingat tragedi di mushola saat Ramadhan, aku dan beberapa gadis kecil kabur dari jamaah salat tarawih. Pak Ustad sangat marah ketika menemukan kami sembunyi di rumah tetangga untuk nonton televisi. Kami lari kocar-kacir. Sampai di rumah, aku pun didamprat ayahku. Aku ketakutan bukan kepalang. Simbah lalu menarikku ke biliknya dan menasehatiku. Aku menangis tersedu-sedu.
Selepas salat magrib, aku dan Bapak bersiap berangkat ke tempat hajatan. Tak lupa aku juga membawa satu kardus air mineral. Sesampainya di lokasi, kulihat banyak nampan berkat sudah berjejer di tikar. Lalu kuletakkan nampanku pada barisan berikutnya. Warga pun sudah ramai berdatangan dan duduk mengitari nampan. Peserta putra dan putri duduk di tempat terpisah. Tradisi baritan memang bisa diikuti oleh semua orang, baik laki-laki, perempuan, dewasa atau anak-anak. Hal ini memang berbeda dengan selamatan pada umumya, yaitu tradisi kenduri hanya dihadiri kaum laki-laki. Tak lama kemudian acara dimulai. Pak Ustad memimpin doa bersama, dilanjutkan dengan istighotsah. Acara yang paling kutunggu-tunggu adalah acara terakhir, yaitu makan. Kami saling menukarkan takir yang kami bawa. Pikiran anak-anak memang beda, memilih makanan yang disukai, bahkan satu per satu dIbuka tutupnya, ketika menemukan yang cocok, langsung diambil. Bahkan kami harus berebut dengan anak lain dan membuatnya menangis karena tidak kebagian. Para orang tua kemudian melerai dan menasehati kami untuk berbagi. Akhirnya kami kenyang dengan damai, makan satu takir untuk berdua. Kami pun tak mau ketinggalan ketika nampan semangka berkeliling. Makanan hasil rebutan memang terasa nikmat sekali. Nasi takir juga kami bagikan kepada setiap orang yang melewati jalan itu. Pulangnya kami membawa dua takir yang tersisa di nampan. Ibu menyambutnya dengan semangat. Menurutnya, nasi berkat dari acara syukuran atau hajatan memang spesial dan dipercaya sebagai perantara berkah dari Yang Maha Kuasa.
Keesokan harinya, di dalam kelas terdengar hiruk-pikuk percakapan para siswa. Nampaknya para siswa asyik menceritakan baritan di lingkungan masing-masing. Kelas menjadi tenang ketika Ustad Ikhwan, guru mapel PAI kami memasuki kelas. Setelah berdoa bersama, pelajaran pun dimulai. Materi hari itu adalah sejarah perjuangan wali songo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa. Kami semakin tertarik, pasalnya Ustad Ikhwan bertanya tentang baritan kemarin malam. Para siswa pun menjawab dengan antusias. Ustad Ikhwan kemudian menjelaskan bahwa tradisi baritan sering dikenal sebagai sedekah bumi ataupun sedekah laut. Pada masa sebelum islamisasi, tradisi ini dilaksanakan dengan cara ritual dengan tindakan khusus dan doa-doa khusus serta sesajen sebagai bentuk penghormatan terhadap roh-roh kudus. Sedangkan setelah masa islamisasi tradisi ini berkembang, terdapat akulturasi budaya dengan rutinan keagamaan seperti dzikir dan tahlil. Tradisi ini dikenalkan oleh Sunan Kalijaga. Kami pun bertanya asal mula nama baritan. Ustad Ikhwan pun menjawab, kata simbah buyutnya baritan itu singkatan dari “mbubarake peri lan setan” (membubarkan peri dan setan). Kami pun tertawa terpingkal-pingkal, membayangkan setan kocar-kacir saat disidak.
Menembus Batas
Aku semakin berani untuk bermimpi lebih tinggi. Aku semakin tertantang melalui setiap jalan terjal yang membentang. Seragam putih-merah itu akhirnya menemani perjalanan panjangku hingga akhir masa Sekolah Dasar. Di kelas enam, seluruh usaha, latihan, dan ketekunan belajar selama bertahun-tahun membuahkan hasil yang manis. Aku berhasil lulus SD dengan nilai ujian akhir yang memuaskan dengan rata-rata nilai 8 di setiap mapel yang di UN kan.
