
Bandung belum benar-benar terbangun.
Jalanan di depan rumah itu masih sepi, hanya sesekali diselingi desir angin subuh yang menggoyangkan ujung-ujung daun mangga di halaman. Embun menempel tipis di permukaan daun, di kaca jendela, di atap tetangga yang masih gelap dan sunyi. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu masih terkunci rapat.
Tapi tidak dengan rumah luas nan sederhana di tengah gang perumahan elit itu.
Dari balik jendela lantai satu, cahaya lampu sudah menyala sejak tadi. Dan suara—samar, tapi jelas bagi siapa yang mau mendengarkan dengan seksama—mengalun pelan dari dalam. Tilawah. Suara seorang laki-laki paruh baya yang membaca Al-Qur’an dengan tartil, tenang, seolah waktu tidak pernah terlalu cepat baginya.
Pagi di rumah itu, selalu datang lebih awal dari rumah-rumah lain di sekitarnya. Membangunkannya untuk menyambut kehidupan, jauh sebelum fajar menyingsing.
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit.
Kriett.
Pintu kamar di lantai dua terbuka perlahan. Cahaya hangat dari lorong menyelinap masuk ke dalam ruangan yang masih gelap, memotong kegelapan seperti bilah tipis yang lembut.
Ummah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang. Senyumnya sudah siap sejak sebelum ia melangkah masuk. Ia menatap sebentar ke arah kasur—ke gundukan selimut biru muda yang menggembung, naik turun seiringan dengan ritme nafas orang yang masih lelap di bawahnya.
* * * * *
Klik. Lampu kamar menyala.
“Silauu…” Suara itu muncul dari balik kain — serak, menggemaskan, setengah protes.
Dari balik selimut, ada gerakan kecil. Dua tangan mungil menarik selimut lebih erat ke atas kepala. Seperti siput yang menarik dirinya lebih jauh ke dalam cangkang.
Ada suara kekehan kecil dari arah pintu — tertahan, seperti orang yang berusaha tidak tertawa keras-keras. Lalu terdengar langkah pelan mendekati kasur, dan kasur itu bergerak sedikit, menyambut seseorang yang duduk di tepinya, dekat sekali dengan kepala mungil di balik selimut.
“Raina…” panggilnya lembut sekali. “Bangun yuk, sayang..! Kita salat tahajjud dulu. Abah udah nunggu di bawah, loh. Tuh… denger gak, suara tilawah Abah…?”
Raina menggeliat kecil di balik selimutnya. Protes. “Na, masih ngantuk, Ummah…!”
“Iyah, makanya…” katanya lembut, tangannya mengusap pelan gundukan selimut itu. “Kita usir dulu syaithan yang lagi duduk di mata Raina — dengan wudhu. Yuk, shaliha…”
Ummah hendak menarik kembali selimut Raina. Namun, kedua tangan mungil Raina menahan ujung selimut dengan erat. Ummah terkekeh pelan menghadapi kecerdasan putri kecilnya.
Tidak ada jawaban lain. Hanya tarikan selimut yang makin erat.
Ummah baru saja hendak membuka mulutnya lagi untuk membujuk Raina, tiba-tiba—
Duk. Duk. Duk.
Suara itu datang dari arah pintu. Bukan ketukan biasa. Ini ketukan yang berirama, membentuk pola — seperti orang yang memukul bedug sahur keliling. Penuh semangat. Penuh niat yang disengaja. Membangunkan orang-orang dari tidur lelapnya.
“Sahur… sahur…! Sahur… sahur…!”
“Astaghfirullahal’adziim…!” Ummah berseru.
Kepala Raina menyembul dari balik selimut. Mengintip pembuat onar di depan kamarnya. “Siapa itu..?!” Ummah berbalik ke arah pintu dengan refleks. Nada suaranya sedikit meninggi.
Di bingkai pintu, berdiri seorang pemuda jangkung, usia 23 tahun lengkap dengan kemeja koko dan sarungnya, sedang memamerkan senyum lebar paling tidak berdosa di wajahnya. Bang Ahwaz, Abang Raina. Dua tangannya masih terangkat di udara, baru saja selesai memukul-mukul daun pintu.
