KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 1 Sepercik Akar

    Bab 1 Sepercik Akar

    BY 05 Okt 2026 Dilihat: 15 kali
    SEPERCIK AKAR_alineaku

    SEPERCIK AKAR

     

    Akar adalah sesuatu yang tidak kelihatan, tapi menguatkan.  

    Akar tidak minta dilihat, tapi dari sanalah pohon tumbuh tinggi.  

    Masa kecil adalah akar. Di sanalah nilai, cinta, tawa, dan luka pertama kali ditanam.  

    Tanpa akar yang kuat, pohon mudah tumbang.  

    Inilah 10 Sepercik Akar saya…

     

    SEPERCIK AKAR #1: NENEK ODAH DAN PIRING YANG BERSIH

     

    Nenek saya namanya Raden Saodah. Kami memanggilnya Nenek Odah.

    Beliau adalah sosok yang paling melekat di ingatan masa kecil saya.  

    Wajahnya tegas, suaranya kadang terdengar galak. Tapi di balik itu, kasih sayangnya seluas samudra.

    Saat kami berkumpul, setiap kali kami habis makan, pasti ada kalimat yang sama keluar dari mulut beliau:  

    “Ayo, bawa piring bekasnya ke dapur ya. Sambil cuci tangan, sambil dicuci juga piring bekas makannya. Tanganmu bersih, piring juga ikut bersih.”

     

    Dulu saya pikir itu cuma soal cuci piring. Tapi ternyata, itu pelajaran hidup yang begitu dalam. Jangan menunda kebersihan. Jangan menunda tanggung jawab. Kerjakan sekalian, selagi bisa. Hati jadi ringan, rumah jadi rapi dan nyaman.

    Rumah yang disinggahi Nenek Odah selalu berbeda-beda. Dan cirinya, selalu terawat, hijau dan asri. Banyak kucing berdatangan, seolah mereka tahu di sana ada orang yang menyayangi mereka.

    Nenek pandai dalam banyak hal. Menjahit, menyulam, memasak, berkebun, bernyanyi, dari lagu anak-anak Indonesia, sampai lagu Inggris dan Belanda juga mandarin. Suaranya merdu sekali.

    Yang ajaibnya, dari 13 anak beliau, bakat itu diturunkan berbeda-beda.  

    Kalau Ibu saya, turun bakat memasak dan bernyanyi dari Nenek. Masakan Ibu saya enak sekali, terutama Sayur Kacang Merah, selalu dirindukan termasuk oleh menantunya.

    Ke saya, turun bakat  bercocok tanam dan seni juga sedikit menjahit. Saya sempat rekaman kaset cerita bersama Pa Ogah “Si Unyil”, pernah juara 1 Lomba Membaca Puisi, juara 2 Lomba Menyanyi dan sekarang Alhamdulillah bisa menghasilkan buku, meski baru sebatas antologi.

    Masya Allah… ternyata benih dari Nenek Odah masih tumbuh di saya yang kadang baru muncul justru di usia yang sudah tidak lagi muda.

    Meski bergelar Raden, hidup beliau tidak mudah di masa kecilnya. Saya tahu dari cerita beliau. Tapi beliau menjalaninya dengan baik, sabar. Dengan kerja, dengan doa, dengan tangan yang tidak pernah berhenti.

     

    Terima kasih Nenek.  

    Karena didikan dan arahan di masa lalu, kami jadi tahu cara hidup.  

    Karena leluhur seperti engkau lah, kami bisa belajar mengambil ibrah.

     

    SEPERCIK AKAR #2: RUMAH YANG MENGAJARKAN

     

    Saya ini anak “kontraktor”. Sejak kecil rumah kami berpindah-pindah. Bukan punya sendiri, tapi ngontrak.

    Rumah pertama, di perkampungan guru Jakarta Barat, tempat saya lahir. Bapak saya guru, jadi Bapak dapat rumah dekat sekolah. 