Hari pembagian ijazah menjadi momen yang penuh rasa haru. Dengan berbekal nilai yang cukup memuaskan dan karakter yang telah menempa jati diriku, langkahku terasa mantap saat mendaftar dan diterima di sebuah SMP negeri di kecamatan. Sekolah ini telah lama kubidik karena dekat dari rumah. Di sekolah itulah aku kembali menyabet juara dalam lomba menggambar tingkat kabupaten, mewakili pramuka sekolahku. Teman-temanku semakin banyak. Kami biasanya berangkat ke sekolah bersama dengan sepeda jengki lawas warisan kakekku.
Saat jam istirahat, dibawah pohon jati yang meranggas, aku dan Novita duduk santai sambil menikmati makanan dari kantin sekolah. Ia adalah teman sebangkuku. Kami bercerita tentang harapan masa depan yang belum jelas gambarnya. Tak lama kemudian datanglah dua anak seangkatan dari kelas lain. Meskipun beda kelas, kami bergaul sangat akrab karena berasal dari kampung yang sama.
“Kuliah itu seperti apa ya? Kudengar dari tetangga, kuliah itu sangat sulit, biayanya juga mahal.” Kataku sambil menyeruput minuman dingin terbungkus plastik.
“Pastinya lebih sulit, lha wong ujian sekolah saja sulitnya minta ampun,” jawab Novita ringan. Tangannya masih sIbuk mencuil makanannya. Aku teringat kata-kata Bapakku, dulu ia tidak berani kuliah karena takut pelajarannya lebih sulit daripada pelajaran SMA. Ah, aku menjadi bimbang. Tugas menulis cita-cita pada buku catatan ternyata tidak gampang untuk kukerjakan. Aku tak mungkin bertanya pada Ibuku tentang perkuliahan, karena pasti tidak mengerti, lha wong hanya lulus SD. Ijazahnya juga telah habis dimakan rayap. Sepertinya harapanku untuk bisa kuliah mulai luntur. Ada kalanya aku ingin bekerja saja setelah lulus SMA nanti.
“Kalau aku, ingin ke Hong Kong saja habis SMP,” sahut seorang teman yang ikut nimbrung.
“Memangnya mau ngapain?” tanyaku penasaran.
“Ya kerja, cari duit. Aku kan gak lanjut sekolah. Bapakku gak bisa membiayai ke SMA. Buat apa buang-buang uang. Mending aku kerja, dapat duit kan.” Jawabnya sambil tertawa.
“ Hah, ke Hong Kong? Kerja apaan woy?” tanyaku semakin penasaran.
“ TKW. Ya, TKW neng, Tenaga Kerja Wanita. Pulang-pulang jadi juragan.” Jawabnya dengan semangat.
“ Wow keren! Kami semua bertepuk tangan menyambut hangat cita-cita seorang teman.
Keseruan kami terhenti ketika bel berbunyi nyaring, tanda jam istirahat telah berakhir. Para siswa berhamburan keluar kantin dan kembali ke kelas. Aku masih tak habis pikir membayangkan Hong Kong yang hanya bisa kulihat melalui majalah bisnis atau siaran televisi. Kabarnya, negara tersebut memiliki biaya hidup termahal di dunia. Beberapa teman sekelas, Ibunya juga bekerja di Hong Kong. Kulihat mereka tampak memakai barang-barang bagus ke sekolah, bahkan merk luar negeri yang tak ada di pasaran. Dalam pikiranku penasaran, kenapa Bapak dulu tidak merantau ke Hong Kong saja?
Aku tak bisa tidur memikirkan kelanjutan sekolahku. Yang jelas, harapan orang tua yang telah kupikul selama ini tidak boleh sia-sia.
“Kuliah kok dipikir sekarang? Itu kan masih jauh, nanti setelah kamu lulus SMA Nduk,” kata Ibuku sambil menyalakan kompor minyak di dapur.
