KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 1 – Pertemuan

    BAB 1 – Pertemuan

    BY 01 Mar 2026 Dilihat: 4 kali
    BAB 1 - Pertemuan_alineaku

    Hari ini adalah hari lowongku. Tak biasanya aku punya waktu untuk beres-beres rumah. Rumah yang sudah menjadi tempat kerjaku. Seluruh hidupku dicurahkan di setiap sudut bangunan. Aku memutar lagu “Hello” yang dinyanyikan oleh 3 member Seventeen yakni Jun, Mingyu dan DK. Seventeen adalah grup kpop kesayangan yang selalu membangkitkan semangat hidup setiap hari.

    Kubersihkan debu dan kotoran di setiap sisi rumah sembari mendengarkan lagu “Hello”. Dalam rumahku terdapat foto Mingyu yang hampir memenuhi area hunian. Aku benar-benar menyukai sosoknya. Bagiku, dia adalah orang hebat yang bisa menerangi hidupku.

    Tiba-tiba aku kedatangan tamu yang tak pernah kutemui. Ia seorang laki-laki yang sepertinya lebih tua dariku. Dia bertubuh kekar dengan pakaiannya yang bagus dan menawan. Hal itu membuatku berpikir dia adalah orang kaya.

    “Maaf anda cari siapa ya?” tanyaku penasaran.

    “Saya mencari orang yang bernama Choi Ara? Apakah kamu orangnya?” tanya laki-laki itu.

    Aku bingung. Dia siapa? Kenapa dia bisa mengenalku?

    “Anda tahu tentang saya dari siapa? Sepertinya saya belum pernah melihat wajah anda baik pengunjung setia toko saya maupun orang yang tinggal di daerah sini?” kataku was-was.

    Oh, apa yang harus kulakukan? Apakah dia orang baik atau orang yang bermaksud jahat? Jika perangainya baik, aku sungguh selamat. Namun kalau dia orang jahat, apakah aku harus kabur dari rumahku sendiri? Dilema ini benar-benar membuatku gusar.

    “Kamu tak perlu takut. Saya adalah saudara laki-lakimu, meski kita lahir dari ibu yang berbeda dengan ayah kandung yang sama” kata laki-laki tersebut.

    “Apa? Anda jangan bercanda.. Saya tidak memiliki ayah sedari kecil. Jadi, tolong anda sudahi pembicaraan ini karena saya tidak tertarik dengan ucapan anda” jelasku. 

    Laki-laki itu terdiam sejenak, kemudian berkata “Saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya adalah Jung Hoseok. Saat ini, kamu boleh tidak memercayai ucapan saya. Namun, kita benar-benar memiliki hubungan darah.”

    Hah?? Yang benar saja? Haruskah ku akui ocehan manusia asing itu?

    Wait, anda tidak bisa hanya berucap saja. Saya butuh bukti konkret sehingga anda tidak termasuk orang yang membual di sini” tegasku padanya.

    Laki-laki itu tersenyum. Kemudian ia berkomunikasi dengan seseorang melalui telpon. Aku mendengar sekilas bahwa ia meminta penerima panggilan tersebut untuk menghampiri keberadaannya.

    Tiba-tiba muncul laki-laki yang berjas elite dengan secarik amplop di tangan kanannya.

    “Ini, tuan” kata laki-laki tersebut.

    Pria bernama Jung Hoseok itu membuka amplop dan satu rangkap kertas dikeluarkan melalui tangan kanannya.

    “Kamu boleh baca dokumen ini” kata Jung Hoseok.

    Kulihat secara perlahan isi berkas tersebut. Hingga aku dikejutkan oleh data valid yang menunjukkan kebenaran bahwa ada ikatan keluarga antara diriku dan Jung Hoseok serta ayah kandung kami dengan nama Jung Gyu-Won.

    “Mustahil. Bagaimana hasil ini muncul? Biasanya tes DNA butuh sampel yang berkaitan dengan saya. Cara apa yang anda peroleh untuk mendapatkan sampel saya?” tanyaku.

    “Saya menggunakan bantuan banyak pihak. Mulai dari sampel darahmu pada saat donor darah dan melalui bantuan anak kecil yang saat itu menarik beberapa helai rambut ketika kamu sedang perjalanan pulang dari kegiatan tersebut” tutur laki-laki itu.

