KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 1. Sebelum Aku Kehilangan

    BAB 1. Sebelum Aku Kehilangan

    BY 18 Okt 2026 Dilihat: 9 kali
    Sebelum Aku Kehilangan_alineaku

    “Mira!”

     

    Satu panggilan dari Papa sudah cukup membuatku melompat dari kasur.

     

    “Ya, Pa!”

     

    Begitulah Papa. Tegas, disiplin, dan hampir tidak pernah memberi kesempatan untuk menjawab, “Iya, sebentar.”

     

    Sejak kecil, aku dan ketiga saudaraku sudah terbiasa dengan cara Papa mendidik kami. Ada aturan yang harus dipatuhi, pekerjaan yang harus diselesaikan, dan sikap yang harus dijaga. Papa bukan tipe orang tua yang sering membelai kepala atau mengucapkan kata-kata manis. Kasih sayangnya seperti disimpan di tempat yang tidak selalu bisa kami lihat.

     

    Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kami tumbuh bersama Papa dan Mamak di sebuah rumah kontrakan sederhana di salah satu kota di Pulau Sumatera. Rumah itu tidak besar dan tidak dipenuhi perabot mahal. Sebagian ruangnya justru sering dipenuhi barang dagangan Papa—berbagai macam plastik yang menjadi salah satu sumber penghidupan keluarga kami.

     

    Pagi itu, langkah Papa terdengar semakin dekat. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Papa berdiri di sana dengan kedua tangan berkacak pinggang.

     

    “Nggak kasihan sama Mamakmu? Sendirian masak di dapur?”

     

    Aku diam.

     

    “Bukan pembantu Mamakmu itu. Pergi bantu di dapur sekarang.”

     

    Aku tidak berani membantah. Bahkan mencuci muka pun ku urungkan. Aku segera menuju dapur.

     

    Begitulah aturan tidak tertulis di rumah kami. Kalau Mamak sedang melakukan pekerjaan rumah, kami harus membantu.

     

    Sesampainya di dapur, kulihat Mamak sedang sibuk menyiapkan masakan. Tangannya bergerak cepat dan terampil. Aku senang berada di dapur bersamanya. Aku suka memasak, atau lebih tepatnya, suka memperhatikan Mamak memasak. Aku sering bertanya tentang bumbu, cara mengolah makanan, sampai hal-hal kecil yang mungkin bagi Mamak sudah biasa.

     

    “Masak apa, Mak?”

     

    “Gulai hiu, rebus daun ubi, sambal asem.”

     

    Mataku langsung berbinar.

     

    “Wuih… mantap kali, Mak. Makan enak lah kita hari ini!”

     

    Mamak tersenyum.

     

    Gulai hiu memang salah satu makanan favorit keluarga kami. Kalau Mamak sudah memasaknya, kami anak-beranak bisa makan dengan lahap. Hanya Mamak yang sering tidak ikut menikmati masakannya sendiri.

     

    “Mak, Mamak yang masak, tapi Mamak nggak makan?”

     

    Mamak tertawa kecil.

     

    “Gelo Mamak makannya.”

     

    Aku ikut tertawa.

     

    Begitulah Mamakku. Ia bisa memasak makanan yang paling kami sukai, memastikan semua anaknya makan dengan lahap, sementara dirinya sendiri kadang hanya kebagian sedikit. Dulu aku menganggap itu biasa saja. Aku belum mengerti bahwa ada banyak bentuk kasih sayang yang tidak pernah diucapkan.

     

    —

     

    Hari Minggu selalu punya suasana yang berbeda di rumah kami. Pagi terasa lebih lambat. Abang dan adik laki-lakiku masih terlelap di kamar. Maklum, semalam mereka menghabiskan malam Minggu bersama teman-temannya.

     

    Sementara itu, Papa duduk santai di depan televisi. Acara tinju yang rutin ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta menjadi tontonan favoritnya. Sesekali Papa beranjak ke dapur, sekadar melihat Mamak yang sedang sibuk memasak.

     

    Suatu ketika, kulihat Papa menghampiri Mamak dari belakang, lalu memeluk dan mencium pipinya.

     

    “Masak apa, Mak?”

