KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1 Musim Dingin Di Antara Dua Selimut

    Bab 1 Musim Dingin Di Antara Dua Selimut

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 12 kali
    Musim Dingin Di Antara Dua Selimut_alineaku

    Dinding kamar itu seolah menebarkan hawa es yang sanggup membekukan tulang. Di atas tempat tidur berukuran king size, hanya ada keheningan yang tebal dan berat. Dua buah selimut terhampar terpisah. Di bawah selimut sebelah kiri, Maya berbaring memunggungi sisi kanan, menahan napas agar isaknya tak terdengar. Di bawah selimut sebelah kanan, Aris menatap layar ponselnya yang meredup, tanpa berniat sedikitpun berpaling atau sekadar menyentuh bahu istrinya.

    Delapan tahun lalu, tempat tidur ini adalah saksi bisu kehangatan yang tak pernah padam. Mereka pernah melintasi malam-malam panjang penuh tawa, saling menggenggam tangan, dan bertukar impian tentang suara langkah-langkah kecil yang kelak meramaikan rumah mereka. Namun, tahun berganti tahun, ruang tengah yang selalu sepi dan hasil tes kehamilan yang terus-menerus menunjukkan satu garis seolah perlahan memakan kebahagiaan mereka.

    Dokter sudah berulang kali menegaskan: secara medis, keduanya sama sekali tidak mandul. Ini hanya masalah waktu dan rezeki yang belum mengetuk pintu. Namun bagi Aris, penjelasan medis itu tak lagi cukup untuk mengobati keadaannya yang kian hampa. Kebersamaan yang dulunya manis kini berubah menjadi medan pertempuran harian. Hal-hal kecil—suara piring bertabrakan, handuk yang basah di atas kasur, hingga keterlambatan menyajikan makan malam menjadi pemantik pertengkaran hebat yang menggelegar.

    “Kamu mau sampai kapan seperti ini, Ris?” suara Maya memecah kesunyian, parau dan bergetar.

    Ia membalikkan badan, menatap punggung Aris yang kaku. Aris tidak mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar. 

    “Seperti apa lagi, Maya? Aku capek. Setiap pulang ke rumah ini, yang aku rasakan cuma tekanan.”

    “Tekanan dari siapa?” air mata Maya menetes, membasahi bantal. 

    “Aku juga berusaha, Ris! Aku juga sakit setiap kali orang-orang bertanya kapan kita punya anak! Tapi kenapa kamu berubah seolah-olah semua ini cuma kesalahanku? Kenapa beberapa bulan terakhir ini kamu seperti asing?”

    Aris menghela napas kasar, melemparkan selimutnya, lalu duduk di tepi ranjang tanpa menatap Maya. 

    “Sudahlah. Aku malas bertengkar lagi malam ini. Aku mau tidur di sofa.”

    Tanpa menunggu balasan, Aris melangkah keluar  sambil membawa bantal dan selimut lalu menutup pintu dengan hempasan keras. Maya terisak sendirian, mendekap dadanya yang sesak. Ia tidak pernah menduga bahwa musim dingin di antara dua selimut malam ini hanyalah awal dari badai yang jauh lebih menghancurkan.

     

    Pertengkaran yang kian meluas membuat Maya akhirnya memutuskan untuk menepi sejenak. Akhir pekan itu, ia berkunjung ke rumah orang tuanya untuk mencari sedikit ketenangan. Namun, suasana rumah terasa sepi. Ibu dan ayahnya sedang menghadiri acara kerabat di luar kota, sementara Mbak Rika—kakak kandungnya yang berusia dua tahun lebih tua dan sudah bercerai sejak tiga tahun lalu seharusnya berada di rumah.

     

    Maya melangkah pelan menuju lantai dua, berniat meminjam kain untuk menyulam dari kamar kakaknya. Pintu kamar Rika sedikit terbuka, meremangkan cahaya dari luar. Maya hendak mengetuk pintu, tetapi langkahnya terhenti secara mendadak. 