    WHAT THE F*CK. Jadi kejadian hari itu adalah rekayasa orang ini. Oh, gawat. Aku bertemu dengan orang gila yang mengaku sebagai saudara kandungku.

    “Lantas, dengan hasil tes DNA ini, apa tujuanmu datang kemari? Tak mungkin kamu hanya asal mengambil sampel bagian fisik saya?” tanyaku penasaran.

    “Kamu sungguh pintar! Kedatangan saya ke mari adalah untuk memberimu undangan melihat pertunjukan memasak langsung dari Mingyu, Idol Kpop anda. Saat ini, dia sedang ada variety show singkat dari Perusahaan Bibigo. Dalam acara tersebut, Mingyu fokus mempromosikan produk perusahaan melalui acara masak-masakan. Apa kamu tertarik untuk melihat secara langsung?” cakap Jung Hoseok.

    Hah? Seriusan ini? Bertemu dengan Mingyu? Dia tidak sedang mengada-ada kan?

    “Apa buktinya kalo saya bisa ikut dalam acara tersebut?” tanyaku memastikan.

    “Kamu bisa menggunakan ID card yang sudah saya buatkan melalui teman saya. Ini saya berikan. Pastikan saat kamu memasuki gedung nanti, kamu selalu pasang kartu identitas ini” ucap Jung Hoseok.

    “Tentu saja. Saya tidak akan lupa menggunakan kartu akses ini. Namun, apakah orang-orang di gedung variety show nanti mengizinkan saya masuk hingga ke dalamnya?” tanyaku lagi.

    “Kamu tenang saja. Selama ada ID card itu, kamu tidak akan dipersulit oleh mereka” jawabnya yang membuat hatiku lega.

    “Lalu sekarang, apa status yang ada di antara kita?” 

    Aku bertanya demikian supaya aku tahu siapa yang kakak dan siapa yang adik.

    “Tentu saja, kamu adalah adik saya, sedangkan saya adalah seorang kakak laki-laki” tuturnya.

    “Oke, oke, baiklah. Terus kakak mau bahas apa lagi dengan saya? Soalnya saya mau selesai bersih-bersih ruangan karena sebentar lagi waktu toko saya dibuka” kataku.

    “Sudah selesai. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan” ujar Jung Hoseok.

    “Ya sudah. Kalau begitu, saya izin lanjut membersihkan dan merapikan rumah, kak” kataku.

    “Boleh saya membantu kamu?” tanya Jung Hoseok yang kini kupanggil dengan sebutan kakak.

    “Kakak mau bantu? Memangnya tidak apa-apa?” sahutku.

    “Sebentar saja sekitar 10 menit. Setelah itu, saya harus ke pergi ke kantor kembali” terang beliau.

    “Oh, saya lupa mengingatkanmu. Kamu harus memanggil saya ‘Kak Hoseok’. Biar kita lebih akrab” ucapnya kembali.

    Aku menggangguk. Namun kudapati sorot mata tajam darinya.

    “Berlatihlah memanggil saya dengan sebutan itu. Saya ingin dengar langsung dari mulutmu sendiri” tuturnya.

    Aish.. Dia benar-benar menjengkelkan. Kesalku dalam hati.

    “Baik, Kak Hoseok”

    Ia tertawa puas saat aku berucap demikian. Aku hanya bisa menghela nafas pelan dengan tingkah kekanak-kanakannya itu.

    Seperti yang sudah Kak Hoseok sampaikan padaku, ia pergi meninggalkan lokasi setelah 10 menit berakhir bersama dengan pegawai laki-lakinya yang berjas hitam elegan.

    “Akhirnya dia pergi juga. Kedatangannya benar-benar mengejutkanku” ucapku seorang diri.

    “Tapi.. aku senang dia memberiku kesempatan emas bertemu dengan idola Kpop-ku. Oh Mingyu.. Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung. Hahaha”

    Bahagiaku memuncak hebat. Hingga tak henti-hentinya ku senyum-senyum sendiri di tengah kegiatan bersih-bersih yang masih kukerjakan.