“AAHH — ABAAAAANGGGG!!!!”
Selimut biru itu dibuka, dan kepala mungil yang daritadi bersembunyi itu pun keluar, sambil mengernyitkan dahinya. Raina duduk tegak di kasurnya, rambutnya berantakan, mata masih sipit, wajahnya merah antara kaget dan marah. Kedua kakinya menendang-nendang sisa selimut yang masih meliliti betisnya. Sementara, sebuah bantal melayang ke arah pintu.
“BERISIIIIKKKK, IIHHH!!!!”
Lalu Raina kembali masuk ke dalam selimut birunya dengan menekuk wajahnya.
“Harus kayak gitu bangunin kamu, Na!” kata Bang Ahwaz dengan nada yang sangat puas. “Biar kamu cepet bangun. Kalau nggak gitu, nanti kamu nggak bangun-bangun..!”
Ummah masih menatap lekat Bang Ahwaz, sambil menggelengkan kepalanya. “Kalo kayak gitu banguninnya,” kedua tangannya sudah bertengger di pinggang, “bukan cuma Raina yang bangun, Bang! Orang satu perumahan bisa pada demo di depan rumah kita, nanti! Aduh, Abang — Ummah sampe ikutan kaget!”
Bang Ahwaz terkekeh. “Maaf, Ummah…!”
“Abang sampe udah siap di demo warga tuh,” lanjut Ummah, menoleh sekilas ke gundukan selimut, “masa Raina ga mau nontonin Abang?”
Bang Ahwaz mengernyitkan dahi. “Ummah…! — masa anaknya didoain gitu…!”
Ummah terkekeh jahil.
“Iyaa mau, Ummah…” Raina memeluk selimutnya erat, kepalanya ditelungkupkan di dalamnya. “Tapi, Naa masih ngantuuuk…!”
“Bohong, ah!” Bang Ahwaz melangkah masuk, tangannya dibiarkan mengayun pelan di sisi kanan dan kiri kemejanya. “Mana ada orang ngantuk bisa nge-roasting abangnya! Udah bangun itu, mah!”
“Beneran ih, Abang maah!” Raina merapatkan matanya lebih kuat. Membuktikan. Sayangnya, kelopak dan bulu matanya terlihat bergetar dengan jelas.
Bang Ahwaz tersenyum tipis, matanya berkilat jahil.
“Bohong,” ulangnya, santai.
Ia melangkah ke arah kaki Raina di atas kasur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian…
Grep.
Jari-jari tangannya yang besar menggenggam betis mungil Raina, “Udah bangun, kan, Na?!” Dan dengan satu tarikan, tubuh Raina tergusur ke bawah di atas kasurnya.
“ABAAANG—!” Mata Raina membelalak. Kedua tangannya refleks mencengkeram lengan Ummah yang duduk di sebelahnya. “Ummaaah — tolooong…!”
“ABANG!” Ummah berdiri, nadanya naik satu oktaf. “ASTAGHFIRULLAHAL’ADZIM! Jangan gitu dong, Abang! Bahaya! — Nanti kalau Raina jatuh, gimanaa?!”
Raina tidak menunggu komando. Ia membalikkan badan, menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ih, Abang maah..! — Takut, tau..!” Lalu, merangkak kembali ke bagian atas kasurnya, dan langsung membenamkan diri di balik selimut. Lagi.
“Pokoknya Raina gamau bangun!” Suara Raina tertahan di balik kain. Masih terkejut, juga takut.
Hening sebentar.
Lalu terdengar omelan Ummah. “Lagian, Abang juga ada-ada aja jailnya! — Keterlaluan, Bang!”
“Aw!”
Teriakan kesakitan Bang Ahwaz terdengar cukup dekat — sepertinya ia sudah berpindah tempat.