    Yang saya ingat sampai sekarang : waktu kecil, tiap pagi saya diajak ke depan gerbang sekolah beli kue pancong. Terbuat dari terigu, hangat dan manis. Saya juga ingat pernah ketakutan jika banjir datang, karena rumah dekat Kali Krukut. Saat Bapak memperbaiki motor Vespa yang terendam air, suaranya mengerikan di telinga saya yang masih kecil.

     

    Rumah kedua di Rempoa, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di sini saya mulai bersekolah SD kelas 1 sampai kelas 2. Dulu uang jajan saya 100 rupiah. Uangnya yang koin tebal. Tapi ajaibnya, bisa buat jajan aneka makanan, membuat saya senang. Jalanan menuju sekolah masih tanah merah. Kalau hujan, becek dan licin. Tapi hati kami tetap riang meski keadaannya memprihatinkan.

     

    Rumah ketiga kami di Jl. Kirai, Kebayoran Baru. Di sini saya menyelesaikan sekolah kelas 3 sampai 6 SD. Dan di sinilah saya mulai “tumbuh” juga “berkembang”.

    Ada dua tempat yang sangat membentuk saya. Pertama, Lingkungan Rumah. Tetangga kami di Jln.Kirai ini rukun sekali. Solid dan saling dukung. Saking kompaknya, kami punya Mars RT 04/04. Lagu itu ciptaan Bapak saya sendiri, beliau sekretaris RT waktu itu. Kami juga punya grup vokal remaja. Saya juga sering maju nyanyi solo di panggung RT dan RW.

    Kedua, Lingkungan Sekolah. Di SDN 011, guru-gurunya luar biasa. Saya ingat sekali Pak Edi, guru kelas 6. Suatu hari beliau memanggil saya ke kelasnya. Padahal saya baru kelas 3. Saya disuruh mengerjakan soal pembagian kurung di papan tulis, di depan kakak-kakak kelas. Guru-guru lain juga sangat mendorong saya untuk menggali potensi dengan mengikutsertakan saya dalam perlombaan. Alhamdulillah, dari sanalah saya dapat juara 1 Lomba Baca Puisi dan akhirnya merambah pula ke tarik suara.

    Rumah yang  sering berpindah-pindah membuat kami jadi punya banyak keluarga. Tapi di setiap lingkungan, ada orang-orang yang menanamkan keyakinan: “Kamu bisa.” 

    Hingga akhirnya Bapak bisa punya rumah sendiri di Perumnas Karawaci 2 Tangerang.

     

    Rumah bukan soal tembok dan genteng. Rumah adalah tempat kita tumbuh dan berkembang. Dan menjadi orangtua yang bijak, akan sangat menunjang bakat juga potensi anak-anak kelak.

     

    SEPERCIK AKAR #3: Bapak, BAJU MUSLIMAH, DAN NGAJI MAGHRIB

     

    Bapak saya seorang guru Matematika. Karakter beliau tegas, kadang cenderung keras. Beliau tidak terlalu mendalami agama. Sehingga kami lebih diarahkan ke seni. Bahkan ibu saya diizinkan aktif di komunitas sinden kecapi sunda.

    Suara Ibu bagus saat melantunkan syair sinden atau Nyinden. Mungkin itu warisan dari Nenek Odah juga. Dan bakat itu baru benar-benar terasah saat kami tinggal di Jl. Kirai Cipete Utara. Ibu dan saya juga sama-sama ikut Vokal Grup di RT. Kami sering tampil bersama. Tapi Bapak punya cara sendiri untuk menjaga kami.

    Ada dua “kebijakan” Bapak yang sampai sekarang sangat saya syukuri. Pertama, soal mengaji. Bapak mewajibkan kami belajar mengaji ke mushola. Biasanya setiap habis Maghrib sampai Isya. Dan itu tidak ada tawar-menawar.