    ——————————————————————————-

    Aktivitas toko busana berjalan seperti biasa. Hanya segelintir orang yang mau menggunakan jasaku menjahit atau merancang busana sesuai dengan keinginan mereka. Aku tak marah, kesal ataupun sedih dengan keadaan tersebut. Bagiku, meneruskan perusahaan kecil milik ibuku adalah anugerah. Walaupun sesekali hatiku terasa pilu. Bukan karena sedikitnya pengunjung yang datang. Namun kesendirianku membangun bisnis ini, tanpa kehadiran ibu di sisiku.

    “Bu.. Hari ini usahanya lancar. Pelanggan setia ibu masih terus datang ke rumah kita. Hari ini aku juga dapat hadiah besar dari kakak laki-lakiku. Ibu tahu? Aku bisa ketemu Mingyu, idola favoritku”

    Monolog-ku terurai kala kuamati wajah ibu dalam sebingkai foto keluarga yang hanya ada aku dan dia saja.

    Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar rumah. Kulihat laki-laki yang selama ini menjadi tetangga sekaligus teman dekat bisnisku. Ia adalah Gim Hae-Joon.

    “Hae-Joon, ada apa ke mari?” tanyaku ingin tahu.

    “Ibu saya ingin memberimu kimchi buatannya. Tadi dia berkunjung ke rumah saya dan ingin membagikan kimchi darinya untukmu” kata Hae-Joon.

    “Ya ampun, ibumu baik sekali. Aku selalu merepotkan beliau jadinya. Ngomong-ngomong, terima kasih ya.. sudah mengantarkan kimchi ke mari” ujarku pada Hae-Joon.

    Hae-Joon mengangguk. Lalu aku berkata, “Nanti aku beritahu bibi Hong ungkapan terima kasihku padanya.”

    Hae-Joon kembali mengangguk. Kemudian ia melangkah pergi sehabis meminta izin pulang padaku.

    Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuatku berteriak padanya.

    “Hae-Joon, ke mari sebentar, aku ada perlu” 

    Ia menolehkan pandangannya sekejap, lalu melangkah pergi menuju tempatku berada.

    “Ada apa?” tanya Hae-Joon.

    “Besok sore aku ada urusan di suatu tempat. Apa kamu bisa mengantarku ke lokasi tersebut?” pintaku.

    “Memangnya kau ada urusan apa?” balas Hae-Joon.

    “Aku ingin bertemu BIAS-ku, Mingyu Seventeen” jawabku.

    Hae-Joon menggelengkan kepala, lalu berucap “Hari-harimu tidak jauh dari urusan per Kpop-an. Memangnya tidak cukup kau pasang banyak poster bergambar Mingyu di rumahmu?”

    “Ey.. Itu lain hal. Besok aku dapat melihat langsung orangnya, Joon” kataku.

    “Yang benar saja? Kamu tidak sedang berbohong kan?” tanya Hae-Joon.

    “Aku tidak berbohong. Sebentar, biar kuambil ID card dan handphone-ku supaya kamu memercayai ucapanku”

    Aku berjalan mendekati lokasi keberadaan handphone dan kartu identitas yang diberikan oleh Kak Jung Hoseok.

    “Lihatlah! Aku tidak berbohong padamu” ucapku.

    Kutunjukkan pada Hae-Joon beberapa hal diantaranya foto arsip DNA, kartu identitas dan postingan tentang cooking show Mingyu dengan Perusahaan Bibigo.

    Hae-Joon mematung sejenak. Aku rasa dia terkejut layaknya situasiku sebelumnya.

    “Terus kamu memercayai semua ucapan orang yang mengaku sebagai kakak kandungmu itu?” ucap Hae-Joon.

    “Sebetulnya aku masih fifty fifty. Oleh karena itu, aku ingin kamu menemaniku ke tempat variety show besok. Jika orang itu berkata benar, aku sungguh beruntung bisa bertemu Mingyu secara langsung. Namun jika dia berkata bohong, kamu bisa bantu menjagaku dari tipu dayanya itu” kataku.

    Hae-Joon diam beberapa menit. Kuberikan ia waktu merenung sejenak supaya ia bisa memutuskan dengan tepat hendak menolongku atau enggan membantu.

