BAB 1: MALAM PENGKHIANATAN
Salju pertama di Ardentia selalu jatuh pada malam Ratu hamil.
Rakyat bilang itu berkah. Raja bilang itu pertanda anak mereka akan jadi penguasa musim.
Malam itu istana dipenuhi lilin dan mawar putih.
Di tengah balai, Ratu Seraphina berdiri dengan gaun biru laut. Perutnya yang berisikan 7 bulan sudah mulai terlihat. Di dalamnya, dua jantung kecil berdetak bersamaan.
“Untuk anak-anak kita,” bisik Raja Alistair, menggenggam tangannya.
Sentuhan itu hangat. Terlalu hangat untuk malam sedingin ini.
“Untuk kita,” jawab Seraphina, tersenyum.
Di sisi lain ruangan, Selene mengangkat gelasnya. Sahabat. Selir. Ular dengan mahkota.
“Untuk Ratu dan calon pewaris,” katanya, suaranya manis seperti madu beracun.
Teh di dalam gelas permata mengepulkan asap tipis. Tidak ada yang mencium bau racun peluruh di dalamnya. Tidak ada yang melihat ujung kuku Selene yang sudah biru karena sisa ramuan.
Seraphina meminumnya. Sekali teguk.
Dunia langsung miring.
“Telingaku berdenging…” gumamnya.
Alistair menangkap tubuhnya sebelum jatuh. “Sera?”
Itu kata terakhir yang didengar Seraphina sebelum gelap.
Sebelum rasa sakit merayap dari perutnya ke rahim. Sebelum dia merasakan dua kehidupan kecil di dalamnya menjerit.
Yang terakhir dia lihat adalah wajah Selene.
Tersenyum. Berbisik tepat di telinganya:
“Maaf ya, sahabatku. Tahta tidak cukup untuk dua ratu.”
Lalu dorongan.
Angin dingin.
Jurang.
Salju.
Tubuh Seraphina jatuh, meninggalkan selendang birunya yang tersangkut di ujung tebing.
Di atas, Raja berteriak. Di bawah, salju menelannya.
Dan di dalam rahimnya…
Dua hati kecil masih berdetak.
Belum waktunya mati.
Kreator : Nadya Putri
Comment Closed: Bab 1 Mahkota dari darah dan salju
Sorry, comment are closed for this post.