“Betul, yang penting sekarang persiapkan ujian nasionalmu, supaya lulus dengan nilai yang baik. SMA dulu, baru mikir kuliah,” tambah Bapak.
“Pak, apa betul kuliah itu sulit? Tanyaku serius.
“Tidak sulit, hanya butuh perjuangan. Makanya rajin belajar, biar bisa melanjutkan ke SMA favorit, terus kuliah”. Jawab Bapakku sambil sIbuk menghitung sesuatu dengan kalkulator.
“Pak, tapi SMA favorit itu berada di kota. Terlalu jauh kalau harus ngonthel”, kataku penuh ragu.
“Apa salahnya ngonthel? Aku dulu sekolah ke kota juga ngonthel,” jawab Bapak.
“Pokoknya nanti kalau SMA saya pakai motor ya Pak, “ kataku merajuk.
“Pokoknya kamu harus diterima di SMA favorit di kota, barulah Bapakmu siap kasih motor. Kalau tidak, ya harus mau ngonthel”. Jawab Bapak tampak serius.
Bayangan tentang cita-cita nampaknya mulai tersusun rapi. Terbayang di benakku betapa mudahnya ke sekolah tanpa harus berdesakan di dalam angkot. Kuatur jadwal belajarku secara mandiri di rumah. Pagi kami masuk sekolah jam enam untuk pendalaman materi yang dibimbing oleh guru mapel. Selesai sekolah aku dan beberapa siswa tidak langsung pulang, tapi mengikuti kursus yang dIbuka oleh sekolah. Biayanya pun murah, tidak seperti bimbel-bimbel di luar. Keinginanku untuk kuliah semakin menggebu-nggebu, meskipun perjalanan yang harus kulalui masih sangat panjang.
Masa-masa SMA kulalui dengan penuh rasa syukur. Aku berhasil melanjutkan sekolah ke SMA favorit di kota, sesuai harapan keluarga. Teman-teman sebayaku banyak yang lebih memilih sekolah kejuruan atau bekerja ke luar negeri. Bapak menepati janjinya. Motor baru sudah siap mengantarku ke sekolah, tepat seminggu setelah pengumuman penerimaan di SMA. Setiap hari aku pergi ke sekolah membonceng adikku yang masih SMP. Fasilitas ini ada bukan karena Bapak kaya, melainkan karena kampung kami jauh dari jalur transportasi umum, sehingga terpaksa harus menyediakan motor sendiri. Keluargaku memang sederhana dan seadanya, namun pendidikan adalah prioritas yang utama. Oleh karena itu, bagaimanapun kondisi kami, tidak pernah menunggak uang sekolah. Bahkan semua kebutuhan sekolah tercukupi dengan sangat baik.
Tiga tahun terasa sangat cepat. Ujian Nasional telah kulalui. Sepertinya perjuanganku selama ini ditentukan oleh ujian selama tiga hari. Perasaan cemas sempat menyelimuti keseharianku. Sementara teman-temanku yang tidak melanjutkan kuliah telah magang di toko atau bengkel. Bahkan ada yang sudah sukses menjadi TKW sejak lulus SMP. Meskipun belum dinyatakan lulus, aku telah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
Pagi itu warung tetanggaku sudah heboh, beberapa orang tampak berkerumun sambil membolak-balik sebuah koran. Nampaknya ada hal yang sangat penting. Kerumunan itu bubar ketika Ibuku datang untuk belanja sayur.
“ Lik, ini anakmu diterima kuliah,” teriak salah seorang tetangga sambil menunjuk sebuah nama yang tercantum pada koran itu.
“ Masa sih, Yu?” Ibu merasa penasaran dan segera memeriksa lembaran koran itu. Setelah memastikan nama dan tanggal lahir, serta jurusan dan nama universitas, barulah Ibu merasa yakin.
“Selamat ya Lik, semoga lancar semuanya.”