     

    Aku yang melihatnya hanya tersenyum.

     

    Ada sisi Papa yang seperti itu. Tidak selalu terlihat oleh kami, anak-anaknya, tetapi sesekali muncul dalam bentuk yang sederhana.

     

    Begitulah Papa dan Mamak. Kadang saling berdebat, kadang saling mengomel, tetapi selalu ada cara sederhana untuk menunjukkan bahwa mereka saling menyayangi.

     

    Setelah selesai membantu Mamak memasak, aku baru saja hendak beranjak ketika suara Mamak terdengar.

     

    “Bereskan dapurnya, ya, Mira. Cuci perlengkapan masak itu, sapu sama pel lantainya.”

     

    Aku langsung mengerutkan wajah.

     

    “Suruhlah Mbak, Mak. Mira kan sudah bantuin Mamak. Dia dari tadi nggak ada kerjanya.”

     

    Belum sempat Mamak menjawab, dari ruang depan terdengar suara kakakku.

     

    “Enak saja! Aku juga sudah beresin rumah. Sekalian ngepel!”

     

    Aku membalas, “Ahhh… kan cuma beresin rumah. Suruhlah cuci piring juga, Mak!”

     

    Perdebatan kecil pun dimulai. Kami saling menghitung pekerjaan masing-masing, seolah sedang membagi tugas dalam sebuah pekerjaan besar. Siapa yang sudah menyapu, siapa yang sudah mengepel, siapa yang mencuci piring.

     

    Mamak akhirnya menyerah.

     

    “Dah lah. Kalian timbanglah pekerjaan itu, biar adil.”

     

    Begitulah aku dan kakakku. Dulu kami merasa sedang memperjuangkan keadilan. Sekarang, ketika mengingatnya, aku justru tersenyum. Ternyata salah satu bentuk kebahagiaan masa kecil kami adalah bertengkar hanya karena tidak mau mendapat bagian pekerjaan rumah sedikit lebih banyak.

     

    —

     

    Ruang TV adalah spot favorit kami. Selain menjadi tempat menonton bersama, ruangan itu juga menjadi tempat kami makan bersama.

     

    Kami memang tidak punya meja makan. Dan sepertinya, kami juga tidak pernah merasa membutuhkannya.

     

    “Di sini aja makannya,” kata Papa.

     

    Maka ambal di depan TV pun berubah menjadi meja makan kami.

     

    Kalau ada saudara yang datang dan menginap, ruang TV bahkan bisa berubah fungsi menjadi kamar tidur. Istilah kami waktu itu, “susun gembung”. Kamar tidur yang ada justru sering kosong tak berpenghuni.

     

    Di atas ambal, piring-piring ditata bersama lauk-pauk yang sudah Mamak masak sejak pagi.

    Namun, ada satu hal yang selalu dilakukan Mamak dalam menyajikan makanan, yaitu wadah lauk pauk Papa harus dipisah dari punya kami, anak-anaknya. Begitulah yang diajarkan Mamak kepadaku dan kakak. Mungkin Mamak ingin memuliakan suaminya. Atau mungkin itulah salah satu cara Mamak menunjukkan kasih sayangnya kepada Papa.

     

    Kami kemudian duduk melingkar sesuka hati dan mulai makan.

    Makan bersama adalah rutinitas yang selalu kami lakukan, terutama di akhir pekan ketika semua berkumpul. Rumah terasa lebih ramai. Lebih hidup.

     

    Namun, dari semua momen makan bersama, ada satu kebiasaan kecil yang paling kuingat: menunggu piring bekas makan Papa.

     

    Papa sebenarnya tahu.

     

    “Kenapa dari tadi tengok piring Papa terus?” tanyanya.

     

    “Enggak…”

     

    “Enggak apanya?”

     

    “Enggak lihat.”

     

    Salah satu saudaraku langsung tertawa.

     

    “Dia nungguin sisa makanan Papa!”

     

    “Diamlah!” protesku.

     

    Papa malah tertawa.

     

    Kadang, setelah menghabiskan makanannya, Papa sengaja mengambil nasi dan lauk lagi.

     

    “Masih mau?” tanyanya.