    Kedua, soal Baju Lebaran. Setiap mau Lebaran, Bapak membelikan kami baju, masing-masing mendapat jatah dua stel. Tapi, ada syaratnya. Yang satu, wajib baju muslimah. Tertutup, ada jilbabnya. Yang satu lagi, bebas tapi tetap sopan.

    Dua hal itu mungkin terlihat kecil. Tapi itulah yang jadi pagar buat kami. Boleh ikut apa saja, bebas berkarya, tapi tetap ada koridornya. Buktinya, waktu SMP saya lolos ekskul Vokal Grup. Saya juga ikut Sanggar Vokal dan Drama. Tapi, Alhamdulillah. Saya tetap berpakaian sopan, tetap terjaga. Hingga akhirnya di SMA, saya memilih jalur lain. Jalur untuk fokus mendalami agama. Dan, saya memutuskan berhijab. Padahal saat itu hijab belum diperbolehkan di sekolah negeri.

    Terima kasih, Bapak. Untuk ketegasanmu. Untuk dua baju Lebaran itu. Untuk penjagaanmu. Tanpa sadar, engkau sedang membuka jalan hidayah untuk anak-anakmu.

     

    SEPERCIK AKAR #4: IBU DAN DAPUR YANG WANGI

     

    Ibu saya jago masak. Masakannya selalu enak. Wangi sampai ke ruang tamu. Tapi anehnya, kami anak-anaknya dilarang masuk dapur. Karena Bapak tipe perfeksionis. Beliau maunya semua sempurna, apalagi soal masakan, semua harus perfect. Jadi, Ibu tidak memperbolehkan kami bantu-bantu masak. Akibatnya, Sampai besar kami tidak bisa masak sama sekali.

    Justru itu yang bikin kami nekat kuliah jauh. Salah satu niatnya: belajar masak sendiri.

    Qadarullah, saya dan adik kedua kuliah di kampus yang sama. Adik jurusan Budidaya Pertanian dan saya Ekonomi Akuntansi. Hari pertama ngekos, hal pertama yang saya lakukan bukan beli buku. Tapi beli peralatan dapur. Katel, sodet, pisau, talenan, cobek, langseng, panci juga kompor. Tak lupa buku resep bersampul merah. Itu buku sakti saya.

    Lalu dimulailah “percobaan”. Membuat tempe goreng, Ayam goreng, Sayur sop, Sayur asem. 

    Gagal? Ya awal-awal begitu. 

    Enak? Lama-lama enak juga.

    Senangnya luar biasa. Ternyata dapur itu seru juga ya.

     

    Puncaknya pas bulan Ramadan.  

    Saya yang selalu bangun masak untuk sahur. Padahal saya bersama 3 orang teman sekontrakan. Jam tiga pagi, kompor sudah menyala. Bau bawang, bau sayur asem. 

    Di saat itulah saya mengerti. Ternyata wanginya dapur Ibu, sekarang pindah ke tangan saya.

     

    SEPERCIK AKAR #5: PANGGUNG PERTAMA DAN REKAMAN KASET CERITA DENGAN PAK OGAH SI UNYIL

     

    Katanya bakat itu nurun.  

    Dan ke saya, turunlah bakat seni dari Nenek Odah.

     

    Sejak kecil saya suka mendengarkan Nenek bernyanyi. Mungkin itu yang akhirnya membuat saya ikut-ikut bersenandung.

     

    Panggung pertama saya bukan di gedung megah.  

    Tapi di panggung RT/RW Jl. Kirai.  

    Bareng teman-teman Vokal Grup remaja. Atau kadang saya maju solo juga.  

    Deg-degan, tapi senang. Tepuk tangan tetangga itu rasanya anget banget.

     

    Lingkungan rumah dan sekolah yang mendukung,  membuat saya semakin berani.  

    Guru-guru di sekolah mendorong saya untuk ikut berbagai lomba.  

    Alhamdulillah, saya pernah juara 1 Lomba Membaca Puisi antar sekolah.