Rasa penasaran mengalahkan kekesalan Raina. Perlahan, ia menurunkan selimutnya — sedikit — cukup untuk mengintip. Bang Ahwaz sedang mengelus-elus perutnya sendiri, meringis kecil — sepertinya bekas cubitan Ummah.
“Yaudah, Ummah lanjutin aja bakingnya di bawah. Sekalian siap-siap sholat. Biar Abang yang lanjut bangunin Raina.” Suara Bang Ahwaz terdengar lebih dekat.
“Yaudah..” Suara Ummah masih sedikit terengah, tegas namun lebih lembut dari sebelumnya. “Tapi, minta maaf dulu ya, Bang! — Kaget pasti, Raina tadi. Dijailin Abang kayak gitu. Ini jantung Ummah aja sampe ikutan mau copot rasanya!”
“Iyaa, Ummah…!” Bang Ahwaz merendahkan nada suaranya. “Ini juga Abang mau minta maaf ke Raina.”
“Yaudah… Ummah turun duluan kalau gitu. — Inget! Jangan di-ja-i-lin lagi adiknya! — Ya, Bang? — Banguninnya yang normal-normal aja! Nanti bukannya bangun, malah ada lagi drama yang lainnya! — Coba, udah jam berapa sekarang?!” Ummah menunjuk jam weker di meja kecil samping kasur Raina. “Nanti keburu subuh, malah nggak jadi tahajjud, kita!”
“Iyaa, Ummah..!”
Ummah melirik Raina sekali lagi. Dari balik selimut, Raina buru-buru menutupi kepalanya dengan selimut. Terdengar langkah Ummah menjauh. Kian menjauh. Sepertinya, Ummah sudah turun ke lantai satu.
Hening sebentar.
Lalu suara kasur berderit. Seseorang duduk di tepinya — di tempat Ummah tadi duduk.
“Naa…” panggilnya, pelan. “Maafin Abang, ya! Abang bercanda tadi.” Suaranya begitu lembut. Berbeda jauh dengan suara teriakannya saat membuat kegaduhan di pintu kamar Raina tadi.
Tidak ada jawaban dari balik selimut.
“Iyaa… Abang tau, emang keterlaluan tadi abang bercandanya. Maafin abang ya, Naa..!”
Selimut itu tetap tidak bergerak. Tapi di balik kain itu, Raina mendengarkan — nada suara Bang Ahwaz kali ini tidak seperti nada usil yang biasa ia dengar setiap pagi. Ada sesuatu yang lebih pelan di sana. Lebih hati-hati. Seperti orang yang benar-benar khawatir.
Sebuah tangan menepuk pelan gundukan selimut, tepat di bagian yang kira-kira adalah bahu Raina. Ringan. Sebentar saja. Lalu diam lagi.
“Hmm.. Iya yah, Na..! Males banget ya, sholat tahajjud tuh! Orang mah lagi enak-enaknya tidur..! Malah disuruh bangun — buat sholat, lagi!” Suara itu berubah lagi, meniru gaya bicara gerutuan Raina kalau sedang malas, seperti saat ia merajuk tadi.
“Eh, tapi.. kenapa sih, Na, Allah nyuruh kita sholat tahajjud? Penasaran nggak..? — Kalo Abang mah, dulu waktu awal-awal dibangunin Ummah dan Abah buat tahajjud, kepo banget tau Na!” Nada itu berubah lagi. Dan entah kenapa, nada yang satu ini selalu berhasil menembus pertahanan Raina, semarah apa pun ia sebelumnya.
Lalu perlahan, sangat perlahan, ujung selimut itu terangkat. Raina bisa mengintip Bang Ahwaz yang sedang berpose seperti sedang berpikir. Sudut kiri bibirnya naik ke atas. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri bergantian. Lalu, tangannya memangku dagu. “Waktu itu yah, Abang sempet kepikiran, apa karena Allah nggak pernah tidur gitu ya, Na? — Jadinya, Allah suruh kita bangun akhir malam, biar nggak kelamaan tidurnya.”