    “Baiklah, saya akan menemanimu ke tempat itu besok sore. Jam berapa kamu pergi ke lokasi?” tanya Hae-Joon.

    “Karena acara variety show mulai dari jam 4 sore, kita berangkat jam setengah 3 sore saja” jawabku.

    Hae-Joon mengerti. 

    “Apakah kamu ada yang mau dibicarakan lagi dengan saya?” tanya Hae-Joon memastikan.

    “Tidak, kamu sudah boleh pulang ke rumahmu, Joon” kataku.

    Hae-Joon gegas melangkahkan kaki menuju arah tempat tinggalnya. Sedangkan aku kembali ke posisi semula yakni duduk bersandar di kursi meja kasir.

    Hari ini tak ada pelanggan yang meminta bantuanku memperbaiki atau merancang busana sehingga tugasku hanyalah menanti kedatangan pelanggan yang sudah kuperbaiki pakaiannya yang rusak.

    —————————————————————————-

    Alarm kamarku berbunyi. Aku membuka mata. Hari ini adalah hari aku bisa bertemu dengan idola kesayanganku, Mingyu. Kuambil handuk dan pakaian ganti, kemudian gegas memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih diri.

    “Segarnya..” celotehku sesaat.

    Kukeringkan rambut sewajarnya, lalu kugunakan hair dryer supaya tak ada rambut yang terlalu basah.

    “Oke, selesai” kataku.

    Kuambil pakaian-pakaian yang cocok saat berkunjung di acara variety show nanti.

    ——————————————————————————-

    Waktu sudah menunjukkan angka 9 pagi. Aku berangkat menuju halte bus yang dekat dengan lokasi rumahku. Aku hendak pergi ke salon kecantikan yang sudah ku-reservasi kemarin siang. 

    “Selamat datang” sapa petugas salon.

    Kutunjukkan bukti booking visit pada petugas salon. Akhirnya salah satu pegawai mengarahkanku ke tempat facial treatment terlebih dahulu sebelum bagian hair salon.

    “Mau model rambut apa mba?” tanya seorang petugas.

    Aku melihat beragam model rambut yang terpampang di salon. Namun, aku memilih gaya rambut blunt bob. Penata rias salon berkata, “Sudah selesai mba.”

    Aku memerhatikan hasil pengerjaan beliau. Hmm.. Cukup bagus hasilnya, batinku.

    “Oke mba, makasih ya” kataku yang kemudian berjalan menuju lokasi kasir salon tersebut.

    Kubayar seluruh biaya pengeluaran yang terinci dalam daftar penerimaan layanan salonku tadi. Lalu kupesan sebuah taksi dan butuh sekitar 15 menit hingga aku bisa menaiki kendaraan tersebut yang tujuannya ialah jalan rumahku. Dalam perjalanan pulang, aku melihat seorang anak sedang bermain dengan anjing peliharaannya. Sekilas memori lamaku yang berkaitan dengan anjing jindo nenek muncul.

    “Ibu, apakah itu anjing milik nenek?” tanyaku pada ibu.

    “Iya, sementara ini dia akan tinggal dengan kita” jawab ibu.

    “Memangnya nenek tidak menyayanginya lagi?” tanyaku.

    “Nenek sudah tidak memiliki waktu untuk menemaninya lagi. Ia sudah pergi dan tak akan kembali” kata ibu.

    “Pergi? Pergi ke mana?” tanyaku lagi.

    “Ia sudah tiada. Nanti kamu ikut ibu saat proses pemakamannya” tutur ibu.

    Seketika aku terjatuh, lemas tak berdaya. Nenek yang selama ini sangat menyayangiku sudah meninggal.

    “Ji-Ho, sekarang kamu tinggal di sini ya.. Kamu akan selalu dicintai olehku dan ibu” celotehku pada anjing milik nenek seraya mengelus bulunya.

    Beberapa waktu kemudian, aku menghampiri Ji-Ho sehabis pulang sekolah. Namun kudapati hal yang mengejutkan. Ji-Ho sakit setelah 1 tahun tinggal bersama aku dan ibu. Mataku sayu. Ibu mendekatiku yang tengah bersedih atas kepergian Ji-Ho.