    Dari dalam kamar, terdengar suara bisikan yang sangat familier. Suara laki-laki yang sangat ia kenal, berdampingan dengan suara gelak tawa halus kakaknya sendiri.

    “Kamu yakin Maya tidak akan curiga?” suara Rika terdengar lembut, mengalun penuh manja.

    “Dia tidak akan tahu,” balas suara pria itu, suara Aris, suaminya. 

    “Aku sudah bilang padanya kalau aku ada rapat luar kota sampai besok. Aku cuma bisa tenang kalau ada di dekatmu, Rika. Rumah itu… rumah itu seperti kuburan.”

    “Kasihan Maya, Ris. Tapi aku memang tidak bisa membohongi perasaanku lagi. Kamu jauh lebih perhatian daripada mantan suamiku dulu.”

    “Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu mengerti aku, Rika. Kamu tidak seperti Maya yang hanya bisa membuatku stres.”

     

    Jantung Maya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dunia di sekitarnya runtuh tak berbekas. Dengan tangan yang gemetaran parah dan napas yang tertahan di tenggorokan, ia mendorong pintu kamar itu lebar-lebar.

    Cklek.

    Dua orang di dalam kamar langsung melonjak kaget. Wajah Aris mendadak pucat pasi bagai mayat, sementara Rika buru-buru membenarkan letak pakaiannya dengan mata terbelalak ketakutan.

    “Ma… Maya?!” bisik Aris gagap, matanya membesar karena terkejut.

    Maya berdiri di ambang pintu. Tidak ada teriakan histeris. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang mengucurkan air mata dingin. Rasa sakitnya begitu dahsyat hingga suaranya pun hampir hilang.

    “Delapan tahun kita membangun rumah tangga, Ris…” suara Maya bergetar hebat. “Dan dari sekian banyak wanita di dunia ini… kenapa harus kakakku sendiri?”

    “Maya, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!” Aris mencoba melangkah mendekat, hendak meraih tangan Maya.

    “Jangan sentuh aku!” jerit Maya memotong, menghentikan langkah Aris seketika. Ia lalu menatap Rika, wanita yang tumbuh bersamanya sejak kecil.

    “Mbak Rika… kamu tega menusukku dari belakang? Saat aku berjuang mempertahankan pernikahan ini, kamu malah membukakan pintu untuk suamiku?”

    Rika menunduk, tak berani menatap mata adiknya.

    “Maya… maafkan Mbak… kami tidak sengaja, kami cuma—”

    “Cukup,” potong Maya dingin. Seluruh air matanya seolah mengering digantikan oleh ketegasan yang lahir dari rasa hancur paling dalam. 

    “Kalian berdua sangat cocok. Dan aku tidak akan pernah sudi tinggal serumah lagi dengan seorang pengkhianat.”

    Perceraian itu berjalan cepat dan menyakitkan. Maya keluar dari rumah tangga tersebut tanpa membawa apapun kecuali harga dirinya yang tersisa. Di bawah tatapan nanar dan kekecewaan mendalam dari orang tua mereka, Aris dan Rika akhirnya meresmikan hubungan gelap mereka dalam pernikahan tanpa pesta yang meriah beberapa bulan kemudian.

    Bagi Maya, duka harus dilawan dengan bertahan hidup. Ia membuang jauh-jauh nostalgia pahit dan memutuskan untuk bangkit. Ia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan periklanan terkemuka di ibu kota dan berhasil diterima sebagai Manajer Pemasaran. Namun, takdir memiliki selera humor yang unik. 

    Di hari pertamanya bekerja, saat melangkah ke ruangan direksi, Maya dibuat terpana. Pria bertubuh tegap yang duduk di kursi CEO di balik meja kaca megah itu adalah Rangga.

    Rangga, Pria yang sewaktu kuliah dulu merupakan musuh bebuyutannya—saingan terberatnya dalam setiap kompetisi debat, pria yang paling sering berdebat sengit dengannya di lorong kampus.