     

    Aku masih mencoba menjaga gengsi.

     

    “Enggak.”

     

    “Kalau enggak mau, ya sudah.”

     

    Baru saja Papa hendak mengambil suapan berikutnya, aku buru-buru menjawab,

     

    “Ya… mau.”

     

    Seketika kami semua tertawa.

     

    Begitu piring Papa diletakkan, kami langsung berebut.

     

    “Ini buat aku!”

     

    “Eh, aku dulu!”

     

    Aku pun tak mau kalah. Dan entah kenapa, biasanya aku yang menjadi pemenangnya.

     

    Sampai suatu kali kami terlalu heboh berebut makanan, Mamak menegur,

     

    “Sudahlah, jangan berantem gara-gara makanan. Malu didengar tetangga!”

     

    Kami langsung terdiam. Lalu saling pandang. Kemudian tertawa kecil.

     

    Dulu, semua itu terasa biasa saja. Sekarang, ketika kuingat kembali, justru momen-momen sederhana itulah yang terasa begitu mahal.

     

    —

     

    Suara ayam tetangga mulai berkokok. Dari kamar, aku sudah mendengar Mamak sibuk memasak di dapur. Setelah salat Subuh, tak seorang pun kembali tidur. Semua mulai menyiapkan perlengkapan untuk aktivitas masing-masing.

     

    Senin pagi itu cerah. Aku dan adikku sedang menikmati libur sekolah, dan aku sudah berencana ikut Papa dan Mamak berjualan.

     

    Aku membantu Mamak memasukkan masakan ke dalam rantang.

     

    “Mak, hari ini aku ikut, ya.”

     

    “Iya, ikutlah. Tapi sampai sana bantuin kerja. Jangan jajan terus,” jawab Mamak.

     

    Aku tertawa.

     

    Sejak kecil, Papa memang sering mengajak kami berjualan ketika libur sekolah. Saat itu kami mengira sedang diajak bepergian. Kami belum memahami bahwa dari perjalanan-perjalanan itulah Papa dan Mamak sedang mengajarkan kami arti bekerja, mencari rezeki, dan bertanggung jawab.

     

    Namun, perjalanan usaha Papa tidak selalu berjalan mulus. Kami pernah mengalami masa ketika usaha Papa jatuh dan keluarga kami harus memulai semuanya dari awal.

     

    Itulah masa ketika kami belajar bahwa mencari rezeki bukan hanya tugas Papa dan Mamak. Mamak, aku, dan kakak mulai berjualan nasi di warung, sembari menitipkan jajanan keripik ubi di kantin-kantin sekolah. Sementara itu, Papa menjual aset-aset yang masih tersisa. Bersama abang dan adikku, Papa kembali membangun usaha keluarga, perlahan-lahan, dari apa yang masih kami punya.

     

    Aku pernah merasa malu dengan keadaan kami. Namun, Mamak justru menguatkanku.

     

    “Mira, jatuh bangun dalam dagang itu biasa. Mira jangan malu. Kecuali kalau Papa korupsi, baru malu kita sekeluarga.”

     

    Kalimat itu sederhana, tetapi sampai sekarang masih kuingat.

     

    Dari situlah aku belajar bahwa jatuh bukan berarti selesai. Selama kami masih mau berusaha dan saling membantu, keluarga ini akan selalu menemukan jalan untuk berdiri kembali.

     

    Dan mungkin, tanpa kami sadari, masa-masa itulah yang membuat kami semakin mengerti arti keluarga. Kami pernah jatuh bersama. Dan kami memilih untuk bangkit bersama.

     

    —

     

    Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Saatnya berangkat.

     

    Mobil Colt Diesel sudah penuh dengan barang dagangan yang kami muat bersama-sama malam sebelumnya. Perjalanan menuju ke tempat jualan yang berada di luar kota memakan waktu sekitar dua jam.

     

    Aku duduk di antara Papa dan Mamak.

    Sepanjang perjalanan, aku mendengarkan obrolan mereka yang kadang tidak jelas ujung pangkalnya. Sesekali terdengar perdebatan kecil.

    Aku hanya diam sambil tersenyum sendiri.