    “Nak.. relakan Ji-Ho ya. Ibu tahu kamu sangat sedih, tapi biarkan Ji-Ho tenang. Mungkin Ji-Ho sudah bertemu dengan nenek di alam sana” ucap ibu sembari memelukku erat.

    Aku menangis hebat dalam pelukan hangat ibu hingga tangisanku reda setelah tiga puluh lima menit berlalu.

    Kilas balik masa laluku tiba-tiba terhenti saat kudengar supir taksi telah sampai di area rumahku.

    “Makasih pak” kataku setelah pembayaran tarif diselesaikan.

     Aku memanggil Hae-Joon dari luar gerbang rumahnya setelah kuganti pakaian dengan yang dikhususkan untuk kunjungan ke variety show. Namun Hae-Joon tidak muncul dari balik pintu rumahnya.

    “Hae-Joon” panggilku kembali setelah memencet bel dua kali.

    Hae-Joon keluar rumah dengan stelan jaket denim biru tua, kaos putih dan celana jeans panjang bercorak navy.

    “Kamu berisik sekali di rumah orang lain” kata Hae-Joon.

    “Sangat tidak sabaran sekali ingin bertemu idol Kpop-mu” celetuk Hae-Joon.

    “Hush, diam. Cepat antar diriku supaya kita tidak terlambat ke lokasi acara” kataku sedikit tegas.

    Hae-Joon menggelengkan kepalanya lalu memberikan helm padaku. Kugunakan helm tersebut lalu duduk di kursi penumpang. Hae-Joon menyalakan mesin motornya lalu berucap dengan nada sedikit tinggi, “Kamu tidak mau duduk dengan memegang erat saya? Memangnya kamu mau celaka?.”

    “Tidak usah khawatir, Joon. Aku masih bisa tetap stabil di motor tanpa harus berpegangan padamu” ocehku padanya.

    Kudengar helaan nafas Hae-Joon yang pelan. Kemudian kendaraan motor dipacu olehnya dengan kecepatan rata-rata yakni 60 km/jam.

    “Ara, jika benar laki-laki yang bertemu denganmu kemarin adalah saudara kandungmu, maka saya pikir kamu perlu mencari tahu fakta tentang masa lalu ibu dan ayahmu” ucap Hae-Joon tiba-tiba saat lampu merah lalu lintas menghentikan perjalanan kami.

    “Baiklah. Aku akan mencari tahu hal itu” balasku.

    Kami melanjutkan perjalanan kembali ketika lampu hijau menyala. Hingga putaran roda motor Hae-Joon berhenti di sekitar area kantor Bibigo.

    “Kamu mau ikut ke dalam gedung tidak?” tanyaku sembari menyerahkan helm pada Hae-Joon.

    “Tidak usah. Hanya kamu saja yang punya akses masuk ke sana. Saya tidak ingin mendapatkan situasi yang tidak mengenakan akibat tidak mempunyai ID card seperti milikmu. Jika nanti kamu mengalami hal buruk, maka kirimkan saja sinyal SOS pada saya” tutur Hae-Joon.

    Aku membalas ucapan Hae-Joon dengan isyarat ‘Ok’ padanya. Kutinggalkan Hae-Joon yang seketika pergi menjauh. Kini, aku sudah berada di dalam Gedung Bibigo. Kulihat situasinya tidak ramai pengunjung.

    “Permisi. Saya mau tanya tentang lokasi variety show Mingyu Seventeen. Acaranya ada di area gedung sebelah mana ya?” tanyaku pada salah seorang staf resepsionis.

    “Maaf, boleh saya lihat ID card anda?” kata pegawai tersebut.

    “Boleh” ucapku sembari menunjukkan kartu identitas milik pribadi.

    Tak lama kemudian, petugas resepsionis itu menghubungi seseorang. Samar-samar jelas, ia membicarakan kedatanganku di Gedung Bibigo pada penerima panggilannya.

    “Hai, kamu Choi Ara ya?” ucap seorang wanita cantik menyapaku tiba-tiba.

    “Benar.. Kakak siapa ya?” tanyaku ingin tahu.

