“Pulang, nduk!”
Pesan itu ditulis singkat, padat, dan sangat jelas. Riri tersenyum kecut.
Pulang kemana? Pikirnya.
Sepanjang hidupnya ia tak pernah mengenal apa yang disebut sebagai rumah. Memang dia pernah tinggal di berbagai tipe hunian, dari apartemen, townhouse, hingga vila, tapi ia tak pernah merasakan dan memahami makna terdalam dari sebuah “rumah”.
Riri melempar ponselnya ke atas tempat tidur sambil membuang nafas panjang. Sejurus kemudian, dia membenamkan wajahnya di bantal, meraba kesunyian yang diam-diam menyesakkan dada. Air matanya mengalir pelan tanpa suara. What choice do I have left?
Dia memandangi tumpukan kardus yang tersebar dalam kamar kosnya. Kamar berukuran sekitar 16m² itu penuh sesak dengan kardus kontainer berisi barang-barang pilihan yang masih dia butuhkan atau sangat berkesan sehingga tidak mungkin dibuang. Barang-barang lainnya sudah ia jual, hibahkan, atau sengaja diletakkan di pinggir jalan agar dipungut oleh tukang barang bekas atau siapapun yang berminat. Jujur, ia tak terlalu peduli. Yang penting semua berjalan sesuai rencana. Per Agustus dia sudah mengosongkan rukonya, mendapatkan tambahan uang dari penjualan aset dan barang pribadi, kemudian lepas dari tagihan hutang dan tuntutan hukum yang mencekik leher. Riri bertekad, ‘I need to survive this!’
Pemikiran tersebut membuatnya tenang dan kembali bangkit. Perlahan ia meraih lakban dan kardus yang masih terbuka. Dengan sisa tenaga yg ada, dia ingin menyelesaikan kardus-kardus itu malam ini. Semua harus selesai dilakban, lalu dia akan pikirkan kemana mereka akan dikirim.
♪There’s always gonna be another mountain,
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose…♫
Ringtone ponsel memecah lamunan Riri, membuatnya otomatis melompat dan memencet tombol ‘terima’ sehingga ia tak harus mendengar kelanjutan syair lagu favoritnya itu.
“Hey,” Riri menjawab malas.
“Beib, lo jadi begadang?” suara di seberang berusaha menunjukkan simpati.
“Hm…,” Riri memencet speaker dan meneruskan pekerjaannya. Suara geretan lakban adalah jawaban dari pertanyaan barusan.
“Sori beib… gue capek banget tadi.. macetnya OMG… ga bakal terbiasa deh gue sama traffic di sini,” suara Yesi manja.
“Gue juga udah bilang kan kalo ga butuh bantuan?” Riri menjawab datar. “Dan elo udah cukup bantu gue. Kalo lo ga ngerahin bala tentara lo mungkin sekarang gue masih bingung mikirin barang2 gue musti dikemanain. So, thanks a lot for that. I owe you!”
Hening, hanya terdengar suara Yesi menarik napas panjang perlahan.
“Jadi barang-barang elo bakal dikirim kemana, beib?” pertanyaan Yesi sebetulnya juga pertanyaan yang sedang ditimbang oleh Riri.
“Well… kayaknya gue terpaksa nanya Mama deh.”
Riri meraih ponsel, mematikan speaker, membiarkan tubuhnya rebah tanpa semangat dan meneruskan obrolan dengan Yesi.
“Mama tadi WA. Dia minta gue pulang,” jawab Riri sambil memijit pelipis kirinya.
”Ah… that’s a relief,” ada senyum dalam suara Yesi. Tapi, Riri tak sependapat.
“Gue takut bakal lebih kacau kalo gue pulang, Yes. Tau sendiri kan emak gue. I’m a disaster in her perfect life. Gue bakal jadi telur dadar kalo pulang, Yes!”