Tangan Raina menurunkan selimutnya, sedikit demi sedikit. Sedangkan telinganya, masih asik mendengar celotehan pemikiran Bang Ahwaz di masa lalu.
“Terus waktu itu, Abang juga mikir, Allah aja kan sibuk banget, ya, Na! Harus jagain alam semesta tetap hidup dan berjalan. Masih harus ngejawabin satu-satu doa makhlukNya. Harus nolongin si A, si B. Harus ngurusin ini dan itu..”
“Jadinya, yah, mungkin Allah juga pengen hambaNya nggak santai-santai gitu, hidupnya…”
“Tapi, kan emang kata Abah, manusia diciptain buat ibadah!” Raina berbisik dari balik selimut. Bang Ahwaz menatap mata Raina yang terlihat di ujung selimut. Sepertinya, Bang Ahwaz mendengar bisikannya.
Lalu, ia tersenyum. “Tapi, sekarang Abang udah tau, Na, — kenapa, Allah nyuruh kita tahajjud, lewat Rasulullah. — Dan tau gak sih, Na..?”
Fun fact-nya, sholat tahajjud tuh — tadinya kan, wajib, tau, Na..!” Wajah mungil Raina akhirnya keluar dari balik kain selimutnya.
Raina sedikit membelalakkan matanya, “Masa iya, Bang..?!”
Ada kilat kecil di mata Bang Ahwaz. Seperti menyiratkan rasa lega, bercampur puas — meski Raina belum sepenuhnya paham dengan reaksi wajah abangnya.
“Iya.” Bang Ahwaz berkata dengan serius, seserius mungkin. “Beneran! Ada kisahnya tau, Na, di sirah Nabi.”
Raina diam sejenak. Dahinya mengernyit di balik selimut. “Terus… kok… jadi sunnah..?”
“Makanya,” Bang Ahwaz menoleh ke adiknya, “maafin Abang dulu. Terus bangun, wudhu, turun ke bawah. Kita sholat tahajjud dulu — nanti pas story time, Abang ceritain kisahnya. — Gimana?”
Sebentar, tidak ada suara.
Kemudian selimut itu tersingkap, dan Raina duduk di kasurnya — di sebelah Abangnya. Rambutnya masih acak-acakan. Matanya masih sipit. Tapi ekspresinya sudah bergeser dari marah ke — cemberut yang bisa dinegosiasi.
“Uuh… yaudah, iyah!” Ia memeluk lututnya. “Tapi Raina masih marah loh, sama Abang! Takut banget, tauu!” ujung bibirnya mengerucut.
“Iyaah…” Bang Ahwaz mengangguk. “Gapapa. Yang penting udah dimaafin. Maafin Abang ya, Na — janji deh, gak abang ulangin lagi.”
“Hmm.” Raina melirik ke samping. Ke tempat Bang Ahwaz duduk. “Dimaafin — demi dengerin sirah tahajjud. Awas aja kalau gajadi cerita!”
“Iyaa bawelll…” Bang Ahwaz mengacak-acak kepala Raina — sekali, cepat — lalu bangkit dari kasur. “Yaudah, ayo bangun! Siap-siap tahajjud. Kalau nanti telat, jangan salahin Abang kalau gajadi cerita.”
“Ih…!” Raina cemberut. Selimut biru yang dipeluknya sudah dilemparkan ke samping. Ia menggeser tubuhnya, hingga kakinya menyentuh lantai. “Gitu mulu ngancemnya! — Ga kreatif ah, Abang…!” Ledek Raina kesal.
Bang Ahwaz tersenyum gemas, tidak terlalu memedulikannya. “Ditungguin di musala, ya!” Lalu, melangkah ke pintu. “Jangan tidur lagi!”
“Iya, iyaaa!”
* * * * *
Raina turun dari kamarnya di lantai dua ke lantai satu, menuju musala. Mukena biru pastelnya — senada dengan warna selimutnya, warna favoritnya — sudah terpasang rapi, dan wajahnya masih segar bekas air wudu yang dingin. Meski matanya masih sipit, langkahnya sudah tidak mengantuk seperti tadi.
