
Tahun 1989, di kota kecil selatan Yogyakarta, ada kota bernama Bantul. Di pinggiran kota Bantul biasanya masyarakat bekerja sebagai petani dan juga buruh kasar. Kota kecil yang masih sangat asri dan sejuk ini menyimpan banyak cerita menarik, terutama cerita tentang keluarga Pak Kasmen dan Bu Darsimi. Mereka tinggal di rumah kecil yang sudah sangat tua bersama enam orang anaknya.
Pak Kasmen adalah suami yang bertanggung jawab. meski ia hidup sebagai yatim piatu dan tumbuh besar dirawat oleh kakak perempuan satu-satunya, beliau tidak pernah melewatkan pendidikannya. Meski hanya menempuh pendidikan Sekolah Rakyat (SR), tapi dibandingkan teman-temannya yang menempuh Sekolah Lanjutan (SL), beliau masih lebih baik dalam berhitung dan juga menulis. Apalagi bekerja sebagai seorang buruh kasar, Pak Kasmen bekerja keras di beberapa tempat dan juga terkadang mencangkul di ladang kecilnya.
“Sabar… Sabar. Nandur jagung tukule alang-alang (harus sabar menanam jagung tumbuhnya jarang-jarang).” Slogan yang sering beliau dengar dari temannya yang cadel itu.
Kadang Pak Kasmen juga menjadi buruh harian di sawah tetangganya.
“Lek, sesuk nandur neng sawahku yo. Ojo lali jam limo wes mangkat, ben cepet rampung soale akeh jangglengan’e (Pak Kasmen besok menanam di sawah saya, ya. Jangan lupa berangkatnya jam lima pagi, soalnya biar lebih cepat beres karena ladangnya banyak),” ucap tetangganya.
Tak lupa juga ia membantu istrinya berjualan nasi bungkus di pasar setiap pagi.
“Pak tumbas sekul gangsal bungkus geh (Pak beli nasinya lima bungkus ya).”
Tak hanya itu saja yang bisa Pak Kasmen kerjakan. Saat musim paceklik dan pekerjaan di sawah tidak ada, tak segan Pak Kasmen pergi ke kota untuk bekerja sebagai kuli bangunan, kadang di Jogja, Semarang bahkan sampai juga ke Jakarta.
“Pak Kasmen, sesuk melu aku neng semarang yo aku butuh kenek (Pak Kasmen besok ikut saya kerja di semarang ya, soalnya saya butuh asisten tukang).”
Hidup keluarga Pak Kasmen terbilang sangat cukup dan walau pernah ekonominya juga sulit. “Bu, sesuk beras nggo masak cukup po ra kanggo mangan cah-cah?” (Bu, besok berasnya cukup apa tidak buat makan anak-anak?).
“Gak cukup, Pak. Piye nak nyempil neng Mbah Nem sek. Ben iso nggo nyambung sampe minggu ngarep (gak cukup Pak, gimana kalau pinjam beras ke mbah nem dulu buat nyambung sampai minggu depan).”
Dengan tersenyum Pak Kasmen langsung berdiri. “Ben aku wae seng nyempil.” (biar aku saja yang pergi pinjam)
Bu’e tersenyum melihat senyum suaminya yang sangat semangat dalam mencari nafkah dalam kondisi apapun sekarang, tak pernah menyulutkan semangat Pak Kasmen untuk bekerja keras dan terus memberikan nafkah yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya.
Suli adalah putri kecil mereka satu-satunya yang baru berusia 10 tahun, dia dikenal sangat rajin membantu orang tuanya,
“Nduk, nak wes adhus ojo lali ya bak e diisi meneh ben nak Bapak arep mandi gak ngangsu meneh yo.” (anakku jika sudah mandi jangan lupa embernya di isi lagi ya, biar bapak nanti kalau mau mandi gak usah ambil air lagi)
Walau masih kecil, Suli selalu senang dan ceria saat membantu orang tuanya baik itu berdagang dengan sang ibu, ikut bapaknya ke sawah membantu mencangkul, menanam padi kadang juga jagung, banyak sekali yang Suli bisa walau dia masih kecil.
“Nduk, nak bantu Bapak macul, ojo diayun banter-banter ben nanti gak kena sikilmu ya, sing ati-ati nek ngewangi Bapak ben Bapak gak salah kerjone.” (jika membantu bapak mencangkul, jangan keras-keras mengayunnya agar tidak kena kaki kamu, yang hati-hati saat membantu bapak bekerja agar bapak tidak kerja dua kali)
“Geh Bu’e, aku ati-ati selalu. Kalau gak bisa pasti aku kasih Bapak yang kerjakan agar Bapak tidak kerja dua kali,” ucap Suli menenangkan ibunya yang khawatir karena putrinya masih kecil untuk bisa membantu mencangkul di sawah.