     

    Begitulah Papa dan Mamak. Bisa berdebat, bisa saling kesal, tetapi beberapa saat kemudian sudah tertawa lagi. Marah-marahan sebentar, lalu akur kembali.

     

    Kadang aku berpikir, mungkin begitulah kehidupan rumah tangga. Tidak harus selalu tenang. Tidak harus selalu sepakat. Yang penting, setelah marah, masih ada keinginan untuk kembali duduk berdampingan.

     

    Sesampainya di tujuan, aku mulai membantu berjualan. Tugasku menulis faktur. Siang harinya, aku ikut Mamak mengutip tagihan dari kedai-kedai di pajak yang berbelanja dengan kami.

     

    Target kami sederhana: uang hasil penjualan harus segera disetor ke bank untuk membayar tagihan dari pabrik atau toko tempat Papa mengambil barang.

     

    Setelah urusan pekerjaan selesai dan uang sudah disetor, barulah rantang dibuka.

     

    “Sudah lapar?” tanya Mamak.

     

    “Lapar kali, Mak!”

     

    Kami pun makan bersama.

     

    Meski waktu sudah menunjukkan sekitar pukul empat sore, rasanya masakan Mamak menjadi makanan paling nikmat hari itu.

     

    Hari mulai gelap ketika kami bersiap pulang.

    Perjalanan pulang selalu terasa berbeda bagiku.

     

    Aku sering pura-pura tidur. Bukan karena benar-benar mengantuk. Aku hanya ingin merasakan satu hal yang diam-diam selalu kutunggu.

     

    Tangan Papa mengusap kepalaku perlahan.

    Lalu sebuah kecupan singkat di kening.

    Aku tetap memejamkan mata. Tidak ingin Papa tahu bahwa aku sebenarnya belum tidur.

    Beberapa kali aku bahkan sengaja pura-pura tidur agar Papa melakukan hal itu kepadaku.

     

    —

     

    Kini, ketika semua itu hanya tinggal kenangan, aku baru mengerti bahwa masa kecil ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di dalam ingatan, menunggu waktu untuk dipanggil kembali.

     

    Dulu, aku mengira kasih sayang harus selalu hadir dalam pelukan, kata-kata lembut, atau perhatian yang terang-terangan. Aku belum mengerti bahwa bagi Papa, kasih sayang bisa hadir lewat sebuah panggilan tegas untuk membantu Mamak. Bisa berupa tangan yang mengusap kepalaku ketika ia mengira aku tertidur. Bisa pula berupa sisa makanan yang sengaja disisakannya untuk anak yang diam-diam menunggu.

     

    Dari Mamak, aku belajar bahwa cinta kadang hadir dalam sepiring makanan yang dimasak dengan penuh perhatian, meski orang yang memasaknya justru lupa menyisakan bagian untuk dirinya sendiri.

     

    Dari Papa, aku belajar bahwa sayang tidak selalu pandai diucapkan. Kadang ia hadir diam-diam, dalam bentuk yang baru kita pahami setelah bertahun-tahun berlalu.

     

    Saat itu aku belum tahu bahwa dapur tempat Mamak memasak, ambal tempat kami makan, suara tawa saudara-saudaraku, perjalanan ikut membantu berjualan, bahkan sisa makanan di piring Papa, akan menjadi bagian dari kenangan yang begitu berharga.

     

    Kita baru menyadari nilainya ketika waktu tidak lagi bisa mengulangnya.

     

    Sebelum aku kehilangan mereka, aku ingin mengingat semuanya.

     

    Sebelum suara itu benar-benar menjadi sunyi, aku ingin menyimpan setiap panggilan, setiap tawa, setiap pelukan, setiap teguran, dan setiap kecupan di kening.

     

    Karena mungkin, tanpa kusadari, sejak dulu Papa dan Mamak sedang mengajariku satu hal yang baru kupahami setelah dewasa:

    Bahwa rumah bukan sekedar tempat kita pulang.

    Rumah adalah orang-orang yang membuat kita ingin selalu kembali.

     

     

    Kreator : Alfira Rosma (Al-Myra)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 1. Sebelum Aku Kehilangan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021