    “Maya?” Rangga menyipitkan mata, lalu menyunggingkan senyum tipis yang khas. 

    “Jadi, pelamar dengan portofolio terbaik yang dikirim divisi HRD ini adalah kamu? Musuh lamaku?”

    Maya menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya. 

    “Saya di sini untuk bekerja secara profesional, Pak Rangga. Bukan untuk mengenang masa lalu.”

    Rangga berdehem pelan, menyandarkan punggungnya di kursi. “Bagus. Aku suka profesionalitasmu.”

    Namun, di balik sikap profesional dan perdebatan kecil yang kerap mewarnai rapat-rapat kantor, Rangga terbukti bukan lagi pemuda arogan yang dikenal Maya sewaktu kuliah. Rangga telah tumbuh menjadi pria dewasa yang matang, bijaksana, dan sangat peka.

    Ketika Rangga lambat laun mengetahui kisah kelam masa lalu Maya, ia tidak pernah memandang Maya dengan rasa kasihan, melainkan dengan kekaguman yang mendalam atas ketegaran wanita itu. Sikap Rangga yang selalu pasang badan melindungi Maya dari tekanan kerja, kehangatan perhatiannya yang konsisten, serta caranya menghargai Maya sebagai seorang wanita penuh karya, perlahan-lahan mencairkan kebekuan di hati Maya.

    Dua tahun bekerja bersama, Rangga akhirnya memberanikan diri melamar Maya di sebuah restoran tepi pantai saat matahari terbenam.

    “Aku tahu hatimu pernah hancur berkeping-keping, Maya,” ujar Rangga tulus, menggenggam jemari Maya dengan lembut. 

    “Aku tidak berjanji hidup kita akan selalu tanpa masalah. Tapi aku berjanji, kamu tidak akan pernah melintasi musim dingin sendirian lagi. Maukah kamu mengizinkan aku menjagamu?”

    Dengan air mata bahagia yang merembes di pipinya, Maya mengangguk pelan. 

    Pernikahan mereka digelar secara hangat dan penuh khidmat. Tak berselang lama setelah pernikahan itu, sebuah keajaiban yang selama delapan tahun dinantikan Maya akhirnya terwujud. Tuhan menjawab doa-doanya dengan cara dan waktu yang paling indah: Maya dinyatakan hamil. Sembilan bulan kemudian, tangisan bayi laki-laki yang sehat melengkapi kebahagiaan di rumah tangga baru mereka.

    Sementara itu, di sudut kota yang lain, kehidupan Aris dan Rika berjalan dalam bayang-bayang penyesalan yang panjang. Pernikahan yang dibangun di atas rasa sakit orang lain itu kini terasa makin hampa. 

    Tahun-tahun berlalu, namun dari pernikahan Aris dan Rika, tidak pernah terdengar tangisan bayi. Dokter kembali menegaskan bahwa mereka berdua sehat, namun kehamilan tak kunjung datang. Setiap kali Aris secara tidak sengaja melihat unggahan foto Maya di sosial media, tersenyum anggun memangku bayinya bersama Rangga yang memeluknya penuh kasih, dada Aris dihantam penyesalan yang teramat dalam. Ia kini menyadari, kelaziman dan kesetiaan tidak bisa ditukar dengan rasa penasaran sesaat.

    Di kamar rumahnya yang hangat dan riuh oleh tawa sang buah hati, Maya menyelimuti anaknya yang tertidur lelap. Rangga melangkah mendekat dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Maya dan mengecup kening istrinya dengan lembut. Maya tersenyum manis, menatap ke luar jendela yang sedang diguyur hujan gerimis. Hatinya telah sembuh sepenuhnya. Musim dingin yang panjang dan membekukan itu telah usai, digantikan oleh musim semi yang abadi dalam pelukan cinta yang tepat.

     

     

    Kreator : Yulita Halim

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1 Musim Dingin Di Antara Dua Selimut

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021