Dalam tubuh yang kecil terdapat tenaga dan semangat yang besar, sepertinya kalimat kutipan itu sangat cocok disematkan untuk Suli, si kecil yang bertenaga besar. Masa kecil Suli dia lewati dengan penuh kerja keras.
“Gorengannya jangan lupa dibawa ke pasar, sekalian kamu sekolah ya Nak,” pesan sang ibu yang selalu menyuruh anaknya sekalian membawa apa yang bisa dibawa ke pasar karena sejalan dengan sekolah putrinya itu.
“Adiknya jangan lupa dimandiin yang bersih ya soalnya seharian main tanah terus.”
“Geh Bu, ini aku lagi ambil air, soalnya bak mandi kosong.”
Suli selalu membantu mengasuh adik kecilnya sebelum berangkat sekolah dan menyusul ibunya berdagang di pasar sehabis pulang sekolah dia lakukan setiap hari tanpa mengeluh, tanpa protes dan tanpa paksaan.
“Li, bungkusin nasi lodeh tiga ya, sama kasih gorengan juga jangan lupa.”
“Geh, Bu guru,” seorang guru yang mengajar di kelas lima, suka beli nasi lodeh dagangan Ibu.
Semua Suli lakukan karena ia sangat menyayangi Ibu dan Bapak yang memang harus bekerja keras sebab mereka bukanlah orang yang berkecukupan. Kekurangan bukan hal baru dalam keluarga Suli. Tidak punya beras, nasi kering yang sudah dijemur dan dimasak lagi untuk menggantikan beras pun jadi makanan. Jagung yang sudah remuk hasil dari memungut bekas gilingan tetangga yang sedang panen jagung juga diubah menjadi makanan. Apalagi kalau masalah air, dimana sumur keluarga Suli kadang kekeringan karena kemarau panjang. Setiap hari mereka harus mengambil air tetangga yang sedikit bau karat atau bau tanah yang sudah menyengat juga bisa mereka gunakan untuk bertahan hidup. Semua cobaan dilalui. Semua omongan pahit orang lain juga didengar. Tapi, tetap tidak membuat surut keluarga Pak Kasmen untuk terus bersyukur. Sawah tak punya, harta tiada, saudara tak berada, hidup pun seadanya. Itulah yang membuat Suli ikut berjuang bersama orang tuanya, karena dia tahu bagaimana ibu dan bapaknya sangat letih.
“Sudah sholat belum, Pak?’’ tanya sang ibu, melihat suaminya yang duduk-duduk santai di dipan depan rumah, sedangkan adzan sudah berkumandang sedari tadi.
“Iya Bu, sebentar. Bapak lagi mikir buat besok beli kayu bakar apa ada uang, Bu?’’ tanya Bapak kepada istrinya.
“Ya habis, Pak. Kan kemarin uangnya dipakai buat bayar wagean dan juga kemisan (cicilan bank harian).”
“Makanya Bapak bingung ini, kayune mau ambil dari Pak Kaji(haji) dulu, piye Bu?”
“Emang masih dikasih? Kan kemarin kita telat bayar, Pak Kaji ne nesu. Kalau dikasih sih, alhamdulillah.”
“Coba aja ya, Bu. Aku tak sholat dulu, habis itu ke Pak Kaji nyempil kayu.”
“Iya, Pak. Berdoa sek ambek seng kuoso (kepada Allah) biar dikasih gampang urusane.”
Setiap malam setelah shalat Maghrib, Suli selalu menyempatkan diri pergi ke mushola untuk mengaji. Selain mengaji, dia juga bermain sebentar bersama teman-teman sambil menunggu sholat Isya.
Setelah shalat, Suli bergegas pulang karena harus membantu ibunya menyiangi sayuran untuk keperluan dagang besok pagi.
“Aku pulang sek yooo,” pamitnya dengan teman mainnya, yang setiap hari dia lakukan.
“Yoooo, sesuk ojo lali ya, ke sekolah. Kamu sudah tiga hari gak masuk sekolah loh, ditanya Bu Guru.”
“Iyo(iya), ok insyaallah ya, aku tak bilang ibuku sek(dulu) nanti.” Suli bergegas pulang, di rumah dia memberitahu ibunya tentang pesan temannya itu.
“Bu’e, katane temanku, Bu Guru cariin aku eh. Soale udah tiga hari gak sekolah. Piye, Bu?”
“Ya wis besok sekolah, kan. Kamu wis gak bantu Bapak ke sawah toh, wong kerjaan Bapakmu wis selesai, jadi berangkat wae ke sekolah besok. Tapi ingat, Nak. Besok anterin adikmu dulu ke rumah bibimu ya.” “Iya, Bu’e.”
