Malam itu kami menonton televisi. Layarnya cembung, warnanya sedikit kehijauan kalau gambar sedang buruk, dan suaranya berderak pelan setiap kali dinyalakan. Di tahun itu tidak banyak yang memiliki televisi. Banyak tetangga yang datang ke rumahku hanya untuk numpang nonton, duduk berjejalan di lantai, membawa kipas sendiri, tertawa bersama pada acara yang sama. Rumah kami, untuk sesaat, terasa ramai dan hangat oleh kehadiran orang lain. Aku suka malam-malam seperti itu. Ada suara tawa yang bukan milikku sendiri, ada wajah-wajah yang datang membawa cerita dari luar.
Ayahku memiliki telepon genggam, bentuknya kotak besar dan hitam, berat di tangan seperti batu bata yang dibungkus plastik. Kami diajak untuk mengurus kartu telepon pascabayar, dan aku ingat bagaimana Ayah menjelaskannya dengan bangga, seolah benda itu adalah bukti bahwa kami akan baik-baik saja, bahwa kami sedang bergerak maju. Aku tidak sepenuhnya mengerti apa artinya punya telepon genggam waktu itu. Yang kutahu, ada sesuatu yang terasa berbeda antara rumah kami dan rumah orang lain, meski aku belum bisa menamainya.
Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai merasa bahwa rumah bukanlah tempat yang aman.
Mungkin sejak hari itu, ketika aku berjalan pelan di bawah terik matahari, menggenggam dua termos es lilin di kedua tanganku, sementara teman-temanku berlari bebas, tertawa tanpa beban. Aku masih anak SD waktu itu. Ibu membuat es lilin, dan tugasku menjualnya di sekolah. Tidak ada yang aneh bagiku saat itu. Semua terasa biasa saja, seperti rutinitas yang harus dijalani. Hingga aku melewati sebuah rumah di kompleks tentara. Seorang ibu berteriak pada anaknya yang menangis.
“Mau kamu tak suruh jualan es kayak anak itu? Biar kapok kamu!”
Aku berhenti sejenak. Tidak benar-benar berhenti, tapi langkahku melambat. Aku tidak sepenuhnya paham maksudnya, tapi ada sesuatu yang menancap di dalam dadaku. Untuk pertama kalinya, aku melihat diriku dari mata orang lain, dan itu tidak terasa baik. Sejak saat itu, entah kenapa, aku mulai merasa bahwa aku berbeda. Bahwa mungkin hidupku bukan sesuatu yang patut dibanggakan.
Aku pulang hari itu dengan termos yang lebih ringan, tapi dadaku terasa lebih berat dari biasanya. Aku tidak menceritakannya pada siapa-siapa. Bukan karena aku sengaja menyimpannya, tapi karena aku tidak tahu harus bilang apa, dan pada siapa. Ibu akan bertanya berapa yang terjual, bukan bagaimana perasaanku sepanjang jalan. Itu bukan salah Ibu. Di rumah kami, pertanyaan semacam itu memang tidak pernah menjadi kebiasaan.
Perubahan yang lebih besar datang tidak lama setelah itu, dan kali ini aku tidak hanya merasakannya — aku menyaksikannya sendiri.
Ayahku bernama Susilo, seorang sopir truk lintas Jawa–Kalimantan. Ia jarang di rumah. Berminggu-minggu bisa berlalu tanpa kami bertemu, dan setiap kali truknya terparkir di depan rumah, itu artinya Ayah pulang, dan membawakan minuman bersoda kesukaan kakakku, terkadang coklat kesukaanku. Ibuku bernama Tarinah. Perempuan yang membuat es lilin di dapur setiap pagi, yang menghitung recehan hasil jualanku dengan sabar, yang menunggu di rumah setiap kali Ayah pergi menyeberangi pulau.
Hari itu, truk Ayah sudah terparkir di depan rumah, gagah seperti biasa, tapi ada yang aneh. Truk itu dibawa pulang oleh Herman, kernet Ayah, bukan oleh Ayah sendiri. Ayah masih di Kalimantan.
Aku ingat mendengar suara Ibu di ruang depan, bicara di telepon dengan nada yang mula-mula biasa saja, lalu perlahan berubah. Suaranya naik, pecah, lalu tenggelam dalam tangis yang tidak bisa ia kendalikan. Aku belum mengerti apa yang terjadi, tapi aku tahu itu bukan tangisan biasa. Ibu terus bertanya di telepon, mengulang-ulang pertanyaan yang sama seperti berharap jawabannya akan berubah jika ditanyakan cukup banyak kali, menanyakan dimana sebenarnya Ayah berada.
Baru belakangan aku tahu, Ayah menikah lagi. Perempuannya berusia dua puluhan, pemilik sebuah kedai kopi yang biasa disinggahi Ayah dalam perjalanan panjangnya membawa muatan. Ayah sendiri saat itu berusia empat puluh tahun.
Ibu menutup telepon dengan tangan gemetar. Aku melihat wajahnya berubah, dari perempuan yang menangis histeris beberapa detik sebelumnya, menjadi sesuatu yang lain — dingin, keras, penuh tekad yang tidak kukenali. Ia berjalan ke luar, menghampiri truk yang masih terparkir, tempat Herman berada. Aku tidak tahu dari mana Ibu mengambilnya, tapi di tangannya ada pistol, dan ia menodongkannya ke kepala Herman di dalam kabin truk.
“Kemana Mas Susilo? Jawab! Kalau gak jawab tak tembak kepalamu!”
Herman ketakutan. “Pun ngoten, Mbak Tar..”
Suaranya nyaris tidak terdengar, bulir keringat sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya, wajahnya pucat menahan takut. Herman tidak punya pilihan selain menjawab jujur bahwa Ayah tidak bisa pulang karena sedang melangsungkan pernikahan dengan perempuan lain, di Barabai, Kalimantan.
Baru belakangan aku tahu, benda hitam yang digenggam Ibu malam itu, yang membuat Herman gemetar ketakutan, yang membuat aku sendiri yakin nyawa seseorang sedang dipertaruhkan di depan mataku, ternyata bukan pistol sungguhan. Itu hanya sebuah korek api berbentuk pistol. Tapi malam itu, di tangan Ibu, dengan cara ia memegangnya dan suara di baliknya, benda itu cukup meyakinkan untuk membuat semua orang, termasuk aku, benar-benar percaya bahwa itu nyata.
Sejak hari itu, rumah kami berubah, perlahan, seperti perabotan yang digeser sedikit demi sedikit tanpa pernah dipindahkan seluruhnya, sampai suatu hari aku sadar ruangan itu sudah tidak sama lagi. Ibu berubah juga sejak itu. Bukan menjadi orang lain, tapi seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk dipeluk sendirian, dan aku, tanpa pernah diminta, mulai ikut menahannya bersamanya. Aku belajar membaca wajah Ibu sebelum ia sempat bicara. Aku belajar kapan harus diam, kapan harus menghilang ke sudut kamar, kapan sebaiknya aku tidak ada di rumah sama sekali.
Kreator : Adelia Rahma
Comment Closed: Bab 1 – Rumah Yang Sejak Awal Tidak Terasa Aman
Sorry, comment are closed for this post.