     

    Dan yang paling saya bangga…  

    Saya sempat rekaman kaset cerita berjudul _Putri Jeruk_  

    bareng Pa Ogah “Si Unyil”.  

    Semua itu berkat keberhasilan saya meraih juara 2 dalam lomba bernyanyi di sebuah Radio di daerah Kebayoran Lama.  

    Saat pengumuman tiba, Pa Ogah hadir. Lalu beliau menunjuk saya dan satu lagi yang juara 3 untuk ikut gabung dalam rekaman kaset cerita itu.

     

    Dari panggung RT, ke studio rekaman.  

    Dari nyanyi mars RT 04/04, ke nyanyi di Anjungan Lampung, Taman Mini Indonesia Indah.

     

    Alhamdulillah, suara yang dulu dilatih oleh teman Bapak, Pa Joko namanya,  

    sekarang dipakai Allah untuk hal lain.  

    Setelah hijrah, saya ikut bergabung dalam tim nasyid di kampus. Berdakwah lewat suara.

     

    Sekarang saya juga nulis.  

    Alhamdulillah sudah bisa menghasilkan buku, meski baru sebatas antologi.  

    Mungkin ini juga nurun. Nenek punya banyak cerita, Ibu punya rasa di masakan,  

    dan saya… dititipi rasa lewat kata dan suara.

     

    SEPERCIK AKAR #6: IBRAH DARI LELUHUR

    Kadang semasa anak-anak kita suka merasa:  

    “Ah, orang tua ini kok banyak aturan. Nggak mau ngertiin anak!”

     

    Padahal, mereka melakukan itu semua justru karena sayangnya pada kita.  

    Karena takutnya kalau kita salah jalan.

     

    Dan kini, saat kita sudah jadi orang tua, barulah kita menyadari.  

    Oh… ini maksud Bapak mewajibkan ngaji Maghrib.  

    Oh… ini hikmahnya Ibu ngga bolehin masuk dapur dulu.  

    Oh… ini alasan Nenek selalu ngajarin bersih dan rapi.

     

    Semua yang dulu terasa “keras”, ternyata pagar.  

    Semua yang dulu terasa “dilarang”, ternyata dijaga.

     

    Alhamdulillah.  

    Saya bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas semua anugerah ini.  

    Atas Nenek, Bapak, dan Ibu.  

    Atas didikan, atas seni, atas agama, atas dapur yang wangi.  

    Semoga Allah jadikan ini jariyah untuk mereka. Aamiin.

     

    SEPERCIK AKAR #7: SEKOLAH DAN GURU

     

    Semua guru SD saya berkesan. 

    Tapi hanya ada beberapa nama yang sampai sekarang masih jelas di ingatan.

     

    Ibu Atun – SD Inpres Rempoa Kelas 1.  

    Orangnya baik. Suaranya lantang. Mengajar dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Beliau guru pertama yang menanamkan: sekolah itu tempat yang menyenangkan.

     

    Pak Edi – SDN 011 Cipete Utara. Semoga Allah merahmati beliau. 

    Pak Edi ini dikenal murid se-sekolah sebagai guru kelas 6 yang galak, seram. 

     

    Suatu hari beliau masuk ke kelas saya, lalu berkata :

    “Bu, pinjam Dini dulu ya,” katanya ke wali kelas. 

    Saya kaget, bertanya-tanya dalam hati, “Ada apa ya?”

    Sepanjang koridor, bahu saya dirangkul, sambil beliau ngetes perkalian,  pembagian.

    Sampai saat tiba di pintu kelas 6 beliau bilang, “Masuk yuk Din.” 

    Kemudian saya lihat di papan tulis ada soal pembagian kurung. 

    Beliau bertanya,”Bisa kerjakan Din?”  

    “Bisa Pak,” jawab saya.

    Lalu saya maju, mengerjakan dengan hati-hati. Mungkin karena di rumah Bapak guru matematika, jadi aku udah biasa dengan pelajaran itu.