Suli sangat semangat mendengar dia sudah bisa sekolah lagi, karena sudah hal biasa bagi Suli jika saat musim panen tiba dia sibuk ke sawah membantu ayahnya yang mendapatkan banyak pekerjaan dari tetangganya.
Suli makin semangat membantu ibunya memotong sayuran, karena besok dia sudah bisa sekolah lagi. Membayangkan di sekolah nanti dia mengerjakan tugas dan pelajaran dari gurunya serta main dengan temannya membuat Suli terus tersenyum tak berhenti.
“Kenapa senyum-senyum dewe (sendiri), Nduk?” tanya Ibu.
“Aku seneng nak bisa sekolah maneh, Bu’e. Soale nak konco-koncoku mangkat, jujur aku sok isin, soale aku dewe sing ora sekolah.” Ucap anak umur 10 tahun yang sudah punya rasa malu kepada teman-temannya, yang ditahan selama ini hingga orang tuanya pun tak tau.
“Sepurane Ibu ya, Nduk. Kamu jadi gak bisa sekolah, malah bantu Ibu lan Bapak terus-terusan.”
“Ndak, Bu’e. Aku ikhlas dan seneng. Hanya saja, kadang konco-konco suka ngatain. Tapi, yo ndak apa-apa sih, aku gak peduli juga.” Suli menenangkan ibunya yang sedih karena anaknya tak bisa sekolah setiap hari.
Didikan orang tuanya kepada Suli sejak kecil sangat tegas dan tidak memanjakannya walau dia anak perempuan satu-satunya, harus bisa bertanggung jawab untuk semua tugas yang diberikan dan sopan santun terhadap siapa saja, harus saling membantu dan bertingkah laku baik.
Didikan keras itu membuatnya menjadi anak perempuan yang tangguh. Suli adalah putri yang amat di sayang bapak dan ibunya, walau terkadang terlihat tidak adil baginya, karena dia yang lebih banyak membantu orang tuanya dibandingkan saudara lelakinya yang lain. Tapi, Suli selalu melakukannya dengan gembira dan senang, tak pernah mengeluh dan juga menangis. Itu semua yang membuat Suli tumbuh menjadi gadis cantik yang kuat, tangguh dan disayangi banyak orang. Bahkan namanya sampai dikenal di kalangan pelanggan nasi ibunya.
“Anakmu wes gede lan pinter juga lek,’’ ucap Pak Kades yang kagum dengan kepribadian Suli.
“Nggih, Pak. Alhamdulillah niki, mboten pernah rewel putrine,’’ sambut sang ibu yang bersyukur memiliki Suli sebagai putri kesayangannya.
“Nak wes gede arep tak pek mantu oleh gak lek? ( kalau sudah besar mau saya jadikan menantu boleh gak, Bu?).”
“Lah Pak Kades saget mawon(bisa aja),’’ dalam gurauan ibunya Suli.
Suli mendengar candaan ibunya dan Pak Kades hanya senyum-senyum saja karena itu bukan baru pertama kali dia mendengar candaan bapak-bapak di warung nasi ibunya.
Mulai dari masyarakat biasa sampai pejabat daerah juga sering memuji kepribadian Suli yang baik dan sopan kepada siapa saja.
Ibu dan bapaknya juga bangga kepada Suli karena dia tumbuh menjadi putri yang di idamkan banyak orang tua di kalangan tetangganya dan juga para pelanggan nasi ibunya.
Sebagaimana perintah Allah swt yang pernah Suli baca saat mengaji, bahwa anak harus berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada siapa saja, seperti hadis Rasulullah saw : “Ridha Allah ada pada ridha orang tua, dan murka Allah ada pada murka orang tua”. (Hr. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al- Hakim). Dan juga, Kullu ma’rufin shadaqah, setiap kebaikan adalah sedekah
(Hr. bukhari dan muslim )’’.
Apa yang Suli pelajari saat mengaji dari guru ngajinya dan nasehat-nasehat dari siapapun yang dia hormati betul-betul dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, anak usia 10 tahun yang sudah bisa merasakan bahwa dia terlahir bukan dari orang tua yang kaya. Dia tidak bisa berpangku tangan. Dia tidak bisa memiliki apapun yang dia inginkan dan yang paling penting adalah kesadarannya akan berbakti pada orang tua sangatlah penting dalam kehidupan, membantu dan bersyukur tidak boleh lupa, karena kesabaran akan datang dengan sendirinya saat kita mau menerima takdir Allah dengan tidak mengeluh dan terus berikhtiar.
Kreator : Siti Purwaningsih (Nengshuwartii)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: BAB 1- MASA KECIL
Sorry, comment are closed for this post.