    Wanita itu tersenyum kecil lalu berucap, “Perkenalkan, saya Im Si-Kwan. Kamu bisa panggil saya ‘Kak Sisi’. Saya ditugaskan oleh bos untuk mengajakmu ke lokasi acara Mingyu Seventeen. Oh iya, sebelum kita masuk lift, tas kamu dicek terlebih dahulu oleh staf keamanan ya.. Kamu tidak keberatan kan?”

    Aku pun menjawab, “Tidak kak.” Kuberikan tas selempang berwarna putih cream milik pribadi.

    “Oke, sekarang kita naik lift bareng ya” kata Kak Sisi seraya memintaku untuk mengikuti dari belakang punggungnya.

    Aku menaiki lift bersama dengan Kak Sisi dan beberapa karyawan gedung. Hingga tibalah kami di lantai tempat variety show Mingyu berlangsung.

    Wah.. keren sekali penataan tempatnya. Hatiku terpukau pada sekeliling tempat acara.

    “Ara, kamu bisa tunggu di sini dulu ya.. Saya mau bantu tim untuk makeover Mingyu sebelum acara dimulai” ucap Kak Sisi.

    Aku mengangguk. Setelah itu, Kak Sisi meninggalkanku di tengah lalu lalang para staf acara. Aku memberi kabar pada Hae-Joon bahwa saat ini diriku tengah berada di lokasi acara Mingyu. Semenit kemudian, kudengar obrolan pelan lima orang karyawan setempat.

    “Hei.. Anak itu siapa sih? Kok bisa anak gendut kayak dia dapat akses VIP kantor kita?” ucap seorang perempuan berambut panjang kuncir kuda.

    “Gue juga gak paham. Tapi cewek itu punya hubungan khusus dengan teman bos kita. Makanya dia dapat perlakuan khusus dari perusahaan kita” balas perempuan lain yang berambut pendek sebahu dengan curtain bangs.

    “Kalo gue jadi dia, bakal happy banget bisa punya benefit berhubungan langsung dengan orang-orang kaya. Hahaha” ucap wanita lain yang berambut panjang se-dada dengan poni menyamping.

    “Eh, gue denger juga dia fans setia Mingyu lho!” timpal seorang pria ber-style Messy Hair.

    “Wah, lu tahu darimana? Kalo bener, gila aja sih. Dia gak malu badan gendut begitu ketemu idola favoritnya. Kalo gue sih bakal diet habis-habisan biar dilirik sama idola sendiri” kata karyawan perempuan lain dengan rambut panjang se-dada bergaya airy wave.

    “Iya bener” timpal tiga karyawan perempuan sebelumnya.

    Setelah kudengar bisik-bisik halus kelima orang tersebut, mataku tertuju pada tampilan pribadi. Ucapan mereka benar.. Aku adalah perempuan gendut yang benar-benar tidak tahu malu. Aku bisa bertemu dengan idola favorit. Namun usahaku hanya merubah tampilan rambut saja? Padahal kesempatan bertemu sosok yang dikagumi secara langsung adalah istimewa dan patut dibanggakan.

    Tiba-tiba Mingyu Seventeen masuk ke dalam ruangan acara. Semua mata tertuju padanya, terlebih lagi diriku. Ia menyapa seluruh staf dan memohon bimbingan mereka demi keberhasilan variety show. Aku mengagumi tata kramanya pada seluruh karyawan. Ketika acara sudah on air, Mingyu menunjukkan keahlian memasaknya dengan penuh cekatan dan lihai. Hal itu membuat beberapa staf takjub dengan kemampuannya mengolah bahan masakan.

    “Aduh.. Dia emang boyfriend material banget” ucap staf wanita berambut panjang se-dada dengan poni menyamping.

    Dua karyawan lain yang berdekatan dengannya juga sepakat. Tiga puluh menit kemudian, variety show Mingyu berakhir. Ia membagikan 2 menu masakannya kepada para pengunjung ruangan, termasuk aku. Masing-masing orang bergiliran mengambil sajian dengan menggunakan piring kecil dan garpu yang telah tersedia di counter table. Setelah aku mengambil porsiku, kulahap masakan buatan Mingyu. Seperti dugaanku, makanannya sungguh enak.

    “Hei, lihat perempuan itu. Dia seperti orang yang tak pernah menyantap makanan enak saja. Hahaha” ucap laki-laki ber-style rambut slicked back.