    Hari itu saya baru mengerti. Galaknya beliau itu kadang bentuk dari  sayang beliau. Padahal ternyata orang nya baik, asyik kok.

     

    Ibu Indah – Kepala Sekolah SDN 011.  

    Beliau yang mendorong saya ikut lomba-lomba antar sekolah. Dan, Alhamdulillah… titik puncaknya, saya memenangkan Lomba Baca Puisi antar sekolah. Juara 1.

    Puisi yang saya bawakan waktu itu masih melekat sampai sekarang:

     

    Guruku Pahlawanku

    Hari demi hari, 

    berpacu tiada henti.  

    Suka dan duka,

    Menerpa silih berganti

    Hidup penuh dengan berjuta tantangan.

     

    Namun…  

    Engkau satu diantara insan pengabdi.

    Tetap!

    Kau ayunkan langkahmu  

    untuk tujuan yang pasti.

     

    Guru-guruku… 

    Ada yang lembut seperti Ibu Atun. 

    Ada yang tegas seperti Pak Edi. 

    Ada yang mendorong seperti Bu Indah.

     

    Dari merekalah aku belajar: 

    Bahwa didikan itu bentuknya macam-macam. 

    Tapi tujuannya satu. Supaya anaknya tumbuh, berkembang dengan adab yang baik.

     

    SEPERCIK AKAR #8: RUMAH RT 4 RW 4

    Ada syair Bapak yang sampai sekarang masih ku ingat, tentang kerukunan di RT kami:

     

    “Warga empat-empat  

    Yang rukun giat semangat

    Yang bersatu padu ibarat ikatan sapu

    Ayo rukun maju

    semua warga empat-empat

    Bergerak bersama kita junjung keadilan”

     

    Ahh… satu RT ini pokoknya solid, seru, akur. Bahkan sampai sekarang.  

    Meski kami sudah berjauhan, sudah punya rumah tangga masing-masing,  

    tapi tetap saling berkabar tentang apapun.

    Awalnya kami ngontrak di wilayah Rempoa.  

    Lalu pindah ke Jl. Kirai. Kami ngontrak di paviliun samping rumah Bapak H. Machuri.  

    Biasa kami panggil Pakde Machuri. Istrinya Bude Tati.  

    Semoga Allah merahmati semuanya.

    Lucunya, saat aku bertemu teman lama masa kecil, dia cerita:  

    “Kenangan paling berkesan dari keluarga Bapakmu itu… rumah kalian jadi tempat kumpul anak-anak buat antri baca majalah Bobo.”  

    Iya. Majalah Bobo. Majalah anak-anak paling top waktu itu.

     

    Di RT 4 RW 4 ini kami berinteraksi, bekerja sama. Saking solidnya sudah seperti keluarga sendiri.  

    Sampai suatu saat lingkungan kami mau mengadakan Agustusan. Semua direncanakan bersama.

     

    Ada tim lomba anak. Tim lomba orang tua.  

    Ada tim persiapan acara puncak.  

    Kami latihan aneka hiburan: tarian anak, pembacaan puisi, bernyanyi diiringi gitar.  

    Bahkan ada vokal grup remaja dan ibu-ibu. Tak mau ketinggalan.

     

    Pokoknya seru. Kompak.  

    Di rumah Jl. Kirai inilah aku belajar:  

    Bahwa gotong royong itu nyata.  

    Bahwa rumah bisa jadi tempat orang berkumpul, tertawa, dan bertumbuh.

     

    SEPERCIK AKAR #9: DARI HOBI NYANYI, SAMPAI DIJEMPUT PA OGAH UNTUK REKAMAN

     

    Semuanya berawal dari suka ikut nyanyi-nyanyi diiringi gitar sepupu saya, alm. Ceu Ety.  

    Kemudian Bapak  akhirnya melihat bakat saya di situ. Dan bersamaan, remaja dan ibu-ibu di RT kami butuh seorang guru vokal yang bisa mengajarkan teknik bernyanyi dengan baik.  

