Terlihat beberapa siswa bergerombol di tengah lapangan sekolah. Wajahnya begitu serius mendengarkan salah satu dari mereka bercerita tentang sesuatu. Ya… sesuatu yang saat ini menjadi perbincangan di kalangan siswa sekolah tersebut. Bahkan mereka semakin antusias dan bertanya-tanya tentang rumor itu. Kebanyakan siswa kelas enam dan kelas lima yang sedang membicarakan cerita tersebut.
“Ih… serem.” Salah satu dari mereka menyahut begitu.
“Masa iya sih ada suara-suara aneh di kantin sekolah ini?” celetuk siswa yang lain.
“Iya, katanya semakin sore dan semakin tidak ada pengunjung kantin, suara teriakan sate…sate…sate… itu semakin terdengar.”
Belum sempat cerita itu bersambung, bel masuk sekolah berbunyi….
teng…teng…teng…..
Anak anak mulai berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Namun masih ada beberapa siswa yang masih meneruskan cerita itu sambil berjalan kaki menuju kelas.
Siswa mulai berbaris rapi sebelum masuk kelas. Bapak dan ibu guru sudah berada di kelas menyambut mereka dengan berjabat tangan. Ketua kelas segera memimpin berdoa. Selesai berdoa pelajaran segera dimulai.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Ibu Esty dengan penuh kehangatan.
“Selamat pagi, Bu!” jawab siswa serentak.
“Apa kabar kalian hari ini?”
“Alhamdulillah, luar biasa! Yes… yes…” jawab mereka dengan penuh semangat.
Suasana kelas pun menjadi ceria. Ibu Esty mulai menjelaskan pelajaran. Siswa terlihat memperhatikan buku masing-masing. Beberapa siswa mencatat, sedangkan yang lainnya mengerjakan tugas.
Tidak berapa lama siswa sudah mulai fokus dalam pelajaran yang disampaikan Ibu Esty, wali kelas 6B itu sedang menerangkan tugas yang diberikan kepada mereka.
Namun, di tengah-tengah keseriusan siswa kelas 6B mengerjakan tugas, siswa yang duduk di barisan paling belakang mulai terlihat ramai dan mengganggu temannya. Ternyata mereka meneruskan cerita yang tadi terpotong saat bel sekolah berbunyi.
Bima menyenggol lengan Raka. “Jadi, nanti kita ke kantin?”
Raka mengangguk pelan. Dimas yang duduk di sebelahnya ikut mendekat.
“Aku ikut. Tapi jangan sampai ketahuan guru.”
Sinta yang mendengar percakapan mereka langsung menoleh.
“Kalian mau ke mana?”
“Ke kantin,” jawab Bima pelan.
“Ngapain?”
“Menyelidiki suara sate.”
Sinta langsung membulatkan matanya.
“Kalian percaya rumor itu?”
“Bukan percaya. Kita mau mencari tahu,” jawab Bima.
“Kalau aku ikut, boleh?”
“Boleh.”
Lala yang duduk tidak jauh dari mereka juga akhirnya ikut bergabung. Dalam hitungan detik, kelompok kecil itu sudah beranggotakan lima orang: Bima, Raka, Dimas, Sinta, dan Lala.
“Sudah, jangan ramai,” tegur Ibu Esty yang ternyata memperhatikan mereka.
Mereka segera duduk tegak.
“Maaf, Bu,” jawab Bima.
Ibu Esty melanjutkan pelajaran, sementara kelima siswa itu berusaha menahan rasa penasaran.
Hari terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Bagi Bima dan teman-temannya, waktu pulang sekolah terasa sangat lama. Mereka ingin segera mengetahui kebenaran tentang suara misterius yang menjadi bahan pembicaraan sejak pagi.
Saat jam istirahat tiba, mereka sengaja memperhatikan keadaan kantin.
Kantin sekolah tampak ramai. Siswa membeli makanan, minuman, dan berbagai jajanan. Penjual kantin sibuk melayani pembeli. Tidak ada sesuatu yang terlihat aneh.
“Lihat,” kata Raka. “Biasa saja.”
“Ya, sekarang memang ramai,” jawab Bima.
“Katanya suara itu muncul saat kantin sepi,” sambung Sinta.
Mereka kembali saling berpandangan.
Berarti mereka harus menunggu sampai sore.
Sepulang sekolah, sebagian besar siswa langsung meninggalkan sekolah. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan berubah menjadi sepi. Suara langkah kaki siswa semakin jarang terdengar. Beberapa guru masih berada di ruangannya. Penjaga sekolah mulai berkeliling memeriksa beberapa bagian sekolah.
Bima dan keempat temannya tidak langsung pulang.
Mereka berkumpul di dekat lapangan.
“Jadi kita benar-benar melakukannya?” tanya Lala.
Bima mengangguk.
“Kita cuma melihat dari dekat. Tidak boleh masuk sembarangan dan tidak boleh menyentuh apa pun.”
Dimas terlihat sedikit ragu. “Kalau nanti benar-benar ada suara?”
“Ya kita dengarkan,” jawab Bima.
Mereka kemudian berjalan perlahan menuju kantin.
Langkah mereka semakin pelan ketika mendekati bangunan kantin. Suasana sore itu berbeda dengan suasana saat jam istirahat. Meja dan kursi terlihat kosong. Beberapa pintu kios sudah tertutup. Angin berhembus pelan melewati halaman sekolah.
Mereka berdiri di balik tembok yang tidak jauh dari kantin.
“Diam dulu,” bisik Bima.
Semua terdiam.
Mereka menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak terdengar suara apa pun.
“Kayaknya kita buang-buang waktu,” bisik Dimas.
Tiba-tiba…
“Sate… sate… sate…”
Kelima anak itu langsung terdiam.
Mata mereka saling berpandangan.
Suara tersebut terdengar sangat jelas dari arah kantin.
“Sate… sate…”
Dimas mencengkeram lengan Raka.
“Itu… itu suaranya!”
Bima berdiri perlahan. Wajahnya yang semula penuh keberanian kini mulai berubah serius.
“Dari dalam kantin,” bisiknya.
Mereka tidak ada yang berani bergerak.
Beberapa detik kemudian terdengar suara benda seperti dijatuhkan.
Brak!
Lala hampir berteriak.
“Bima… kita pulang saja.”
Namun, sebelum Bima menjawab, terdengar lagi suara dari dalam kantin.
Kali ini bukan suara “sate”.
Melainkan suara seperti seseorang sedang berbisik.
“Tolong… Tolong…”
Kelima anak itu saling berpandangan.
Bima menelan ludah.
“Apa kalian juga mendengarnya?”
Tidak ada yang menjawab. Mereka hanya berdiri terpaku memandangi kantin yang semakin gelap.
Akhirnya mereka sepakat untuk segera pergi dari Kantin. Mereka takut dimarahi Bapak penjaga sekolah karena hari menjelang senja mereka masih di sekolah. Selain itu, mereka juga tidak pamit pada orang tua mereka. Akhirnya, mereka pun bergegas pulang meninggalkan kantin sekolah dengan perasaan cemas dan pikiran yang bercampur aduk ingin segera menguak ada apa sebenarnya di kantin sekolah ini.
Namun sebelumnya, mereka sepakat keesokan harinya untuk menyelidiki lebih jauh ada apa di balik kantin tersebut. Tentu dengan pikiran yang sudah berkecamuk dengan hal-hal yang mungkin tak terduga.
Dan sejak saat itu, rasa penasaran mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.
Kreator : Nur Fitri W (Nooury)
Comment Closed: BAB 1 Rumor Suara di Kantin Sekolah
Sorry, comment are closed for this post.