Para tetangga di warung itu memberi selamat kepada Ibu. Dalam waktu semalam mendadak aku menjadi topik yang hangat dibicarakan di lingkungan RT. Sebenarnya saat itu sudah ada tiga orang yang melanjutkan kuliah lebih dulu dan belum lulus. Namun jalur masuknya berbeda. Aku daftar melalui jalur reguler, yang konon katanya saringannya lebih sulit, namun biaya kuliahnya murah jika dibanding jalur non-reguler.
Rasa haru bercampur syukur, namun aku masih merasa was-was. Pasalnya, aku belum menerima pengumuman kelulusan. Bapak merasa sangat senang, namun juga khawatir. Ia belum memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya daftar ulang, sementara waktu pembayaran tinggal tiga hari. Tanpa disangka-sangka, di tengah kebingungan itu saudaraku datang dan menitipkan sejumlah uang. Uang itu untuk membayar material bangunan yang telah dikirim oleh Bapak. Alhamdulillah, memang Allah Maha Pemberi Pertolongan. Akhirnya uang kuliah bisa terbayarkan tepat waktu.
Thiiiiiiiiiiinnnnnnnnn thiiiiiiinnnnnnnnnnnnn… suara klakson motor terdengar dari halaman pagi itu. Aku berlari keluar. Petugas pos denga rompi khas berwarna oranye mengulurkan sebuh surat yang terbungkus amplop cokelat. Tanganku meraihnya dengan gemetar. Hari itu adalah pengumuman kelulusan. Siswa diminta menunggu di rumah. Perlahan-lahan kubuka amplop misterius itu. Tanpa membaca yang lain, mataku tertuju pada sebuah tulisan yang dicetak tebal di dalam kotak. DINYATAKAN LULUS. Begitulah tulisan dalam kotak itu. Kami sekeluarga sangat bersyukur. Perjuanganku selama ini telah membuahkan hasil. Mungkin, uang bisa dicari. Tapi kesempatan belum tentu datang dua kali.
Seragam putih-abu yang menemaniku selama tiga tahun telah menjelma menjadi jas almamater sebuah perguruan tinggi. Seragam itu mungkin sudah berlalu dan sudah sempit, tetapi pelajaran tentang kemandirian, kerja keras orang tua, rasa hormat, dan keberanian untuk bermimpi tinggi yang kudapatkan selama mengenakannya akan selalu melekat erat dalam jiwaku, menjadi bekal utama untuk melangkah ke jenjang kehidupan berikutnya.
Bercengkerama dengan Abu Semeru
Malam itu suara peluit kereta api berdengung panjang, membelah riuh Stasiun Kota Baru Malang. Aku menyesuaikan posisi ransel yang terasa semakin menekan bahu, sementara tangan kiriku menggenggam erat kantong plastik berisi beberapa buah pir segar yang kubeli di supermarket dekat kampus tadi sore. Di sekelilingku, puluhan calon penumpang kereta Penataran berdesakan, saling dorong secara halus agar bisa melangkah lebih dulu saat pintu gerbong ditumpahkan.
Malam mulai turun menyelimuti Kota Malang. Udara dingin perlahan menembus jaket tipis yang kupakai. Aku meraba saku celana, menggenggam HP Nokia 3310 milikku yang legendaris itu. Benda mungil bernuansa biru itu hanya punya layar monokrom dengan gim Snake dan deretan nada dering monophonic. Tidak ada kamera, tidak ada koneksi internet. Tapi bagi diriku, ponsel itu sudah cukup untuk sekadar mengabarkan satu baris kalimat pendek melalui SMS kepada adikku: Mbak wis ning stasiun, jemput jam 8 ya.
“Awas, tasmu. Cangklong di depan saja!” teriak temanku dari belakang. Teman satu SMA itu ikut berdesakan dengan napas terengah-engah.
“Aman kok,” jawabku sambil tertawa kecil di tengah jalan calon penumpang. Aku paham, di tempat umum seperti itu sangat rawan kehilangan.
Begitu pintu gerbong kereta ekonomi terbuka, gelombang manusia seolah menumpahkan seluruh beban ke dalam ruang sempit beratap kipas angin gantung yang berputar lambat. Kami saling berebut tempat duduk kelas tiga berhadap-hadapan. Aku dan Rina beruntung bisa mendapatkan bangku kayu berdekatan dengan jendela. Setelah memasukkan ransel ke rak atas, aku duduk bersandar pada sandaran kayu yang keras. Aku menghela napas panjang, meresapi rasa lelah yang menghujam punggung.