“Uhm… engga lah beib…. Bukan telur dadar.. Tapi, telur orak arik,” tawa Yesi pecah. Ujung mulut Riri terangkat sedikit. Kemampuan Yesi untuk menertawakan pahitnya kehidupan tanpa membuat luka baru memang patut diacungi jempol. Diiringi tawa Yesi, Riri bersyukur punya sahabat setulus dia.
“Beib…,” lanjut Yesi.
“I always believe that everything happens for a reason. Lo mungkin teman terjutek yang pernah gue kenal, tapi hati lo paling baik. Mangkenye lo kena tipu… eits.. jangan marah dulu, hehee…. Maksud gue, jalani aja dulu, beib. Kalo lo musti pulang ke rumah mama elo, ya udah, pulang dulu sono! Liburan di wisma Nyokap elo sambil mikirin langkah kedepan, berantem dikit ma nyokap, trus siapa tau akhirnya lo dapat pencerahan and come out stronger than ever before. Atau…. Siapa tau lo ditaksir ama anak Kepala Desa, nikah, terus jadi tuan tanah deh,” cerocos Yesi sambil mengunyah sesuatu. Sama sekali tak terdengar simpatik atau menenangkan, tapi mampu menghangatkan hati Riri.
”Lo sebenernya mo ngedukung ato ngejatuhin gue sih, Yes?” tanya Riri menahan tawa.
”Riri beibeh…. Gue tuh sayang ancur ame eloo. Take my advice deh… walo gue ga jamin anything good will happen yaa… hehe…” Yesi terdengar menyeringai. Riri tertawa kecil.
“Gue cuman mo realistis aja sih beib, lo tau kalo ga punya pilihan, kecuali lo mau ngerepotin temen-temen which is… lo udah bilang berkali-kali kalo lo ga mau utang budi sama kebanyakan orang. Cukup sama gue aja, yekaan…?” kali ini Yesi terdengar mengunyah kerupuk, telinga Riri tiba-tiba terasa sakit.
”Ah, udah lah Yes, kuping gue berdenging denger lo ga brenti ngunyah,” Riri mengambil remote AC dan mematikan AC kamarnya. Badannya seakan menggigil. ”Thanks anyway for your concern, really appreciate it.”
“Okay beibeeh…. Met tidur yaa.. jangan sakit. Kalo perlu apa-apa kasih tau gue ya saaay, Nighty nite.” Yesi mengakhiri telponnya.
Kamar kembali hening. Badan Riri masih menggigil. Ia mengambil selimut milik ibu kos dari dalam lemari, lalu meringkuk di bawahnya. Lampu dibiarkan menyala, setidaknya ia berada dalam kamar yang terang, tak gelap seperti batinnya saat ini.
Mata Riri kembali berkaca-kaca. Tuhan… mengapa ini semua terjadi…. Ia sudah melakukan semuanya dengan benar. Dalam 5 tahun bisnisnya bukan hanya balik modal, tapi meraup keuntungan yang cukup besar dan berpotensi untuk berkembang. Ia bahkan sudah bersiap-siap untuk berpartner dengan teman-temannya yang membuka air BNB di Bali, Raja Ampat, Makasar dan memilki jaringan tour and travel yang solid. Tapi pengkhianatan seseorang yang kerap berada dalam mimpinya, seorang yang ingin ia gandeng untuk meraih masa depan, seorang yang mampu meruntuhkan ego dan dinding hatinya, terlalu berat untuk ditanggungnya seorang diri. Riri tak mengerti, apa yang kurang dari dirinya hingga ia pantas menerima pengkhianatan ini. Mata Riri kembali basah. Ding! Sebuah pesan kembali masuk.
”Nduk… Mama akan tunggu Riri pulang. Kabari ya… nanti mama masakin lauk kesukaan Riri,” kali ini pesan yang masuk jauh lebih hangat dari sebelumnya. Tangis Riri pecah. Riri menutup mukanya dengan bantal, menenggelamkan suara tangisnya yang sesenggukan dan penuh luka.
Kreator : Hilda Candra P. K. Putri (HC. Putri)
Comment Closed: BAB 1- Pulang
Sorry, comment are closed for this post.