    Seorang teman laki-lakinya ikut menertawakanku. Namun, aku hanya bisa diam atas tindakan mereka.

    “Ara, kamu baik-baik saja?” tanya Kak Sisi tiba-tiba.

    Kupalingkan wajah sejenak supaya air mata yang hendak keluar hilang secara paksa.

    “Tidak apa-apa kak. Saya baik-baik saja. Kakak tidak usah khawatir” ucapku.

    “Kamu yakin?” tanya Kak Sisi dengan sorot matanya yang cukup tajam.

    Aku tersenyum tipis lalu meminta izin pada Kak Sisi untuk pergi ke kamar mandi sebentar. Dia mengizinkanku pergi sembari menunjukkan letak toilet yang tidak jauh dari lokasi acara. Saat di kamar mandi, aku duduk di salah satu penutup atas closet duduk seraya termenung. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk muncul di layar handphone-ku.

    “Ara, kamu selesai acara jam berapa? Saya mau beli makanan dulu karena perut sudah meronta-ronta minta diisi”

    “Hei, kamu jangan hanya read pesan saya. Cepat balas pesan saya” sambung pesan dari Hae-Joon.

    Aku mengetik beberapa kata. Namun butuh waktu 5 menit, pesan tersebut berhasil dikirimkan.

    “Aku tidak tahu. Kamu makan saja. Aku sudah makan buatan chef Mingyu. Xixixi”

    Hae-Joon membalas dengan emoticon kesal. Sebuah senyuman tipis mengembang saat kulihat balasannya tersebut. Sengaja kukirimkan pesan sebelumnya supaya Hae-Joon tidak tahu bahwa aku tengah bersedih. Kesedihan atas beragam respon negatif dari para staf acara tadi. Kemudian kuseka air mata yang terbendung di pelupuk mata. Lalu kutinggalkan area kamar mandi sembari bersikap lebih tegar.

    “Ara, kamu lama sekali ke kamar mandinya.. Kamu tidak tersesat kan?” tanya Kak Sisi.

    “Tidak kak. Saya tadi sedikit sakit perut” ucapku sembari menyentuh area perutku.

    Aku berdalih dengan penuh keyakinan supaya Kak Sisi tidak mencurigai kebohonganku. Akhirnya Kak Sisi memercayai ucapanku. Kemudian kulihat Mingyu sudah tidak ada di ruangan acara. Sepertinya dia sudah pulang, gumamku dalam hati.

    “Ara, kami mau merapikan peralatan variety show. Kamu bisa menunggu saya di luar ruangan” tutur Kak Sisi.

    “Kak, saya ingin ikut membantu. Apakah boleh?” tanyaku sedikit ragu.

    “Hmm.. Baiklah. Tapi kamu bantu yang ringan-ringan saja ya” ucap Kak Sisi.

    Aku mengangguk. Seketika perasaan senang menyelimuti tubuhku. Kubantu membereskan perlengkapan tim makeover dan stylist. Ditengah sokongan bantuanku, beberapa orang melirik dengan pandangan sinis. Kucoba bersikap acuh tak acuh, meskipun hati merasa sedikit cemas.

    “Akhirnya.. Pekerjaan kita selesai juga” girang Kak Sisi kala tugasnya sudah berakhir.

    “Ara, setelah ini kamu mau langsung pulang?” tanya Kak Sisi.

    “Iya kak. Saya sudah ditunggu oleh teman saya” kataku sembari tersenyum.

    “Baiklah.. Hati-hati di jalan ya.. Oh iya, saya boleh tukeran kontak denganmu?” ucap Kak Sisi lagi.

    Aku mengizinkan Kak Sisi untuk tukar nomor masing-masing. Kak Sisi tersenyum manis padaku, lalu kubalas senyuman tulus pula. Kemudian aku pamit pulang dan meninggalkan beliau di antara karyawan-karyawan lain. Kubuka layar ponsel lalu mengirimkan pesan pada Hae-Joon.

    “Kamu ada dimana? Aku sudah selesai acara nih. Tolong beri tahu aku lokasimu segera setelah membaca pesan ini”

    Rupanya tidak butuh waktu lama hingga Hae-Joon membalas pesanku tersebut.