Masa-masa awal kuliah di luar kota bukanlah kisah romantika indah seperti di dalam novel. Ini adalah ceritaku tentang bagaimana melangkah sabar dari satu hari ke hari berikutnya, menata masa depan dengan modal nekat dan tekad.
Tiga bulan lalu, saat pertama kali tiba di Malang sebagai mahasiswa baru, aku tidak memiliki gambaran jelas mengenai tempat tinggal. Dengan anggaran yang sangat terbatas dari orang tua, prioritas utamaku sederhana: murah, dekat kampus supaya hemat ongkos, dan yang paling penting aman. Selama belum mendapatkan tempat tinggal, aku ditampung oleh kakak tingkat di sebuah rumah yang ia kontrak bersama tiga temannya. Mereka adalah para perempuan hebat, mahasiswa senior dari jalur beasiswa, yang berasal dari propinsi lain. Sekitar dua minggu aku tinggal di sana. Bersama mereka, aku belajar apa arti toleransi, pasalnya dari empat orang ini, hanya satu yang seagama denganku. Kehidupan di gang sempit itu menawarkan aneka warna. Setiap pulang kuliah, kami masing-masing sudah membawa makanan yang kami beli dari sebuah kedai di jalan pulang. Gelak tawa mengiringi kebersamaan itu sambil bertukar cerita tentang kampung halaman.
Berbekal informasi dari teman, akhirnya aku menemukan sebuah kos kecil di dalam gang yang tak jauh dari gedung kuliah. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu hanya berisi satu kasur kecil serta lemari kayu kecil. Nampaknya, kamar ini sudah ada satu penghuni, yaitu mahasiswa jurusan lain. Di kamar sempit itulah kami harus berbagi kasur dan lemari, serta meja belajar. Memang satu kamar disediakan untuk dua orang. Untungnya di luar kamar masih ada ruangan yang lebih luas. Ruangan ini kami fungsikan sebagai tempat belajar bersama, tempat nonton TV, sekaligus dapur mini. Hampir semua aktivitas bisa kami lakukan di sini, dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan.
Di rumah baru itulah aku bertemu banyak teman dari berbagai daerah dan suku. Sepertinya mereka adalah tipe kawan yang hemat, polos, dan sangat paham arti berjuang. Kebersamaan kami tidak dibangun lewat nongkrong di kafe-kafe hits sekitar Soekarno-Hatta, melainkan lewat ritual makan siang bersama dengan menu tahu-tempe dan saling bertukar informasi warung mana yang menyediakan porsi nasi paling banyak dengan harga paling miring. Bahkan ketika mendengar penjual angsle lewat, kami mngulurkan sebuah timba dengan tali dari atas teras. Penjual pun sudah sangat faham dengan cara kami.Tak lama kemudian penjual mengisi timba kami dengan angsle yang dIbungkus plastik beserta uang kembaliannya. Kami menariknya dengan sukacita. Sampai di atas, makanan khas Malang itu kami pindahkan ke wadah yang besar lalu kami semua menikmatinya bersama-sama. Berbagi adalah hal yang utama di tempat kami. Kami harus belajar saling menghormati satu sama lain dan membuang keegoisan jauh-jauh.
Prinsipku memang tegas. Aku tidak mau menjalin hubungan atau pacaran. HP Nokia 3310 milikku hanya berisi daftar kontak keluarga dan teman seperlunya. Saat itu belum ada media sosial atau aplikasi obrolan, internet masih terbatas pada warnet-warnet, perhatianku tidak pernah terdistraksi. Setiap malam, waktuku dihabiskan untuk membaca diktat dan meninjau ulang catatan kuliah. Laptop merupakan kemajuan teknologi terkeren pada masa itu. Namun sayangnya, barang itu seperti barang mewah yang tak dapat kujangkau. Hanya segelintir dosen dan mahasiswa senior yang memilikinya. Betapa kerennya seandainya aku memiliki laptop sendiri. Tentu segala bentuk pekerjaan dan tugas kuliah menjadi lebih mudah.