Dari dapur, aroma teh hangat dan roti chiffon lemon buatan Ummah mulai samar-samar tercium — hangat dan segar sekaligus, membuat lambung siapapun segera meminta jatahnya.
Entah mengapa, setiap dini hari seperti ini, rumah mereka selalu terasa berbeda bagi Raina. Tenang. Hangat. Dan damai seperti pelukan.
Di musala, Abah sudah berdiri. Bang Ahwaz di sisi kanannya. Ummah di belakangnya.
Raina bergegas mengambil tempat di sebelah Ummah. Abah menengok ke belakang sebentar, lalu melemparkan senyum hangat kepada putri kecilnya. Melihat Raina sudah siap untuk salat, Abah segera meminta Bang Ahwaz dan Ummah untuk merapikan saf.
“Allahu Akbar.”
Takbiratul ihram Abah membelah keheningan dini hari itu, dan sholat tahajjud pun dimulai — di dalam rumah yang sudah lama hidup, sementara kota di luar belum benar-benar terbangun dari tidur lelapnya.
Di tengah dinginnya udara menjelang subuh, suara bacaan Abah mengalun tenang memenuhi rumah kecil itu — meresap perlahan ke sela udara, ke dinding-dinding, juga ke hati Raina yang masih setengah berjuang melawan kantuknya. Beberapa kali kepalanya hampir jatuh ke depan.
* * * * *
Setelah dua rakaat terakhir dan salam, keheningan itu berganti dengan suara dzikir istighfar yang pelan dan bertumpuk — empat suara, empat ritme, menyatu menjadi satu atmosfer yang hangat dan sunyi sekaligus.
Setelah itu, mereka tidak langsung bubar. Ada sebuah kebiasaan kecil yang telah menjadi budaya di keluarga Raina, sambil menunggu waktu subuh tiba. Duduk bersama di ruang tengah. Lalu mendengarkan cerita. Kadang Abah yang berkisah, kadang Bang Ahwaz. Dan pagi ini — giliran Bang Ahwaz.
Jam di dinding menunjukkan 04.45 WIB. Waktu yang paling ditunggu Raina, tiba.
Story time.
Ia membereskan mukenanya dengan cepat — terlalu cepat, sampai ujung-ujungnya tidak rapi — lalu bergegas menuju ruang keluarga. Melangkah cepat, hampir berlari. Abah menyusul dengan langkah yang lebih tenang. Kemudian Bang Ahwaz dan Ummah datang bersamaan sambil membawa nampan berisi cangkir kopi untuk Abah, teh untuk yang lainnya, dan sepiring roti chiffon lemon buatan ummah — aromanya menyebar ke seluruh ruangan, hangat dan segar sekaligus. Membuat lambung Raina berteriak tidak sabaran, meminta jatahnya.
Semua sudah duduk di kursi masing-masing.
Raina menyeruput tehnya. Matanya tidak lepas dari Bang Ahwaz.
Sementara itu, Abah mengembuskan pelan uap dari cangkir kopinya sebelum menyeruputnya sedikit. Bang Ahwaz menyesap tehnya lebih dulu — pelan-pelan.
Raina mengigit potongan roti chiffonnya dengan tidak sabar. Ditatapnya Bang Ahwaz lekat-lekat. Bibirnya mengerucut, dahinya berkerut, matanya sedikit melotot. Mulutnya berhenti mengunyah, piring chiffon di tangannya diletakkan lagi ke meja.
Kedua lengannya diletakkan di pinggangnya. Matanya memelototi Bang Ahwaz dengan tajam. Bang Ahwaz meliriknya sekilas, cepat. Sudut bibirnya terangkat, terkekeh pelan.
Rasa penasaran Raina mulai saling protes tidak sabaran di dalam hati. Ayo dong Abang..! Ihh, cepetan mulai ceritanya..!
Kreator : Zaida Rahma Sabila (Safar Safiir)
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 1 — Putri Drama
Sorry, comment are closed for this post.