    “Tenang saja. Saya sedang berada di parkiran. Kamu cari dengan teliti saja keberadaan saya”

    Aku tersenyum kecil saat kulihat balasan dari Hae-Joon. Senang rasanya memiliki teman dekat, meskipun dia adalah seorang laki-laki. Aku ingat mulai mengenal Hae-Joon saat aku masih SMA. Saat itu, dia adalah laki-laki culun dengan tubuhnya yang gemuk. Hingga akhir masa SMA kami, aku melihat dia berubah drastis menjadi laki-laki yang bertubuh ideal. Namun, penampilan luarnya masih saja seperti laki-laki culun dengan kacamata yang masih digunakan hingga kini.

    “Ara” panggil Hae-Joon.

    Aku menghampiri Hae-Joon. Dia memberiku helm dan berkata, “Jadi, gimana perasaaanmu setelah bertemu idola favoritmu itu?”

    Aku menyunggingkan bibir ke sisi kanan pipiku dan berucap, “Kamu kepo sekali.. Sudah cepat nyalakan kendaraan motormu. Aku ingin kita segera pulang karena awan sudah terlihat mendung. Aku takut kita akan basah kuyup di tengah perjalanan.”

    “Hei, kita kan bawa jas hujan. Tak perlu khawatir soal kehujanan” katanya.

    “Kamu mendadak jadi sedikit emosian. Apa kamu baik-baik saja?” sambung Hae-Joon.

    “Perasaanku baik-baik saja, Hae-Joon. Aku cuma ingin pulang cepat karena aku tidak ingin kamu memaksaku berpegangan erat padamu saat hari tengah hujan” tuturku sebagai pengalihan topik dari rasa penasarannya itu.

    Hae-Joon memandangku dengan sorot mata tajam. Seolah dia hendak meyakinkan dirinya sendiri bahwa keadaanku memang baik. Semenit kemudian, ia memakai helm dan melajukan motor miliknya dengan masing-masing kami mengenakan jas hujan bercorak abu-abu. Tiba-tiba hujan turun membasahi bumi dengan sedikit deras. Hae-Joon menghentikan perjalanan dan menoleh padaku.

    “Kita mau lanjut atau berteduh dulu?” tanya Hae-Joon.

    “Lanjut saja.. Aku ingin pulang lebih cepat” kataku.

    Hae-Joon mengerti. Kemudian ia menyalakan motor dan melaju dengan kecepatan rata-rata. Tidak cepat, tidak pula lambat. Hal itu membuatku bersyukur ia membantuku menjaga kesembangan di atas motor. Akhirnya setelah hampir 2 jam berlalu, kami sampai di lokasi rumahku. Hae-Joon memarkirkan motor di dekat gerbang rumahku.

    “Hae-Joon, makasih ya.. Aku pinjam jas hujanmu dulu. Besok kukembalikan padamu” ucapku sembari berlalu pergi meninggalkannya.

    Aku memasuki rumahku. Namun, perasaan mulai campur aduk saat tubuhku mulai menapaki lantai ruang depan. Gambaran perilaku para karyawan variety show tadi berhasil membuat air mata terus mengalir. Hingga kedua pipiku basah dengan perasaan kehilangan harga diri. Aku rapuh, tanpa siapapun tahu. Tiba-tiba sebuah pesan masuk berasal dari Kak Sisi. Kubaca setiap kata yang tertera dalam pesan tersebut.

    “Hai ara, ini Kak Sisi. Apakah besok kamu bisa datang ke rumah saya? Saya ingin kamu mencoba menu baru di cafe milik pribadi. Saya harap kamu bisa berkunjung ke mari! Tolong kabari saya secepatnya ya..”

    Aku terdiam sejenak. Cafe? Kak Sisi punya cafe? Aku tak menyangka, seorang penata rias seperti dia punya keahlian lain seperti mengelola sebuah cafe. Kuputar otak untuk lama berpikir apakah aku bersedia mendatangi toko Kak Sisi atau menolak ajakannya itu. Hingga kuputuskan menerima permintaannya tersebut usai 10 menit kemudian.

     

     

    Kreator : Rofa Sholihatunnisa (Fatuni_Shigeru)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 1 – Pertemuan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021