Tanpa komputer atau laptop pribadi, perjuangan akademisku bergantung penuh pada dua tempat: rental komputer dekat kampus dan warnet murah di tepi jalan raya. Saban menjelang tenggat pengumpulan tugas, aku harus rela berdiri dalam antrean panjang di rental komputer. Tempat itu selalu sesak oleh mahasiswa yang panik. Bau kertas HVS hangat yang baru keluar dari mesin cetak dot matrix berpadu dengan dengung kipas angin tua menjadi aroma khas yang sangat mendominasi di tempat itu.
“Mbak, komputer nomor tiga kosong. Tapi cuma bisa sejam ya, yang antre di belakang masih banyak,” panggil penjaga rental.
“Siap, Mas!” sahutku cepat.
Dengan mengeluarkan ongkos dua ribu lima ratus rupiah per jam, jemariku langsung menari lincah di atas papan ketik, mengetikkan esai yang sudah kubuat drafnya secara manual di buku tulis. Efisiensi adalah kunci, karena sewa komputer dihitung per jam, aku tidak pernah mengetik dari nol. Draf tulisan tangan selalu siap, sehingga di depan layar aku tinggal menyalin dengan cepat.
Jika butuh mencari referensi materi, aku bergeser ke warnet. Aku biasa mengambil paket malam karena harganya separuh lebih murah. Di dalam bilik kayu berukuran satu meter persegi itu, di bawah temaram cahaya monitor tabung yang cembung, aku menembus dinginnya malam Malang sambil mencatat poin-poin penting dari internet. Jika longgar jadwal kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk ke perpustakaan kampus. Di tempat itulah aku bisa menghabiskan waktuku untuk membaca buku dan mencari referensi yang berkaitan dengan tugas kuliah. Pulangnya aku mengantongi beberapa buku yang kupinjam.
Gaya hidupku yang serba hemat kubarengi dengan pembagian keuangan yang sangat ketat. Uang saku harian yang pas-pasan kukelola dengan cermat. Dengan ketekunan itu, tabunganku bertambah perlahan. Momen paling membanggakan dalam hidupku terjadi ketika tiba waktunya pembayaran SPP semester berjalan. Tanpa perlu meminta tambahan uang kiriman dari rumah, aku berjalan tegak menuju bank kampus, menyerahkan lembaran uang tunai hasil ketelitianku menyisihkan tabungan.
“Ini slip pembayarannya ya, Mbak. Sudah lunas,” ujar petugas teller.
Seketika kehangatan merayap di dada. Perasaan lega luar biasa yang tidak bisa dinilai dengan apa pun. Aku berhasil membuktikan bahwa aku bisa meringankan beban orang tuaku. Namun Bapakku bersikeras tetap mengirimiku uang untuk menambah tabunganku. Kupandangi buku rekening di tanganku. Di sampulnya tampak wajah Bapak dan Ibuku serta harapan besar dari setiap tetes keringatnya.
Kereta Penataran merayap perlahan menerjang kegelapan malam. Di dalam gerbong yang riuh, aku menatap keluar jendela. Bayangan pohon dan deretan lampu jalanan tampak remang-remang. Rasa rindu pada rumah makin menggebu. Setiap bulan sekali, aku selalu menyempatkan diri untuk pulang. Rutinitas pulang ini penuh perjuangan: mengantre tiket kereta ekonomi di Stasiun Kota Baru, berdesakan saat masuk gerbong, hingga berdiri berjam-jam jika tak kebagian tempat duduk. Namun rasa lelah itu menguap setiap kali membayangkan rumah.
Kereta akhirnya memperlambat laju dan berhenti sempurna di Stasiun Garum. Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara. Aku segera berpamitan pada Rina yang melanjutkan perjalanan ke Blitar kota.
“Hati-hati ya, Rin!”
“Siap, Rah! Salam buat keluarga!”
Aku melangkah keluar gerbong menjinjing ransel berat dan plastik berisi buah pir. Di luar stasiun yang remang, tampak sosok adikku melambaikan tangan di atas sepeda motor tua milik keluarga.