    Akhirnya Bapak minta tolong sama teman guru seni di sekolah Bapak, namanya pa Joko.

     

    Dari latihan buat tampil Agustusan…  

    Lanjut ikut lomba tingkat RW…  

    Sampai akhirnya Pa Joko terus melatih saya.  

    Beliau yang bikin saya berani tampil dari panggung ke panggung.  

    Di RT, di sekolah Bapak, bahkan pernah sampai di panggung PRJ. Lupa tahun berapa itu ya 😅

     

    Pa Joko gak berhenti di situ. Beliau dorong saya buat ikut lomba-lomba menyanyi.  

    Pernah di Hoya Departemen Store.  

    Sempat mau ikut lomba di Sekolah Musik Vini Vidi Vici-nya Ully Sigar Rusadi.  

    Tapi qadarullah… saya kena penyakit cacar. Jadi gak jadi ikut.

     

    Lalu ikut lagi di salah satu radio di bilangan Kebayoran Lama tapi saya  lupa nama radionya. Saat itu saya harus membawakan lagu “Matahatiku” – Nenden Sintawati juga “Taman Juanda”.

    Alhamdulillah di lomba itu saya dapat juara 2.

     

    Dan dari situlah, saya ditunjuk Pa Ogah untuk ikut rekaman kaset cerita *”Putri Jeruk”* sebagai prolog di awal cerita. Seingat saya saat proses rekaman kaset cerita itu tidak ada rasa grogi atau deg-degan, semua biasa saja. Mungkin karena sudah terbiasa tampil dari panggung ke panggung ya.

     

    Tapi jujur saja,  saya asli lupa sama sekali suasana rumah saat Pa Ogah datang jemput saya untuk rekaman.

    Tapi kata para saksi, salah satunya adik saya, Teh Rodiah dan Mba Desti:  

    Di luar rumah rame anak-anak. Mereka pada diam di jendela kaca, mau lihat Pa Ogah.

     

    Yang saya ingat cuma pas sudah di studio rekaman. Terlintas sedikit, bagaimana prosesnya berlangsung. 

    Lalu saat kami istirahat makan bersama.

    Pulangnya dikasih hadiah dibungkus kertas kado, berisi tas dari bahan jeans. Wah keren banget.  

    Plus alat tulis juga. Segitu aja udah bahagia banget.

     

    Saya juga lupa, dikasih uang atau enggak. Maklum sudah lama dan saat itu saya masih SD, jelang mau SMP.

     

    SEPERCIK AKAR #10: MAJELIS ILMU AGAMA AL-HAQQA, TEMPAT MENGAJIKU

     

    Tempatnya di seberang RT ku.  

    Guru utamanya seorang Bapak dan Ibu bernama  Sabar.  

    Dibantu juga sama Le Darmo dan Mas Eddy.  

     

    Meski tempatnya mungil, tapi muridnya banyak.  

    Aku juga tidak tahu kenapa urusan ngaji lebih memilih ke sana.  

    Padahal di dekat rumah, masih di RT ku juga ada. Namanya Al Hidayah.

     

    Tapi hati saya seperti tertaut ke Al Haqqa.

     

    Di Al Haqqa itu saya mendapatkan ilmu agama yang banyak.  

    Jadi dasar landasan aqidah.  

    Menghafal surat-surat pendek.  

    Belajar membaca Al Qur’an lewat tut-turut-an.

     

    Di sana saya punya dua sahabat:  

    Mba Nunu, putrinya guru ngaji,  

    dan Mbak Umi Kulsum.  

    Kami bertiga sangat dekat.

     

    Di Al Haqqa, saya dididik untuk cinta Allah, cinta Rasul, cinta Islam dan cinta Al Qur’an.


     

     

    Kreator : Dini Siti Multiah(DSM)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 1 Sepercik Akar

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021