“Mbak!” panggil adikku girang saat aku mendekat.
“Wis suwe antri ta, Dik?” tanyaku sambil menyerahkan ransel agar dipangku di depan.
“Ora, Mbak. Baru aja sampai. Ayo langsung pulang. Ibu sama Bapak sudah nungguin.”
Kami membelah jalanan desa yang sepi dan dingin menuju rumah. Dari kejauhan, lampu teras rumah sederhanaku yang berdinding bata setengah plesteran sudah kelihatan. Di ruang tengah, suara mesin jahit tua milik Ibu terdengar berdenting ritmis. Ibu masih sIbuk menyelesaikan jahitan baju tetangga demi menambah penghasilan keluarga. Sementara di halaman samping, truk engkel tua milik Bapak terparkir. Bapak baru saja pulang setelah seharian penuh mengurus jualan material bangunan dan bolak-balik mengambil pasir dari pertambangan pasir sungai.
“Aku pulang, Bu, Pak,” sapaku melangkah masuk.
Ibu menghentikan kayuhan pedal mesin jahitnya, menoleh cepat, lalu menyunggingkan senyum paling tulus. Bapak yang sedang mencuci kaki di kamar mandi belakang pun bergegas keluar dengan wajah lelah yang seketika berubah cerah.
“Nduk, wis tekan? Gimana kuliah di Malang?” tanya Bapak sambil menepuk pelan pundakku dengan tangannya yang kasar dan penuh bekas kerja keras.
“Lancar, Pak, Bu. Ini ada buah pir segar dari supermarket dekat kampus buat Ibu sama Adik,” kataku menyerahkan kantong plastik. Aku sengaja tidak memberitahu dulu kalau SPP semester ini sudah kubayar sendiri dari tabungan—aku ingin menyimpannya sebagai kejutan manis saat makan malam nanti.
Ibu mengelap matanya yang tampak agak basah, tersenyum haru menerima oleh-oleh itu. “Matur nuwun ya, Nduk. Ayo ndang bersihan badan, Ibu wis siapin makan malam.”
Hari Sabtu berlalu begitu cepat dalam kehangatan rumah yang sederhana. Minggu dini hari, pukul tiga pagi, suasana rumah sudah kembali sIbuk. Ibu sIbuk di dapur menyiapkan perbekalan untuk kubawa balik ke perantauan: satu karung kecil beras hasil panen sendiri, serta beberapa toples plastik berisi aneka lauk kering seperti kering tempe, serundeng, dan sambal goreng teri yang bisa bertahan lama di kos.
“Biar kamu nggak usah sering-sering beli lauk di luar, Nduk. Hemat,” bisik Ibu lembut sambil menata toples-toples itu ke dalam tas belanja.
Pukul empat pagi sebelum subuh pecah, Bapak sudah memanaskan mesin sepeda motor tua. Beliau yang mengantarku kembali ke Stasiun Garum untuk mengejar kereta pertama menuju Malang. Udara pagi terasa merasuk hingga ke tulang, tapi usapan tangan Bapak di bahuku saat melepas keberangkatanku memberikan kehangatan yang tak terhingga.
“Belajar sing tenanan ya, Nduk. Jaga diri di kota orang,” pesan Bapak pendek namun penuh bobot.
“Inggih, Pak. Bapak sama Ibu juga jaga kesehatan.”
Aku melangkah naik ke atas gerbong kereta pertama di hari Minggu dini hari itu. Saat kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Garum menuju Malang, aku menatap sosok Bapak yang berdiri melambaikan tangan di peron hingga menghilang ditelan kegelapan pagi.
Di dalam gerbong yang masih sepi, aku memeluk tas berisikan beras dan lauk kering dari Ibu. Aku tahu perjuangan di kota perantauan masih panjang dan penuh peluh, tapi dengan kesederhanaan, doa orang tua, dan tekad yang bulat, aku yakin sanggup menembus segala batas demi masa depan.
Kreator : Maria Ulfa, S.S.
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 1 Langkah-langkah Kecil
Sorry, comment are closed for this post.